Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu Yang Tak Terucap
Perempuan cantik bertubuh langsing itu, datang membawa bunga pagi ini, bukan bunga mawar dari masa lalu, bukan pula bau bunga Lavender, tapi setangkai krisan putih yang Kinan tanam, dulu, merawatnya dan menjual penuh kesabaran, tak pernah setengah hati. Simbol yang baru ia pahami sekarang mungkin terlambat tapi penuh ketulusan.
"Lo nggak usah bawa apa-apa," ucap Raka pelan memandangnya duduk lebih tegak dari kemarin, roman di pipinya mulai kembali—tipis, tapi nyata membuat dada Laras mengendur perasaan lega tak ingin diakui terlalu cepat.
"Gue tahu." katanya meletakkan vas di meja samping, merapikan bunga seperti merapikan perasaannya sendiri. "Tapi gue mau ada sesuatu yang tumbuh disini."
Kata itu menggantung.
Tumbuh.
Seperti pengakuan yang selama ini tertahan. doa yang tak yakin terkabul, tapi diingat oleh Tuhan.
Raka diam
---
"Maya pulang ke rumah ibunya waktu kamu tidur tadi, "kata Ibu Rini pelan sebelum Laras datang." Ia perlu istirahat sejenak."
" Ya Bu, " Raka mengangguk pelan
" Maya anak baik." Ibu Rini tersenyum seperti paham berlalu "Cuman dia capek."
Kini hanya Laras dan Raka diruangan itu berusaha tanpa distraksi, hanya keheningan padat dari masa lalu yang menganga.
"Gue minta maaf," ucap Laras akhirnya.
duduk di kursi kulit usang—tempat yang sama di mana Maya duduk semalam, Ibu Rini menunggu dengan sabar, siapa pun yang mencintai Raka menaruh harap disana, di kursi itu.
"Buat apa?"
"Buat semuanya." Ia menatap tangannya sendiri, kuku yang terawat rapi bergetar tak dapat ia sembunyikan. "Buat datang lagi, memaksa Lo nggak sadar kalau lo masih di tempat yang sama, tempat yang nggak bisa gue masuki."
Raka menatapnya dalam, ia bukan Laras enam tahun lalu—bukan perempuan penuh ambisi yakin akan menang. Di hadapannya kini seseorang yang rapuh, jujur dan manusiawi."Lo nggak salah, gue yang nggak bisa move on dan memilih orang yang layak untuk dipilih."
Ia menggeleng cepat."Lo selalu layak, Ra dari dulu." Suaranya bergetar pecah. "Gue ternyata datang diwaktu salah, cara yang tidak tepat. Gue pikir kalau gue cukup baik, cukup sabar, dan menirunya.—"
Ia berhenti, tatapannya jatuh pada krisan putih di vas, bunga yang dulu tak pernah dipilihnya kini terasa paling benar.
"Gue nggak bisa mirip dia," lanjutnya lirih. "Dan nggak harus. Gue cuma bisa menjadi diri sendiri mungkin nggak sempurna, nggak sehebat kenangan tapi penuh ketulusan."
Keheningan turun lagi kini tak seberat tadi.
Raka memandang bunga putih itu dengan tenang, tidak berusaha menjadi siapa-siapa, tidak seperti Kinan dan tidak mencoba menggantikannya. "Makasih, Ras, untuk bunga, kehadiran dan perhatiannya selama ini"
Gadis itu tersenyum tipis, getir, dan pucat.
"Gue belum pergi, Ra. Tapi gue mulai ngerti. Kalau suatu hari gue harus pergi—dan kalau lo memilih yang lain, atau memiilih diri lo sendiri—gue bakal pergi dengan harga diri dan keyakinan gue bukan seperti dulu lagi."
"Dulu?"
"Dulu gue pergi dengan marah, kata-kata yang nggak bisa ditarik kembali, dan itu bakal membunuh" Ia berdiri, melangkah ke arah jendela. Cahaya sore menyentuh wajahnya lebih tenang. " Ternyata gue harus hidup dan belajar, pergi bukan sebuah kekalahan tapi terkadang hadiah untuk yang ditinggal.
Raka menatap punggungnya, rasa kesedihan yang sama seperti saat memandang Maya, menatap bayang Kinan dalam ingatan.
Dan rasa terima kasih yang datang terlambat.
---
Tidak lama Ibu Rini masuk dengan teh hangat
berhenti di ambang pintu melihat perempuan itu di dekat jendela, Raka di tempat tidur, Krisan putih di antara mereka—garis yang tak memisahkan tapi mengingatkan.
Ia tersenyum senyuman ibu yang tak pernah memilih siapa yang harus mencintai anaknya. Hanya ingin dicintai dengan benar.
" Selamat sore, Laras." "Mau minum, Nak?"
Laras tertegun sesaat lalu, perempuan yang sangat menyayangi dan mengharapkan menjadi pasangan hidup anaknya, ia sia siakan hanya karena tidak dapat memenuhi keinginannya, rasa egoisnya
Rasa penyesalan itu datang ketika ia pergi mencari kasih sayang semu, dan materi dunia diluar sana Dan disaat ia ingin kembali Raka telah memilih Kinan, seorang gadis penjual bunga
"Nggak usah, Bu. Laras sebentar lagi mau pulang."
"Sebentar Nak" kata Bu Rini lembut
"Minum dulu, cuaca diluar kurang bersahabat."
Laras hanya tersenyum mengambil gelas teh dari tangannya, " Terimakasih, Bu, Ibu apa kabarnya?"
Dua orang perempuan di ruangan itu mulai bercerita, sedikit hangat dan kerinduan
Dan Ibu Rini secara diam-diam menjadi jangkar agar tak satu pun diantara mereka hanyut terlalu jauh.
Laras pergi saat matahari mulai condong pergi dengan kejelasan yang tak pernah ia miliki—cinta bukan tentang memiliki, tentang kemenangan menjadi pertama dan terakhir
Cinta adalah tentang kehadiran.
Dan hari ini, ia sudah hadir, jujur, menjadi dirinya sendiri selebihnya bukan tentang memaksa hanya menunggu—tanpa menghancurkan diri.
---
Di Ruang Tunggu, Kinan merasa laki laki itu telah berubah, dan itu yang ia harapkan, ternyata Laras… lebih kuat dari dugaannya."
"Orang berubah, saat cinta memperlihatkan kelemahan mereka sendiri," bisiknya.
Kinan, bias cahaya tak berbentuk, sisa ingatan yang belum lepas. "Aku hanya mengharapkan dia bakal baik-baik saja siapapun yang dipilih, karena ia sudah belajar tumbuh."
"Itu harapan orang yang sudah mati, tapi bisa jadi bukan untuk orang hidup."
"Hidup dan mati hanya lah sebuah garis tipis dan suatu saat akan menyatu."
" Kamu ingin menyatu secepat nya ?"
" Aku hanya merasa sedikit bebas melihat semua orang orang berangsur angsur berubah."
" Menurut mu? Laras dan Maya ?"
" Biarkanlah waktu yang akan menjawab, karena cinta juga tidak bisa dipaksakan."
Perempuan tua bermata biru itu tersenyum entah untuk siapa, didalam kecemasan dan kerisauan.Ia takut untuk melihat ke depan.
mampir 🤭