Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Koridor lantai dua gedung kelas 11 mulai terasa sunyi karena sebagian besar siswa sudah bersiap untuk pulang atau menuju kegiatan ekstrakurikuler. Namun, bagi Ayra, hari ini adalah puncak kesibukannya sebagai Sekretaris OSIS. Di tangannya, sebuah buku catatan kecil bersampul biru sudah penuh dengan coretan daftar penampilan setiap kelas untuk Pensi mendatang.
Langkah kaki Ayra terhenti di depan pintu kelas 11 IPS 2. Ia menarik napas panjang, merapikan bando birunya yang sedikit bergeser, dan memegang pulpennya dengan erat. Ia tahu masuk ke kelas ini berarti siap untuk menjadi pusat perhatian, terutama karena ada satu orang "biang kerok" di dalamnya.
Walaupun pintu kelas terbuka lebar, Ayra tetap mengetuk kusen kayu itu dengan sopan. Tok, tok, tok.
"Permisi, Kak," ucap Ayra dengan suara tenang dan profesional.
Seketika, aktivitas di dalam kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi. Sekitar dua puluh pasang mata menoleh ke arah pintu. Di barisan belakang, Alano yang sedang tertawa sambil memutar-mutar bola basket di jarinya, langsung menghentikan gerakannya. Matanya berbinar melihat sosok yang sangat ia kenali berdiri di ambang pintu.
"Eh, ada Bu Sekretaris," goda Bima yang duduk di dekat pintu.
Ayra tidak menghiraukan Bima. Ia melangkah satu langkah masuk ke dalam kelas. "Maaf mengganggu waktunya sebentar, Kak. Saya mau tanya soal agenda Pensi. Kelas 11 IPS 2 mau nampilin apa ya? Soalnya hari ini adalah deadline terakhir untuk saya catat dan setor ke pembina OSIS."
Alano bangkit dari kursinya dengan gerakan yang sangat santai, hampir menyerupai model yang sedang berjalan di catwalk. Ia berjalan mendekat ke arah Ayra, diikuti oleh sorakan "Cieeee" yang kompak dari teman-teman sekelasnya.
"Sabar, Ay. Jangan galak-galak gitu dong nanyanya. Kita lagi diskusi alot nih," ucap Alano sambil bersandar di meja terdepan, tepat di hadapan Ayra.
"Lano, aku serius. Ini tugas. Kalau kelas ini nggak setor sekarang, aku bakal anggap IPS 2 absen dari Pensi," balas Ayra tanpa ekspresi, meskipun sebenarnya jantungnya mulai berdegup tidak keruan karena Alano berdiri sangat dekat, aroma parfumnya yang segar langsung memenuhi indra penciuman Ayra.
"Waduh, jangan dong! Masa kelas sang Kapten Basket absen?" teriak salah satu teman Alano dari pojok kelas. "No! Kasih tau dong rencananya! Atau lo mau nampilin duet romantis sama Ayra aja?"
"CIEEEEEE!" satu kelas kembali pecah oleh sorakan.
Ayra merasakan pipinya mulai panas. Ia menunduk dan pura-pura memeriksa catatannya. "Cepetan, Kak. Aku masih harus ke kelas 11 IPA 3 habis ini."
Alano berdehem, mencoba menenangkan teman-temannya meski senyum jahil masih terukir di wajahnya. "Oke, catat ya Sekretaris Ayrania. Kelas 11 IPS 2 bakal nampilin dua hal. Pertama, band kelas. Kita mau bawa lagu-lagu rock anthem."
Ayra mencatatnya dengan cepat. "Band kelas. Oke, yang kedua?"
Alano terdiam sejenak, ia menatap Ayra dengan tatapan yang dalam, lalu menyeringai. "Yang kedua... drama musikal pendek. Judulnya: 'Gara-Gara Hasduk Ketinggalan'."
Ayra hampir saja menjatuhkan pulpennya. Ia mendongak dan melotot ke arah Alano. "Lano! Nggak usah aneh-aneh! Yang serius!"
"Gue serius, Ay! Itu drama komedi tentang perjuangan seorang cowok yang dihukum push-up demi dapet perhatian sekretaris OSIS yang galak," Alano tertawa lepas, disambut tawa riuh satu kelas yang sudah paham betul sindiran itu.
"Lano! Masukin daftar yang bener atau aku coret!" ancam Ayra dengan wajah merah padam.
"Iya, iya, sensi amat sih. Catat yang bener: Teatrikal Modern. Itu yang kedua," ucap Alano sambil memberikan jempol.
Ayra segera menulis "Teatrikal Modern" di bawah kolom 11 IPS 2. Setelah selesai, ia langsung menutup buku catatannya dengan bunyi plak yang cukup keras.
"Terima kasih atas infonya. Saya permisi," ucap Ayra cepat-cepat. Ia ingin segera keluar dari "atmosfer berbahaya" ini sebelum teman-teman Alano melontarkan godaan yang lebih parah.
Namun, saat Ayra berbalik, Alano menahan ujung buku catatan Ayra. "Bentar, Ay. Ada yang ketinggalan."
"Apa lagi?" tanya Ayra ketus namun penasaran.
Alano mengambil pulpen dari tangan Ayra, lalu menuliskan sesuatu di pojok bawah halaman terakhir buku catatan Ayra secara kilat sebelum Ayra bisa menariknya kembali.
"Udah. Sana lanjut tugas. Semangat ya, jangan lupa istirahat, jangan sampe bando birunya miring karena kecapekan," bisik Alano pelan, hanya untuk didengar oleh Ayra.
Ayra segera keluar dari kelas itu dengan langkah seribu. Begitu sampai di koridor yang sepi, ia membuka buku catatannya dengan rasa penasaran yang membuncah. Di pojok bawah catatan kelas 11 IPS 2, ada tulisan tangan Alano yang berantakan namun tegas:
"Pensi emang penting, tapi kesehatan 'Ayang' lebih penting. Semangat kerjanya, nanti pulang gue tunggu di parkiran. Ada cokelat buat lo."
Ayra tertegun. Ia meraba dadanya yang bergemuruh. Gengsinya ingin mengatakan bahwa Alano sangat norak, namun bibirnya tidak bisa berhenti melengkung membentuk senyuman. Ia menutup bukunya rapat-rapat, memeluknya di dada, dan melanjutkan langkahnya menuju kelas selanjutnya dengan energi yang baru.
Ternyata, menghadapi kelas paling berisik di sekolah tidaklah seburuk itu, asal ada satu catatan kecil yang terselip di antaranya.