Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33 Takut Keberatan Body
Rina langsung membelalakkan matanya, protes dengan nada manja yang sudah lama tidak terdengar. Ia mencubit pelan lengan Gus Azkar, berusaha menutupi rasa senangnya karena diperhatikan begitu dalam.
"Ih Mas Azkar! Aku nggak mau ya kalau sampai gendut banget!" seru Rina sambil mengerucutkan bibirnya.
Azkar hanya terkekeh, menikmati setiap ekspresi istrinya yang mulai kembali hidup. "Loh, kenapa? Bukannya bagus kalau berisi? Mas lihat di foto tadi kamu kelihatan lebih segar begitu."
"Ya jangan berlebihan juga mas!" balas Rina cepat. "Nanti kalau aku kegendutan, yang ada aku nggak bisa jalan! Mas mau tanggung jawab kalau aku cuma bisa guling-guling di kasur?"
Azkar tertawa lepas, suara tawa yang begitu renyah hingga membuat perawat yang lewat di depan kaca ICU sempat menoleh heran. Ia menggenggam tangan Rina, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Kalau kamu nggak bisa jalan karena keberatan badan, ya Mas gendong lagi seperti tadi. Apa susahnya?" goda Azkar dengan kerlingan mata yang membuat Rina kembali salah tingkah.
Tekad untuk Pulih
"Tapi serius, Rin," wajah Azkar kembali melunak, menatap Rina dengan penuh permohonan. "Mas mau kamu makan banyak mulai hari ini. Mas nggak mau lihat tulang-tulang ini lagi. Mas mau Rina yang sehat, yang pipinya merah kalau Mas goda, bukan yang pucat karena kurang gizi. Tiga hari ya? Mas kasih target tiga hari untuk balikin tenaga kamu."
Rina menghela napas panjang, namun matanya berbinar. "Iya, iya... Mas bawel banget sih. Tapi Mas harus janji, jangan paksa aku makan sayur brokoli ya? Aku nggak suka!"
"Selama kamu mau makan nasi dan lauk yang banyak, brokoli boleh absen dulu," jawab Azkar sambil mengusap kepala Rina yang tertutup kerudung instan.
Dalam hati, Azkar bersyukur. Keinginan Rina untuk berdebat soal berat badan adalah tanda bahwa semangat hidupnya telah kembali sepenuhnya. Ia tak lagi memikirkan tentang kematian atau perpisahan, melainkan tentang bagaimana ia akan terlihat di mata suaminya esok hari.
____________________________________________________
Rina akhirnya menyerah dan berjanji akan makan banyak demi mengembalikan bentuk tubuhnya yang "ideal" versi galeri ponselnya.
____________________________________________________
*******
Setelah dua minggu melewati masa kritis dan pemulihan di rumah sakit, akhirnya tiba hari yang dinanti. Gus Azkar membawa Rina pulang ke rumah orang tuanya untuk menjalani masa pemulihan lanjutan. Begitu sampai di depan pintu kamar Rina, Azkar perlahan membuka pintu sambil tetap menggendong istrinya dengan penuh kehati-hatian.
Begitu pintu terbuka, Gus Azkar terpaku. Matanya menyapu setiap sudut ruangan yang selama ini menjadi rahasia pribadi istrinya.
Kamar di Balik Pintu Biru
Azkar benar-benar tidak menyangka. Kamar Rina tampak begitu elegan dan estetik dengan dominasi warna biru keabu-abuan yang menenangkan. Lampu tidur Aurora menyala, memproyeksikan cahaya indah ke langit-langit kamar, diiringi alunan lagu India yang lembut—menciptakan suasana yang sangat jauh berbeda dari kamar santri di pesantren.
"Ini... kamar kamu, Rin?" bisik Azkar takjub.
Rina hanya mengangguk malu sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. Kamar itu kedap suara, sangat dingin karena AC yang menyala, dan wanginya sangat khas—wangi melati keraton yang elegan.
Detail Kehidupan Rina
Azkar menurunkan Rina di atas ranjang yang sangat empuk. Ia melihat meja rias yang tertata sangat rapi dengan deretan skincare Skintific warna biru dan alat make-up yang lengkap. Di sudut lain, terdapat lemari makanan bening yang penuh dengan stok camilan manis, asin, hingga mie instan.
Namun, yang paling membuat Azkar tertegun adalah lima bingkai foto kecil (pila) yang memperlihatkan wajah imut Rina tersusun rapi di dekat rak sepatu. Di dinding, tersusun rapi koleksi body care dosting, parfum Salsa, dan bahkan ada aroma parfum cowok yang maskulin. Di sisi lain kamar, terdapat sajadah dan Al-Qur'an yang menandakan bahwa pemiliknya tetap menjaga ibadahnya.
Foto yang Mengejutkan
Pandangan Azkar kemudian tertancap pada sebuah foto berukuran cukup besar yang terpampang di dinding dekat jam. Nafas Azkar seolah terhenti.
Dalam foto itu, Rina memakai daster mini. Dengan berani, ia sedikit menaikkan baju dasternya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang montok, putih mulus, dan sangat menggoda. Rina di foto itu tampak menggigit bibir bawahnya, sementara satu tangannya memainkan rambut bergelombang warna biru muda. Pose yang sangat menantang, seolah sedang menggoda siapa pun yang melihatnya.
Azkar berdehem, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Ia melirik Rina yang sekarang sudah kembali memakai jilbab rapat dan baju tertutup.
"Rin... itu foto kamu juga?" tanya Azkar dengan suara yang sedikit serak. "Ternyata benar, kamu itu penuh kejutan. Rambut kamu... aslinya warna biru?"
Rina langsung menarik selimut sampai menutupi wajahnya karena malu rahasia kamarnya terbongkar semua. "I-iya Mas... itu dulu waktu Rina lagi iseng. Mas jangan lihatin terus!"
Azkar tersenyum penuh arti. Ia mendekat ke arah Rina, lalu duduk di tepi ranjang. "Kenapa harus ditutup? Mas malah senang. Ternyata Mas menikahi seorang wanita yang punya banyak sisi. Ada sisi shalihah dengan sajadahnya, tapi ada sisi... nakal yang hanya boleh Mas lihat di kamar ini."
____________________________________________________
Suasana kamar yang estetik dan penuh rahasia ini membuat hubungan mereka terasa semakin intim dan berbeda dari biasanya.
____________________________________________________