NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: AKSES LAPTOP LAMA

#

Bayu berlutut di lantai kayu dingin. Tangannya meraba-raba di bawah kasur tipis yang pegas-pegasnya sudah karatan. Debu beterbangan, bikin hidungnya gatal.

"Harus ada sesuatu... pasti ada..."

Gumaman itu keluar tanpa sadar. Jari-jarinya menyentuh sesuatu keras. Dingin. Persegi.

Laptop.

Dia menariknya keluar pelan. Laptop tua. Mungkin udah lima tahun lebih. Casing-nya penuh goresan. Layarnya retak di sudut. Debu tebal menutupi keyboard.

Tapi ini... milik Kenzo.

Bayu duduk bersila di lantai. Membuka laptop itu pelan. Layarnya gelap. Mati total.

"Sial. Mati."

Dia mencari charger. Menemukan kabel kusut di belakang meja kayu lapuk. Colok ke laptop. Lampu indikator berkedip merah. Charging.

Bayu menunggu. Lima menit. Sepuluh menit.

Lalu dia coba nyalakan.

Layar berkedip. Logo merk laptop muncul. Lalu... layar hitam dengan tulisan putih.

"Masukkan kata sandi."

Bayu menatap layar itu. Otaknya kosong sebentar.

Kata sandi? Gue nggak tau kata sandi Kenzo.

Tapi... tunggu.

Memori.

Memori Kenzo masih ada di kepalanya. Seperti file yang tersimpan di cloud. Kadang muncul sendiri. Kadang harus digali.

Bayu menutup mata. Napas panjang.

Fokus. Ingat. Apa kata sandinya?

Gambar mulai muncul. Kabur. Pelan. Seperti video yang di-buffer.

Seorang anak kecil. Duduk di depan laptop. Mengetik sesuatu.

Tanggal lahir? Bukan.

Nama ibu kandung? Bukan.

Lalu... apa?

Gambar itu makin jelas. Anak kecil itu tersenyum tipis. Jari-jarinya mengetik sesuatu.

"A-n-a-k-T-e-r-b-u-a-n-g."

Kata sandi: AnakTerbuang.

Bayu membuka mata. Jantungnya berdegup keras.

Dia mengetik pelan. A. N. A. K. T. E. R. B. U. A. N. G.

Enter.

Layar berkedip.

Lalu... masuk.

Desktop muncul. Wallpaper hitam polos. Tidak ada foto. Tidak ada warna. Cuma hitam.

Seperti hati Kenzo yang kosong.

Bayu menatap layar itu. Dadanya sesak.

Anak terbuang.

Kenzo... lo emang ngerasain sendirian banget, ya?

Dia menggeleng pelan. Fokus. Nggak ada waktu buat sedih.

Jari-jarinya bergerak ke touchpad. Membuka folder. Dokumen. File. Banyak. Terlalu banyak.

"Apa yang gue cari..."

Lalu... memori lain muncul.

Lebih kuat kali ini. Seperti ditarik paksa.

Kenzo duduk di depan laptop yang sama. Tapi lebih muda. Mungkin tiga tahun lalu. Jari-jarinya mengetik cepat. Layar penuh dengan kode. Angka. Huruf. Simbol aneh.

"Gue bisa masuk... gue bisa ngehack sistem mereka..."

Suara Kenzo di memori itu gemetar. Takut. Tapi tekad.

Memori itu memutar terus. Kenzo berhasil masuk ke sistem keuangan keluarga. Lihat transaksi. Lihat aliran uang. Lihat... kejahatan.

Tapi dia ketakutan. Dia simpan semua file itu. Enkripsi. Sembunyikan.

Berharap suatu hari... dia bisa pakai itu buat melawan balik.

Tapi hari itu nggak pernah datang.

Karena Kenzo mati duluan.

Bayu tersadar dari memori itu. Napasnya pendek.

"Kenzo... lo udah tau mereka kotor. Tapi lo nggak berani lawan."

Dia menatap keyboard.

"Tapi gue bukan lo."

Jari-jarinya mulai bergerak. Pelan dulu. Lalu makin cepat.

Anehnya... tangannya tau harus ngapain. Seperti otomatis. Seperti udah hapal.

Ini bukan skill Bayu. Ini skill Kenzo.

Skill hacking yang Kenzo pelajari sendiri. Diam-diam. Di kamar sempit ini. Karena itu satu-satunya hal yang bikin dia merasa punya kekuatan.

Bayu membuka terminal. Mengetik perintah. Masuk ke folder tersembunyi.

"C:\Users\Kenzo\Documents.hidden\backup_data"

Folder itu terbuka. Penuh file. Ratusan. Mungkin ribuan.

Tapi satu file menarik perhatian.

"Transaksi_Gelap_Valerie.zip"

Bayu mengklik dua kali. Muncul pop-up.

"File terenkripsi. Masukkan kata sandi."

"Anjir..."

Dia menggigit bibir. Mikir cepat.

Kata sandi apa yang Kenzo pakai buat enkripsi ini?

Memori lagi. Datang cepat.

Kenzo menangis di kamar. Malam itu. Setelah dipukuli Raka. Dia buka laptop. Enkripsi file dengan kata sandi.

"I-b-u-M-a-a-f-k-a-n-A-k-u."

IbuMaafkanAku.

Bayu mengetik pelan. Tangannya gemetar.

Kata sandi itu... menyakitkan.

Kenzo nyimpen file bukti kejahatan keluarganya... dengan kata sandi permintaan maaf ke ibunya yang udah meninggal.

Seperti dia merasa... bersalah karena harus ngungkapin kejahatan keluarga ayahnya.

Air mata hampir keluar. Tapi Bayu tahan.

Enter.

File terbuka.

Ratusan dokumen. Foto. Screenshot. Transfer bank. Laporan keuangan. Email.

Semuanya... bukti.

Valerie dan Raka mencuri uang perusahaan. Bertahun-tahun. Ratusan miliar. Ditransfer ke rekening offshore. Disamarkan lewat perusahaan fiktif.

Dan mereka... lempar kesalahan ke Kenzo.

"Brengsek..."

Bayu tersenyum. Tapi senyum itu pahit.

"Kalian main kotor? Gue bisa lebih kotor."

Jari-jarinya bergerak cepat. Copy semua file ke USB yang dia temukan di laci meja. File mulai ter-copy. Progress bar bergerak pelan.

10 persen. 20 persen.

Bayu menunggu. Jantungnya berdegup keras.

40 persen. 50 persen.

Lalu... suara.

TOK TOK TOK!

Ketukan keras di pintu.

Bayu terlonjak. Jantungnya seperti mau copot.

"KENZO! KELUAR SEKARANG!"

Suara Raka. Keras. Marah.

TOK TOK TOK!

"GUE TAU LO DI DALEM! BUKA PINTUNYA!"

Bayu menatap layar laptop. Progress bar masih jalan.

70 persen.

"Cepetan... cepetan..."

Gumaman panik keluar.

TOK TOK TOK!

"KENZO! JANGAN MAKSA GUE DOBRAK PINTU INI!"

80 persen.

Keringat dingin mengalir di pelipis Bayu. Tangannya gemetar di atas keyboard.

90 persen.

BRAK!

Pintu digedor keras. Kayaknya Raka mulai tendang.

95 persen.

"Ayo... ayo... ayo..."

98 persen.

BRAK!

Pintu bergetar. Engsel mulai goyang.

99 persen.

BRAK!

100 persen!

"File berhasil di-copy."

Bayu langsung cabut USB. Masukin ke saku celana dalam. Tutup laptop cepat. Sembunyikan di bawah kasur lagi.

BRAK!

Pintu terbuka paksa. Engsel patah. Pintu jatuh ke lantai dengan bunyi keras.

Raka masuk dengan napas ngos-ngosan. Wajahnya merah. Mata melotot.

"LO... lo ngapain?!"

Bayu berdiri di tengah kamar. Tangan di samping tubuh. Wajahnya tenang. Padahal jantungnya hampir meledak.

"Packing. Kan disuruh keluar."

Raka menatap curiga. Matanya memindai kamar. Lalu ke Bayu.

"Gue denger suara ketikan. Lo ngetik apa?"

"Nggak ada apa-apa."

"BOHONG!"

Raka maju. Mendorong dada Bayu keras. Bayu terhuyung ke belakang.

"Lo nyembunyiin sesuatu, ya?! Apa yang lo cari?!"

Bayu diam. Menatap mata Raka tanpa berkedip.

Raka makin marah. Dia mulai ngacak-ngacak kamar. Buka laci. Lempar barang. Cari sesuatu.

Tapi nggak nemu apa-apa.

Laptop tersembunyi rapat di bawah kasur. USB aman di saku dalam.

Raka berbalik, napasnya berat. "Lo... lo berubah, Kenzo. Ada yang beda."

Bayu tersenyum tipis. "Mungkin gue udah capek jadi pecundang."

Raka menyipitkan mata. "Hati-hati sama mulut lo. Lo masih di rumah ini. Gue bisa bikin lo menderita lagi."

"Silakan coba."

Nada suara Bayu tenang. Tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang bikin Raka... nggak nyaman.

Raka mundur satu langkah. "Keluar dari rumah ini sebelum maghrib. Atau gue yang usir lo paksa."

Dia berbalik, keluar dari kamar dengan pintu yang udah ancur.

Bayu berdiri di sana. Sendirian. Napasnya keluar panjang.

Tangannya masuk ke saku dalam. Meraba USB kecil itu.

Bukti.

Semua bukti ada di sini.

"Tujuh hari, ya..."

Gumaman pelan keluar.

"Cukup buat gue hancurin kalian semua."

Dia duduk di kasur. Menatap pintu yang rusak.

Tapi pikirannya udah jauh.

Merencanakan langkah selanjutnya.

Dan kali ini... dia nggak akan main aman.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!