NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TARUHAN DI ATAS DEBU

Hafiz tidak bisa tidur.

Gema tawa meremehkan Gus Farid masih terngiang-ngiang di telinganya, memantul di dinding kamar marbot yang sempit dan pengap.

"Sapu lidi, ya?" bisik Hafiz sambil menatap langit-langit kayu yang mulai lapuk.

Ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.

Rasa perih di hatinya jauh lebih menyakitkan daripada lebam di tubuhnya akibat kerasnya hidup di jeruji besi tempo hari.

Fajar belum juga menyingsing saat Hafiz sudah berada di gudang belakang masjid.

Hanya ada lampu minyak kecil yang menemaninya, cahayanya bergoyang-goyang ditiup angin dini hari yang menusuk tulang.

Ia mulai memindahkan tumpukan kayu lapuk dengan gerakan yang terukur, persis seperti saat ia memimpin rapat pemegang saham dulu.

Setiap balok yang ia angkat adalah simbol harga dirinya yang sedang ia susun kembali.

"Kalau cuma modal uang, siapa pun bisa. Tapi membangun dari nol... itu urusan mental," gumamnya dengan napas terengah.

Keringat mulai bercucuran, membasahi kaos oblongnya yang sudah mulai tipis.

Ia mulai membersihkan lahan lembap di pojok gudang, area yang selama ini hanya dihuni kecoa dan tumpukan barang rongsokan.

Insting bisnisnya bekerja cepat; sirkulasi udara diatur, kelembapan tanah dicek, dan rak-rak kayu mulai ia rakit dengan sisa paku karatan.

Hafiz sedang membangun kerajaan kecilnya budidaya ulat kandang.

Sebuah bisnis yang mungkin terlihat menjijikkan bagi kaum ningrat seperti Farid, tapi menjanjikan emas bagi mereka yang tahu celah pasar.

Saat matahari mulai mengintip dari balik pohon kelapa, suara langkah kaki ringan terdengar mendekat.

Hafiz sudah hafal aroma sabun bayi yang lembut itu; aroma yang selalu berhasil menenangkan badai di kepalanya.

Zahra berdiri di ambang pintu gudang, matanya membulat menatap transformasi ruangan yang tadinya kacau itu.

"Mas Hafiz tidak tidur?" tanya Zahra dengan nada khawatir yang tidak bisa disembunyikan.

Hafiz tersentak, lalu buru-buru menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju.

"Tidur itu untuk orang yang sudah menang, Zahra. Saya masih jauh dari sana," jawab Hafiz tanpa menatap lawan bicaranya.

Zahra melangkah masuk, mengabaikan debu yang menempel di ujung gamisnya.

Ia menatap kotak-kotak kayu yang tersusun rapi dan media tanah yang sudah diolah Hafiz.

"Apa yang sebenarnya Mas lakukan di sini? Kenapa harus diam-diam?" tanya Zahra lagi, suaranya lembut namun menuntut penjelasan.

Hafiz menghentikan aktivitasnya, ia menatap Zahra sejenak sebelum kembali fokus pada kotak bibitnya.

"Saya sedang menabung harga diri, Zahra. Saya tidak ingin masjid ini terus-terusan jadi alat politik orang kaya."

Zahra terdiam, ia mengerti arah pembicaraan Hafiz.

Gus Farid memang membawa bantuan besar, tapi Zahra tahu betul ada udang di balik batu dalam setiap rupiah yang dikeluarkan pria itu.

"Tapi kenapa ulat, Mas? Kenapa tidak dagang yang lain?"

Hafiz tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sudah lama hilang dari wajahnya yang keras.

"Karena ulat ini butuh waktu dan ketelatenan. Dia tumbuh di tempat yang dianggap sampah, tapi hasilnya bisa menghidupi banyak orang."

Hafiz menunjuk ke arah tumpukan pakan yang sudah ia siapkan.

"Dalam sebulan, kalau ini berhasil, saya bisa menutupi kas masjid tanpa harus menunggu sedekah Gus Farid yang penuh syarat itu."

Zahra menatap punggung Hafiz yang tegap, meski terbalut pakaian lusuh, aura kepemimpinan pria itu masih terpancar kuat.

"Ayah mungkin akan marah kalau tahu Mas menggunakan lahan belakang tanpa izin," bisik Zahra ragu.

Hafiz menoleh, matanya menatap tajam ke arah pintu rumah Kyai yang tertutup.

"Makanya ini rahasia kita berdua. Tolong, Zahra... jangan katakan pada siapa pun."

Zahra menggigit bibir bawahnya, ada kebimbangan di matanya, namun perlahan ia mengangguk pelan.

"Saya akan bawakan sisa sayuran dari dapur setiap pagi untuk pakan ulatnya," ucap Zahra tiba-tiba, membuat Hafiz tertegun.

"Zahra, kamu tidak perlu..."

"Ini bukan untuk membantu Mas Hafiz," potong Zahra cepat dengan wajah yang sedikit merona merah.

"Ini untuk rumah Allah. Saya juga ingin masjid ini mandiri, tidak terus disetir oleh dana renovasi Gus Farid."

Hafiz terpaku melihat keberanian di mata gadis itu.

Ia merasa ada kekuatan baru yang mengalir di nadinya, sebuah alasan tambahan untuk tidak boleh gagal.

Tiba-tiba, suara deru mobil yang sudah sangat dikenal Hafiz terdengar di pelataran depan.

Brummm!

Suara mesin mobil mewah itu terdengar seperti pengumuman perang bagi telinga Hafiz.

Hafiz dan Zahra saling berpandangan, ketegangan mendadak menyelimuti gudang tua itu.

"Zahra! Kamu di mana?"

Suara Gus Farid terdengar memanggil-manggil dari arah teras, nadanya penuh otoritas seolah ia sudah menjadi pemilik rumah itu.

Zahra tampak panik, ia segera merapikan kerudungnya yang sedikit berantakan.

"Mas Hafiz, saya harus pergi. Ingat, tetap sembunyi sampai saya beri tanda," bisik Zahra sambil terburu-buru keluar.

Hafiz kembali ke kegelapan gudang, bersembunyi di balik tumpukan kayu lapuk.

Ia bisa mendengar suara langkah sepatu mahal Farid yang beradu dengan semen pelataran.

"Ah, Kyai! Maaf saya datang pagi-pagi sekali. Saya membawa arsitek dari kota untuk mulai mengukur menara," suara Farid terdengar sombong dan percaya diri.

Hafiz mengepalkan tangannya di kegelapan gudang yang pengap.

Ia mendengar Kyai Abdullah menyambut mereka, meski suaranya terdengar agak ragu menghadapi antusiasme Farid yang berlebihan.

"Wah, gudang belakang ini juga harus segera dibongkar, Kyai. Mengganggu pemandangan menara baru nanti," ucap Farid dengan nada meremehkan.

Hafiz menahan napas, hatinya berdegup kencang.

Jika gudang ini dibongkar sekarang, semua usahanya akan hancur sebelum sempat dimulai.

"Sabar, Farid. Kita urus yang depan dulu. Gudang itu masih banyak barang penting," sahut Kyai Abdullah tenang.

Hafiz bisa bernapas lega untuk sesaat, namun ia tahu waktu tidak berpihak padanya.

Ia harus bergerak lebih cepat, bekerja lebih keras, dan menghasilkan uang lebih banyak daripada yang bisa dibayangkan Farid.

Hafiz menatap kotak bibit ulatnya dengan tatapan lapar.

"Kalian harus tumbuh besar dalam waktu singkat," bisiknya pada makhluk-makhluk kecil di dalam kotak itu.

"Karena nasib masjid ini, dan mungkin nasib Zahra, ada di tangan kecil kalian."

Di luar, Farid terus memamerkan rencananya yang megah, tanpa tahu bahwa di gudang belakang, seorang 'monster' bisnis sedang bangkit dari tidurnya.

Seorang mantan CEO yang sudah kehilangan segalanya, kini sedang mempertaruhkan sisa hidupnya di atas lumpur dan debu.

Hafiz tahu, Farid tidak akan tinggal diam jika tahu ada perlawanan dari seorang marbot rendahan.

Pria itu pasti punya seribu cara untuk menyingkirkan kerikil di sepatunya.

Tapi Farid lupa satu hal; Hafiz adalah pria yang sudah pernah merasakan dinginnya lantai penjara.

Dan orang yang sudah pernah kehilangan segalanya, tidak akan takut kehilangan apa pun lagi untuk memenangkan apa yang benar.

Hafiz kembali mengangkat cangkul kecilnya, mulai bekerja lagi dengan ritme yang lebih cepat.

Setiap detik adalah emas, setiap keringat adalah investasi.

Malam nanti, ia akan mulai melakukan "gerilya" ke pasar-pasar untuk mencari limbah pakan yang lebih berkualitas.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, tanpa bantuan uang haram dari siapa pun.

Hafiz menatap pintu gudang yang tertutup rapat, membayangkan wajah sombong Farid yang sebentar lagi akan ia buat bungkam.

"Tunggu saja, Gus. Sapu lidi ini akan membersihkan lebih dari sekadar debu di masjid ini," desis Hafiz tajam.

Namun, kejutan besar menanti Hafiz di sore hari nanti.

Kejutan yang dibawa oleh Farid, yang tidak hanya membawa arsitek, tapi juga sebuah pengumuman yang akan mengguncang seluruh desa.

Sesuatu yang membuat Hafiz menyadari bahwa musuhnya kali ini bukan hanya soal harta, tapi soal kekuasaan yang bisa membeli hukum dan restu.

Langkah kaki Farid kembali terdengar mendekat ke arah gudang belakang, kali ini diikuti oleh suara beberapa orang lainnya.

Hafiz membeku, memegang erat gagang cangkulnya di dalam kegelapan yang mencekam.

Apakah rahasianya akan terbongkar secepat ini?

Ataukah ini awal dari bentrokan fisik yang sudah lama tertunda di antara mereka berdua?

Pintu gudang tua itu tiba-tiba berderit terbuka dengan keras, cahaya matahari sore menyeruak masuk dan menyilaukan mata Hafiz.

Di ambang pintu, berdiri sosok Farid dengan senyum penuh kemenangan yang paling menyebalkan.

"Hafiz? Sedang apa kamu di lubang tikus ini?"

Suasana mendadak menjadi sangat dingin, dan Hafiz tahu, permainan baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!