Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *34
"Rin. Kamu kenapa?" Bayu semakin di buat panik ketika Rin memegang kepala seolah wanita ini sedang pusing.
Gegas, Bayu menghampiri si istri untuk menjadi pelindung agar tidak jatuh. "Rin. Kita ke puskesmas sekarang juga."
Bayu mendongak untuk melihat jam dinding yang sedang berdetak. "Masih ada waktu, puskesmas masih buka di jam-jam segini."
"Ayo, Rin!"
"Aku baik-baik saja, Bay. Jangan cemas."
Rin mendongak untuk melihat suaminya. "Jangan cemas, Mas. Aku gak papa."
"Gimana bisa gak papa? Barusan itu kamu terhuyung. Kamu hampir jatuh, Rin. Tubuhmu terlihat lemas. Jangan bohongi aku, jangan buat aku cemas. Kita periksa sekarang ya ke puskesmas."
"Aku ... iya, baiklah."
Rin terlihat enggan. Tapi Bayu seolah tahu apa yang istrinya rasakan. Dia sentuh pipi istrinya dengan lembut. "Apa yang kamu takutkan untuk bertemu dokter? Gak akan ada masalah. Semua akan baik-baik saja."
Rin langsung mengalihkan pandangannya.
"Dari mana ... kamu tahu aku takut?"
"Dari wajahmu."
Rin menatap Bayu kembali. Dahinya ia kerut kan dengan mata yang sedikit menyipit untuk melihat Bayu. "Sok tahu."
"Aku tahu. Sungguh."
"Ya sudah. Mau langsung pergi apa kamu ganti baju dulu?"
"Apa? Kenapa sekarang? Tidak, maksud aku, kamu hak makan dulu, Mas? Kamu kan baru pulang dari sawah. Capek. Istirahat dulu sejenak setelah makan."
Bayu mengukir senyum kecil. "Aku gak papa. Sebelum aku tahu kondisi tubuhmu, aku gak akan bisa tenang. Dan lagi, puskesmas nggak buka dua puluh empat jam. Satu setengah jam lagi mungkin akan langsung tutup."
"Tapi kan .... Hah ... iya, baiklah. Tunggu sebentar aku siap-siap dulu. Sebentar saja."
"Ya sudah. Ayo aku antar kan ke kamar."
"Gak perlu, Mas Bayu. Aku baik-baik saja. Masih bisa ke kamar sendiri."
"Kamu yakin?"
"Iya."
"Baiklah. Jika pusing lagi, langsung panggil aku."
Seperhatian itu Bayu terhadap Rin. Sungguh, rasanya, Bayu benar-benar menghabiskan seluruh hatinya hanya untuk Rin. Seolah, dunia Bayu hanya ada Rin seorang. Jadi, segalanya tentang Rin adalah hal yang paling penting buat Bayu.
Setelah Rin bersiap-siap seadanya, merekapun meninggalkan rumah. Lelah Bayu saat bekerja di sawah telah hilang. Lelah itu kalah akan rasa cemas pada kondisi Rin yang membuat Bayu sangat takut, bahwa istrinya bisa sakit.
Mungkin, Rin dalam pikiran Bayu adalah wanita yang sangat rapuh barang kali. Yang harus ia jaga dengan sangat ekstra baik dan terlalu hati-hati. Sedikit saja ada hal yang berbeda yang Rin perlihatkan, maka hati Bayu langsung bergetar karena cemas.
Perjalanan menuju tempat berobat terasa cukup panjang dalam pikiran Bayu. Padahal, puskesmas itu tidaklah terlalu jauh. Tidak sampai harus ke luas desa. Letaknya masih di satu desa dengan tempat mereka tinggal. Tapi karena cemas, jadinya, perjalanan itu terasa jauh.
Beberapa saat berkendara, akhirnya, mereka sampai juga. Wajah Bayu terlihat sedikit lega ketika tempat berobat itu ada di depan matanya.
"Ayo, Rin. Kita sudah sampai."
"Mas Bayu." Salah satu pekerja di sana menyapa Bayu dengan hangat. "Siapa yang mau berobat, Mas?"
"Istriku." Bayu menjawab singkat.
Lalu, perhatian si pria langsung teralihkan. Dia segera membawa Rin untuk menyelesaikan aturan berobat yang ada di puskesmas tersebut. Tidak butuh waktu lama, Rin langsung bisa diperiksa. Maklum, karena sudah siang, jadi tidak ada banyak saingan. Bahkan, hanya ada mereka berdua saja yang datang untuk berobat di tempat tersebut.
"Boleh aku ikut?" Bayu bertanya pada pekerja tersebut saat pekerja itu meminta Rin untuk masuk ke ruangan.
"Mas Bayu."
"Aku tidak tenang, Rin. Aku ingin mendengar sendiri tentang kondisi fisikmu yang dokter katakan."
Rin tidak bisa menjawab dengan lebih banyak kata lagi. Yang bisa ia lakukan hanya melepas napas berat secara perlahan. Suaminya ternyata cukup posesif rupanya. Dia baru menyadari akan hal tersebut. Tapi, hatinya semakin merasa bahagia akan hal itu.
Dokter tersebut pun memeriksa Rin dengan cekatan dan teliti. Setelahnya, meminta rin mengetes sesuatu menggunakan urin.
"Apa yang terjadi, dok? Istri saya .... "
"Tunggu sebentar. Tunggu hasil tesnya keluar yah."
"Iy-- iya. Baiklah."
Beberapa saat kemudian, Rin keluar dari kamar mandi dengan membawakan tes di tangannya. Itu adalah alat tes kehamilan. Rin memegangnya dengan wajah yang masih tidak percaya akan hasil yang dia lihat sekarang.
"Rin."
"Bisa saja lihat hasilnya?"
"Positif, Dok." Petugas yang tadinya ikut menemani Rin ke kamar mandi langsung menjelaskan.
Bayu yang masih bingung semakin memperlihatkan wajah bingungnya akan apa yang sedang petugas itu katakan. Tes pack di serahkan ke tangan dokter. Penjelasan pun langsung Bayu dengar.
"Selamat, bu Airin hamil. Untuk usia kandungannya, kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan esok pagi."
Bayu terdiam. Kata itu sangat jelas. Namun, masih sulit untuk dicerna oleh benak Bayu yang masih bingung juga terkejut dengan apa yang baru saja telinganya dengar.
"D-- dokter. Apa ... apa yang sebenarnya terjadi? Istriku .... "
Dokter itu tersenyum. "Pak, istri anda sedang hamil sekarang. Kondisi fisiknya yang lemah akhir-akhir ini itu wajar. Karena fisiknya sedang menyesuaikan dengan kehadiran calon anak yang sedang istri anda kandung."
Jantung Bayu berdetak dua kali lebih cepat. Tubuhnya terasa kaku, sangat sulit untuk ia gerakkan. Manik matanya berbinar terang, namun juga terlihat berkaca-kaca. Butuh waktu beberapa saat lamanya untuk Bayu menguasai diri akan apa yang baru saja telinganya terima.
Rin yang melihat ekspresi itu bingung akan apa yang saat ini Bayu rasakan. Perlahan, Rin menyentuh punggung tangan Bayu yang masih terdiam.
"M-- mas. Kamu .... "
"Rin."
Manik mata yang berkaca-kaca langsung menjatuhkan buliran bening. Bayu tidak bisa menahan rasa haru. Dia menangis sambil menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan.
"Kamu, hamil."
"Kamu ... bahagia?"
"Apa yang harus aku rasakan selain perasaan bahagia. Sungguh, aku kaget bukan kepalang. Aku sangat bahagia, Rin. Kita ... punya anak sekarang?"
Rin melonggarkan pelukan. "Masih belum, Mas Bayu. Ini baru calon anak."
"Tapi aku sudah merasa kalau aku sudah punya. Meskipun dia belum terlahir ke dunia."
Bayu kembali menarik Rin ke dalam pelukan. Sementara itu, si dokter yang ada di depan mereka, tak mereka hiraukan sedikitpun. Maklum, perasaan bahagia itu bisa mengabaikan apa yang ada di sekeliling.
Si dokter juga hanya tersenyum saja tanpa berucap sepatah katapun. Mungkin, dokter itu mengerti, kalau dua anak manusia ini sedang sangat bahagia sampai lupa akan keberadaannya.
Beberapa saat kemudian, Rin baru ingat kalau mereka sedang ada di tempat berobat. Dan dokter juga ada di depan mereka. Cepat, dia melepaskan pelukan Bayu dari tubuhnya.
"He ... dok, maafkan kami."