Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *25
Rumah tangga Rin dan Bayu memang sudah benar-benar berjalan dengan baik. Namun, cobaan tentu saja tidak akan pernah berhenti. Cobaan itu pasti akan datang untuk menguji.
Mulai dari Melati yang cukup sering datang menemui Bayu, hingga masa lalu Rin datang tiba-tiba datang kembali tanpa di undang. Bukankah itu sungguh cobaan yang mendebarkan hati?
"Rin."
"Rin."
Bu Sari datang ke rumah dengan langkah agak tergesa-gesa. Rin yang duduk di teras sambil membaca buku langsung mengalihkan pandangan.
"Iya, bu? Ada apa? Kok kayak sedang terburu-buru."
"Eh, iya. Rin. Di gerbang depan ada tamu dari kota. Katanya, sedang mencari rumah Airin. Di desa, yang namanya Airin cuma kamu. Terus, datang dari kota. Jadinya, ibu yakin kalau tamu itu beneran sedang nyari kamu, Rin."
Rin terdiam. Wajahnya bingung dan penasaran. "Tamu ... dari kota? Nyariin aku? Siapa ya?"
"Ibu gak tahu namanya siapa, Rin. Tapi, tamunya laki-laki. Datang dengan mobil warna silver. Perawakannya .... " Bu Sari berusaha mengingat-ingat pria yang tadinya dia lihat secara sekilas.
"Aduh, gimana ya? Ibu sulit buat menjelaskan. Sebaiknya, kamu lihat sendiri saja deh seperti apa tamu itu," ucap bu Sari pada akhirnya.
Rin pun mengikuti apa yang bu Sari katakan. Dia ingin beranjak menuju gerbang desa. Namun, baru juga beranjak beberapa langkah, beberapa warga malah sudah datang ke halaman rumahnya. Warga itu datang dengan seseorang yang langsung membuat wajah Rin terlihat tegang.
"Rin."
Mata Rin membulat sempurna ketika melihat wajah yang tidak asing itu ada di depan mata. Pria itu menyebut nama Rin sambil tersenyum manis. Rin terdiam dengan jantung yang berdetak sedikit tidak normal.
"Marvel."
Iya. Siapa lagi masa lalu yang datang dari kota jika itu bukan Marvel? Pria yang sudah meluluhlantahkan hati Rin beberapa waktu yang lalu, sekarang, malah datang dengan wajah yang terlihat tidak bersalah sedikitpun.
"Apa kabar, Rin?"
Rin masih terdiam. Sementara beberapa warga yang tadi ikut bersama Marvel, kini perlahan mereka meninggalkan halaman rumah Bayu.
"Kamu baik-baik saja?" Marvel melontarkan pertanyaan lagi.
Sesaat kemudian, Rin sadar akan posisinya saat ini. Jantungnya yang berdetak sedikit tidak normal sebelumnya, kini sudah berhasil dia kawal dengan baik.
Pria itu memang sudah menciptakan luka yang paling dalam untuk Rin. Sudah pula mengubur semua mimpi yang wanita itu punya sebelumnya. Namun, pria ini hanya lah masa lalu. Manusia yang sudah seharusnya tidak punya sedikitpun hubungan lagi dengan Rin di kehidupan saat ini.
Rin terdiam sebelumnya bukan karena masa lalu yang belum usai. Melainkan, karena luka dan rasa sakit yang pernah pria itu ciptakan. Namun, Rin sadar, rasa sakit itu tidak seperih saat hati Rin terluka untuk pertama kalinya.
"Aku? Baik-baik saja. Kenapa kamu ke sini? Ada perlu apa?"
"Hanya ingin melihat kamu, Rin. Aku ingin tahu bagaimana keadaan kamu sekarang."
"Airin, di mana suami mu?"
"Aku di sini," ucap Bayu dari arah belakang Marvel.
Senyum Rin langsung terkembang.
"Bayu."
Sambutan hangat Rin untuk Bayu membuat hati Marvel sedikit terganggu. Namun, pria itu cukup waras saat ini. Dia masih sadar siapa dirinya sekarang. Dengan hati terpaksa, senyum dia layangkan.
"Kamu suami, Rin?"
"Iya." Bayu menjawab singkat.
"Oh." Marvel mengalihkan pandangannya dari Bayu. "Rin, boleh aku bicara?"
Rin melirik Bayu. Sementara Bayu terlihat tenang. Sedikit bingung, tapi pada akhirnya, Rin menjawab juga apa yang baru saja Marvel katakan.
"Bicaralah apa yang ingin kamu bicarakan. Aku akan mendengarkannya. Walaupun sebenarnya, aku merasa, diantara kita, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan."
"Rin, aku ingin bicara empat mata dengan mu. Masih banyak hal yang perlu kita bicarakan. Aku ingin meluruskan masalah yang telah tercipta diantara kita."
Rin melepas dengusan pelan. "Sepertinya, masa lalu telah berlalu, Marvel. Dan aku telah meninggalkan masa lalu itu dengan hati yang ikhlas."
"Tapi aku tidak," ucap Marvel cepat. "Aku masih ingin meluruskan kesalahpahaman yang sedang terjadi."
"Kesalahpahaman apa? Memangnya, diantara kita, pernah terjadi kesalahpahaman?"
"Rin, ku mohon. Ayo bicara!"
Marvel semakin ngotot. Rin semakin merasa tidak nyaman. Sejujurnya, memang ada hal yang harus dia perjelas diantara dirinya dengan Marvel. Dia ingin memperjelas jarak diantara mereka berdua. Dia ingin memutuskan hubungan secara terang-terang.
Namun, hal itu membuatnya merasa tidak nyaman dengan suaminya. Dia takut kalau-kalau, Bayu tidak mengizinkan. Juga tidak ingin hubungannya dengan Bayu jadi bermasalah hanya gara-gara ia bicara dengan masa lalunya.
Tapi sepertinya, Rin lupa siapa Bayu. Pria itu bukan pria pencemburu. Pria itu juga bukan pria yang berpikiran sempit. Sebaliknya, Bayu adalah pria dengan pikiran yang selalu terbuka. Dia akan menjaga miliknya dengan caranya sendiri. Dengan memberikan kepercayaan penuh pada orang yang ia cintai.
"Rin. Ku mohon. Ayo bicara," ucap Marvel mengiba.
"Bicara saja di sini. Aku akan mendengarkan."
"Aku ingin bicara empat mata. Hanya empat mata saja."
Bayu yang peka akan keadaan langsung mendekati sang istri. Lalu, pria itu berucap pelan. "Rin, jika kamu ingin bicara empat mata dengannya. Bicaralah! Aku tidak keberatan."
Rin menatap Bayu dengan tatapan lekat beberapa saat. Sejenak kemudian, Rin langsung mengambil keputusan.
"Baiklah. Kita akan bicara. Tapi tidak akan lama. Kamu hanya punya waktu lima menit untuk bicara empat mata dengan ku. Setelahnya, pembicaraan kita selesai."
"Baik. Aku setuju. Kita bicara di sana," ucap Bayu sambil menunjuk ke arah pohon yang tak jauh dari rumah Rin.
Sejujurnya, Bayu ingin bicara ke tempat yang lebih nyaman dari pada pohon itu. Sayangnya, dia yakin kalau Rin tidak akan setuju. Bagaimanapun, dia kenal Rin sudah cukup lama. Dan dia memahami Rin dengan sangat baik.
Rin setuju dengan keputusan yang Marvel katakan. Merekapun sedikit menjauh dari Bayu menuju pohon yang ada di depan sana. Bayu melihatnya, hati pria itu sedikit tidak rela. Bagaimanapun, dia adalah manusia biasa. Tentu saja punya perasaan cemburu layaknya orang pada umumnya.
Hanya saja, Bayu adalah pria yang mampu mengontrol perasaan dengan sangat baik. Selagi perasaan itu bisa ia tahan, maka dia tidak akan memperlihatkannya.
"Rin."
"Katakan! Apa yang ingin kamu bicarakan padaku?"
"Kamu, bahagia sekarang?"
"Bahagia. Kenapa?"
"Kamu yakin kamu bahagia, Airin?"
"Tentu saja aku yakin. Kenapa? Apa aku tidak terlihat bahagia di mata mu, hm?"
"Tidak juga, tapi ... Rin, kamu ketus padaku sekarang ya. Kenapa bisa begitu?"
"Karena kamu bukan lagi siapa-siapa bagiku. Jadi, haruskah aku bicara seperti sebelumnya, Marvel?"
Marvel langsung menundukkan wajahnya sejenak. Detik berikutnya, pria itu mengangkat wajahnya lagi. Matanya menatap lekat wajah Rin dengan penuh perasaan.