"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: JAWABAN DARI SEORANG YANG TAKUT KEHILANGAN
Menulis bukan perkara kata—
tapi keberanian mengakui bahwa hati masih hidup.
Pagi belum sepenuhnya tiba ketika Maringgih mulai menulis.
Di luar gudang, Mak Ijah masih duduk di bangku kayu, menunggu dengan cemas. Ia sudah di sana sejak Dullah memanggilnya. Setengah jam. Satu jam. Dua jam.
Matahari mulai naik perlahan, tapi pintu gudang masih tertutup rapat.
Dullah keluar membawakan segelas air.
"Mak, sabar. Tuan sedang menulis."
Mak Ijah menerima air itu, tapi tidak diminum. Matanya terus tertuju pada pintu gudang.
"Nyai takut, Dullah. Takut kalau Datuk berubah pikiran."
Dullah tersenyum. "Tidak, Mak. Tuan sudah bulat. Lihat saja nanti."
Di dalam gudang, Maringgih masih duduk di meja kerjanya.
Lampu minyak sudah padam, digantikan cahaya pagi yang masuk melalui celah-celah dinding. Di depannya, kertas kosong. Pena di tangannya sudah siap.
Dua surat Halimah tergeletak di sampingnya. Surat pertama yang berani. Surat kedua yang penuh keraguan. Keduanya telah ia baca berkali-kali semalaman. Keduanya telah membuat hatinya berkecamuk.
Sekarang, gilirannya menulis.
Tapi menulis bukan perkara mudah. Bukan karena ia tidak pandai merangkai kata—sebagai saudagar, ia terbiasa menulis surat dagang yang rumit. Bukan karena ia tidak tahu apa yang ingin dikatakan—pikirannya sudah penuh dengan kalimat-kalimat yang ingin ia tulis.
Tapi menulis untuk Halimah berbeda.
Setiap kata harus dipilih. Setiap kalimat harus dijaga. Karena sekali tertulis, tidak bisa ditarik kembali.
Maringgih menarik napas panjang. Pena itu akhirnya menyentuh kertas.
Kepada Halimah,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halimah,
Maaf. Itu kata pertama yang harus kau terima dariku. Maaf karena diamku terlalu lama. Maaf karena kau harus menunggu. Maaf karena surat pertamamu dan surat keduamu baru sekarang kujawab.
Ia berhenti. Membaca ulang. Napasnya berat.
Bukan karena aku tidak peduli. Bukan karena aku meremehkan. Tapi karena aku takut.
Ya, takut.
Mungkin kau tidak menyangka seorang Datuk Maringgih bisa takut. Tapi aku takut, Halimah. Bukan pada ayahmu. Bukan pada fitnah orang. Tapi pada diriku sendiri.
Maringgih meletakkan pena. Memejamkan mata. Di balik kelopaknya, bayangan Aminah muncul. Wajahnya yang tersenyum di pelabuhan. Lambaian tangannya. Ciuman di punggung tangannya yang terakhir. Dan kabar karam yang menghancurkannya sembilan tahun lalu.
Ia membuka mata. Melanjutkan menulis.
Sembilan tahun lalu, aku pernah hampir menikah.
Tunanganku bernama Aminah. Ia berlayar ke Jawa bersama ayahnya untuk mengurus keluarga. Aku mengantar mereka di pelabuhan. Aminah mencium tanganku—bukan karena kami sudah menikah, tapi sebagai penghormatan terakhir seorang calon istri pada calon suaminya sebelum berlayar ke negeri seberang. Aku masih ingat hangatnya. Masih ingat senyumnya. Masih ingat janjinya untuk kembali.
Tiga minggu kemudian, kapal itu karam. Tidak ada selamat.
Sejak itu, aku menutup hati. Aku sibuk dengan dagang, dengan surat-menyurat, dengan perlawanan sunyi terhadap kompeni. Aku kira itu cukup. Aku kira dengan sibuk, aku bisa lupa. Tapi luka tidak pernah benar-benar sembuh, Halimah. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali.
Dan kau... kau datang.
Tangannya gemetar. Ia berhenti lagi. Menarik napas. Menyeka keringat di dahi.
Ketika surat pertamamu tiba, aku kaget. Bukan karena isinya, tapi karena keberanianmu. Kau menulis hal-hal yang bahkan aku tak berani pikirkan. Kau bertanya, "Kenapa Datuk tidak halalin saya saja?"
Pertanyaan itu menghantamku. Bukan karena lancang. Tapi karena aku tidak punya jawaban.
Lalu surat keduamu tiba. Kali ini lebih hati-hati. Kau bertanya apakah suratmu sampai. Kau bertanya apakah kau mengganggu. Kau bertanya apakah aku sudah punya calon.
Dan aku masih diam.
Maaf, Halimah. Maaf karena diamku membuatmu meragukan dirimu sendiri. Kau tidak lancang. Kau tidak mengganggu. Kau hanya... jujur. Dan kejujuran itu lebih berharga dari apa pun.
Mata Maringgih basah. Ia tidak menyadari kapan mulai menangis.
Sekarang, biar aku jawab pertanyaan-pertanyaanmu.
Suratmu sampai. Semua. Aku membacanya berkali-kali. Setiap kali, hatiku terguncang.
Apakah kau mengganggu? Tidak, Halimah. Kau tidak pernah mengganggu. Justru kehadiranmu dalam bentuk surat ini membuatku sadar bahwa hatiku masih bisa merasa. Setelah sembilan tahun mati rasa, kau yang menghidupkannya kembali.
Apakah aku sudah punya calon? Tidak. Sejak Aminah pergi, aku tidak pernah membuka hati untuk siapa pun. Bukan karena tidak ada yang mau—banyak yang mencoba. Tapi aku selalu menolak. Karena aku takut. Takut kehilangan lagi.
Dan sekarang kau datang. Kau yang masih muda. Kau yang polos. Kau yang berani menulis surat seperti ini. Dan aku... aku takut.
Bukan takut padamu. Tapi takut pada diriku sendiri. Takut tidak bisa menjaga. Takut akan menyakitimu. Takut suatu hari nanti, kau akan menyesal.
Maringgih berhenti. Kata-kata berikutnya sulit sekali ia tulis.
Halimah, aku tidak bisa menjanjikan apa pun. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Luka lamaku masih ada. Ketakutanku masih nyata. Dan kau masih muda, masih punya banyak waktu untuk memilih.
Tapi satu hal yang bisa aku janjikan: aku tidak akan lagi diam. Apa pun yang terjadi, aku akan menjawab. Aku akan hadir. Aku akan menjaga jarak yang perlu dijaga, tapi tidak akan lagi membuatmu menunggu dalam ketidakpastian.
Jika kau masih mau menerima lelaki tua seperti aku, dengan segala luka dan ketakutannya, maka kita jalani perlahan. Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu janji muluk. Hanya kejujuran dan keberanian untuk terus melangkah.
Jika kau memilih berhenti, aku akan mengerti. Kau berhak bahagia dengan cara yang lebih mudah, tanpa harus menanggung beban masa laluku.
Tapi jika kau tetap memilihku... aku akan berusaha menjadi lelaki yang pantas untukmu.
Pena berhenti. Maringgih membaca ulang seluruh surat itu. Air matanya jatuh membasahi kertas di beberapa tempat.
Ini terlalu jujur, pikirnya. Terlalu terbuka. Terlalu...
Tapi ia tidak punya pilihan lain. Halimah sudah jujur padanya. Ia juga harus jujur.
Halimah, surat ini mungkin terlalu panjang. Tapi aku ingin kau tahu segalanya. Bukan untuk membuatmu iba, tapi agar kau bisa memilih dengan hati yang jernih.
Aku tidak tahu apakah ini yang kau harapkan. Mungkin kau kecewa karena aku tidak langsung bilang "aku mau". Mungkin kau pikir aku hanya memberi alasan. Tapi ini aku, Halimah. Apa adanya.
Jika kau masih mau membalas, aku akan menunggu. Tidak akan kuulangi kesalahan yang sama.
Terima kasih sudah menulis. Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa hati masih bisa merasa.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Maringgih,
Yang sedang belajar tidak takut.
Ia meletakkan pena. Surat itu ia baca sekali lagi. Tidak ada yang perlu ditambah. Tidak ada yang perlu dikurangi.
Surat itu dilipat rapi. Di bagian luar, ia menulis:
Untuk Halimah
Matahari semakin tinggi. Maringgih berdiri. Membuka pintu gudang.
Di luar, Mak Ijah masih duduk di bangku kayu. Begitu melihat pintu terbuka, ia langsung bangkit.
"Datuk?"
Maringgih menyerahkan surat itu. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi matanya mantap.
"Mak, tolong sampaikan ini pada Neng Halimah."
Mak Ijah menerima surat itu dengan kedua tangan, seperti menerima benda pusaka. Matanya berkaca-kaca.
"Ini... ini balasan, Datuk?"
Maringgih mengangguk. "Sampaikan padanya... sampaikan bahwa aku minta maaf. Dan aku akan menunggu."
Mak Ijah tersenyum. Air matanya jatuh.
"Datuk, Neng Halimah sudah menunggu terlalu lama. Ia hampir putus asa. Tapi sekarang..." Ia tidak bisa melanjutkan.
Maringgih tersenyum tipis. "Tolong jaga ini, Mak. Ini surat penting."
Mak Ijah mengangguk kuat. "Nyai jaga, Datuk. Seperti menjaga nyawa."
Ia menyimpan surat itu di balik bajunya, dekat di dada. Lalu berjalan cepat meninggalkan gudang.
Maringgih menatap punggung Mak Ijah yang semakin menjauh. Hatinya berdebar.
Dullah datang mendekat. "Tuan lega?"
Maringgih menghela napas. "Lega... tapi juga takut."
"Takut apa, Tuan?"
"Takut kalau surat ini tidak cukup. Takut kalau ia kecewa. Takut kalau ia membaca dan kemudian... menolak." Ia berhenti. "Takut kalau ia memilih berhenti."
Dullah tersenyum. "Tuan, kalau Neng Halimah sudah menulis sampai dua surat dan menunggu berminggu-minggu tanpa kepastian, berarti ia tidak mudah menyerah. Sekarang Tuan memberi jawaban. Jujur lagi. Itu lebih dari cukup."
Maringgih menatapnya. "Kau pikir?"
"Saya tahu, Tuan." Dullah tersenyum lebih lebar. "Itu namanya jatuh cinta, Tuan. Saya pernah mengalaminya dulu, sebelum istri saya meninggal."
Maringgih terkejut. Lalu tersenyum kecil. Mungkin Dullah benar.
Di luar, Mak Ijah berjalan cepat. Surat itu ia pegang erat di balik bajunya. Ia ingin segera sampai di rumah dan memberikan surat itu pada Halimah.
Ia membayangkan wajah Halimah saat menerima surat ini. Mungkin akan menangis. Mungkin akan tersenyum. Mungkin akan membaca berulang kali seperti yang dilakukan Maringgih.
Neng Halimah, ini jawabannya. Akhirnya.
Langkahnya semakin cepat. Hampir berlari.
Dan di kejauhan, rumah besar Sulaiman mulai terlihat. Lampu di kamar Halimah—masih menyala sejak semalam.
Ia masih terjaga. Masih menunggu. Semoga ia kuat menerima ini.
Mak Ijah tersenyum dalam terik matahari pagi.
[Bersambung...]