NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat Belas

Siang itu, Kenneth kembali ke mansion keluarganya, sebuah bangunan megah yang terasa dingin dan sunyi meskipun matahari bersinar terik di luar. Ia melepas jas sekolahnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya ia gulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh.

Ia berjalan menuju paviliun belakang, tempat kakaknya, Kiana, berada. Di sana, Kiana duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke taman mawar. Wajahnya cantik, namun matanya kosong, seolah jiwanya telah dicuri paksa dua tahun lalu.

"Kiana," panggil Kenneth lembut. Suara yang biasanya dingin dan otoriter itu seketika melunak.

Kiana tidak menjawab. Ia hanya terus menatap keluar jendela, jemarinya yang pucat mengusap pinggiran cangkir teh yang sudah mendingin.

Kenneth duduk di sampingnya, mengambil piring makan siang yang masih utuh di atas meja.

"Kau harus makan. Aku tidak ingin kau jatuh sakit lagi," ucap Kenneth sambil menyendok kan sedikit makanan.

Kiana tetap diam, namun saat Kenneth menyebut nama Arthur dengan suara yang nyaris tak terdengar, bahu Kiana sedikit gemetar. Kenneth segera menyadari reaksi itu. Kebencian di hatinya kembali mendidih. Ia teringat betapa sombongnya Arthur saat menolak cinta tulus kakaknya, seolah Kiana adalah sampah yang tidak layak.

Tenanglah, Kiana, batin Kenneth sambil menyuapkan makanan ke mulut kakaknya yang terbuka sedikit secara mekanis. Adiknya sekarang berada di genggamanku. Setiap inci kehormatan yang Arthur banggakan dari Hazel, sudah kuhancur kan semalam. Dan aku belum selesai.

Makan siang itu berlangsung dalam kesunyian yang mencekam. Kenneth terus menyuapi kakaknya dengan telaten, sebuah sisi yang tidak akan pernah dibayangkan oleh Hazel atau James. Bagi Kenneth, ini adalah ritual suci mengingat kembali alasannya untuk menjadi iblis.

Setelah memastikan Kiana cukup makan, Kenneth bangkit. Ia mengusap rambut kakaknya dengan penuh kasih sayang sebelum wajahnya kembali mengeras seperti batu es.

Ia keluar dari paviliun dan disambut oleh kepala pelayan setianya. "Tuan Muda, ada pesan dari Tuan Arthur Cavanaugh. Beliau akan mendarat di Queenstown besok pagi."

Kenneth menyeringai, sebuah ekspresi yang sangat kontras dengan ketulusan yang baru saja ia tunjukkan pada Kiana. Ia merogoh ponselnya, melihat foto-foto Hazel yang ia ambil semalam.

"Siapkan mobil besok pagi," perintah Kenneth dingin. "Kita akan menyambut tamu agung kita. Dan pastikan Hazel berada di sekolah sebelum kakaknya sampai. Aku ingin Arthur melihat adiknya sedang bermain denganku sebelum aku memberinya kejutan yang sesungguhnya."

Kenneth menjalankan pion terakhirnya di papan catur ini. Ia tahu emosi James yang tidak stabil adalah senjata yang paling mudah untuk diledakkan.

​Sore hari sebelum kedatangan Arthur...

​Kenneth memanggil James ke markas mereka di area gudang belakang sekolah. James tampak kacau, wajahnya merah padam karena amarah yang tak tersalurkan.

​"James, aku punya informasi buruk untukmu," ucap Kenneth sambil menyesap kopinya dengan tenang. "Kakak Hazel, Arthur, tahu tentang foto itu. Dia mengira kau yang melakukannya. Dia akan datang besok pagi bukan untuk merestui mu, tapi untuk menghancurkan karier atlet mu dan menjauhkan Hazel darimu selamanya."

​James menggebrak meja. "Apa?! Aku bahkan belum menyentuh Hazel! Dia tidak bisa melakukan itu padaku!"

​Kenneth berdiri, menepuk bahu James dengan tatapan yang seolah-olah bersimpati. "Kau tahu Arthur sangat protektif. Baginya, kau pria rendahan yang sudah merusak adiknya. Jika kau bersikap lemah besok, dia akan membawa Hazel pergi. Kau harus menunjukkan padanya bahwa kau adalah pria yang memiliki Hazel. Bersikaplah seolah kau memang sudah memilikinya seutuhnya. Jangan biarkan dia mengintimidasi milikmu."

​Kenneth diam-diam memberikan sebuah suntikan kepercayaan diri palsu yang mematikan bagi James.

​Pagi harinya di bandara Queenstown...

​Arthur Cavanaugh keluar dari pintu kedatangan dengan aura yang begitu mencekam.

Jas hitamnya yang rapi dan tatapan matanya yang tajam langsung tertuju pada James yang berdiri di depan, sementara Hazel berdiri agak jauh di belakang dengan wajah pucat.

​Kenneth berdiri di antara mereka, bertindak sebagai penengah yang netral.

​"Di mana pria brengsek yang mengirim foto itu?!" geram Arthur tanpa basa-basi, suaranya menggelegar di area penjemputan.

​James, yang sudah terhasut kata-kata Kenneth untuk tidak terlihat lemah, maju satu langkah dengan dagu terangkat. Ia ingin membuktikan bahwa ia adalah pelindung Hazel.

​"Aku kekasihnya, Arthur! Berhenti berteriak pada adikmu sendiri!" tantang James. "Apapun yang terjadi di antara kami, itu urusan kami. Kau tidak punya hak untuk ikut campur sejauh ini!"

​Arthur melihat ke arah Hazel, lalu kembali ke James. Ia melihat James yang tampak begitu posesif dan berani menantangnya. Di pikiran Arthur, hanya pria yang sudah melakukan hal itu yang akan berani bersikap sefrontal ini pada seorang kakak.

​"Jadi kau benar-benar menyentuhnya?" desis Arthur, matanya merah karena amarah.

​"Kalau iya memangnya kenapa?! Dia milikku!" teriak James, benar-benar masuk ke dalam lubang yang digali Kenneth.

​Bugh!

​Satu pukulan mentah dari Arthur mendarat telak di rahang James. James tersungkur, dan saat ia hendak membalas, Kenneth menahan lengan Arthur dengan wajah yang berpura-pura terkejut, namun matanya berkilat puas.

​"Sudahlah, Arthur. James memang sedikit terbawa emosi karena sangat mencintai Hazel," ucap Kenneth dengan nada tenang yang justru semakin memanaskan situasi.

"Mungkin kalian perlu bicara secara pribadi... sebagai keluarga?"

​Arthur menatap James dengan rasa jijik yang luar biasa. Baginya, pria di depannya inilah yang telah merusak adiknya, pria yang sama yang merupakan sahabat Kenneth.

Arthur sama sekali tidak sadar bahwa pria yang memegang lengannya sekarang adalah iblis yang sebenarnya, yang sedang merayakan dendam atas kakaknya yang gila.

​Hazel hanya bisa mematung, melihat James dipukuli dan kakaknya mengamuk, sementara Kenneth meliriknya sekilas seolah berkata: Lihat betapa mudahnya aku menghancurkan duniamu.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰😍

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!