NovelToon NovelToon
My Girl

My Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor

Elvan Bagaskara

CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.

Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .

Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 14

Sudah sekitar 25 menit dira menunggu abangnya, Namun belum ada menampakkan batang hidungnya.

Tak ingin menunggu lebih lama lagi .Dira memutuskan untuk berjalan kaki.Karna memang jarak antara sekolah dan rumahnya tidak begitu jauh.

Dira mulai berjalan santai menyusuri jalan yang mulai sepi.

Beberapa toko sudah tutup. Angin sore bertiup pelan.Ia mengeluarkan earphone dari tasnya.

Namun baru beberapa langkah…

Ia merasa ada sesuatu yang aneh.Langkah kaki.

Di belakangnya.

Dira menoleh sedikit.

Dua pria berjalan cukup cepat ke arahnya.Tatapan mereka tidak ramah.

Jantung Dira langsung berdegup lebih cepat.

“Ah… jangan bilang…”

Pria itu mempercepat langkah.

“Eh, berhenti dulu.”

Dira langsung tahu.Bahaya.

“ASTAGA.”

Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari.

Sepatunya menghantam aspal sekuat tenaga.

“Hei! Berhenti!”

Preman itu mengejarnya.

Dira berbelok masuk ke gang kecil.

Dira berbelok masuk ke gang kecil.

Napasku mulai terengah.

“Gila… ini serius?!”

Ia terus berlari.

Tasnya hampir jatuh saat ia mengeluarkan ponsel dengan tangan gemetar.

Nama pertama yang ia tekan adalah Kenzo.

Telepon berdering.

Sekali.

Dua kali.

" Pliss....bang ken angkat." lirih dira

Dira bersembunyi di balik tumpukan kardus di sebuah gang sempit.

Ia menahan napas.

Langkah kaki para pria itu terdengar semakin dekat.

“Ke mana tuh cewek?”

“Barusan masuk gang sini.”

Dira menutup mulutnya sendiri agar tidak bersuara.

Telepon akhirnya tersambung.

“Bang ken…”

Suaranya berbisik panik.

“Bang … aku dikejar orang.”

Di sisi lain, suara Kenzo langsung berubah tegang.

“Apa?! Dira kamu di mana?!”

Dira mencoba melihat sekitar.

“Gang… dekat minimarket lama…bang cepet—”

Langkah berat tiba-tiba berhenti tidak jauh darinya.

Salah satu preman berkata pelan.

“Kayaknya dia di sini.”

Dira menahan napas.

Jantungnya berdetak sangat keras sampai rasanya ingin keluar dari dada.

Di telepon, Kenzo masih berbicara cepat.

“Dira jangan keluar dari tempat persembunyian! Abang datang sekarang!”

Dira menggenggam ponselnya erat.

Langkah kaki semakin mendekat.Satu… dua… tiga langkah lagi.

Dan tiba-tiba—

Suara motor berhenti keras di ujung gang.

Preman itu menoleh.

“Siapa lagi tuh?”

Dira belum tahu siapa yang datang.

Tapi ia hanya berharap…bukan musuh.

***

Dira masih bersembunyi di balik tumpukan kardus.

Tangannya gemetar memegang ponsel.

Langkah kaki para preman semakin dekat.

“Kayaknya dia sembunyi di sini,” kata salah satu dari mereka.

Dira menahan napas.

Di telepon, suara Kenzo terdengar panik.

“Dira, jangan keluar dari tempat kamu. Abang lagi ke sana!”

Tiba-tiba—

BRAAAK!

Suara motor berhenti keras di ujung gang.Kedua preman itu langsung menoleh.

Seorang laki-laki turun dari motor dengan cepat.

Wajahnya tenang… tapi matanya tajam.

Albian.

Ia mematikan mesin motor lalu berjalan mendekat perlahan.

“Cari siapa?” tanyanya dingin.

Preman itu mendengus.

“Bukan urusan kamu ”

Albian melirik sekilas ke arah kardus tempat Dira bersembunyi.

Ia sudah tahu.Saat perasaan tak enak ia kembali ke sekolah untuk menemui dira,tapi tidak menemukan dira lagi yang semakin membuat perasaan tak enak .Kemudian ia menyusuri jalan dan secara kebetulan ia melihat dira sedang berlari dikejar dua orang preman.

“Kalau begitu pergi.”

Salah satu preman malah tertawa.

“Kalau nggak?”

Albian menghela napas pelan.

“Berarti kalian cari masalah.”

Preman itu langsung maju menyerangnya.

Namun—

BUGH!

Dengan gerakan cepat, Albian menangkis pukulan itu lalu menghantam perut pria tersebut.

Pria itu terhuyung ke belakang.

Preman kedua mencoba menyerang dari samping.

Albian berbalik dan menendangnya hingga jatuh.

Dira yang melihat dari balik kardus langsung membelalak.

“ASTAGA…”

Albian benar-benar bertarung.Dan gerakannya tidak terlihat seperti orang biasa.

Beberapa detik kemudian…

Suara mobil berhenti mendadak di ujung gang.

Pintu terbuka keras.

“DIRA!”

Itu suara Kenzo.

Ia berlari masuk ke gang dengan wajah panik.

Begitu melihat Dira, ia langsung mendekat.

“Dira kamu nggak apa-apa?!”

Dira keluar dari persembunyiannya.

“Aku baik… bang.”

Kenzo langsung memeriksa wajah dan tangannya.

“Siapa yang berani—”

Kalimatnya terhenti saat ia melihat dua pria yang sudah terkapar di tanah.

Dan Albian berdiri tenang di depan mereka.

Kenzo menatapnya sebentar.

“Kamu yang lakukan ini?”

Albian mengangguk kecil.

“Untung kamu datang cepat. Terima kasih ”

" Bukan apa-apa." balas albian

Kenzo menghela napas lega.

Lalu ia menarik Dira ke pelukannya sebentar.

“Kamu bikin abang hampir kena serangan jantung.”

Dira cemberut.

" Al makasih banyak ya " ucap tulus dira

" Iyaa gak papa. lain kali hati-hati. " Jawab albian menatap wajah dira. " Kalau gitu aku duluan " sambil menepuk bahu dira kemudian pergi.

Dira hanya mengangguk. Menatap kepergian albian. Bagaimana tadi kalau tidak ada albian. Bisa habis dirinya.

" Kenapa kamu jalan?" tanya kenzo

“Pikir aja.Bagaimana aku bisa dikejar preman.”

Kenzo mengacak rambutnya kesal.

Ia ingat sekarang .Seharusnya ia menjemput dira

“Maafkan abang .Ini kesalahan abang ”

" Abang udah gak peduli lagi ya sama aku " Dira kesal dengan abangnya

" Bukan gitu dir. Tadi abang bener-bener lupa. Maaf " Kenzo tau ini kesalahannya .Jika saja tidak ada albian bagaimana dengan nasib dira .Dan Ia berpikir kejadian ini dilakukan secara sengaja.

" Tau ah... Pokoknya aku gak mau ngomong sama abang 3 hari " kemudian meninggalkan kenzo dan masuk dalam mobil...

" huh.... dasar.." Kenzo menghela napas

" Bang cepat. Mau pulang " teriak dira dari dalam mobil

Kenzo pun segera berlari masuk dalam mobil. Dilihatnya dira langsung membuang muka.

" Masih marah "

" Gak tau " balas dira cuek " pengen pulang " lanjutnya lagi.

Akhirnya pun kenzo menjalankan mobil nya...

***

Malam itu…

Berita tentang kejadian itu sampai ke telinga seseorang.

Di ruang kerjanya yang sunyi, Elvan berdiri di depan jendela besar kantor.

Kenzo baru saja menceritakan semuanya lewat telepon.

Wajah Elvan berubah dingin.

“Preman?” ulangnya pelan.

“Iya,” jawab Kenzo di telepon. “Untung Albian datang.”

Elvan terdiam beberapa detik.

Tatapannya menajam.

“Ini bukan kebetulan.”

“Aku juga pikir begitu,” kata Kenzo serius.

Elvan mengepalkan tangannya.

“Tidak ada yang berani menyentuh Dira.”

Suaranya sangat dingin.Lebih dingin dari biasanya.

“Cari tahu siapa yang menyuruh mereka.”

Kenzo mengangguk di ujung telepon.

“Aku juga tidak akan diam.”

Elvan menutup telepon perlahan.

Matanya menatap kota malam.Di dalam pikirannya hanya ada satu hal.Jika seseorang sengaja menargetkan Dira…

Maka orang itu sudah membuat kesalahan besar.

Bersambung........

1
Teh Sopiah
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!