Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Arcelia Virellia tidak bisa tidur.
Bayangan di taman itu terus menghantuinya. Ia bukan tipe orang yang mudah panik, tetapi instingnya jarang salah. Ada sesuatu yang sedang bergerak di balik layar dan itu ada hubungannya dengan keluarga Ravert.
Ia membuka pintu kamarnya perlahan, melangkah menyusuri koridor yang sunyi. Kediaman keluarga Virellia sudah gelap, hanya cahaya lampu dinding yang redup menerangi langkahnya.
Begitu sampai di taman belakang, udara malam terasa lebih dingin dari biasanya.
“Keluar,” ucap Arcelia tegas. “Aku tahu kau ada di sini.”
Sunyi.
Namun beberapa detik kemudian, suara langkah pelan terdengar dari balik pohon besar di sudut taman. Sosok tinggi keluar dari bayangan.
Kaelion Ravert.
Arcelia tertegun. “Kau?”
Tatapan Kaelion tenang, tapi sorot matanya tajam mengamati sekeliling, seolah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.
“Aku tidak berniat menakutimu.”
“Lalu apa? Mengintai di malam hari sekarang menjadi kebiasaan keluarga Ravert?”
Nada Arcelia tajam, namun Kaelion tidak tersinggung.
“Ada seseorang yang mengincarmu.”
Jantung Arcelia berdegup lebih cepat. “Apa maksudmu?”
“Aliansi antara keluarga Virellia dan Ravert tidak disukai semua pihak,” jawab Kaelion pelan. “Dan seseorang ingin memastikan itu tidak terjadi.”
Arcelia menatapnya dalam.
“Dan kau datang sebagai apa? Sekutu… atau ancaman?”
Keheningan menggantung di antara mereka.
“Aku datang sebagai seseorang yang tidak ingin kau terluka,” jawab Kaelion akhirnya.
Untuk pertama kalinya, Arcelia melihat sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan sekadar strategi politik. Bukan sekadar kewajiban. Ada ketulusan.
Namun sebelum Arcelia bisa berkata apa pun, suara langkah cepat terdengar dari arah koridor.
“Arcelia!”
Bang Kaiven Virellia muncul dengan wajah tegang. Begitu melihat Kaelion, ekspresinya langsung berubah tajam.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Kaelion tidak mundur sedikit pun.
“Aku memastikan adikmu aman.”
“Aman dari siapa? Dari keluargamu sendiri?”
Suasana memanas dalam sekejap.
Arcelia berdiri di tengah mereka. “Cukup.”
Ia menatap Bang Kaiven. “Dia tidak melakukan apa pun Bang.”
Lalu menatap Kaelion. “Tapi ini terakhir kalinya kau muncul tanpa pemberitahuan.”
Kaelion mengangguk pelan. “Baik.”
Sebelum pergi, ia menoleh sedikit. “Hati-hati, Arcelia Virellia. Permainan ini lebih dalam dari yang kau kira.”
Dan ia menghilang ke dalam malam.
Di tempat lain,
Dari jendela kamar atas, Selena Ravert menatap halaman keluarga Virellia dengan senyum tipis.
“Menarik,” gumamnya.
Ia sudah menduga Kaelion akan bergerak lebih cepat dari yang direncanakan.
“Kalau begitu… aku juga harus mempercepat langkahku.”
Tangannya menggenggam sebuah surat rahasia, surat yang bisa menghancurkan nama keluarga Virellia dalam semalam.
Permainan mulai berubah. Dan kali ini, bukan hanya hati yang dipertaruhkan.
Pagi datang terlalu cepat.
Arcelia Virellia membuka mata dengan kepala masih penuh bayangan semalam. Ia menatap langit-langit kamarnya beberapa detik, mencoba menenangkan pikirannya.
Kenapa dia datang sendiri?
Dan kenapa aku percaya padanya?
Ia mendesah pelan lalu bangkit dari tempat tidur. Rutinitas tetap harus berjalan.
Kamar mandi dipenuhi suara air mengalir. Arcelia berdiri di bawah shower, membiarkan air hangat mengalir di rambut dan bahunya. Pikirannya masih sibuk.
Kalau memang ada yang mengincar keluarga kami… siapa?
Dan seberapa jauh permainan ini?
Setelah mandi dan mengenakan pakaian kasual rapi, kemeja putih dan celana panjang hitam, ia turun ke ruang makan.
Di meja sudah ada Papa Alveron dengan koran bisnis di tangan, Mama Mirella menuangkan teh, Bang Kaiven memeriksa ponsel dengan wajah serius, dan Elvarin Adeknya sibuk mengunyah roti dengan santai.
Suasana terlihat normal. Terlalu normal.
“Lia Sayang, kau terlihat lelah,” kata Mama Mirella lembut.
“Aku hanya kurang tidur, Ma.”
Bang Kaiven menatapnya sekilas. Tatapan itu berbeda. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi menahan diri.
Papa Alveron melipat korannya perlahan.
“Semalam ada pergerakan saham yang aneh. Seseorang mencoba menekan perusahaan kita lewat jalur tak langsung.”
Suara sendok Elvarin berhenti berdenting. “Serius Pa?”
“Serius Sayang,” jawab Papa Alveron tenang, tapi rahangnya mengeras.
Arcelia langsung teringat kata-kata Kaelion. Aliansi ini tidak disukai semua pihak.
Ia menegakkan punggungnya. “Papa, kita tahu siapa?”
“Itu belum pasti Sayang. Tapi jejaknya bersih. Terlalu bersih.”
Bang Kaiven meletakkan ponselnya. “Aku akan urus bagian investigasi Pa.”
“Abang tidak akan sendirian,” ucap Arcelia tiba-tiba.
Semua mata menoleh padanya.
“Aku ikut.” lanjutnya
Mama Mirella tampak khawatir. “Sayang…”
“Aku juga bagian dari keluarga ini Ma,” ucapnya tegas. “Kalau ada yang mencoba menjatuhkan kita, aku juga ingin tahu.” lanjut tegasnya
Papa Alveron terdiam beberapa detik. Lalu mengangguk pelan.
“Baik Sayang. Tapi hati-hati.”
Siang itu,
Di kantor pusat Virellia Group, suasana jauh lebih tegang. Para staf bergerak cepat. Telepon berdering. Dokumen berpindah tangan. Arcelia berdiri di ruang meeting bersama Kaiven. Di layar besar terpampang grafik yang turun perlahan.
“Ini bukan kebetulan,” gumam Bang Kaiven. “Ada yang sengaja memicu kepanikan.”
Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan.
Kaelion Ravert masuk.
Semua orang terdiam.
Arcelia menahan napas sepersekian detik, lalu menegakkan bahunya. “Kau datang dengan undangan atau tanpa izin lagi?”
Kaelion tidak tersenyum. Wajahnya serius.
“Aku datang membawa bukti.”
Ia meletakkan sebuah flash drive di atas meja. “Seseorang menggunakan perusahaan cangkang untuk menyerang Virellia Group. Dan jejaknya… mengarah pada seseorang yang kau kenal.”
Kaiven menyipitkan mata. “Siapa?”
Kaelion menatap Arcelia.
“Selena Ravert.”
Ruangan terasa lebih dingin. Jantung Arcelia berdegup keras.
“Mustahil,” gumamnya pelan.
Kaelion menggeleng. “Aku berharap juga begitu.”
Bang Kaiven mengepalkan tangan. “Kau yakin ini bukan taktik kotor keluargamu?”
Tatapan Kaelion mengeras. “Kalau aku ingin menjatuhkan kalian, aku tidak akan berdiri di sini memperingatkan.”
Hening.
Arcelia menatap flash drive itu. Tangannya terasa dingin.
Selena…
Apa yang sebenarnya kau rencanakan?
Di sisi lain kota,
Di apartemen mewah dengan jendela tinggi menghadap cakrawala, Selena Ravert tersenyum puas melihat layar laptopnya.
“Langkah pertama,” bisiknya.
Ia menyandarkan tubuh di kursi, memutar gelas anggur di tangannya.
“Keluarga Virellia… mari kita lihat seberapa kuat kalian bertahan.”
Dan tanpa mereka sadari, ini baru permulaan. Ruangan meeting masih dipenuhi ketegangan yang belum mencair.
Bang Kaiven langsung mengambil flash drive dari meja dan menyerahkannya pada tim IT. Layar besar berubah menampilkan deretan data transaksi, angka-angka yang bergerak seperti pola acak, namun terlalu terstruktur untuk disebut kebetulan.
“Perusahaan cangkang ini berdiri enam bulan lalu,” jelas salah satu staf. “Tidak ada aktivitas berarti sampai dua minggu terakhir.”
Dua minggu.
Arcelia menegang.
Itu waktu yang sama saat rumor pertama tentang Virellia Group mulai beredar.
“Pemilik resminya?” tanya Bang Kaiven.
“Direktur bayangan. Identitas palsu.”
Kaelion berdiri dengan tangan terlipat. “Tapi dana awalnya berasal dari rekening keluarga Ravert.”
Semua tatapan kembali padanya.
Arcelia menelan ludah. “Kau bilang… ini mengarah ke Selena.”
“Ya.”
“Kenapa kau membantu kami?” tanya Bang Kaiven tajam.
Kaelion tidak langsung menjawab. Tatapannya sebentar berpindah pada Arcelia, lalu kembali ke layar.
“Karena ini sudah melewati batas.” Jawaban itu terdengar jujur. Tapi juga menyimpan sesuatu.
Arcelia melangkah mendekat. “Kalau ini benar perbuatan Selena… berarti dia menyerang bukan hanya kami.”
“Dia menyerang aliansi,” potong Kaelion pelan. “Dan mungkin juga aku.”
Ruangan kembali hening.
Bang Kaiven akhirnya berbicara. “Kalau begitu, kita punya musuh yang sama.”
Sore itu,
Setelah rapat selesai, Arcelia berjalan keluar gedung kantor. Angin kota menyapu rambutnya pelan.
Kaelion menyusul beberapa langkah di belakang.
“Kau tidak terlihat terkejut,” ucap Arcelia tanpa menoleh.
“Aku sudah lama tahu Selena ambisius.”
“Ambisius berbeda dengan menghancurkan orang lain.”
Langkah Kaelion melambat sedikit.
“Dalam keluarga Ravert,” katanya pelan, “ambisi dan kehancuran sering berjalan berdampingan.”
Arcelia berhenti. Menatapnya langsung.
“Kau juga begitu?”
Pertanyaan itu tajam. Tapi jujur.
Kaelion tidak tersenyum. “Aku memilih jalanku sendiri.”
Untuk pertama kalinya, Arcelia melihat sesuatu yang lebih dari sikap dinginnya beban. Tekanan. Mungkin juga kesepian.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka.
Pintu belakang terbuka.
Selena Ravert turun dengan gaun elegan berwarna merah tua. Rambutnya tertata sempurna. Senyumnya tipis, penuh percaya diri.
“Betapa menariknya,” ucapnya santai. “Aliansi kecil kalian sudah mulai rapat darurat?”
Arcelia menegakkan tubuhnya.
“Selena.”
Selena menatapnya dari ujung rambut sampai kaki. “Arcelia Virellia. Putri kesayangan yang mulai ikut bermain di dunia orang dewasa.”
Kaelion melangkah setengah langkah ke depan. “Hentikan.”
Selena tertawa kecil. “Oh, Kaelion Kakakku Tersayang, Kau benar-benar berpihak sekarang?”
“Kalau kau ada urusan bisnis, bicaralah langsung,” kata Arcelia tenang.
Selena mendekat, jaraknya hanya beberapa langkah.
“Kau pikir ini hanya soal bisnis?” bisiknya pelan. “Ini tentang kekuasaan.”
Tatapan Selena tajam.
“Dan keluarga Virellia terlalu lama berada di atas.”
Arcelia menatapnya tanpa gentar. “Kalau kau ingin bersaing, lakukan secara terbuka.”
“Terbuka?” Selena tersenyum miring. “Dunia ini tidak bekerja sebersih itu.”
Ia berbalik menuju mobilnya, lalu berhenti sebentar.
“Oh ya, Arcelia… hati-hati dengan siapa kau percaya.”
Pintu mobil tertutup. Kendaraan itu melaju pergi. Keheningan tersisa di antara Arcelia dan Kaelion.
“Dia mengancam,” gumam Arcelia.
“Dia memberi peringatan,” koreksi Kaelion.
Arcelia menatap gedung kantor keluarganya di belakang mereka. Matahari sore memantulkan cahaya di kaca-kacanya. Perasaan tidak nyaman semakin kuat.
“Kalau ini baru awal…” katanya pelan.
Kaelion meliriknya.
“…maka perang sebenarnya belum dimulai.”
Dan jauh di dalam dirinya, Arcelia tahu satu hal, Ia tidak lagi hanya melindungi keluarga. Ia sudah masuk ke dalam permainan. Dan keluar bukan lagi pilihan.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....