NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.

Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Seminggu penuh Nickholes mengabaikan kebutuhan tubuhnya sendiri. Pria itu menolak tidur di tempat tidur yang layak, menolak makan dengan teratur, dan menghabiskan setiap detiknya hanya untuk memastikan Nadine nyaman. Akibatnya, pertahanan tubuh sang atlet bintang itu akhirnya tumbang juga.

Pagi itu, Nick tidak bangun untuk menyiapkan air hangat bagi Nadine. Ia terbaring di sofa kecil di sudut kamar dengan napas yang panas dan berat. Wajahnya yang biasanya tegas kini pucat pasi, dan tubuhnya menggigil hebat di balik selimut tipis.

Nadine, yang baru saja terbangun, merasakan firasat buruk saat tidak mendengar ocehan lucu Nick pada perutnya. Dengan susah payah, ia menyeret tubuhnya yang semakin berat menuju sofa. Saat tangannya menyentuh dahi Nick, ia tersentak. Panasnya luar biasa.

"Nick... kau sakit," bisik Nadine. Ada rasa panik yang menyeruak di dadanya, sebuah perasaan yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam.

Melihat Nick yang tak berdaya, kekuatan asing seolah merasuki tubuh Nadine. Rasa lelahnya seolah menghilang, digantikan oleh naluri pelindung. Dengan nada yang tak membantah, ia memerintahkan para pelayan untuk membantu Nick pindah ke ranjang king size miliknya.

Saat Nick sudah terbaring di sampingnya, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas demam itu membawa ingatan Nadine terbang jauh ke masa kebersamaan mereka.

Dulu, Nick selalu punya cara unik untuk sembuh. Pria itu tidak mempan dengan obat-obatan kimia. Nickholes Teldford hanya akan sembuh total dengan satu cara, penyatuan.

Bukan sekadar penyatuan raga yang kasar, melainkan keintiman yang mendalam, perpindahan energi, dan rasa memiliki yang mutlak. Nick selalu bilang bahwa Nadine adalah obat terbaiknya.

Nadine menatap wajah Nick yang merintih dalam tidurnya. Hatinya yang beku mulai retak. Ia tahu, di balik kemarahannya, ia masih sangat mengenal pria ini. Ia tahu bagaimana setiap inci tubuh Nick bereaksi terhadap sentuhannya.

Dengan gerakan perlahan, Nadine merebahkan tubuhnya di samping Nick. Ia bisa merasakan hawa panas memancar dari tubuh pria itu.

Nadine mengeluarkan suaranya, dingin namun ada getaran emosional di dalamnya. "Nick... buka matamu."

Nick mengerang, perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat. Saat melihat wajah Nadine yang begitu dekat, ia mengira ia sedang bermimpi di tengah igauannya. "Nadine... Sayang...maaf aku tidak bisa menjagamu malam ini..."

Nadine membelai pipi Nick yang kasar karena jambang. "Diamlah. Kau selalu saja keras kepala."

Nadine menarik napas panjang, menatap perutnya yang besar, lalu kembali menatap mata Nick. "Nick, aku mengizinkanmu mengunjungi putramu sekali ini. Hanya sekali ini. Gunakan waktu ini untuk sembuh, karena aku tidak mau anakku memiliki ayah yang lemah."

Mata Nick membelalak. Ia paham maksud Nadine. Izin itu bukan sekadar izin bicara pada perut, tapi izin untuk meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka malam ini.

Dengan sangat hati-hati agar tidak menekan perut Nadine, Nick menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Suhu tubuh mereka yang kontras, dinginnya kulit Nadine dan panasnya demam Nick, bertemu dalam sebuah dekapan yang erat.

Nadine memandu tangan Nick untuk masuk ke balik pakaiannya, menempelkan telapak tangan besar itu langsung ke kulit perutnya yang meregang. Di sana, mereka bisa merasakan sang bayi bergerak aktif, seolah ikut menyapa ayahnya yang sedang tidak berdaya.

"Dengar, Jagoan," bisik Nick serak, suaranya bergetar tepat di ceruk leher Nadine. "Ayah sedang meminjam kekuatan darimu dan Ibu. Jangan nakal di dalam sana."

Penyatuan itu dimulai dengan ciuman yang sangat lambat. Tidak ada kemarahan, tidak ada dendam yang dibahas. Yang ada hanyalah dua jiwa yang sudah terlalu lama saling merindukan. Nadine memberikan akses pada tubuhnya, membiarkan Nick menemukan kenyamanan yang selama ini hilang. Nick menciumi setiap inci wajah Nadine, bahunya, hingga puncak perutnya dengan penuh pemujaan.

Ada keajaiban dalam keintiman itu. Saat kulit mereka bersentuhan tanpa pembatas, Nadine bisa merasakan demam Nick seolah terserap oleh cintanya. Keringat mulai membasahi tubuh mereka, menandakan bahwa panas di tubuh Nick mulai pecah. Penyatuan raga yang emosional itu menjadi jembatan bagi semua kata maaf yang tak sempat terucap.

Nadine menangis dalam diam saat merasakan Nick memeluk perutnya dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung Nadine sambil terus membisikkan kata-kata cinta. Di momen itu, status mantan kekasih atau pria brengsek seolah memudar. Yang ada hanyalah seorang ayah, seorang ibu, dan calon anak mereka yang bersatu dalam keheningan malam Swiss yang dingin.

Nick bergerak dengan sangat hati-hati, seolah-olah Nadine adalah mahakarya paling rapuh yang pernah ia sentuh. Setiap inci kulit mereka yang bertemu terasa seperti percikan listrik yang sudah berbulan-bulan padam.

"Nadine..." desis Nick serak. Matanya yang sayu karena sakit menatap Nadine dengan pemujaan yang mendalam. Ia memposisikan dirinya dengan sangat protektif, memastikan tidak ada beban yang menekan perut besar Nadine.

Saat penyatuan itu terjadi, Nick memejamkan matanya rapat-rapat, menghirup aroma tubuh Nadine yang selalu menjadi candunya.

"Aku akan berusaha pelan, Nadine... Aku janji akan sangat pelan," bisiknya dengan suara yang bergetar hebat. Ia bergerak dengan ritme yang penuh perasaan, sebuah tarian raga yang lebih banyak bercerita tentang penyesalan daripada nafsu.

Setiap sentuhan Nick adalah permintaan maaf. Ketika ia mencapai pelepasan yang pertama, Nick menyandarkan kepalanya di bahu Nadine, napasnya memburu, dan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia merasa seolah nyawanya kembali ditarik masuk ke dalam tubuhnya.

Namun, keajaiban penyembuhan itu belum sepenuhnya tuntas. Meski napas Nick mulai stabil, raga pria itu seolah menolak untuk menjauh dari Nadine. Ia merasa haus yang luar biasa akan kehadiran wanita ini sebuah kehausan yang tidak bisa dipuaskan hanya dengan sekali waktu.

Nick mengecup leher Nadine, memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat Nadine mendesah pelan dalam diam. Nick merapatkan kembali tubuh mereka, merasakan kulit perut Nadine yang kencang bersentuhan dengan kulitnya.

"Nick... sudah," bisik Nadine lemah, meski tangannya justru semakin erat mencengkeram bahu Nick.

Nick menggeleng pelan, ia menatap Nadine dengan tatapan memohon yang sangat kekanakan namun tulus. "Sekali lagi, Nadine... kumohon, sekali lagi," bisiknya tepat di depan bibir Nadine. "Sepertinya aku masih meriang... tubuhku masih terasa menggigil jika aku tidak berada di dalammu."

Nadine tahu itu hanya alasan Nick agar bisa terus memilikinya, namun ia juga merasakan bahwa tubuh Nick memang masih memancarkan sisa-sisa hawa panas demam.

 Alih-alih mengusir, Nadine justru melingkarkan kakinya di pinggang Nick, memberikan izin bisu bagi pria itu untuk kembali masuk ke dalam dunianya.

Di pelepasan kedua yang jauh lebih intens dan penuh emosi, Nick tidak lagi bisa menahan air matanya. Air mata itu jatuh di atas dada Nadine. Nick kemudian merosot turun, memposisikan wajahnya tepat di depan perut Nadine.

Ia menciumi perut itu dengan penuh kasih sayang, sementara napasnya masih tersengal.

"Hey, Jagoan... lihat Ayahmu," gumam Nick sambil mengelus perut Nadine dengan tangan yang masih gemetar. "Ayah sedang mencuri kekuatan dari Ibumu agar bisa bangun besok pagi untuk menjagamu. Maafkan Ayah karena menggunakan alasan sakit agar bisa terus memeluk Ibu."

Nick tertawa kecil di sela isaknya, lalu mengecup pusat perut Nadine dengan lembut. "Jangan bilang-bilang Ibu kalau Ayah sebenarnya sudah merasa jauh lebih baik sejak sentuhan pertama tadi. Ayah hanya ingin berlama-lama di sini... mengunjungi rumah kecilmu."

Nadine yang melihat pemandangan itu merasa dadanya sesak oleh haru yang ia tekan kuat-kuat. Ia membelai rambut Nick, membiarkan pria itu bermanja-manja pada perutnya.

"Kau pria yang licik, Nickholes," ucap Nadine pelan, namun nadanya tidak lagi sedingin es.

"Aku hanya pria yang sedang berjuang untuk hidup, Nadine. Dan hidupku ada di dalam sini, di dalam dirimu," jawab Nick sambil mendongak, menatap mata Nadine dengan cinta yang begitu besar hingga membuat Nadine harus membuang muka agar tidak menangis.

Beberapa jam kemudian, keringat Nick mereda. Napasnya tidak lagi berat. Keajaiban itu terulang kembali, Nickholes selalu sembuh saat ia merasa pulang ke pelukan Nadine.

Nick tidak melepaskan pelukannya. Ia menciumi pundak Nadine yang polos. "Terima kasih, sayang. Terima kasih sudah mengizinkanku."

Nadine tetap diam, menatap rembulan di balik jendela kaca. Meskipun ia berkata hanya sekali ini, jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa benar-benar mengusir pria ini lagi. Raga dan hatinya sudah terlanjur menyatu, terikat oleh nyawa baru yang sedang tumbuh di dalam dirinya.

"Jangan berpikir ini artinya aku memaafkan mu sepenuhnya, Nick," bisik Nadine, meski tangannya kini menggenggam erat tangan Nick yang ada di perutnya.

Nick tersenyum kecil, mencium telinga Nadine. "Aku tahu. Aku punya seumur hidup untuk membuatmu memaafkan ku. Tapi malam ini, bertemu dengan putraku dan memilikimu kembali... itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku sanggup menghadapi dunia lagi."

MAlam itu, penyembuhan Nick benar-benar sempurna. Ia tidak lagi menggigil karena demam, melainkan hangat karena cinta. Mereka tertidur dalam posisi yang sangat intim, dengan tangan Nick yang tidak pernah lepas dari perut Nadine, seolah-olah ia sedang menjaga harta karun paling berharga di seluruh dunia.

Di kamar yang kini terasa hangat itu, kedua manusia yang terluka itu akhirnya tertidur dalam damai. Sang bayi di dalam rahim Nadine akhirnya tenang, seolah tahu bahwa malam ini, ayahnya telah benar-benar kembali untuk menjaganya dan ibunya, untuk selamanya.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 🥰

1
Endang Sulistia
bagus...ceritanya ringan
Lutfiah Tunnissa
semangat kkk
Lutfiah Tunnissa
hadir kk ceritanya bagus up terus yaa💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!