Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Segel yang Terbakar
Udara di Basement Level 4 RSU Cakra Buana terasa semakin berat, seolah oksigen perlahan digantikan oleh kabut tipis berbau amis darah yang menyengat indra penciuman. Elara Senja terdesak ke sudut pertemuan lorong, punggungnya menempel pada dinding dingin yang lembap oleh rembesan air tanah, sementara sosok bayangan itu kian memadat di hadapannya. Makhluk itu tidak lagi sekadar gumpalan asap hitam, melainkan mulai membentuk siluet manusia jangkung dengan lengan-lengan panjang yang menjuntai tidak wajar hingga menyentuh lantai.
Elara mencengkeram halaman segel yang ia temukan di ruang arsip medis dengan tangan gemetar, merasakan tekstur kertas tua itu yang kasar dan rapuh di bawah ibu jarinya. Ia tahu tidak ada waktu untuk ragu, karena suara gemeretak tulang yang saling beradu mulai terdengar dari arah makhluk tersebut, sebuah tanda bahwa entitas itu siap menyerang secara fisik. Elara memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki, lalu mengangkat kertas itu tinggi-tinggi ke arah bayangan yang mendekat.
"Kembalilah ke tempatmu terikat!" teriak Elara, suaranya parau namun menggema memantul di dinding-dinding lorong sempit itu.
Reaksi yang terjadi sungguh di luar dugaan, ketika tulisan sanskerta pada kertas tersebut mendadak berpendar dengan cahaya merah bara yang menyilaukan mata. Halaman itu terasa panas di telapak tangan Elara, seolah ia sedang memegang arang yang baru saja diangkat dari perapian, namun ia menolak untuk melepaskannya. Cahaya itu menembak lurus ke arah bayangan hitam, menciptakan suara desis nyaring seperti air dingin yang disiramkan ke atas penggorengan panas.
Bayangan itu melolong, sebuah suara yang bukan berasal dari pita suara manusia, melainkan gabungan dari jeritan ratusan orang yang terdengar sekaligus dalam satu frekuensi yang menyakitkan telinga. Sosok jangkung itu mundur terhuyung-huyung, bagian tubuhnya yang terkena cahaya merah tampak menguap menjadi asap abu-abu, meninggalkan lubang menganga di dadanya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Elara yang segera memacu kakinya berlari melewati celah sempit di samping makhluk yang sedang menggeliat kesakitan.
Lantai ubin RSU Cakra Buana yang retak-retak terasa licin di bawah sol sepatunya, membuat Elara beberapa kali nyaris tergelincir saat ia memaksakan diri berlari secepat mungkin. Ia tidak berani menoleh ke belakang, meskipun telinganya menangkap suara geraman marah yang perlahan berubah menjadi derap langkah berat yang mengejarnya. Tujuannya hanya satu, pintu besi bercat hijau pudar di ujung lorong yang merupakan akses menuju tangga darurat sisi barat.
Napas Elara memburu, dadanya terasa sesak seakan paru-parunya ditarik paksa keluar, namun adrenalin memaksanya mengabaikan rasa sakit itu demi bertahan hidup. Ia membanting tubuhnya ke arah pintu besi tersebut, menekan tuas pegangan yang sudah berkarat dengan kedua tangannya, berdoa dalam hati agar engsel tua itu tidak macet. Dengan suara decitan logam yang memekakkan telinga, pintu itu terbuka sedikit, cukup bagi Elara untuk menyelipkan tubuh rampingnya masuk ke area tangga.
"Cepat kunci pintunya!" sebuah suara berat mengejutkan Elara dari arah kegelapan di balik pintu.
Elara tersentak kaget namun refleks tubuhnya bekerja lebih cepat dari otaknya, ia segera mendorong pintu besi itu hingga tertutup rapat dan memutar kunci slot manual yang ada di sana. Detik berikutnya, sebuah benturan keras menghantam pintu dari sisi luar, membuat debu rontok dari kusen dan gaung dentuman logam memenuhi ruang tangga yang sempit itu. Makhluk itu gagal masuk, tertahan oleh pintu yang kini menjadi pembatas antara dunia manusia dan teror di lorong basement.
Elara merosot duduk di anak tangga, kakinya lemas seketika, dan barulah ia menyadari kehadiran sosok lain yang duduk bersandar di dinding seberangnya dengan wajah pucat pasi. Pak Darto, penjaga keamanan senior yang sempat menghilang saat kekacauan terjadi di lobi, kini terlihat memegangi lengan kirinya yang terbalut kain kemeja yang sudah berubah warna menjadi merah gelap. Pria paruh baya itu menatap Elara dengan sorot mata yang campuran antara lega dan ketakutan yang mendalam.
"Bapak... Bapak masih hidup?" tanya Elara dengan napas yang masih tersengal, matanya terpaku pada luka di lengan Pak Darto.
"Hampir tidak, Nak Elara... hampir tidak," jawab Pak Darto sambil meringis menahan nyeri, suaranya terdengar lemah dan serak. "Saya mencoba menahan mereka di lantai dua, tapi Dr. Arisandi... dia bukan manusia lagi, atau mungkin dia tidak pernah menjadi manusia sejak awal."
Elara bangkit perlahan dan mendekati Pak Darto, mencoba memeriksa luka di lengan pria itu yang tampak seperti bekas cakar binatang buas namun dengan pola luka bakar di pinggirannya. Ia merobek sedikit bagian bawah kemejanya sendiri untuk menambahkan bebat darurat, berusaha menghentikan pendarahan meski tangannya masih gemetar sisa ketegangan tadi. Informasi tentang Dr. Arisandi mengonfirmasi kecurigaan Elara selama ini bahwa dokter kepala itu memiliki agenda tersembunyi di balik pemugaran rumah sakit ini.
"Apa yang dia lakukan, Pak? Kenapa dia membiarkan makhluk-makhluk itu lepas?" tanya Elara sambil mengikat kain itu dengan kencang.
Pak Darto menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab, matanya menerawang ke arah tangga yang melingkar naik ke atas. "Dia tidak membiarkan mereka lepas, Elara, dia sedang memberi mereka makan. Basement ini... fondasi RSU Cakra Buana ini dibangun di atas titik temu energi, dan Arisandi ingin membuka 'Gerbang' itu sepenuhnya untuk mendapatkan keabadian yang dijanjikan oleh leluhurnya."
Elara terdiam, mencerna kata-kata itu, menyadari bahwa apa yang ia hadapi bukan sekadar hantu penasaran, melainkan sebuah ritual sistematis yang melibatkan nyawa manusia. Kertas segel yang ia gunakan tadi hanyalah pertahanan sementara, dan jika Arisandi berhasil membuka gerbang itu, maka teror yang ada di basement ini akan menyebar ke seluruh Kota Arcapura. Elara meraba saku celananya, memastikan sisa halaman buku tua yang ia curi dari ruangan Arisandi masih ada di sana.
"Kita tidak bisa diam di sini, Pak. Kalau Arisandi ada di atas, berarti pusat kendalinya ada di ruang generator lama di lantai dasar," ucap Elara dengan nada tegas, tekad baru mulai tumbuh di matanya.
Pak Darto menggeleng lemah, mencoba bangkit namun kakinya goyah, memaksanya kembali terduduk dengan napas berat. "Saya tidak bisa ikut, Nak. Kaki saya terkilir saat jatuh dari lantai dua tadi. Kamu harus pergi sendiri, hentikan dia sebelum jam tiga pagi... sebelum bulan benar-benar tertutup awan hitam."
"Saya tidak akan meninggalkan Bapak di sini sendirian," bantah Elara, matanya berkaca-kaca melihat kondisi pria tua yang sudah ia anggap seperti paman sendiri itu.
"Pergilah!" bentak Pak Darto tiba-tiba, mengejutkan Elara, sebelum kemudian melembutkan suaranya. "Mereka akan mencium bau darah saya. Jika kamu tetap di sini, kita berdua akan mati. Kamu satu-satunya yang memegang kunci untuk menutup kembali segel itu, Elara. Jangan sia-siakan pengorbanan rekan-rekan kita."
Suara langkah kaki berat terdengar dari lantai atas, bergema menuruni tangga besi, disertai suara siulan pelan yang melodi lagunya terdengar sangat familiar namun mengerikan. Itu adalah lagu pengantar tidur kuno yang sering dinyanyikan ibu-ibu di Arcapura zaman dulu, dan kini dilantunkan dengan nada mengejek oleh seseorang yang sedang turun mendekati posisi mereka. Elara tahu itu adalah Dr. Arisandi, yang datang untuk memastikan tidak ada saksi mata yang tersisa.
"Lewat pintu itu... tembus ke ruang genset," bisik Pak Darto sambil menunjuk pintu kecil di bawah tangga yang nyaris tidak terlihat karena tertutup debu. "Saya akan mengalihkan perhatiannya. Lari, Elara!"
Elara menatap Pak Darto untuk terakhir kalinya, melihat anggukan mantap dari pria tua itu, lalu memaksakan dirinya berbalik menuju pintu kecil tersebut. Dengan hati hancur, ia menyelinap masuk ke dalam lorong perawatan teknis yang gelap gulita, tepat saat suara pintu tangga di lantai atas terbuka dengan kasar. Elara menutup mulutnya rapat-rapat, air mata mengalir di pipinya saat ia mendengar suara Pak Darto menyapa kedatangan sang dokter iblis itu dengan tawa menantang.