seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 29
"Dio, berapa lama sampai radiasi Jupiter mulai memanggang kita tanpa perisai Arca?" suara Laras serak, tenggorokannya terasa seperti terbakar setelah beresonansi dengan inti gerbang.
Dio tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menunjuk ke arah indikator analog yang jarumnya bergetar hebat di zona merah. "Sepuluh menit kalau kita beruntung, Lar. Lima menit kalau badai magnetik itu menghantam sisi kiri kapal yang bocor. Kita benar-benar telanjang di sini."
Di luar sana, siluet kapal induk kristal hitam yang retak itu mulai bergerak. Pendar ungu di celah-celah tubuhnya yang hancur tampak seperti luka yang bernanah, namun meriam utamanya mulai berputar lambat, mengunci koordinat "Mawar Hitam" yang hanyut tak berdaya.
"Mereka tidak akan membiarkan kita mati pelan-pelan karena radiasi," gumam Pandu. Ia mencoba menarik tuas kendali manual, namun sistem hidroliknya mati total. "Mereka ingin memastikan debu kita pun tidak sampai kembali ke Bumi."
"Aan? Masih di sana?" Laras menekan komunikator di telinganya.
Hanya ada suara statis yang tajam, sebelum sebuah suara yang terputus-putus muncul. "...ras... dengar... jangan gunakan mesin... gunakan... gravitasi... tarik..."
"Sinyalnya hilang," Dio mengumpat, memukul konsolnya. "Tapi dia benar. Kita tidak punya daya untuk dorongan linear. Tapi lihat itu!"
Dio memperbesar layar taktis. Di bawah mereka, permukaan es Europa yang retak akibat ledakan tadi memperlihatkan sebuah lubang raksasa—sebuah kaldera uap yang menembus hingga ke samudra cair di bawah lapisan es setebal puluhan kilometer.
"Gravitasi Europa akan menarik kita jatuh kalau kita memiringkan sudut lambung," lanjut Dio, matanya berkilat antara ngeri dan nekat. "Jika kita masuk ke dalam samudra bawah es itu, airnya akan bertindak sebagai perisai radiasi alami. Dan sensor mereka... mereka tidak akan bisa melacak kita di bawah sana karena gangguan mineral Arca yang bocor dari ledakan gerbang."
"Kita akan menabrak es dengan kecepatan ribuan kilometer per jam, Dio! Kita akan hancur sebelum sempat basah!" Pandu memprotes.
Laras menatap kapal induk yang kini ujung meriamnya sudah berpendar ungu pekat. Tembakan akan dilepaskan dalam hitungan detik.
"Gunakan sisa oksigen di tangki darurat untuk dorongan vertikal," perintah Laras tiba-tiba. "Pandu, lepaskan katup pembuangan tekanan di sisi kanan. Kita akan melakukan free-fall."
"Lar, itu gila!"
"Lebih gila mana dengan menjadi debu atom di sini?" Laras menatap tajam kedua rekannya. "Percaya padaku. Jantung Arca masih ada di sana, di bawah es itu. Aku bisa merasakannya memanggil. Sesuatu yang lebih tua dari The Hollow sedang menunggu."
Tepat saat berkas cahaya ungu raksasa melesat membelah ruang hampa, "Mawar Hitam" membuang seluruh tekanan udaranya ke satu arah. Kapal itu terpelintir hebat, jatuh menukik ke bawah, menghindari tembakan mematikan itu hanya dengan selisih beberapa meter.
Kapal induk kristal itu melepaskan tembakan kedua, namun "Mawar Hitam" sudah memasuki atmosfer tipis Europa yang dipenuhi uap. Gesekan itu membuat lambung kapal yang dingin membara.
"Tahan napas kalian!" teriak Laras saat kegelapan lubang es Europa menelan mereka.
Benturan itu tidak terdengar, hanya terasa seperti ledakan di dalam otak. Dingin yang absolut menghantam lambung kapal saat mereka menembus permukaan air samudra bawah es. Cahaya merah darurat di palka mati total. Kegelapan total menyelimuti mereka, hanya menyisakan suara derit logam kapal yang tertekan oleh ribuan ton air laut Europa yang asing.
Dalam kesunyian bawah air itu, suara dingin dari Void-Step kembali terdengar, namun kali ini terdengar panik.
"Jangan masuk lebih dalam... Kau tidak tahu apa yang tertidur di dasar samudra ini, Kecil! Kau baru saja membuka pintu yang jauh lebih berbahaya dari gerbang kami!"
Laras tidak menjawab. Di luar jendela kokpit, di kegelapan samudra yang tak tertembus cahaya matahari, sebuah cahaya biru lembut mulai muncul dari kedalaman. Bukan cahaya mesin, melainkan cahaya biologis yang berdenyut seirama dengan detak jantung Laras.
"Kita tidak sendirian di sini," bisik Laras, matanya melebar melihat bayangan raksasa yang mulai mendekati kapal mereka dari bawah.
"Matikan semua sistem listrik. Sekarang," bisik Laras. Suaranya hampir tenggelam oleh suara air yang bergejolak di luar lambung.
Dio ragu sejenak, namun melihat raut wajah Laras yang tampak seperti orang sedang kerasukan, ia segera mematikan sakelar utama. Kegelapan total menyelimuti palka. Suasana menjadi begitu sunyi hingga suara napas mereka yang memburu terdengar seperti deru mesin.
"Lar, kalau kita matikan pemanas, kita akan membeku dalam lima belas menit," Pandu memperingatkan dengan suara gemetar. Ia memegang senter kecil, cahayanya menyapu interior kapal yang kini basah oleh embun beku.
"Diam, Pan. Lihat ke luar," Laras menunjuk ke jendela transparansi kokpit.
Di kedalaman samudra Europa yang pekat, cahaya biru tadi tidak lagi sekadar denyut. Cahaya itu membentuk jaring-jaring bercahaya yang membentang bermil-mil jauhnya, menyerupai sistem saraf raksasa yang tertanam di dinding-dinding es bawah air. Dan di tengah jaring itu, sesuatu yang masif sedang bergerak.
Bukan kapal, bukan pula monster mekanis The Hollow. Itu adalah makhluk organik dengan bentuk yang menentang hukum biologi Bumi—seperti perpaduan antara ubur-ubur raksasa dan akar pohon yang terbuat dari kristal cair.
"Itu... Arca?" suara Dio tercekat.
"Bukan hanya Arca," jawab Laras, matanya memantulkan pendar biru dari luar. "Itu adalah inangnya. Pemilik asli yang dikatakan Suara dari Void-Step tadi. Mereka tidak dikubur di sini... mereka sedang berhibernasi."
Tiba-tiba, "Mawar Hitam" berguncang pelan. Bukan karena ledakan, melainkan karena tentakel cahaya lembut mulai membelit lambung kapal. Anehnya, suhu di dalam palka yang tadinya anjlok mendadak menghangat. Sensor oksigen yang sempat mati tiba-tiba menyala kembali, menunjukkan angka yang mustahil: saturasi oksigen meningkat tanpa bantuan tangki cadangan.
"Dia sedang... memperbaiki kita?" Pandu menyentuh dinding kapal yang tadinya retak. Retakan itu kini tertutup oleh lapisan zat organik bening yang mengeras sekuat baja.
Di kejauhan, di atas permukaan es, terlihat kilatan-kilatan cahaya ungu. Kapal induk kristal hitam The Hollow rupanya mulai menembakkan muatan seismik ke dalam es, mencoba memaksa targetnya keluar atau menghancurkannya di dalam kedalaman. Guncangan hebat merambat melalui air, namun makhluk di bawah mereka bereaksi.
Sebuah frekuensi rendah, begitu dalam hingga membuat tulang rusuk kru "Mawar Hitam" bergetar, bergema dari dasar samudra.
"Laras," suara Aan tiba-tiba terdengar di radio, kali ini sangat jernih, seolah-olah ia berada di ruangan yang sama. "Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di bawah sana, tapi sensor Astra Mawar mendeteksi anomali besar. Seluruh bulan Europa... dia sedang bangun."
Laras memejamkan mata, membiarkan sarafnya sepenuhnya menyatu dengan frekuensi makhluk itu. "Paman, beritahu armada Bumi untuk menjauh dari orbit Jupiter. Sekarang juga."
"Apa maksudmu?"
Laras membuka matanya, yang kini berpendar biru murni tanpa pupil hitam. "The Hollow mengira mereka datang untuk memanen energi. Mereka salah. Mereka datang untuk membangunkan pemangsa yang seharusnya dibiarkan tidur."
Di luar, jaring-jaring cahaya itu tiba-tiba melesat ke atas, menembus lubang es tempat "Mawar Hitam" jatuh. Seperti cambuk raksasa dari cahaya murni, jaring itu menyambar kapal induk kristal hitam di orbit Europa, menyeretnya jatuh menuju permukaan es seolah-olah kapal raksasa itu hanyalah mainan kecil.
"Kita tidak pulang ke Bumi sekarang, kan?" tanya Dio, menyadari bahwa kapal mereka kini ditarik semakin dalam menuju pusat bulan Europa.
Laras menggeleng pelan. "Perang di permukaan sudah selesai, Dio. Perang yang sebenarnya... baru saja dimulai di bawah sini."