Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang tak bisa dibatalkan
Hari Sabtu itu datang dengan cahaya yang terasa berbeda.
Jam di dinding bahkan belum menunjukkan pukul delapan pagi, tapi Clara sudah berdiri di halaman rumahnya dengan sapu lidi di tangan. Udara masih segar, embun tipis menempel di ujung daun, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya berdebar bukan karena luka melainkan karena harapan.
Hari ini adalah hari penerimaan hadiah lomba esai.
Acara baru dimulai pukul dua siang, tapi sejak bangun tidur Clara sudah tak bisa kembali memejamkan mata. Wajahnya berseri-seri, langkahnya ringan. Ia menyapu halaman dengan cekatan, mengumpulkan dedaunan kering, lalu menyiram bunga-bunga yang berjajar di sisi pagar.
Air mengalir dari selang, memantulkan cahaya matahari kecil-kecil seperti serpihan kaca.
“Kak Clara, hari ini sibuk nggak?”
Clara menoleh. Di depan pagar berdiri Viola, anak Bu Arini, dengan tas kain tergantung di bahunya.
“Ada apa, Vi?” tanya Clara sambil mendekat.
“Kalau nggak sibuk, nanti siang bisa bantu aku bikin tugas?”
“Tugas apa?”
“Esai, Kak.” Viola langsung meringis. “Otakku mampet kalau disuruh nulis.”
Clara terkekeh pelan. “Padahal nulis itu lebih gampang dari hitungan loh, Vi.”
“Enggak, Kak. Jauh lebih gampang matematika!” Viola menggeleng frustasi.
Clara ingin sekali membantu, tapi hari ini bukan hari yang tepat. Ia menghela napas kecil.
“Hari ini aku nggak bisa, maaf ya.”
Wajah Viola langsung meredup.
Clara tersenyum lembut. “Besok pagi gimana?”
Mata Viola langsung berbinar. “Bisa! Besok aku jemput ya, Kak. Ngerjainnya di rumah aku aja.”
Clara mengangguk. Viola pun pamit karena baru ingat kalau dirinya sedang disuruh untuk kepasar.
Setelah itu Clara melanjutkan pekerjaannya. Ia membersihkan ruang tamu, merapikan meja, mengganti taplak kecil yang mulai kusam. Tiba-tiba—
“Permisi, paket!”
Clara berhenti menyapu dan berjalan cepat ke depan.
Seorang kurir berdiri di pagar.
“Ini rumah atas nama Clara Ayudita?”
“Iya, Mas. Tapi saya nggak pesan apa-apa.”
“Kiriman dari Nona Thalia. Sudah dibayar.”
Kotak besar berwarna hitam diserahkan padanya.
Clara terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. “Terima kasih, Mas.”
Setelah kurir pergi, ia membawa kotak itu ke ruang tamu dan meletakkannya di atas sofa usang. Ia segera mengambil ponselnya dan menelepon Thalia.
“Hallo, Claraaa. Kamu kangen ya?” suara riang itu langsung terdengar.
“Tadi ada kurir ngasih paket katanya dari kamu?”
“Udah nyampe?” Thalia terdengar puas. “Iya, aku beliin kamu baju buat acara hari ini.”
“Ya ampun, Thal…”
“Sebagai permintaan maaf aku karena nggak bisa nemenin kamu.”
Clara tersenyum kecil. Akhir-akhir ini Thalia memang terlalu royal tas, baju bahkan skincare, sementara Clara hanya bisa membalas dengan traktiran sederhana.
“Pokoknya kamu harus tampil cetar ya, Clar. Siapa tahu nanti ada CEO yang jatuh cinta pada pandangan pertama.”
Clara mendecak. “Kebanyakan nonton drama China.”
Thalia tertawa lepas.
Setelah telepon ditutup, Clara kembali melanjutkan kegiatannya hingga siang. Ia makan sederhana, lalu akhirnya membawa kotak hitam itu ke kamar.
Jemarinya membuka penutup kotak perlahan.
Di dalamnya terlipat rapi sebuah dress dari butik ternama Jakarta Selatan.
Clara menelan ludah.
Ia mengangkat pakaian itu dengan hati-hati, lalu mencobanya.
Gaun hitam selutut tanpa lengan dengan potongan dada berbentuk hati, dipadukan dengan atasan putih berlengan panjang yang bersih dan elegan. Di lehernya terpasang pita kecil yang mempermanis tampilan. Sepatu flat hitam yang serasi juga tersedia di dalam kotak.
Ia berdiri di depan cermin.
Pakaian itu jatuh pas di tubuhnya yang tinggi dan ramping. Rambut panjangnya tergerai alami di punggung, riasannya tipis namun membuat wajahnya tampak segar.
Clara menatap pantulan dirinya.
Itu benar-benar dirinya tapi versi yang lebih berani.
Pipinya memanas. Jantungnya berdebar cepat.
“Gimana nanti kalau aku ngomong terbata-bata sama penerbit…” gumamnya pelan.
Tangannya mengepal kecil.
“Enggak, Clara. Kamu harus percaya diri.”
Ia menatap bayangan dirinya lebih dalam.
“Ini awal dari mimpi besarmu. Ibu dan Ayah pasti bangga.”
Untuk sesaat, bayangan dua sosok dalam pigura di kamarnya seakan hadir di belakangnya.
Clara menarik napas panjang.
Ia tersenyum pada cermin.
“Bismillah.”
Saat Clara masih memejamkan mata, melarutkan dirinya dalam doa-doa kecil yang ia bisikkan pelan, suara klakson mobil terdengar dari depan rumah.
Satu kali. Lalu dua kali, lebih pelan.
Clara membuka mata, mengambil tas kecilnya, memastikan ponsel dan undangan acara sudah ada di dalamnya, lalu melangkah keluar kamar. Pintu rumah dikunci perlahan. Tangannya sempat berhenti sejenak di gagang pintu seperti memastikan hari ini benar-benar nyata.
Ia berjalan keluar pagar.
Di depan rumah, mobil Natan sudah terparkir. Natan berdiri di samping mobil sambil mengobrol dengan Anton yang masih duduk santai di atas motornya.
“Cie cie…” goda Anton saat melihat Clara keluar. Alisnya naik turun dramatis. “Mau ke mana nih?”
Clara menggeleng pelan, menahan tawa.
“Pasti mau kencan ya?” lanjut Anton tanpa dosa.
Sebelum Clara sempat menjawab, Natan meninju perut Anton dengan gerakan cepat.
“Aduh!” Anton meringis sambil memegangi perutnya. “Apaan sih!”
“Maaf, Nton. Ada lalat,” jawab Natan dengan wajah dibuat polos.
“Lihat nih, Clar,” kata Anton pura-pura serius. “Lu harus hati-hati kalau jalan sama buaya darat. Nanti kena tonjok.”
Natan mengangkat tinjunya lagi. “Ton, ada lalat di pipi lu.”
Anton langsung menyalakan motornya. “Gue cabut sebelum beneran jadi lalat.”
Ia tertawa keras lalu tancap gas, meninggalkan debu tipis di jalan gang.
Clara ikut tertawa lepas. Tawa yang ringan. Tawa yang tidak dipaksakan.
Natan memandangnya sesaat.
Dan untuk sepersekian detik, dunia terasa berhenti.
Ia berdeham kecil, lalu membuka pintu mobil untuk Clara.
“Silakan.”
Clara mengangguk dan masuk ke mobil.
Aduh, jantungku bisa copot kalau lihat Clara terus, batin Natan.
Ia menarik napas panjang saat memutari mobil menuju kursi pengemudi. Detaknya benar-benar tidak stabil. Ia bahkan sempat takut kalau groginya membuat tangannya gemetar saat menyetir.
Tenang. Fokus. Jalanan dulu.
Mesin mobil menyala, melaju pelan meninggalkan gang.
Di dalam mobil, keheningan turun perlahan. Bukan keheningan yang canggung, tapi keheningan yang penuh sesuatu, sesuatu yang tak terucap.
Clara duduk tegak, jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan. Ia memandangi kaca jendela, melihat pantulan dirinya dengan dress hitam dan atasan putih yang anggun.
Hari ini. Hari yang selama ini ia impikan.
Jantungnya berdebar.
Bukan hanya karena acara. Bukan hanya karena penerbit. Tapi juga karena… entah kenapa, ia merasa sesuatu akan berubah.
Di kursi kemudi, Natan sesekali melirik ke arahnya.
Cantik sekali, pikirnya.
Ia kembali menatap jalan, berusaha menenangkan diri.
“kamu Grogi?” tanya Natan akhirnya, suaranya lembut.
Clara tersenyum kecil tanpa menoleh. “Sedikit."
Natan tersenyum dan mulai bercerita agar clara bisa lebih rileks.