NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan / Iblis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

⚠️MC NON MANUSIAWI‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Jinting

Di tengah Hutan Kabut Kematian, di mana sinar matahari selalu gagal menembus tirai uap beracun, sebuah fenomena aneh terjadi. Di sebuah tanah lapang yang dipenuhi sisa-sisa tulang monster, tidak ada satu pun daun yang berguguran. Bukan karena angin berhenti bertiup, melainkan karena setiap materi yang mendekati pusat tanah lapang itu... terbelah.

Lu Daimeng berdiri di sana, bertelanjang dada, membiarkan kulitnya yang berwarna putih pucat terpapar elemen liar.

Dia tidak sedang memancarkan aura. Sebaliknya, dia sedang menelan realitas.

Di dalam perutnya, bola singularitas mikroskopis yang dia sebut sebagai Anti-Dao berputar dengan ritme yang mematikan. Energi baru yang mengalir di pembuluhnya bukan lagi darah biasa, dan jelas bukan Qi. Itu adalah Dark Null—energi ketiadaan murni yang padat, dingin, dan menolak segala bentuk hukum Dao.

Secara klasifikasi ortodoks, Lu Daimeng tidak memiliki tingkat kultivasi. Namun, jika diukur dari kepadatan kekuatan, sel, massa otot yang termutasi, dan gravitasi internalnya, kekuatan fisiknya saat ini setara dengan Ranah Pembentukan Qi Tahap 5 bagi mereka yang mengandalkan Qi eksternal.

Dia bukan kultivator. Dia adalah manusia bermutasi.

Mata Tiga Pupil-nya—enam iris hitam yang berputar di dalam lautan emas pucat—menatap sebongkah batu monolit raksasa di depannya. Batu itu seukuran rumah kecil, berdiameter sepuluh meter, padat dan berurat besi.

Lu Daimeng tidak mengambil ancang-ancang. Dia tidak berteriak untuk mengumpulkan tenaga.

Dia hanya melangkah satu kali, membiarkan Dark Null melapisi serat-serat otot di lengan kanannya, lalu melepaskan pukulan lurus yang sangat kuat.

DUAARRR!

Tidak ada ledakan cahaya. Tidak ada gelombang kejut Qi yang indah. Hanya suara memekakkan telinga dari hukum yang dihancurkan secara paksa.

Batu raksasa sepuluh meter itu pecah menjadi batu-batu kecil dan sebagian lagi lenyap. Gelombang kinetik murni dari kepalan tangannya merambat melalui kepadatan batu, memutus ikatan molekulernya seketika. Hembusan angin kencang tercipta dari sisa tekanan udara, menyapu debu batu itu ke dalam kabut.

Lu Daimeng menarik tangannya perlahan. jarinya tidak lecet sedikit pun.

"Teknik pedangku menjadi lebih tajam karena aku menggunakan Dark Null," bisiknya pada keheningan. "Gerakanku juga jauh lebih cepat."

Namun, telinganya yang tajam menangkap suara lain. Jauh di batas persepsinya.

Suara peluit bambu penanda udara. Langkah-langkah kaki ringan yang jumlahnya lebih dari selusin. Dan kilatan-kilatan cahaya biru dari pedang terbang yang menembus kabut di wilayah atas.

Murid-murid Sekte Awan Biru.

Sejak dia membantai beberapa murid mereka di hutan ini sebelumnya, sekte itu tidak tinggal diam. Mereka meningkatkan intensitas patroli, mengirim lebih banyak murid untuk menyisir hutan.

"Mereka terus mencari jejak dari murid yang telah mati," gumam Lu Daimeng dingin. "Hutan ini sudah terlalu ramai. Variabel yang tidak bisa dikendalikan mulai bermunculan."

Bagi seorang ahli strategi, bertahan di tempat yang sama saat musuh mulai memusatkan sumber daya adalah kebodohan. Hutan Kabut Kematian telah memberinya apa yang dia butuhkan: bahan bakar untuk evolusi pertamanya. Sekarang, dia butuh panggung yang berbeda.

Lu Daimeng berbalik. Dia mengenakan jubah kasarnya yang terbuat dari kulit Gagak Racun Hitam, menutupi tubuhnya yang berotot padat. Dia menarik tudung jubahnya rendah, menutupi mata Tiga Pupil-nya yang terlalu mencolok, dan menyarungkan pedang Baja Meteorit Hitam di punggungnya.

Sudah waktunya kembali. Bukan sebagai putra yang hilang, melainkan sebagai ancaman keluarga.

Kota Jinting.

Dibandingkan dengan kemegahan ibu kota Kekaisaran atau markas besar sekte-sekte raksasa di pusat benua, Kota Jinting hanyalah setitik debu di peta. Ini adalah kota menengah, tempat singgah para pedagang, pengelana, dan kultivator tingkat rendah. Di sinilah Cabang Keluarga Lu—keluarga yang membuangnya—berkuasa sebagai salah satu faksi lokal.

Sudah berbulan-bulan sejak Patriark Lu (ayahnya) menendangnya ke dalam Hutan Kabut Kematian.

Gerbang kota tampak sibuk. Para penjaga yang malas hanya memeriksa kereta dagang, membiarkan pengelana berjalan kaki masuk dengan sedikit suap keping tembaga.

Lu Daimeng melangkah masuk. Tidak ada yang memperhatikannya. Dia hanyalah sosok pria tinggi besar berjubah hitam lusuh, salah satu dari sekian banyak tentara bayaran atau pemburu monster yang sering keluar masuk kota ini. Baunya yang merupakan campuran darah kering dan lumut hutan justru membuat orang-orang biasa menyingkir dari jalannya tanpa perlu diminta.

Dia melangkah menuju distrik bawah, tempat kedai-kedai murah dan pasar gelap beroperasi.

Di dalam sebuah kedai yang remang-remang, berbau arak murahan dan keringat, Lu Daimeng duduk di sudut paling gelap. Dia memesan secawan air putih. Matanya yang tersembunyi di balik tudung bekerja secara pasif, memindai aliran energi di seluruh ruangan.

Sebagian besar pengunjung adalah manusia fana atau kultivator Ranah Pembentukan Qi tingkat awal yang nasibnya mandek.

"Kau dengar kabarnya?" bisik seorang pria berjanggut lebat di meja sebelah, menenggak araknya. "Lembah Gunung Jinting. Kabut ilusi di sana mulai menipis."

Temannya, seorang pria kurus bermata licik, mengangguk antusias. "Ya! Alam Rahasia. Kudengar segelnya akan terbuka penuh dalam waktu kurang dari sebulan. Ini adalah Alam Rahasia tingkat rendah, jadi para tetua Ranah Jiwa dan Ranah Roh tidak bisa masuk karena ada segel dimensi didalamnya."

"Itu artinya peluang bagi kita! Aku melihat banyak murid luar dari Sekte Awan Biru dan Sekte Bambu Hitam mulai berdatangan ke kota. Mereka mengincar rumput spiritual dan warisan di dalam sana."

Lu Daimeng menyesap air putihnya. Air itu terasa hambar di lidahnya yang terbiasa dengan darah dan Dantian.

Alam Rahasia tingkat rendah di Lembah Gunung Jinting, pikirnya. Otaknya memproses informasi itu dengan kecepatan super jenius. Pembatasan tingkat kultivasi berarti musuh terkuat yang akan masuk maksimal berada di Puncak Pembentukan Qi atau awal Ranah Jiwa yang menekan kultivasi mereka. Ladang perburuan yang sempurna. Kumpulan domba-domba gemuk yang membawa sumber daya.

Itu adalah tujuannya berikutnya. Namun, sebelum pergi ke lembah itu, dia memiliki urusan yang harus diselesaikan di kota ini. Urusan yang bukan tentang kekuatan, melainkan tentang prinsip.

Lu Daimeng bangkit dan meninggalkan kedai tanpa suara.

Dia menyusuri gang-gang sempit dan becek, menuju pasar gelap yang tersembunyi di bawah bekas saluran air kuno kota Jinting.

Dia tiba di depan sebuah toko kumuh yang tidak memiliki papan nama. Etalasenya hanya menampilkan botol-botol kosong yang berdebu dan beberapa senjata karatan. Tapi di mata Lu Daimeng, toko ini memancarkan aura Yin yang sangat pekat. Aura kematian.

Dia mendorong pintu kayu yang berderit itu.

Di dalam, seorang pria tua bongkok dengan kulit penuh kutil sedang mengelap sebuah belati beracun. Dia menatap Lu Daimeng dengan satu mata yang masih berfungsi.

"Toko tutup untuk pengemis," kata si tua dengan suara serak.

Lu Daimeng tidak menjawab. Dia berjalan ke meja konter kayu yang lapuk. Tangannya merogoh ke dalam jubahnya dan meletakkan sebuah cincin perak dengan ukiran awan di atas meja.

Ting.

Mata si tua membelalak. Dia mengenali barang itu. Cincin penyimpanan tingkat menengah. Bukan barang yang bisa dimiliki oleh pemburu miskin.

"Ini..." Si tua menelan ludah. "Cincin murid sekte awan. Kau merampoknya?"

"Aku butuh transaksi, bukan interogasi," suara Lu Daimeng datar, dingin, dan berat. "Ambil cincin ini. Aku butuh dua hal. Pertama, racun paling mematikan yang kau miliki. Harus tidak berwarna, tidak berbau, dan spesifik menyerang sirkulasi Dantian Ranah Jiwa tanpa memicu insting bahaya dari kultivator. Kedua, pedang besi yang paling berkarat, paling murah, dan paling tidak mencolok di tokomu."

Si tua menatap Lu Daimeng dengan ngeri. Dia menyadari pria di depannya ini tidak memiliki fluktuasi Qi sama sekali, namun tekanan niat membunuhnya membuat udara di toko ini terasa membeku. Membunuh kultivator Ranah Jiwa? Itu gila, untuk manusia yang tidak ada jejak Qi dalam dirinya.

"A-aku punya Air Mata Daun Janda Hitam," kata si tua dengan tangan gemetar, mengambil sebuah botol kaca kecil dari bawah meja. Cairan di dalamnya benar-benar bening seperti air murni. "Tidak bisa dideteksi oleh jarum perak. Setelah diminum, butuh waktu satu jam sebelum bereaksi. Saat bereaksi, ia akan mengkristalkan Dantian, membuat kultivator Ranah Jiwa sekalipun lumpuh dalam beberapa menit."

"Sempurna," kata Lu Daimeng. "Dan pedangnya?"

Si tua buru-buru mengambil sebuah pedang panjang dari tumpukan sampah di sudut. Sarungnya sudah lapuk, dan bilahnya berwarna cokelat kemerahan karena karat yang tebal. Ujungnya bahkan sedikit tumpul.

Lu Daimeng mengambil pedang berkarat itu dan botol racun. Dia tidak membawa pedang Baja Meteorit Hitamnya untuk operasi ini. Senjata yang bagus akan meninggalkan jejak tebasan yang bisa dianalisis oleh para ahli forensik sekte. Pedang berkarat tidak meninggalkan apa-apa selain luka kasar yang membingungkan.

Dia berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan si tua yang masih berkeringat dingin menatap cincin berharga di mejanya.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!