menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 14
Lampu neon dari minimarket di pinggir jalan menyinari wajah mereka yang masih kemerahan akibat berlari.
Sasha, Aria, dan Indah duduk di kursi plastik depan toko dengan napas yang mulai teratur. Sasha menyambar botol minuman dinginnya, meneguknya hingga habis dalam sekali tarikan napas hingga botol plastiknya berbunyi *krak* karena diremas.
"Sialan!" gerutu Sasha sambil menyeka sisa air di bibirnya dengan kasar. "Andai saja karyawan tadi tidak muncul, sudah kupastikan kaca itu pecah dan aku pulang membawa boneka beruang itu sebagai trofi!"
Indah tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya yang kram. "Kak Sasha, wajahmu tadi benar-benar seperti ingin memakan mesin itu hidup-hidup. Aku tidak pernah melihat orang seberingas itu di *arcade*!"
Aria, yang duduk di sebelah Indah sambil mengelap kacamata yang sempat berembun, menggelengkan kepala dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat. "Kau sudah benar-benar gila, Sasha. Apa kau tidak berpikir panjang? Kalau tadi kita tertangkap, polisi akan datang dan masalah ini akan menjadi sangat panjang. Reputasi sekolah—dan namamu—bisa hancur dalam semalam."
Sasha hanya menyeringai lebar, menyandarkan punggungnya di kursi yang tidak nyaman itu. "Reputasiku memang sudah hancur sejak dulu, Aria. Justru itu yang membuatnya seru."
Melihat suasana yang mulai tenang, Indah melirik jam tangannya. "Wah, sudah sore sekali. Aku harus pulang sekarang, Kak. Ibuku pasti sudah menunggu di rumah. Terima kasih ya untuk hari ini, ini benar-benar seru!" Indah berdiri, membungkuk sopan kepada kedua seniornya itu, lalu berpamitan dan berjalan menjauh menuju halte bus terdekat.
Aria pun ikut berdiri, merapikan rok dan tasnya yang sempat berantakan saat lari tadi. "Aku juga harus pulang. Masih banyak laporan OSIS yang harus aku cek kembali gara-gara kau menyeretku paksa tadi."
Aria melangkah beberapa meter, lalu ia berhenti dan menoleh kembali ke arah Sasha yang masih duduk malas. "Jangan lupa, Sasha. Kerjakan lembaran soal yang aku berikan tadi di kelas. Jangan sampai besok kau masuk dengan tangan kosong."
Sasha tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberikan jari tengah dengan pose yang sangat tengil, namun bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang tulus.
Aria hanya terdiam sejenak, menatap perilaku ajaib teman sekelasnya itu dengan tatapan datar, lalu berbalik dan menghilang di keramaian trotoar.
Kini Sasha sendirian. Rasa lelah mulai menjalari kakinya, dan ia benar-benar malas untuk berjalan kaki pulang menuju rumah mewahnya yang jaraknya cukup jauh dari sini. Ia merogoh ponselnya, mencari kontak kepala pelayan di rumahnya.
"Halo? Jemput aku sekarang. Aku ada di depan **Minimarket Sejahtera, Jalan Sudirman Nomor 102**. Jangan lama, aku sudah mengantuk," perintahnya singkat.
Hanya butuh beberapa menit sampai sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depan minimarket tersebut. Kepala pelayan turun dengan sigap dan membukakan pintu belakang untuknya.
"Silakan masuk, Nona Sasha," ucap pelayan itu dengan hormat.
Sasha masuk ke dalam kabin mobil yang dingin dan harum, menenggelamkan dirinya di kursi kulit yang empuk.
Saat mobil mulai melaju membelah kemacetan sore, ia menatap ke luar jendela, memikirkan betapa anehnya hari ini—dari hukuman push-up, belajar matematika secara paksa, hingga kabur dari kejaran petugas *arcade*. Sebuah hari yang penuh drama, tepat seperti yang ia inginkan.
---
Malam itu, kediaman megah keluarga Arka terasa sangat sunyi, hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen di ruang makan yang luas.
Biasanya, Sasha akan melewatkan makan malam atau meminta pelayan membawakan makanan ke kamarnya karena malas duduk sendirian di meja panjang itu.
Namun kali ini berbeda. Ia duduk dengan tenang, menyantap makan malamnya perlahan meski hanya ditemani bayangannya sendiri di dinding. Pikirannya masih melayang pada kejadian di *arcade* tadi sore.
Setelah merasa cukup, Sasha bergegas menuju kamarnya di lantai atas.
Ia mengunci pintu, lalu berjalan menuju meja belajar yang biasanya hanya menjadi tempat menumpuk barang-barang tidak berguna.
Dengan gerakan yang sedikit ragu, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan lembaran soal Fisika yang diberikan Aria di kelas tadi.
"Baiklah, mari kita lihat seberapa menyebalkan benda ini," gumamnya sinis.
Satu jam berlalu. Sasha mencengkeram kepalanya dengan frustrasi.
Lembaran kertas itu kini penuh dengan coretan abstrak. Ia benar-benar tidak mengerti konsep Hukum Newton yang ditanyakan di sana. Ia sempat melirik ponselnya, berniat mencari jawaban di internet.
Namun, ia segera mengurungkan niatnya. Ia tahu betul bagaimana Aria; jika besok ia bisa menjawab namun tidak bisa menjelaskan jalannya, Aria pasti akan menginterogasinya dengan detail yang menyebalkan.
"Sial, aku tidak bisa bertanya pada Robot itu," gerutunya. Tiba-tiba wajah ceria Indah terlintas di pikirannya.
Tanpa membuang waktu, Sasha menyambar ponselnya dan mencari nomor Indah untuk meminta bantuan.
---
Di sisi lain kota, di sebuah rumah sederhana yang hangat, Aria sedang duduk di depan meja belajarnya yang penuh dengan buku-buku tebal.
Konsentrasinya terpecah saat pintu kamarnya diketuk pelan. Ibunya masuk sambil membawa nampan berisi potongan buah dan segelas susu hangat.
"Istirahatlah sebentar, Aria. Belajar terus bisa membuatmu sakit," ujar Ibunya lembut sambil meletakkan cemilan itu di meja.
Beliau menatap Aria dengan senyum penuh arti. "Oya, tadi adikmu bilang kau pulang sekolah dengan wajah yang... berbeda. Tidak seperti biasanya yang kaku. Apa ada sesuatu yang menyenangkan terjadi hari ini?"
Aria seketika membeku. Ia teringat momen saat ia tertawa lepas karena diseret Sasha kabur dari petugas *arcade*. Wajahnya mendadak memerah karena malu.
"A-apa maksud Ibu? Aku bersikap seperti biasa saja. Tidak ada yang spesial," jawab Aria canggung, mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan pura-pura merapikan tumpukan kertas laporannya.
Ibunya hanya tertawa kecil melihat tingkah laku putrinya yang tidak pandai berbohong itu. "Begitu ya? Baiklah. Tapi Ibu senang melihatmu terlihat lebih 'hidup' hari ini." Ibunya mengusap bahu Aria sekilas lalu berjalan keluar kamar, meninggalkan Aria yang kini terdiam menatap buku-bukunya.
Aria menyentuh dadanya yang berdegup sedikit lebih kencang.
Ia tidak mengerti mengapa memori tentang kekacauan yang diciptakan Sasha hari ini justru membuatnya tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ruangan itu kembali hening, namun pikiran Aria kini jauh lebih ramai daripada sebelumnya.
bersambung...