NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Dua Puluh Delapan

Pertemuan pertama itu mengalir jauh lebih tenang dari yang Felicia bayangkan. Meja makan kayu di rumah Bogor itu menjadi saksi bagaimana kecanggungan mencair menjadi tawa.

Pak Han—atau kini lebih akrab disapa James—ternyata sangat pandai membawa diri. Ia tampak begitu menikmati suasana, bahkan terlihat gemas saat Arimbi, keponakan kecil Felicia, berulang kali menjulukinya "Oppa Ganteng" sambil tersipu malu.

Setelah makan siang yang penuh kehangatan itu usai, jarum jam memaksa mereka untuk segera pamit. Besok adalah hari kerja, dan perjalanan menuju Jakarta masih harus ditempuh sebelum malam menjemput.

Di teras depan, Pak Han berdiri bersisian dengan Wa Pian. Keduanya tampak asyik memandangi deretan sangkar burung yang tergantung rapi. Siapa sangka, hobi Wa Pian merawat burung berkicau ternyata menarik perhatian James yang biasanya hanya berkutat dengan angka dan laporan.

Sementara itu, di dapur, Felicia masih sibuk mengemas barang-barangnya. Nek Diah dengan tangan rentanya yang telaten memasukkan beberapa kotak plastik berisi lauk pauk ke dalam tas belanja kain.

"Ini, bawa sadayana, Neng. Jadi sampai Jakarta nanti kamu teu kudu repot masak atau beli makan lagi. Masih sae semua ini," ucap Nek Diah lembut sambil memastikan tutup kotak itu rapat.

Felicia tersenyum haru, menerima tas belanja itu. "Makasih banyak ya, Nek. Feli jadi merepotkan terus setiap pulang."

"Bicara apa kamu ini," Nek Diah mengibaskan tangan, lalu menatap cucunya dengan binar mata yang berbeda. "Nak James itu... kelihatannya orang baik ya, Neng. Sopan sekali, ramah lagi walau dia orang besar."

Felicia mengangguk kecil, rona merah tipis muncul di pipinya. "Iya, kan Feli sudah bilang. Beliau memang baik, Nek. Makanya Feli sempat bingung dan agak segan waktu dia menyatakan niatnya."

Nek Diah menghentikan gerakannya, lalu mengusap lengan Felicia dengan kasih sayang. "Neng, dengar Nenek. Terima dia karena hatimu memang menginginkannya, ya? Jangan karena sungkan atau merasa berutang budi. Pernikahan itu maunya kita sekali seumur hidup. Jadi, pastikan kamu melangkah dengan seseorang yang memang kamu yakin bisa berbagi napas selamanya."

"Iya, Nek. Feli paham," jawab Felicia tulus.

"Kalau Nenek sih, jujur saja... lampu hijau," bisik Nek Diah sambil tersenyum menggoda. "Dia sudah dewasa, mapan, mau menerima kondisi kita apa adanya tanpa menghakimi. Kurang apa lagi?"

Felicia terkekeh, beban di pundaknya seolah terangkat seketika. "Alhamdulillah kalau Nenek sudah setuju. Rasanya hati Feli jadi jauh lebih ringan."

Sambil merogoh tasnya, Felicia mengeluarkan sebuah amplop. "Nek, ini uang bulanan untuk Nenek dan Wa Pian. Titip juga buat jajan Arimbi dan Agung. Kalau untuk tambahan biaya PKL Agung, Feli kirim bulan depan ya, Nek."

Nek Diah menerima amplop itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Tatapannya penuh terima kasih, namun terselip rasa tak enak hati yang mendalam. "Maaf ya, Fel... Nenek jadi membebankan semuanya padamu. Apalagi Wa Pian juga sekarang sedang sulit..."

"Ssst, sudah Nek, tidak usah dipikirkan begitu," potong Felicia cepat, merangkul bahu neneknya. "Nenek dan Wa Pian sudah mengurus Feli dari kecil saat orang lain tidak ada. Sekarang giliran Feli yang jaga kalian. Lagipula Feli ada rezeki lebih kok, Nenek tenang saja."

Nek Diah menghela napas, merasa lega sekaligus bangga. "Tapi kalau kamu lagi tidak ada, jangan dipaksakan ya. Kamu harus bilang. Wa Pian juga masih jualan sayuran di pasar, nanti biar dia yang usahakan sebagian untuk PKL anaknya."

"Iya, Nek. Nanti kita bicarakan lagi ya," ucap Felicia sambil mencium kening neneknya, menutup percakapan itu dengan pelukan hangat sebelum melangkah keluar menuju teras, di mana Pak Han sudah menunggunya dengan senyum yang menenangkan.

...***...

Lampu jalanan mulai menyala satu per satu saat mobil melaju membelah kemacetan menuju Jakarta.

Sepanjang perjalanan, James tidak membiarkan tangan Felicia lepas dari genggamannya. Sebelah tangannya fokus pada kemudi, sementara jemarinya yang lain bertaut erat dengan jemari Felicia di atas consul box mobil.

Sesekali, James melirik ke samping. Senyum tipis yang tulus seolah enggan beranjak dari bibirnya.

"Keluarga kamu sangat menyenangkan, Fel," ucap James memecah keheningan yang nyaman. "Ngobrol sama mereka tidak terasa seperti pertemuan pertama. Semuanya mengalir begitu saja, hangat."

Felicia menoleh, menatap profil samping pria itu dengan binar haru. "Terima kasih ya, Mas, sudah mau menerima keluargaku apa adanya."

James menggeleng pelan, lalu membawa punggung tangan Felicia ke bibirnya, mengecupnya singkat. "Seharusnya aku yang berterima kasih karena mereka mau menerimaku dengan tangan terbuka, Fel."

Saat mobil mulai memasuki area pusat kota, James memperlambat lajunya. "Mampir ke tempatku dulu, ya?"

Felicia sedikit terkejut. "Memangnya kenapa, Mas? Ini sudah mau malam."

"Aku masih pengen sama kamu . Kalau aku nganter kamu langsung ke kost, aku gak boleh masuk, kan? Aturan di sana ketat sekali," goda James dengan nada manja yang jarang ia tunjukkan.

Felicia tertawa kecil. Mengingat hari masih belum terlalu larut dan besok mereka harus kembali ke rutinitas kantor, ia pun mengangguk setuju. "Ya udah, sebentar saja ya."

Begitu pintu apartemen James tertutup rapat, suasana mendadak berubah hening. Belum sempat Felicia meletakkan tasnya, James sudah menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Ia memeluk Felicia dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Felicia, menghirup aroma sabun dan sisa wangi matahari yang tertinggal.

"Mas?" bisik Felicia, sedikit terkejut dengan tindakan impulsif itu.

"Tunggu sebentar... biarkan seperti ini dulu," gumam James pelan, suaranya terdengar sedikit parau. "Aku sudah menahan ini sejak tadi. Kangen banget."

Felicia merasakan detak jantung James yang berdegup kencang namun beraturan, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya dingin dan terkendali di kantor.

Perlahan, kekakuan di bahu Felicia mencair. Ia menyamankan posisinya dalam pelukan hangat itu dan melingkarkan lengannya di pinggang James, membalas pelukannya dengan kekuatan yang sama.

Keheningan yang nyaman itu dirusak oleh dering ponsel yang nyaring. James tersentak, bahunya merosot saat ia menghela napas panjang. Ada gurat kekesalan yang tidak ditutupi di wajahnya—ia jelas tidak senang karena ada yang berani mengusik momen berharganya bersama Felicia.

​"Fel, aku angkat telepon dulu ya? Sepertinya mendesak," pamit James sambil mengusap puncak kepala Felicia dengan lembut. "Kamu tunggu di sini sebentar, jangan ke mana-mana."

​Felicia mengangguk maklum. "Iya, Mas. Silakan."

​Sambil menunggu James melangkah ke area balkon untuk menerima panggilan, Felicia mengempaskan tubuhnya ke sofa abu-abu yang empuk. Apartemen itu sangat tenang, hanya terdengar sayup-sayup suara bariton James yang sedang berbicara serius dalam bahasa Inggris.

​Felicia bermaksud mengecek pesan di ponselnya, namun entah karena efek perut kenyang setelah makan siang di Bogor atau rasa lelah yang baru terasa setelah perjalanan jauh, kelopak matanya perlahan terasa sangat berat. Aroma parfum James yang tertinggal di bantal sofa seolah menjadi pengantar tidur yang paling nyaman.

​Ponselnya perlahan terlepas dari jemarinya, mendarat pelan di atas karpet berbulu. Tanpa sadar, Felicia sudah terlelap, meringkuk kecil di atas sofa itu mencari kehangatan.

Begitu James menutup telepon dan kembali ke ruang tengah, kemarahannya pada si penelepon tadi langsung luruh. Pemandangan di depannya jauh lebih menyita perhatian. Felicia tampak begitu mungil, meringkuk di atas sofa abu-abunya yang besar dengan napas yang teratur.

​James melangkah mendekat dengan sangat pelan, seolah lantai kayu apartemennya adalah hamparan kaca yang mudah pecah. Ia berlutut di samping sofa, menatap wajah polos Felicia yang sedang terlelap.

Jemarinya bergerak ragu, sebelum akhirnya memberanikan diri mengusap helaian rambut yang menutupi dahi gadis itu.

​Ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya saat memandang wajah lelah itu. Ingatannya kembali pada kejadian di rumah Bogor beberapa jam lalu. Saat itu, ia berniat izin ke kamar mandi, namun langkahnya terhenti secara tidak sengaja di balik pilar ruang tengah.

​Ia mendengar semuanya.

​Suara lembut Felicia saat menyerahkan amplop pada Nek Diah, janji-janjinya untuk membiayai sekolah keponakannya, hingga beban berat yang dipikul gadis itu sendirian demi menjaga martabat keluarga besarnya.

James melihat bagaimana Felicia menyembunyikan lelahnya di balik senyum, memastikan nenek dan pamannya merasa tenang, seolah ia adalah pilar yang tak boleh retak.

​‘Sejak kapan kamu memikul beban seberat ini sendirian, Fel?’ batin James getir.

​Ia mengusap pipi Felicia dengan punggung jarinya, sangat lembut. James merasa kagum, namun di sisi lain hatinya terasa perih. Pria itu menyadari bahwa di balik kemandirian Felicia di kantor selama ini, ada perjuangan besar yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

​James bangkit berdiri sebentar untuk mengambil sebuah selimut dari kamarnya. Dengan gerakan ekstra hati-hati, ia menyelimuti tubuh Felicia hingga sebatas bahu. Ia tidak berniat membangunkan gadis itu.

​Sejenak, James hanya diam mematung di sana, menjaganya. Dalam hatinya, ia berjanji bahwa mulai saat ini, Felicia tidak perlu lagi berdiri sendirian. Ia akan memastikan bahu gadis itu memiliki tempat untuk bersandar, bukan hanya untuk berbagi kebahagiaan, tapi juga untuk meletakkan segala beban yang selama ini dipendamnya.

​James mengecup kening Felicia sangat lama, sebuah ciuman yang lebih dari sekadar kasih sayang—itu adalah sebuah janji perlindungan.

Bagaimana chapter iniiii?

Seperti biasa jangan lupa vote dan komen yaaaa

Terimakasiiiih✨✨✨

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!