"Di dunia para penguasa, segalanya bisa dibeli—termasuk keturunan. Namun, apa jadinya jika rahim yang disewa justru membawa cinta yang tak terduga?"
Adrian Ardilwilaga adalah definisi sempurna dari kekuasaan dan kekayaan. Sebagai CEO Miliarder dari Ardilwilaga Group, ia memiliki segalanya, kecuali satu hal yang sangat dituntut oleh dinasti keluarganya: seorang pewaris. Pernikahannya dengan Maya Zieliński, wanita sosialita kelas atas yang anggun namun menyimpan rahasia kelam tentang kesehatannya, berada di ambang kehancuran karena tekanan sang mertua yang otoriter.
Demi menjaga status dan cinta Adrian, Maya merancang sebuah rencana nekat—sebuah kontrak rahim ilegal. Pilihan jatuh kepada Sasha Vukoja, seorang mahasiswi seni berbakat asal Polandia yang sedang terdesak kesulitan ekonomi. Sasha setuju untuk menjadi ibu pengganti, tanpa pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada sang pemberi kontrak.
Ketegangan memuncak saat Arthur, sang pangeran mahkota, lahir.Bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan di Atas Puing
Suasana di lantai 42 The Obsidian Towers tidak lagi sama. Keheningan yang dulunya terasa elegan dan penuh wibawa, kini berubah menjadi kesunyian yang mencekam, seperti udara di dalam ruang kedap suara yang perlahan-lahan kehabisan oksigen. Pecahan vas porselen dinasti Ming yang dihancurkan Adrian semalam telah dibersihkan oleh asisten rumah tangga, namun retakan dalam jiwa Adrian tidak bisa disapu begitu saja.
Adrian berdiri di depan dinding kaca, menatap fajar yang menyingsing di ufuk timur Jakarta. Matanya merah, bukan karena tangis—karena air matanya telah kering sejak ia menemukan map hitam itu—melainkan karena kurang tidur. Di belakangnya, aroma kopi Blue Mountain yang baru diseduh menyeruak, disusul suara denting sendok perak yang beradu dengan cangkir keramik.
Maya duduk di meja makan marmer, tampak segar dengan jubah sutra berwarna krem. Tidak ada jejak rasa bersalah di wajahnya. Ia justru terlihat seperti seorang pemenang yang baru saja mengamankan aset berharganya.
"Minumlah kopimu, Mas. Kita punya jadwal padat hari ini," suara Maya datar, hampir kasual, seolah-olah konfrontasi hebat semalam hanyalah bumbu dalam obrolan makan malam.
Adrian berbalik perlahan. Otot-otot di rahangnya mengeras. Ia menatap istrinya, wanita yang selama ini ia puja sebagai malaikat pelindung, namun kini ia sadari sebagai arsitek dari penderitaan mentalnya. "Bagaimana kamu bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, May?"
Maya meletakkan cangkirnya. Matanya yang jernih menatap Adrian tanpa kedip. "Karena memang tidak ada yang berubah, Adrian. Kita tetap suami istri. Kita tetap pasangan paling berpengaruh di kota ini. Dan yang paling penting, kita sekarang tahu posisi masing-masing. Tidak ada lagi rahasia, bukan? Itu seharusnya melegakan."
Adrian tertawa getir, suara yang terdengar asing di telinganya sendiri. "Melegakan? Kamu menghancurkan harga diriku sebagai pria. Kamu menyogok dokter untuk membuatku percaya bahwa aku cacat. Kamu membiarkan aku hidup dalam rasa malu selama bertahun-tahun!"
"Aku melakukannya agar kamu tetap menjadi milikku!" Maya berdiri, suaranya naik satu oktav namun tetap terkendali. "Bayangkan jika kamu tahu aku yang tidak bisa hamil. Ego Ardilwilaga-mu itu akan mendorongmu mencari rahim lain. Kamu akan mencari wanita muda, mungkin sekretarismu atau model iklan kosmetikku, hanya untuk membuktikan bahwa kamu 'jantan'. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku membangun imperium ini bersamamu, dan aku tidak akan membiarkan wanita lain masuk hanya karena dia punya rahim yang berfungsi."
Adrian terdiam. Ada kebenaran yang pahit dalam kata-kata Maya. Di lingkaran sosialnya, keturunan adalah segalanya. Tanpa pewaris, istana yang ia bangun hanyalah tumpukan beton tanpa masa depan.
________________________________________
Selama tiga hari berikutnya, perang dingin melanda apartemen itu. Adrian pindah ke kamar tamu, sebuah ruangan luas yang biasanya digunakan untuk relasi bisnis yang menginap, namun kini terasa seperti sel penjara mewah. Ia terus memikirkan dokumen itu. Kebenarannya adalah: Adrian sehat. Dia subur. Dia bisa memiliki anak.
Namun, Maya benar tentang satu hal: Skandal. Jika Adrian menceraikan Maya sekarang dengan alasan penipuan medis, publik akan menggali semuanya. Rahasia kemandulan Maya akan terbongkar, begitu juga dengan manipulasi tes medis yang melibatkan Klinik Pratama. Reputasi Bloom Beauty akan hancur, dan saham Ardilwilaga Group akan merosot tajam karena ketidakstabilan rumah tangga sang CEO.
Pada malam keempat, Adrian keluar dari kamar tamu. Ia menemukan Maya sedang membaca laporan tahunan di ruang tengah.
"Aku sudah memikirkannya," kata Adrian suara berat.
Maya mendongak, menutup tabletnya. "Aku mendengarkan."
"Aku tidak akan menceraikanmu. Belum," lanjut Adrian, setiap katanya terasa seperti menelan duri. "Tapi aku tidak akan membiarkan istana ini kosong. Kamu memanipulasiku karena takut kehilangan aku jika aku mencari rahim lain. Baiklah. Aku akan memberikan apa yang kamu takutkan, tapi dengan caraku."
Alis Maya bertaut. "Apa maksudmu?"
"Kita butuh pewaris. Bukan untukku, bukan untukmu, tapi untuk nama Ardilwilaga," Adrian melangkah mendekat, bayangannya yang besar menutupi sosok Maya. "Kita akan menyewa ibu pengganti. Surrogacy."
Maya tertawa kecil, nada yang merendahkan. "Mas, kamu tahu itu ilegal di negara ini. Dan itu berarti kamu harus menggunakan spermamu dengan sel telur... siapa? Wanita asing? Itu sama saja dengan pengkhianatan yang aku takuti."
"Gunakan sel telur yang didonorkan secara anonim jika kamu mau, atau gunakan sel telurmu yang mungkin sudah kamu bekukan sebelum operasi itu—aku tahu kamu cukup licik untuk menyimpan cadangan," potong Adrian tajam. "Tapi anak itu harus membawa darahku. Dia akan lahir, dia akan menjadi pewaris, dan dia akan menjadi bukti bahwa aku tidak dikalahkan oleh manipulasimu."
Maya berdiri, wajahnya memucat. "Kamu ingin membawa orang asing ke dalam hubungan kita?"
"Bukankah kamu yang bilang kamu akan melakukan 'apa saja' agar tidak kehilangan aku? Ini adalah harganya, May. Kamu tetap menjadi Nyonya Ardilwilaga di mata dunia. Kita tetap menjadi pasangan sempurna. Tapi di balik pintu ini, kamu harus menerima bahwa anak itu akan ada. Dan dia bukan lahir dari rahimmu."
________________________________________
Maya terdiam cukup lama. Ia berjalan menuju balkon, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala. Pikirannya berputar cepat, menghitung untung dan rugi. Jika ia menolak, Adrian mungkin akan nekat dan menghancurkan segalanya. Jika ia setuju, ia bisa mengontrol prosesnya. Ia bisa memilih "wadah" yang tepat untuk anak itu.
"Baik," ucap Maya akhirnya, berbalik dengan senyum yang dipaksakan. "Aku setuju. Kita akan mencari ibu pengganti. Tapi ada syaratnya."
Adrian menyilangkan tangan di dadanya yang bidang. "Katakan."
"Aku yang akan memilih wanitanya. Dia harus sehat, cerdas, tidak punya ikatan emosional, dan yang paling penting, dia harus bisa menghilang setelah bayi itu lahir. Dia tidak boleh tahu siapa kita. Semuanya harus dilakukan melalui perantara hukum di luar negeri. Mungkin di Amerika atau Ukraina, di mana hal ini legal dan terlindungi kontrak."
Adrian mengangguk. "Sepakat. Aku akan menyiapkan tim hukum pribadi untuk mengurus kontraknya. Tidak boleh ada celah. Anak itu akan secara legal menjadi anak kita sejak detik pertama ia menghirup udara."
"Dan satu lagi," tambah Maya, melangkah mendekat hingga ia bisa mencium aroma parfum kayu cendana Adrian yang maskulin. "Di depan publik, aku akan berpura-pura hamil. Kita akan menggunakan prostetik, kita akan melakukan sesi foto 'maternity', dan aku akan menghilang dari publik di bulan-bulan terakhir dengan alasan istirahat total. Dunia harus percaya bahwa pewaris Ardilwilaga lahir dari rahim Maya Karolina."
Adrian menatap mata istrinya. Ia melihat seorang wanita yang sangat terobsesi dengan citra dan kontrol sehingga ia bersedia memalsukan kehidupan manusia. "Kamu benar-benar luar biasa, May. Dalam cara yang paling mengerikan."
"Aku hanya bertahan hidup, Mas. Di dunia kita, kebenaran adalah variabel yang bisa diatur. Yang penting adalah apa yang orang lain lihat."
________________________________________
Beberapa minggu setelah kesepakatan itu ditandatangani di hadapan pengacara yang disumpah untuk tutup mulut, Adrian dan Maya mulai menyisir profil kandidat dari sebuah agensi surrogacy internasional yang berbasis di Los Angeles.
Mereka duduk di ruang kerja, namun kali ini suasananya bukan lagi romantis. Itu adalah suasana bisnis. Mereka melihat layar besar yang menampilkan data medis, foto-foto, dan latar belakang pendidikan para calon ibu pengganti.
"Terlalu pendek," kritik Maya pada seorang kandidat dari Eropa Timur. "Aku ingin anak itu memiliki postur tubuh seperti kamu, Adrian. Tinggi dan atletis."
"Dia punya gelar master di bidang biologi," sahut Adrian dingin, menunjuk kandidat lain. "Setidaknya dia punya otak."
"Kita tidak butuh otaknya, kita butuh rahimnya yang sehat," sela Maya ketus.
Adrian merasa mual. Mendengar Maya berbicara tentang manusia seolah-olah mereka adalah suku cadang mesin membuatnya semakin muak. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia telah memutuskan untuk berdamai dengan keadaan ini demi satu tujuan: memiliki bukti fisik bahwa ia tidak mandul. Ia ingin melihat wajahnya sendiri pada seorang anak, untuk menghapus bisikan jahat di kepalanya yang selama ini mengatakan bahwa ia adalah pria yang gagal.
Setelah berjam-jam melakukan kurasi, mata Adrian tertuju pada sebuah profil yang baru saja diunggah.
Kandidat #1082: Alexandra 'Sasha' Vukoja. Usia: 24 tahun. Latar Belakang: Mahasiswi pascasarjana seni di Warsawa, Polandia. Kesehatan: Sempurna. Tidak ada riwayat penyakit genetik. Deskripsi: Tinggi 175 cm, rambut pirang gelap, mata abu-abu.
Adrian terpaku pada foto wanita itu. Ada sesuatu yang jujur dan murni di matanya, sesuatu yang sangat kontras dengan kepalsuan yang melingkupi hidupnya sekarang. Yang lebih mengejutkan, wanita itu berasal dari Polandia, tanah kelahiran ibu Maya.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Adrian, suaranya sedikit melunak.
Maya melihat layar. Ia terdiam sejenak, melihat asal negara wanita itu. Sebuah kilatan aneh melintas di matanya—mungkin rasa nostalgia, atau mungkin rasa syukur karena setidaknya anak itu nanti akan memiliki kemiripan fisik dengan garis keturunan ibunya, sehingga kebohongan "hamil"-nya akan lebih mudah dipercaya.
"Polandia," bisik Maya. "Dia cantik. Terlalu cantik untuk seorang ibu pengganti."
"Dia memenuhi semua kriteria medismu, May. Dan dia butuh biaya untuk menyelesaikan studinya. Dia kandidat yang sempurna karena dia memiliki motivasi finansial yang jelas. Dia akan melakukan tugasnya, mengambil uangnya, dan pergi."
Maya menatap foto Sasha cukup lama. "Baiklah. Aku akan mengirim tim medis kita ke Warsawa untuk melakukan pemeriksaan independen. Jika dia benar-benar 'bersih', kita akan membawa dia ke klinik rekanan kita di Singapura untuk prosedur implantasi."
________________________________________
Malam itu, setelah semua rencana matang, Adrian kembali ke balkonnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, beban berat di pundaknya terasa sedikit terangkat, meski digantikan oleh rasa dingin yang lain.
Ia telah berdamai dengan kenyataan bahwa pernikahannya adalah sebuah sandiwara. Ia telah berdamai bahwa istrinya adalah seorang manipulator ulung. Dan kini, ia telah berdamai dengan gagasan bahwa anak pertamanya akan dikandung oleh wanita asing yang tidak ia kenal.
Maya datang menghampirinya, membawa segelas wiski untuk Adrian. "Kita akan memiliki anak, Mas. Seorang putra yang akan memimpin Ardilwilaga Group. Semuanya akan kembali seperti semula."
Adrian menerima gelas itu, namun tidak meminumnya. Ia menatap pantulan dirinya di kaca balkon. Pria di dalam sana masih tampak perkasa, otot-ototnya masih terpahat sempurna, namun jiwanya kini terasa seperti marmer Italia di lantai rumahnya: keras, mahal, tapi membeku.
"Tidak akan pernah ada yang kembali seperti semula, May," ucap Adrian pelan. "Kita baru saja membuka pintu menuju sesuatu yang tidak bisa kita tutup lagi. Kamu mendapatkan kontrolmu, aku mendapatkan pewarisku. Tapi cinta? Cinta itu sudah mati di ruang kerjamu malam itu."
Maya tidak membantah. Ia hanya bersandar pada bahu Adrian, menikmati kemenangan kecilnya. Baginya, cinta adalah tentang kepemilikan, dan selama Adrian berada di sisinya, ia telah menang.
Di belahan dunia lain, di sebuah apartemen kecil di Warsawa, seorang gadis bernama Sasha sedang menatap jendela, tidak menyadari bahwa rahimnya telah menjadi objek negosiasi di sebuah lantai 42 di Jakarta. Ia tidak tahu bahwa ia akan segera masuk ke dalam labirin intrik sebuah keluarga yang memiliki segalanya, namun kehilangan nuraninya.
Istana tanpa pewaris itu sebentar lagi akan memiliki penghuni baru. Namun, di balik kemegahannya, sebuah badai baru sedang bersiap untuk menerjang. Karena ketika sebuah nyawa dimulai dari kebohongan dan transaksi, kebenaran biasanya akan menuntut bayaran yang jauh lebih mahal daripada sekadar materi.
"Persiapkan jet pribadinya, May," kata Adrian dingin. "Kita berangkat ke Singapura minggu depan. Pastikan 'calon ibu' itu sudah ada di sana."
Adrian meneguk wiskinya dalam satu tarikan napas. Rasa panas cairan itu membakar kerongkongannya, sebuah pengingat bahwa ia masih hidup, meskipun sebagian dari dirinya merasa telah mati di dalam istana mewah ini.