Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Saling Menyalahkan.
Rangga semakin menambah laju kecepatan mobilnya menuju perusahaan di mana Vita bekerja. Dia harus bertanya pada wanita itu tentang teman-teman Rania, mungkin saja istrinya berada di rumah salah satu teman dan dia tidak mengenal siapa temannya itu.
"Sh*it!" Rangga mengumpat kesal saat ada banyak kendaraan yang menganggu perjalanannya, lalu dia kembali mengumpat saat teringat dengan Rania. Darahnya mendidih saat menyadari jika telah dibodohi oleh wanita itu, dia bahkan sampai rela pergi ke tempat yang lumayan jauh hanya demi Rania, tapi wanita s*ialan itu malah menipunya.
"Beraninya kau melakukan ini padaku!" gumam Rangga seraya menggertakkan gigi, menahan emosi atas perlakukan Rania. Wanita itu bahkan sudah tidak peduli lagi pada putra mereka. "Kau lihat saja, aku pasti akan membuatmu sangat menyesal telah melakukan ini padaku." Dia mencengkram kemudi dengan erat.
Beberapa saat kemudian, Rangga sudah sampai di parkiran perusahaan tempat Vita bekerja. Dia bergegas mengambil ponselnya dari saku celana untuk menghubungi wanita itu, menyuruh Vita untuk datang menemuinya.
"Halo-"
"Aku diparkiran perusahaanmu, cepat datang ke sini sekarang juga!" perintah Rangga tanpa menunggu ucapan Vita selesai.
"Aku sedang bekerja, Rangga," tolak Vita di sebrang telepon.
"Datang ke sini sekarang atau aku yang datang menemui!" ancam Rangga dengan tidak peduli.
Panggilan itu langsung terputus saat Rangga selesai memberi ancaman, dia yakin jika Vita pasti mengerti dan akan segera datang menemuinya.
"S*ialan!" Rangga kembali mengumpat, merasa benar-benar lelah.
Tidak berselang lama, datanglah Vita yang langsung membuka pintu mobil Rangga dan menutupnya dengan kuat. Wajahnya tampak kesal, napasnya tersengal, matanya menatap tajam.
"Apa maumu, Rangga?" tanya Vita dengan cepat, tidak mau berlama-lama karena masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
"Rania menghilang,"
"Apa?" Vita terlonjak kaget dengan mata membelalak lebar saat mendengar ucapan Rangga. "A-apa maksudmu?" tanyanya dengan tidak mengerti.
Rangga menghela napas berat. "Pokoknya dia pergi dari rumah, jadi kau harus membantuku mencarinya." perintahnya kemudian.
Vita diam sejenak, mencoba untuk mencerna ucapan Rangga. Kemudian dia teringat sesuatu. "Bukannya tadi aku baru bertemu Rania?" Dia mengernyit bingung, mungkinkah tadi dia bertemu dengan wanita itu saat Rania baru kabur dari rumah?
"Kenapa kau malah diam?" bentak Rangga dengan tidak sabar membuat Vita terkesiap.
Vita menatap dengan tajam. "Kenapa aku harus mencarinya?" katanya acuh tak acuh. "Kau urus saja rumah tanggamu sendiri, aku tidak mau ikut campur." Dia memalingkan wajah, lalu bersiap untuk keluar dari mobil.
Rangga mengepalkan kedua tangannya, lalu dia menarik rambut Vita membuat wanita itu menjerit kesakitan.
"Lepaskan aku, Rangga! Apa kau sudah gila?!" teriak Vita, dia menarik tangan Rangga dari rambutnya sampai terlepas, lalu melihat laki-laki itu dengan mata memerah.
"Pokoknya aku tidak mau tau! Kau harus mencari Rania sampai ketemu!" ucap Rangga dengan penuh penekanan.
Vita mendengus kesal, tangannya sibuk mengusap kepala yang terasa sakit akibat jambakan laki-laki itu.
"Kau harus bertanggung jawab, Vita. Gara-gara kau rumah tanggaku jadi hancur!"
Vita tersentak. "Kenapa kau malah menyalahkanku?" katanya tidak terima. "Kau yang berselingkuh, jadi semua itu salahmu!" tambahnya dengan tajam.
"Tutup mulutmu!" bentak Rangga. "Kalau kau tidak menyuruhku datang pagi itu, maka Rania tidak akan tau semuanya. Atau kau memang sengaja melakukan semua itu untuk menjebakku?" tuduhnya.
Vita menggeram marah. Seenaknya saja Rangga menuduhnya seperti itu, padahal laki-laki itulah yang duluan memulai hubungan mereka, sampai akhirnya Rania mengetahui semua itu.
"Kau yang meniduriku duluan, Rangga. Kalau saja saat itu kau tidak mabuk, pasti semua ini tidak akan terjadi," ucap Vita, dia menatap Rangga dengan sinis. Padahal saat itu mereka sama-sama mabuk dan sama-sama saling menginginkan.
Rangga mendengus, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Persetan dengan semua itu, aku tidak peduli. Pokoknya kau cari dia, aku mau Rania kembali padaku secepatnya!" perintahnya lagi dengan penuh penekanan.
Vita menghela napas berat. "Aku baru bertemu dengannya tadi."
Rangga tersentak, lalu menarik tangan Vita sampai wanita itu melihat ke arahnya. "Kau bilang apa?" tanyanya dengan tidak sabar.
"Aku baru bertemu dengan Rania, tadi aku melihatnya di pinggir jalan," ulang Vita. Kemudian dia menceritakan tentang pertemuannya dengan Vita, sekaligus memberitahu jika wanita itu pergi bersama seseorang dengan mengendarai mobil berwarna hitam.
Dada Rangga berdegup kencang saat mendengar cerita Vita, darahnya kembali mendidih saat mengetahui jika Rania pergi bersama dengan orang lain.
"Siapa? Siapa yang bersama dengannya?" tanya Rangga, wajahnya berubah pias, napasnya mulai memburu.
Vita menggelengkan kepala. "Aku tidak tau, aku tidak bisa melihat wajahnya." katanya jujur. "Tapi, sepertinya dia seorang laki-laki."
Deg.
Jantung Rangga seolah seperti dihantam oleh batu besar hingga membuatnya sulit bernapas. Tubuhnya menegang, dadanya berdegup kencang, pikiran-pikiran buruk mulai melayang-layang dalam pikirannya.
"Siapa? Siapa laki-laki yang membawa Rania pergi?" Rangga mengepalkan kedua tangannya dengan erat, urat-uratnya seketika menonjol ke permukaan karena benar-benar terbakar amarah.
Tanpa berkata apa-apa, Rangga langsung mengusir Vita keluar dari mobilnya membuat wanita itu berdecak marah. Kemudian dia segera melajukan mobil itu untuk kembali ke rumah orangtuanya, memberitahu jika Rania telah pergi bersama dengan seorang laki-laki.
"Kau benar-benar keterlaluan, Rania!" ucap Rangga dengan kemarahan yang memuncak. Dia lalu mengambil ponselnya karena ingin menelepon seseorang.
"Jangan salahkan aku jika melakukan hal buruk padamu, Rania."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda