Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Abu di Atas Air
Asap hitam mengepul dari unit prosesor yang hancur di ruang kerja Julian, mengisi ruangan mewah itu dengan aroma plastik terbakar yang menyesakkan. Di luar, suara sirene Carabinieri Italia meraung-raung, memantul di dinding tebing Como, semakin dekat dan semakin mendesak. Cahaya lampu biru dan merah mulai menyapu pepohonan di sekitar Villa d'Oro.
Julian Thorne berdiri di tengah ruangan, menatap sisa-sisa kekaisaran digitalnya yang kini hanya berupa rongsokan logam. Wajahnya yang biasanya tenang dan angkuh kini retak, memperlihatkan kegilaan yang selama ini ia sembunyikan di balik jas mahalnya.
"Kalian tidak mengerti apa yang kalian lakukan," gumam Julian, suaranya bergetar antara amarah dan tawa histeris. "Dunia butuh ketertiban yang aku ciptakan. Tanpa Icarus, pasar akan runtuh, pemerintahan akan saling gigit! Kalian baru saja membunuh masa depan!"
"Kami tidak membunuh masa depan, Julian," Aruna berdiri tegak di samping Dante, napasnya masih terengah-engah setelah cekikan Julian. "Kami hanya mengembalikan masa depan kepada orang-orang yang berhak memilikinya, bukan kepada monster yang menganggap nyawa manusia sebagai angka di layar."
Elena melangkah maju, memegang pistolnya dengan tangan yang sangat stabil. "Cukup bicaranya. Julian, kau selalu bilang bahwa setiap orang punya harga. Sekarang, aku ingin tahu... berapa harga nyawamu sendiri?"
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang depan vila. "Mereka mendobrak masuk!" seru Enzo melalui alat komunikasi yang baru saja aktif kembali setelah pengacau sinyal hancur. "Tuan, Nyonya! Kalian harus keluar lewat jalur bawah air sekarang! Polisi sudah menyisir aula utama!"
"Bawa dia," perintah Dante pada Elena, menunjuk ke arah Julian. "Dia adalah tiket kita untuk melewati barikade."
Dante merangkul bahu Aruna. Luka di perutnya kembali terbuka, darah merembes membasahi gaun sutra hitam Aruna, namun ia menolak untuk jatuh. Mereka bergerak menuju pintu rahasia di balik lemari buku yang mengarah ke terowongan evakuasi bawah tanah yang langsung menuju dermaga pribadi.
Lorong bawah tanah itu dingin dan lembap, kontras dengan kemewahan pesta di atas. Mereka berlari menuruni tangga batu yang licin. Julian diseret oleh Elena dengan kasar. Di ujung lorong, sebuah kapal motor cepat bertenaga tinggi sudah menunggu, mesinnya sudah menyala pelan dalam kegelapan.
Namun, saat mereka mencapai dermaga, sebuah sosok muncul dari balik pilar beton. Itu adalah Branko.
Pria raksasa itu ternyata belum mati. Meski kepalanya berdarah dan matanya bengkak akibat serangan Elena sebelumnya, ia masih mampu berdiri. Di tangannya, ia memegang sebuah detonator kecil.
"Jangan bergerak," suara Branko berat dan parau. "Julian, kau menjanjikanku perlindungan bagi keluargaku. Jika aku mati di sini, pastikan mereka aman."
Julian tersenyum licik di balik todongan senjata Elena. "Tentu, Branko. Ledakkan tempat ini. Kita semua pergi ke neraka bersama-sama."
Aruna menatap Branko. "Branko, kau punya anak laki-laki yang seumur dengan Bumi. Kau sering menceritakannya padaku di rumah aman. Apakah kau ingin dia tumbuh besar dengan mengetahui ayahnya mati demi pria yang bahkan tidak tahu nama belakangnya?"
Tangan Branko yang memegang detonator bergetar. "Kau tidak tahu apa yang dia ancamkan pada keluargaku, Nyonya."
"Aku tahu rasanya diancam, Branko! Aku hidup dalam ancaman itu setiap detik!" Aruna melangkah maju, menjauh dari Dante. "Letakkan alat itu. Dante bisa memberikan perlindungan yang tidak akan pernah diberikan Julian. Valerius tidak pernah meninggalkan orang-orangnya."
Dante menatap Branko dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara otoritas seorang bos dan simpati seorang pria yang juga hampir kehilangan segalanya. "Branko, ini kesempatan terakhirmu. Berikan detonator itu pada Aruna, dan aku bersumpah demi nama Valerius, keluargamu akan aman di Prancis sebelum matahari terbit."
Keheningan yang mencekam menyelimuti dermaga selama beberapa detik. Hanya suara riak air dan sirene yang menjauh di atas kepala mereka. Perlahan, Branko menurunkan tangannya. Ia menyerahkan detonator itu kepada Aruna.
"Maafkan aku, Tuan," bisik Branko.
Namun, Julian Thorne tidak membiarkan kekalahan itu terjadi begitu saja. Dengan gerakan yang tidak terduga, ia merebut pistol dari pinggang Elena yang sedang lengah dan melepaskan tembakan ke arah mesin kapal motor.
Bang! Bang! Bang!
Tangki bahan bakar kapal itu bocor, dan percikan api dari peluru segera menyulut bensin yang mengalir. Ledakan kecil mengguncang dermaga. Kapal itu mulai terbakar hebat, memutus satu-satunya jalur pelarian mereka.
"Jika aku tidak bisa pergi, tidak ada yang bisa pergi!" teriak Julian.
Elena menerjang Julian, keduanya bergulat di tepi dermaga yang kini mulai dilalap api. Dante mencoba menarik Aruna mundur, namun api menyebar dengan sangat cepat karena aliran bensin.
"Aruna! Ke arah air! Berenang ke arah lampu hijau di seberang!" teriak Dante.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Dante!"
"Pergilah! Bawa dokumen itu!" Dante mendorong Aruna ke arah air.
Tepat saat itu, Elena berhasil mengunci lengan Julian di belakang punggungnya. Ia menatap Aruna dengan tatapan yang sangat jernih, seolah-olah semua kegelapan dalam dirinya telah menguap.
"Jaga ayah, Aruna," bisik Elena. "Dan jadilah ibu yang hebat untuk Bumi. Biarkan aku yang membereskan sampah ini."
"ELENA! TIDAK!"
Elena menarik Julian Thorne bersamanya, melompat ke arah kapal yang sedang meledak. Sebuah ledakan besar mengguncang seluruh vila. Api membumbung tinggi ke langit malam Como, menerangi kegelapan dengan warna jingga yang mengerikan. Kapal itu hancur berkeping-keping, tenggelam ke dasar danau bersama dua jiwa yang terikat oleh dendam sepuluh tahun.
Aruna terlempar ke air oleh kekuatan ledakan. Dinginnya air danau menyengat kulitnya, namun panas di hatinya jauh lebih menyakitkan. Ia melihat ke atas, melihat puing-puing yang jatuh ke air seperti bintang jatuh yang mati.
Dante melompat ke air setelahnya, menarik Aruna ke permukaan. Mereka berpegangan pada sebuah balok kayu yang terapung, terengah-engah di tengah kabut asap dan api.
Beberapa menit kemudian, sebuah perahu penyelamat kecil yang dikemudikan oleh Enzo muncul dari kegelapan danau. Enzo dengan cepat menarik mereka berdua ke atas kapal.
"Di mana Elena? Di mana Julian?" tanya Enzo panik.
Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah pusaran air di mana kapal itu tadi berada. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Air danau yang tenang telah menelan semua rahasia Icarus dan orang-orang yang mencoba menguasainya.
Aruna mendekap map dokumen yang berhasil ia selamatkan di dalam tas kedap airnya. Ia menoleh ke arah Dante yang kini pingsan karena kelelahan dan rasa sakit.
"Kita pergi dari sini, Enzo," suara Aruna terdengar sangat tua dan letih. "Bawa kita ke tempat di mana tidak ada lagi yang bisa menemukan kita."
Fajar mulai menyingsing di atas Florence saat mereka tiba di sebuah vila kecil milik kerabat jauh Dante yang tersembunyi. Bumi berlari keluar rumah saat melihat ibunya datang. Aruna memeluk anaknya, menangis dalam diam.
Hadi Kirana berdiri di ambang pintu, menatap putrinya dengan rasa bersalah yang tak terhingga. Ia melihat ke belakang Aruna, mencari sosok yang lain.
"Dia tidak kembali, Ayah," ucap Aruna singkat. "Elena... dia memastikan kita semua punya kesempatan untuk mulai lagi."
Hadi jatuh berlutut, menangisi putri yang pernah ia buang dan kini telah mengorbankan segalanya demi mereka.
Bab 32 berakhir dengan Aruna yang berdiri di balkon, menatap matahari terbit. Di tangannya, ia memegang korek api perak milik Elena yang ia temukan di saku mantelnya sebelum mereka melompat ke air. Ia membakar dokumen-dokumen Icarus itu satu per satu di dalam sebuah wadah logam.
"Selesai," bisik Aruna saat lembaran terakhir menjadi abu. "Hutangnya sudah lunas."
Dante keluar dari dalam rumah, tubuhnya dibalut perban, berdiri di samping Aruna. Mereka tidak bicara, hanya saling menggenggam tangan. Di depan mereka, masa depan yang tidak pasti menanti, namun untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Aruna Kirana tidak lagi merasa seperti seorang tawanan takdir. Ia adalah arsitek dari hidupnya sendiri.