Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 CARI CINCIN
Ponselnya kembali bergetar.
Danu: Udah mulai bikin list, Dek?
Ara menggigit bibirnya sebentar sebelum membalas.
Ara: Udah, Mas. Aku tulis yang standar aja ya. Alat salat, baju, tas kecil, sama sedikit kosmetik
Beberapa detik kemudian balasan masuk
Danu: Kalau cuma itu, Mas ngerasa kurang
Ara mengerutkan kening. Ia membaca ulang pesan itu.
Ara: Kurang gimana, Mas?
Danu: Mas pengen kamu ngerasa dihargai. Jangan yang sekadarnya banget
Jantung Ara berdegup lebih cepat. Ia tidak menyangka balasan seperti itu.
Ara menatap ibunya “Bu…” gumamnya pelan, lalu menunjukkan chat tersebut.
Ibu Adis membaca, lalu tersenyum dalam “Nah. Itu jawaban laki-laki yang paham”
Ara kembali mengetik.
Ara: Aku nggak butuh banyak, Mas. Yang penting Mas serius
Pesan terkirim.
Balasan datang lebih lama kali ini.
Danu: Dek… dari dulu Mas serius
Ara terdiam.
Kalimat itu sederhana. Tapi ada sesuatu yang dalam di sana.
Ara menelan pelan.
Ara: Mas…
Beberapa detik ia berhenti. Lalu lanjut mengetik.
Ara: Terima kasih ya. Udah sabar sampai sekarang
Balasan muncul cepat.
Setelah itu Ara mematikan layar ponselnya perlahan.
“Bu, aku takut…” ucapnya lirih.
“Takut apa?”
“Takut nggak bisa jadi pasangan yang baik”
Ibu Adis memegang tangan putrinya erat “Nggak ada orang yang langsung sempurna. Pernikahan itu belajar yang penting kamu mau tumbuh bersama”
Ara menghela napas panjang.
Ponselnya kembali menyala.
Danu: Besok Mas jemput pagi ya. Biar kita pilih bareng
Ara tersenyum lagi
Ara: Iya, Mas. Jam berapa?
Danu: Jam sembilan. Biar nggak kepanasan
Ara terkekeh kecil
Ara: Mas kayak bapak-bapak banget sih
Balasan datang cepat.
Danu: Mas calon suami, bukan bapak-bapak
Ara langsung menutup wajahnya dengan tangan. “Bu!” serunya malu.
Ibu Adis tertawa kecil melihat ekspresi putrinya. “Kenapa lagi?”
Ara menyerahkan ponsel tanpa berkata-kata.
Ibu Adis membaca, lalu tertawa lebih keras “Ya memang betul toh?”
Ara menggeleng cepat “Ibu jangan ikutan!”
Tawa kecil memenuhi ruang TV.
Pagi itu bukan hanya tentang EO, bukan hanya tentang butik, bukan hanya tentang list seserahan.
Tapi tentang dua orang yang pelan-pelan belajar membuka hati sepenuhnya.
Ara menatap keluar jendela.
Minggu depan ia akan dilamar.
Bukan oleh laki-laki sempurna.
Bukan oleh CEO seperti candaan masa remajanya dulu.
Tapi oleh seseorang yang memilih bertahan.
Seseorang yang tidak menyerah hanya karena merasa dirinya “anak petani”.
Keesokan harinya, pagi itu Ara sudah bangun lebih awal. Hatinya berdebar-debar karena tadi jam 8 lebih Danu sempat chat, bilang kalau ia akan segera berangkat ke rumah.
Ara menatap ponselnya sekali lagi, memastikan pesannya masih ada, sebelum mulai bersiap-siap. Ia memilih pakaian yang rapi tapi sederhana, rambutnya diikat rapi, dan sedikit menata make-up agar terlihat segar.
Tak lama setelah ia selesai bersiap, terdengar ketukan lembut di pintu rumah. Jantung Ara langsung berdetak kencang. Ia menoleh ke arah pintu, menahan napas sejenak.
“Siapa ya…?” gumamnya pelan sambil melangkah ke pintu.
Begitu dibuka, senyum tipisnya muncul, sedikit grogi. Di depan pintu berdiri Danu, memakai kemeja santai tapi rapi, membawa tas kecil. Matanya menatap Ara dengan hangat, sedikit malu, tapi jelas terlihat penuh semangat.
“Ara… Assalamualaikum” sapa Danu dengan suara lembut tapi mantap.
“Waalaikumsalam… Danu… eh… Mas Danu, selamat pagi” jawab Ara sambil tersenyum tipis, pipinya agak memerah.
Ara menelan ludah, sedikit gereget tapi berusaha tenang “Mas… masuk aja. Tapi… sebentar ya, aku pamit dulu ke Bu” katanya sambil melangkah ke arah ruang keluarga.
Di ruang TV, ibu Ara sedang menonton sinetron. Ara menatapnya sebentar, tersenyum malu “Bu… aku keluar sebentar, Mas Danu sudah datang,” ucapnya lirih.
Ibu Adis menoleh, matanya berbinar penasaran tapi tetap hangat “Oh… Danu sudah di sini? Hati-hati ya, Nak… jangan terlalu lama di luar” katanya sambil tersenyum.
Ara mengangguk pelan “Iya, Bu… aku cuma sebentar, janji” jawabnya sambil tersenyum dan menepuk tangan ibunya sebentar sebelum melangkah kembali ke pintu.
Danu menunggu dengan sabar, matanya menatap Ara hangat “Ara… siap?” tanyanya lembut.
Ara tersenyum tipis, menarik napas dalam “Iya, Mas… siap” jawabnya. Ia meraih tas kecil yang dibawa Danu, dan keduanya melangkah keluar rumah. Udara pagi terasa segar, tapi jantung Ara tetap berdebar.
Keduanya berjalan bersama, meninggalkan rumah untuk mempersiapkan sesi lamaran dan persiapan kecil lainnya, sambil sesekali berbicara ringan tentang apa yang akan dilakukan. Suasana pagi itu hangat, penuh rasa harap dan sedikit gugup, namun terasa begitu nyata dan menggetarkan hati Ara.
Sesampainya di mall Danu turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Ara.
“Terima kasih,” ucap Ara pelan.
Danu mengangguk kecil “Sama-sama”
Mereka berjalan berdampingan masuk ke dalam mall. Lampu-lampu terang menyambut, udara sejuk langsung terasa. Ara refleks merapat sedikit karena dingin, dan Danu menangkap gerakan itu.
“Dingin?” tanyanya
“Sedikit” jawab Ara
"Mau langsung ke toko cincin, Mas?” tanya Ara sambil menatap Danu.
“Iya, ayo. Kita lihat-lihat dulu” jawab Danu sambil memegang tasnya dan tersenyum tipis ke Ara.
Mereka berjalan masuk, melewati beberapa toko fashion, aroma kopi dari kafe dekat pintu membuat Ara tersenyum. Setelah beberapa menit, mereka tiba di sebuah toko perhiasan yang elegan. Etalase kaca memantulkan cahaya lembut, dan berbagai cincin berkilau tersusun rapi di dalamnya.
Begitu masuk, Ara langsung menatap deretan cincin. Matanya berbinar, tapi ekspresinya berubah jadi sedikit bingung. “Wah… banyak banget, Mas… aku jadi bingung mau yang mana” ucapnya sambil menatap rak-rak kaca.
Danu mengangguk, wajahnya juga terlihat bingung tapi lucu “Iya… aku juga nggak nyangka pilihannya sebanyak ini. Kita pilih yang sederhana aja, tapi bagus dan berkesan” katanya sambil menepuk bahu Ara ringan.
Ara mendekati etalase, matanya meneliti satu per satu cincin yang tersusun rapi “Yang mana ya… yang cocok… yang nggak terlalu ramai tapi tetap elegan” gumamnya pelan, sesekali menatap Danu untuk mendapat pendapat.
Danu ikut menunduk, menatap rak lain “Kalau menurutku… yang model klasik tapi ada sentuhan modern. Biar terlihat timeless, tapi tetap beda” ucapnya sambil tersenyum ke Ara.
Ara tersipu, menatap Danu sebentar, lalu kembali meneliti cincin “Kalau yang ini, Mas? Atau yang itu?” tanyanya sambil menunjuk beberapa cincin
Danu melihat pilihan Ara, lalu mengangguk “Hmm… yang itu bagus. Simpel tapi tetap elegan. Aku yakin Ara bakal nyaman pakai itu nanti” jawabnya mantap.
Mereka terus berdiskusi, meneliti beberapa pilihan cincin sambil sesekali bercanda ringan. Ara terkekeh melihat Danu serius memilih, tapi tetap perhatian padanya. Suasana yang awalnya sedikit tegang berubah jadi hangat dan menyenangkan.
“Yang penting kamu nyaman, aku tinggal ngikut”
Ara mencoba beberapa cincin, ada yang terlalu besar, ada yang terlalu mencolok. Danu memperhatikan diam-diam, memperhatikan cara Ara tersenyum setiap kali menemukan model yang pas.
“Yang ini gimana?” Ara mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin sederhana dengan desain halus.
Danu menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum. “Bagus, cantik kalau dipakai kamu”
Ara tersipu “Nggak kebesaran?”
“Enggak, pas kok nyaman juga”
Setelah beberapa menit, mereka akhirnya menemukan cincin yang menurut mereka cocok—sederhana tapi elegan, dengan kilau yang pas. Ara tersenyum lega, menatap Danu “Akhirnya… ketemu juga yang cocok,” ucapnya dengan suara lembut
Danu tersenyum, menatap Ara hangat “Iya… dan aku senang kita bisa milih bareng. Ini bakal jadi awal yang bagus buat semuanya” katanya sambil mengangguk.
Pramuniaga tersenyum, lalu mencatat ukuran setelah cincin dipilih.
Setelah selesai membayar mereka pun berpindah ke toko seserahan selanjutnya yaitu toko skincare dan makeup. Ara tampak antusias, sementara Danu mengikuti dengan sabar, sesekali memberikan saran ringan.
“Ara, aku rasa pelembap yang ini cocok buat kamu tapi kalau mau yang lebih ringan, bisa pilih yang itu” ujar Danu sambil menunjuk beberapa produk.
Ara tersenyum, matanya berbinar “Iya, Mas. Makasih ya udah bantu pilih” ucapnya sambil mengambil beberapa produk ke keranjang belanja.
Danu hanya tersenyum, matanya hangat melihat Ara begitu ceria “Iya, aku kan mau semuanya bagus buatmu” jawabnya sambil menepuk pundak Ara ringan.
Setelah selesai mereka menyelesaikan pembayaran, membawa kantong-kantong belanja. Saat melangkah keluar toko, Ara menoleh ke arah Danu.
“Mas… aku boleh kan ubah panggilan jadi Mas?” ucapnya malu-malu.
“Iya, malah Mas lebih suka panggilan itu” jawab Danu sambil salah tingkah karena panggilan diubah.
“Makasih ya… sudah berdiri di samping aku” kata Ara.
Danu menatapnya hangat “Dari awal memang itu niatku”