Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Cahaya di Tengah Kesepian
Sinar matahari siang itu menyinari halaman sekolah dengan terang, memantulkan bayangan-bayangan jelas dari pohon-pohon dan bangunan kelas. Namun, bagi Heras, cahaya itu terasa seperti ejekan. Ia duduk bersandar di dinding dingin di teras kelas, memeluk lututnya yang lumpuh dengan erat, matanya menatap kosong ke arah langit biru yang tak berawan.
Langit itu begitu luas, begitu bebas. Berbeda dengan dirinya yang terkurung dalam tubuh yang tak berdaya.
Dulu, langit itu adalah saksi larinya yang cepat, angin yang membelai rambutnya saat ia memacu langkah kakinya di lintasan, menjadi kebanggaan orang tua, teman-teman, dan seluruh lingkungannya. Tapi sekarang? Semuanya hilang tertiup angin sejak hari ia memutuskan masuk ke dalam rumah yang terbakar itu. Menyelamatkan anak kecil, tapi malah dihukum nasib dengan ledakan yang melemparnya jauh dari keselamatan.
Sekarang, ia hanyalah beban. Teman-teman sekolah memandangnya dengan tatapan kasihan yang menyakitkan, atau bahkan menghindar seolah-olah kelumpuhannya itu penyakit menular. Keluarga? Senyum mereka telah digantikan oleh desahan napas berat dan keheningan yang mencekam. Bahkan masyarakat yang dulu memujanya kini tak segan melontarkan kata-kata pedas, menyalahkannya karena "telah menyia-nyiakan keberuntungannya".
"Untuk apa aku masih ada di sini..." bisik Heras pelan, suaranya serak tertahan emosi. Matanya mulai memanas, tapi ia menahan air mata itu agar tak jatuh. Ia sudah terlalu sering menangis, sampai rasanya air matanya pun sudah habis.
Tiba-tiba, cahaya yang lebih terang dari sekadar sinar matahari menarik perhatiannya. Dari arah langit yang cerah itu, sebuah bola cahaya putih kecil melayang turun dengan perlahan, seolah-olah sedang mencari sesuatu. Bola itu berkilau indah, namun juga memancarkan aura yang misterius.
Heras tertegun, matanya mengikuti pergerakan bola cahaya itu. Ia ingin bergerak, ingin mundur, tapi kakinya tak mau menurut. Jantungnya berdegup kencang, perasaan takut mulai merayap di ulu hatinya.
Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, bola cahaya itu melesat cepat tepat ke arahnya. Wush!
Cahaya itu menembus dadanya dengan mudah, seolah-olah tubuhnya hanyalah udara.
"Sak—!" Heras tersentak hebat, tangannya refleks menekan dadanya. Ia merasa hangat, bukan sakit, tapi sensasi sesuatu yang asing masuk dan bersatu di dalam dirinya membuatnya panik setengah mati. "Apa ini?! Keluar! Keluar dari tubuhku!"
[Tenanglah.]
Sebuah suara terdengar langsung di dalam kepalanya. Bukan suara yang didengar oleh telinga, melainkan suara yang langsung menyentuh pikirannya. Dalam, tenang, namun memiliki ketegasan yang tak bisa dibantah.
"Siapa?! Siapa yang ada di sana?!" teriak Heras, matanya mengedar panik mencari sumber suara, meski ia tahu tak ada orang lain di teras itu selain dirinya.
[Aku ada di dalam dirimu. Dan kau... adalah pilihanku.]
Heras merasakan darahnya menembus ke ubun-ubun karena ketakutan. "Pilihanmu? Apa maksudmu?! Lepaskan aku! Aku tidak mau terlibat dengan hal-hal aneh seperti ini! Keluar sekarang juga!" Ia gemetar, bukan hanya karena takut pada sosok asing itu, tapi juga karena ingatannya pada rasa sakit kehilangan segalanya. Ia takut jika hal ini akan membuatnya kehilangan sisa-sisa hidupnya yang ada.
Suara itu diam sejenak, seolah menimbang kata-kata Heras. Kemudian, terdengar lagi, kali ini dengan nada yang lebih tajam, menembus langsung ke inti perasaannya.
[Aku tanya padamu. Apakah kehidupan seperti ini yang kau inginkan? Duduk di sini sendirian, meratapi nasib, dibenci dan dilupakan oleh semua orang? Apakah ini akhir yang kau inginkan untuk dirimu yang dulu dikenal karena kecepatannya?]
Pertanyaan itu membuat Heras terdiam. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tak ada kata yang bisa keluar. Pertanyaan itu begitu tajam, begitu tepat sasaran, seolah-olah sosok ini telah membaca setiap sudut gelap di hatinya selama ini.
Apakah ini yang ia inginkan? Tentu saja tidak. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia hanyalah orang lumpuh yang tak berguna.
"Aku... aku tidak tahu..." jawab Heras lirih, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya. "Aku bingung... Aku tidak tahu harus bagaimana lagi..."
[Kau tidak perlu bingung sendirian. Kita akan berjalan bersama. Dan untuk membantumu mengerti, lihatlah ini.]
Tiba-tiba, pandangan Heras berubah. Di udara kosong di hadapannya, garis-garis cahaya mulai terbentuk, menyusun diri menjadi sebuah panel transparan yang berkilau biru-putih. Tulisan-tulisan dan angka-angka muncul di sana dengan jelas, seolah-olah itu adalah sesuatu yang nyata.
Heras mengerjap-ngerjap, matanya terbelalak melihat benda aneh yang melayang di depannya itu.
[Jendela Status Luminar - Level 1]
Penyatu: Heras
Exp: 0/40
Energi: 1000/1000
Daya Hidup: 2000/2000
Kekuatan Fisik: 10 + 5 (Dasar Luminar + Tambahan Heras)
Kecepatan: 10 + 15 (Dasar Luminar + Tambahan Heras)
Mental: - + 20 (Dasar Luminar + Tambahan Heras)
Pertahanan: 10 + 3 (Dasar Luminar + Tambahan Heras)
Kemampuan:
- Perubahan Bentuk Ukuran Humanoid-Giant (Aktif)
Dapat mengubah ukuran tubuh antara bentuk humanoid dan raksasa (maksimal 20 meter) sesuai kebutuhan pertarungan.
- Meta Field (Aktif)
Biaya: Mengurangi 500 poin HP saat digunakan.
Deskripsi: Energi dari pusat energi di dada mengalir deras menuju kepalan tangan. Luminar menghantam tanah dengan kekuatan penuh, menciptakan retakan dimensi lain. Energi dan cahaya dari dalam retakan menyebar ke permukaan, menghasilkan gaya tarik kuat yang menyeret seluruh makhluk hidup di area tersebut masuk ke dalam dimensi lain.
"Ini... apa ini?" tanya Heras, suaranya bergetar. Jari-jarinya bergerak ragu-ragu, seolah ingin menyentuh panel cahaya itu, namun takut menyentuh sesuatu yang berbahaya.
[Itu adalah bukti potensimu. Dan juga, kekuatan yang bisa kita miliki bersama.] jawab suara itu dalam pikirannya, penuh penekanan. Sekarang, katakan padaku... Apakah kau masih ingin menyerah?
Heras menatap panel status itu, lalu kembali menatap langit cerah yang tadi ia ratapi. Di dalam hatinya, rasa takut masih ada, tapi bercampur dengan sesuatu yang lain—sesuatu yang selama ini ia pikir telah mati: secercah harapan.