NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Rumah yang Pernah Hidup

Pagi pertama di rumah itu terasa sunyi.

Ishani terbangun sebelum matahari benar-benar naik. Untuk beberapa detik ia hanya berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang sudah sangat ia kenal.

Kamar itu tidak berubah. Lemari kayu di sudut ruangan. Dan meja kecil di samping tempat tidur yang dulu selalu dipenuhi buku-buku milik Biru. Namun ada satu hal yang berbeda. Suara kecil dari box bayi di samping ranjang.

Iyan.

Bayi itu menggeliat pelan sebelum akhirnya mengeluarkan tangisan kecil.

Ishani langsung bangun. “Astaga… iya, iya,” gumamnya lembut sambil mengangkat bayi itu.

Tubuhnya masih sedikit lelah, tapi kali ini bukan rasa sakit yang ia rasakan. Lebih seperti rasa canggung karena masih belajar menjadi seorang ibu.

Iyan berhenti menangis begitu berada dalam pelukannya. Ishani duduk di tepi ranjang sambil menepuk punggung kecil bayi itu.

“Mas Biru,” bisiknya pelan. Matanya jatuh ke arah kursi dekat jendela. “Kalau kamu masih di sini… kamu pasti lebih panik dari aku.”

Ia tersenyum kecil. Dulu Biru selalu terlihat tenang, tapi Ishani tahu suaminya itu mudah panik dalam hal-hal kecil.

Pintu kamar diketuk pelan. “Isha?”

Suara Bu Maura. “Iya, Bu.”

Wanita itu masuk sambil membawa secangkir teh hangat. “Bangun pagi sekali,” katanya sambil tersenyum.

“Iyan yang bangunin.”

Bu Maura mendekat dan memperhatikan bayi itu. “Mirip Biru waktu kecil,” gumamnya.

Ishani menatap wajah kecil itu beberapa detik. “Iya,” jawabnya pelan.

Namun matanya kemudian terlihat sedikit khawatir. “Bu…”

“Apa?”

“Aku takut.”

Bu Maura menatapnya. “Takut apa?”

Ishani menghela napas. “Aku takut tidak bisa menjadi ibu yang baik.”

Bu Maura tersenyum lembut. “Tidak ada ibu yang langsung tahu semuanya.” Ia menyentuh bahu Ishani. “Kita belajar pelan-pelan. Bahkan aku dulu belajar sambil menangis.”

Siang Hari

Rumah kecil itu mulai terasa hidup lagi.

Tangisan bayi, suara panci dari dapur, dan sesekali suara motor tetangga lewat di depan rumah. Ishani sedang menjemur pakaian bayi ketika ponselnya berdering.

Nama Langit muncul di layar.

Ia ragu beberapa detik sebelum menjawab. 📞 “Halo.”

📞 “Sudah makan?”

Ishani sedikit terkejut.

📞 “Sudah.”

Padahal belum.

📞 “Bagaimana Iyan?”

📞 “Tidur lagi.”

Beberapa detik mereka hanya diam.

Akhirnya Langit berkata,

📞 “Aku mungkin baru bisa ke sana dua hari lagi.”

📞 “Tidak apa-apa.”

📞 “Kalau ada apa-apa, telepon aku.”

Ishani tersenyum kecil.

📞 “Kak Langit seperti orang tua yang khawatir anaknya dititipkan.”

Langit terdiam sebentar.

📞 “Memang begitu rasanya.”

Ishani tidak tahu harus menjawab apa. Ia bisa membayangkan Langit mengerutkan kening di seberang sana.

Untuk beberapa detik mereka hanya mendengar napas masing-masing.

Akhirnya Langit berkata pelan,

📞 “Shani.”

📞 “Iya?”

📞 “Terima kasih sudah mau mencoba.”

Ishani tahu maksudnya. Tentang rumah Wicaksana. Tentang masa depan mereka.

📞 “Pelan-pelan saja."

Beberapa menit setelah telepon ditutup, Ishani masih berdiri, tangannya masih memegang ponsel. Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas pelan. “Kenapa aku jadi gugup sendiri sih,” gumamnya.

Ia kembali menjemur pakaian kecil milik Iyan. Baju bayi yang sangat kecil sampai kadang membuatnya tidak percaya bahwa sekarang ia benar-benar seorang ibu.

Ponselnya tiba-tiba bergetar lagi. Nama yang sama muncul.

Langit.

Ishani mengangkat alis. Ia menjawab panggilan itu.

📞 “Halo?”

📞 “Aku lupa tanya sesuatu.”

Suara Langit terdengar lebih pelan kali ini.

📞 “Apa?”

📞 “Kamu benar-benar sudah makan?”

Ishani langsung terdiam.

📞 “Kak Langit…”

📞 “Jujur saja.”

Ishani menghela napas kecil.

📞 “Belum.”

📞 “Kenapa?”

📞 “Lupa.”

📞 “Shani.”

Nada suara Langit berubah sedikit lebih tegas.

📞 “Kalau kamu sakit lagi, aku yang akan repot.”

Ishani menahan senyum.

📞 “Kak Langit seperti ayah yang memarahi anaknya.”

📞 “Kalau kamu keras kepala, mungkin memang harus begitu.”

Ishani tertawa kecil.

📞 “Baiklah. Aku akan makan sekarang.”

📞 “Bagus.”

Mereka kembali terdiam, namun kali ini terasa lebih nyaman.

📞 “Shani.”

📞 “Iya?”

📞 “Kalau malam Iyan menangis lagi…”

📞 “Iya?”

📞 “Telepon saja.”

Ishani mengerutkan kening.

📞 "Untuk apa?”

📞 “Aku tidak tahu.”

Jawaban itu terdengar jujur sekali.

📞 “Mungkin aku juga tidak bisa membantu apa-apa.”

Ishani tertawa lagi.

📞 “Tapi?”

📞 “Tapi setidaknya kamu tidak sendirian.”

Ishani tidak menjawab. Ada sesuatu yang hangat menyusup ke dadanya.

📞 “Terima kasih."

Langit tidak menjawab. Namun sebelum menutup telepon, ia berkata,

📞 "Shani.”

📞 “Iya?”

📞 “Jangan terlalu capek.”

Telepon terputus.

Ishani menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.

Malam Hari

Iyan menangis lagi. Ishani sudah menggendongnya hampir sepuluh menit.

Namun bayi itu tetap rewel.

“Astaga… kenapa lagi?”

Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu.

Akhirnya ia duduk di kursi dekat jendela.

Kursi yang dulu sering ditempati Biru.

Ia menatap keluar.

Rumah ini terasa berbeda sekarang.

Dulu ia selalu menunggu Biru pulang. Sekarang ia menunggu seseorang yang lain.

Iyan akhirnya berhenti menangis.

Ishani menghela napas lega. 

“Mas Biru,” bisiknya pelan. “Terima kasih sudah mempercayakan kami pada kak Langit.  Aku harap kamu tidak marah.” Ia menatap bayi di pelukannya. Air matanya hampir jatuh. “Aku tidak akan pernah menggantikanmu. Tapi aku bahagia karena aku tidak sendirian.”

Iyan tertidur lagi. Ishani menatap wajah kecil itu. Lalu ia berbisik pelan, “Kamu beruntung, Nak. Karena ada seseorang yang menjaga kita, bahkan sebelum kamu lahir.”

Ishani memeluk bayi itu lebih erat.

Untuk pertama kalinya sejak Biru pergi, rumah ini tidak lagi terasa kosong.

🥀🥀🥀🥀🥀

Sementara itu, di sebuah kafe di pusat kota Jakarta. Meilina duduk di depan meja dengan wajah tegang. Di depannya duduk seorang pria yang terlihat gugup.

“Jadi?” tanya Meilina dingin.

Pria itu membuka tablet di tangannya. “Saya sudah mencari informasi tentang wanita itu.”

Meilina menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Cepat.”

Pria itu menelan ludah sebelum memutar layar tablet ke arahnya. “Namanya Ishani.”

Meilina menatap layar itu. Foto Ishani muncul di sana. Gambar lama dari media sosial. Seorang wanita sederhana dengan senyum tenang.

Meilina mengerutkan kening. “Ini?”

“Iya.”

“Ini perempuan yang dipilih Langit?”

Pria itu mengangguk pelan. “Ia pernah menikah.”

Meilina menyipitkan mata. “Dengan siapa?”

“Biru.” 

Meilina mengernyit. “Siapa Biru?”

Pria itu terlihat ragu sebelum menjawab. “Saudara kembar Langit.”

Meilina langsung duduk tegak. “Apa?”

“Namun hubungan keluarga mereka tidak baik.” 

“Kenapa?”

“Sepertinya Biru pernah dikeluarkan dari keluarga Wicaksana.”

Meilina menatap foto Ishani lagi. Tatapannya berubah tajam. “Jadi… wanita ini adalah janda dari saudara Langit?”

“Iya.”

Beberapa detik Meilina hanya diam. Lalu ia tertawa kecil. Namun tawa itu tidak terdengar menyenangkan. “Menarik.”

Pria di depannya terlihat semakin gugup. “Apa yang ingin Anda lakukan?”

Meilina menutup tablet itu perlahan. “Cari alamatnya.”

“Maaf?”

“Alamat Ishani.”

Pria itu terdiam.

Meilina menatapnya tajam. “Aku ingin melihat sendiri.”

Ia mengambil tasnya. “Perempuan seperti apa yang membuat Langit menghancurkan pertunangannya denganku.”

Meilina berdiri. Lalu berkata dengan suara dingin, “Dan aku ingin memastikan… apakah dia benar-benar pantas.”

1
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
langit cuma ga pede aja, bukan benci sama permintaan tolong si biru. yakin
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
yang penting kacamata yaudalah maaaa ... 😭 maaf reflek ingat meme itu
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
laki2 pujaan, bertanggungjawab atas milik sahabatnya. kelak akan menjadi bapak tiri yang sayangnya bukan kepalang. aamiin
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
semoga tekad ini akan berjalan sebagaimana yang terniatkan 👍
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
karena ishani sadar diri. langit hanya saudara suaminya, tapi bukan siapa-siapa baginya
Mentariz
Biru pasti udah tenang di sana, langit pasti akan jaga kamu dan bayimu, ishani
Mentariz
Biru udah punya firasat sejak awal 😭
PrettyDuck
semoga menjadi lebih baik
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
PrettyDuck
apa ini berarti ishani setuju nikah sama langit??
PrettyDuck
Biru udah punya ketakutan ini dari awal 🥲
Filan
Nanti juga Langit akan dipandang sebagai Langit yang mengisi hati Ishani. Bukan pengganti Biru.
Semangat!
Filan
Itu toh alasannya?
Miu Nuha.
hidup terus dijalanin ish, Allah sudh atur semuany untuk kamu. semangat ya, masih banyk yg sayang sama kamu ❤
Miu Nuha.
bener, hiks 🤧
Miu Nuha.
baru kabar hamil aja udh bilang gitu, emang udh dapet tanda ya kalo bakal pergi 😫
Three Flowers
nyesek membayangkan perasaan Ishani... tapi apa daya, takdir berkata lain. mungkin jodohnya dengan biru memang sudah selesai, dan kemungkinan langit lah jodoh ishani berikutnya
Three Flowers
waduh... laki-laki mana yang tidak tertarik pada wanita cantik? yakin deh langit yang bucin duluan 😄
@dadan_kusuma89
Ishani, sesuatu yang mendesak terkadang tak perlu butuh banyak berpikir, tapi yang dibutuhkan adalah tindakan segera.
@dadan_kusuma89
Ingat, Ishani! semua demi kebaikan kamu dan janin dalam kandunganmu. Siap nggak siap, harus dipaksa.
@dadan_kusuma89
Ishani, langkah yang diputuskan Langit insya Allah sudah tepat. Kau tak perlu banyak mikir, ikuti saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!