Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serigala di dalam rumah
Cassia hampir menjatuhkan gagang telepon penjara. Kata-kata Elara terasa seperti air es yang menyiram punggungnya. Ia segera berlari keluar dari ruang kunjungan, mengabaikan teriakan petugas, dan langsung menuju motor Nyx yang terparkir di halaman depan.
"Zelene! Galaksi! Angkat!" teriak Cassia ke arah interkomnya sambil memacu motornya gila-gilaan menuju rumah Kencana.
"Cassie? Ada apa? Suara lo panik banget," suara Galaksi menyahut, terdengar suara deru mesin di belakangnya—dia pasti sedang dalam perjalanan pulang dari bengkel.
"Pak Guntur, Kak! Elara bilang dia pengkhianat yang sebenarnya! Dia yang bantu Dante celakain Papa dan Mama dulu! Sekarang Kak Lingga lagi bareng dia di gudang bawah tanah!"
Hening sesaat di seberang sana, disusul suara geraman rendah Galaksi. "Gue tiga menit dari lokasi. Jangan masuk sendirian, Cass! Tunggu gue!"
"Nggak bisa, Kak! Kak Lingga dalam bahaya!"
Kediaman Keluarga Kencana, Gudang Bawah Tanah.
Gudang bawah tanah itu biasanya hanya digunakan untuk menyimpan arsip lama dan barang-barang antik. Suasananya lembap dan temaram. Kalingga berdiri di depan sebuah brankas besar, menunggu Pak Guntur yang sedang mencari kunci cadangan.
"Pak, bukannya kunci ini dibawa Papa dulu?" tanya Kalingga, mulai merasakan ada yang tidak beres dengan gelagat pria tua di sampingnya.
Pak Guntur, pria yang selama sepuluh tahun ini terlihat sebagai paman yang setia, perlahan berbalik. Wajahnya yang biasanya teduh kini terlihat dingin dan datar. Di tangannya, bukan sebuah kunci, melainkan sebuah suntikan berisi cairan penenang dosis tinggi.
"Papa kamu terlalu jujur, Kalingga," ucap Pak Guntur tenang. "Dia tidak mengerti bahwa di dunia bisnis, kesetiaan itu ada harganya. Dante memberikan harga yang jauh lebih tinggi daripada yang diberikan ayahmu."
Kalingga terperanjat, ia mencoba mundur, tapi dua orang pria berbadan besar—anak buah Dante yang selama ini menyamar sebagai satpam rumah—muncul dari balik lemari arsip, mengunci pergerakan Kalingga.
"Kamu... kamu yang membunuh mereka?" suara Kalingga bergetar karena amarah dan rasa tidak percaya.
"Aku hanya membiarkan takdir bekerja," sahut Pak Guntur dingin. "Dan sekarang, setelah kalian berhasil membersihkan nama perusahaan dari kasus pencucian uang, saatnya perusahaan ini jatuh ke tanganku secara sah melalui surat kuasa yang akan kamu tanda tangani sebelum kamu... menyusul orang tuamu."
Tepat saat pria itu hendak mendekatkan suntikan ke leher Kalingga, suara raungan mesin motor bergema di lantai atas, disusul suara dentuman pintu yang didobrak paksa.
BRAKK!
Nyx meluncur menuruni tangga beton gudang bawah tanah. Cassia tidak turun dari motornya; ia justru memacu gasnya, membuat ban belakangnya berputar di atas lantai semen, menciptakan asap tebal yang mengaburkan pandangan semua orang.
"Lepaskan kakakku!" teriak Cassia.
"Cassie! Pergi dari sini!" raung Kalingga.
Pak Guntur terkejut, namun ia segera memerintahkan anak buahnya. "Tangkap dia! Jangan biarkan dia keluar!"
Cassia melakukan drift tajam, menggunakan bodi motornya untuk menghantam salah satu anak buah Pak Guntur hingga terpental ke tumpukan kardus. Namun, pria yang satu lagi berhasil menarik jaket Cassia, membuatnya terjatuh dari motor.
Pak Guntur mendekati Cassia yang terjatuh, matanya berkilat jahat. "Kamu selalu menjadi masalah, Cassia. Sama persis dengan ibumu."
Saat tangan Pak Guntur terangkat untuk menyerang, sebuah helm terbang dengan kecepatan tinggi dari arah tangga dan menghantam wajah pria tua itu hingga tersungkur.
Galaksi.
Ia datang dengan napas memburu, jaketnya robek, dan tatapannya seperti iblis yang haus darah. Tanpa kata, Galaksi menerjang sisa anak buah di sana dengan pukulan yang jauh lebih brutal dari biasanya. Amarahnya karena Cassia dan Kalingga dikhianati oleh orang terdekat meledak sepenuhnya.
"Berani lo sentuh mereka..." Galaksi mencengkeram kerah baju Pak Guntur dan menghantamkannya ke dinding beton. "...berarti lo milih cara mati paling sakit."
Polisi dan tim Acheron yang dipimpin Talishia segera mengepung rumah. Pak Guntur diringkus dalam keadaan babak belur. Kalingga hanya bisa terduduk di lantai gudang, menutupi wajahnya dengan tangan. Ia merasa sangat hancur menyadari orang yang ia anggap keluarga adalah pembunuh orang tuanya.
Cassia mendekat, memeluk kakaknya erat. Di sana, di dalam gudang yang gelap itu, mereka berdua menangis—melepaskan beban sepuluh tahun yang akhirnya terungkap.
Galaksi berdiri beberapa langkah di belakang mereka, memberikan ruang. Ia menatap Cassia dengan pandangan yang sangat dalam. Ia berjanji dalam hati, mulai detik ini, ia tidak akan membiarkan ada satu pun air mata jatuh di pipi gadis itu lagi.
Malam Harinya.
Cassia duduk di beranda, menatap bintang. Galaksi mendekatinya, membawa sebuah kotak kecil.
"Buat lo," ucap Galaksi singkat.
Cassia membukanya. Di dalamnya ada sebuah kunci motor dengan gantungan berbentuk sayap Valkyrie dari perak murni.
"Itu kunci buat motor balap pro lo yang baru. Gue dan Kalingga sudah sepakat," Galaksi duduk di sampingnya. "Kalingga sadar, dunia ini emang bahaya. Tapi bahaya itu bukan buat dihindari, melainkan buat dihadapi bareng-bareng."
Cassia menatap kunci itu, lalu menatap Galaksi. "Kak, setelah semua ini... apa kita masih akan balapan?"
Galaksi merangkul bahu Cassia, menariknya mendekat hingga kepala Cassia bersandar di dadanya. "Kita nggak cuma bakal balapan, Cass. Kita bakal menangin semuanya. Lo, gue, dan Kalingga. Kita adalah penguasa jalanan yang sebenarnya."
Cassia tersenyum, menutup matanya, merasakan detak jantung Galaksi yang tenang. Perang besar memang sudah berakhir, tapi petualangan mereka yang sebenarnya—di bawah sinar lampu sirkuit resmi—baru saja akan dimulai.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...