Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Musim yang Berubah
Memasuki kelas 3 SMP, atmosfer di koridor sekolah terasa lebih berat, seolah oksigen telah digantikan oleh kecemasan akan masa depan. Bagi Senara, ini adalah fase di mana ia harus mempererat ikat pinggang. Di SMP Negeri 12, ia tetap menjadi pusat perhatian, bukan karena kemewahan, tapi karena kecerdasannya.
Senara tidak pernah menunjukkan kelemahannya. Bahkan ketika biaya sekolah di luar beasiswanya mulai menumpuk dan ibunya harus bekerja lembur, Senara tetap hadir di kelas dengan seragam yang rapi meski warnanya sudah mulai memudar. Baginya, harga diri adalah satu-satunya hal yang tidak boleh ikut miskin.
Bima memulai tahun terakhirnya di SMP Super Internasional dengan satu ambisi yang menyimpang dari kurikulum sekolah, ia ingin menelanjangi rahasia Senara. Kegagalannya melacak pelindung Senara selama libur kenaikan kelas menjadi duri dalam daging bagi harga dirinya.
"Tuan V, target terdeteksi di koordinat biasa. Cyber-X, Blok 4," lapor timnya melalui enkripsi pribadi.
Bima segera meninggalkan kelas tambahan sore itu, ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ia tidak akan mengirim orang lain lagi, ia akan menjadi mata itu sendiri.
Malam itu, Blok 4 diselimuti kabut tipis sisa hujan sore hari. Senara duduk di bilik paling pojok warnet Cyber-X. Di depannya, monitor tabung yang sudah agak buram menampilkan situs-situs riset akademik yang berat.
Senara sedang sibuk mengetik jawaban soal fisika ketika ujung kakinya menyentuh sesuatu di bawah meja warnet yang berdebu. Awalnya ia mengira itu hanya gumpalan kabel atau sampah plastik. Namun, saat ia merogoh ke bawah untuk menyingkirkannya, ia menemukan sebuah gantungan kunci berbentuk robot kecil berwarna biru tua.
Kondisinya menyedihkan. Permukaannya penuh goresan, catnya terkelupas, dan salah satu lengannya tampak sedikit longgar. Di bagian dadanya ada lampu LED kecil yang tampak sudah mati total.
"Sampah ya?" gumam Senara. Ia menimang benda itu sejenak. Entah kenapa, robot kecil itu mengingatkannya pada dirinya sendiri. Lusuh, berada di tempat yang salah, tapi tetap berdiri tegak. Tanpa pikir panjang, ia memasukkannya ke dalam saku jaketnya, berniat untuk membersihkannya nanti di rumah sebagai gantungan tas cadangan.
Tiba-tiba, layar monitornya bergetar. Baris-baris kode mulai merayap naik, mencoba menyusup ke dalam sesi pencariannya. Senara tidak panik, ia juga tidak memanggil operator warnet atau menunjukkan wajah bingung. Sebaliknya, ia menyandarkan punggungnya di kursi plastik yang keras, menatap layar itu dengan ekspresi bosan. Hal seperti ini, bukan pertama kali terjadi.
Tiba-tiba, sebuah bayangan jatuh di atas mejanya.
"Komputer di tempat ini sama berantakannya dengan lingkungan di luarnya, ya?"
Suara itu dingin dan penuh nada ejekan yang sangat familiar. Senara tidak menoleh, ia menyelesaikan ketukan terakhirnya, menekan Enter, lalu perlahan melepaskan headset-nya. Ia menoleh ke arah Bima dengan sorot mata yang datar, hampir merendahkan.
"Tuan Muda Wijaya. Aku tidak tahu kalau hobi barumu sekarang adalah menjadi turis di kawasan kumuh," sahut Senara tenang.
Bima berdiri di samping biliknya, mengenakan jaket bermerek yang terlihat sangat asing di tempat pengap itu. Matanya terpaku pada layar monitor Senara yang kini kembali menampilkan soal-soal fisika.
"Aku mencari seseorang yang sedang bermain-main dengan sistemku," desis Bima, matanya menyipit menatap monitor Senara yang tampak normal. "Tadi aku melihat aktivitas mencurigakan dari alamat IP gedung ini. Kamu tahu sesuatu, Senara?"
Senara sedikit tersenyum tipis yang terasa seperti ejekan. "Kalau sistemmu begitu mudah ditembus oleh jaringan warnet murah seperti ini, mungkin masalahnya bukan pada 'siapa' yang melakukannya, tapi pada betapa lemahnya sistem dan pertahanan yang kamu banggakan itu."
"Jangan memancing amarahku," Bima melangkah lebih dekat, menekan meja Senara dengan tangannya. "Aku tahu kamu tidak sendirian, Senara. Siapa yang kamu temui di sini? Kamu genius, tapi kamu tidak punya infrastruktur untuk melawanku. Dimana dia? Dimana orang yang melindungi beasiswa dan data-data pribadimu?!"
Senara berdiri. Meskipun ia lebih pendek dari Bima, aura yang ia pancarkan membuat perbedaan tinggi itu tidak berarti. Ia tidak tampak takut, ia tampak seperti seorang penguasa di wilayahnya sendiri.
"Aku di sini untuk belajar karena aku butuh nilai sempurna untuk masuk SMA Garuda secara terhormat, bukan lewat jalur donasi seperti orang-orang yang ada di kelasmu," jawab Senara pedas. "Jika kamu merasa ada yang mengganggumu, cari mereka di dunia digitalmu yang mahal itu. Jangan datang ke sini dan mengganggu waktuku hanya karena kamu frustrasi tidak bisa menemukan bayangan yang ada dibelakangku."
Bima terdiam, ia mencoba mencari sedikit saja tanda kegugupan di wajah Senara. Namun, ia hanya menemukan ketenangan yang sangat stabil. Senara tidak tampak seperti orang bodoh yang tidak tahu soal komputer. Dia justru tampak seperti seseorang yang tahu terlalu banyak tapi memilih untuk diam.
"Komputermu sempat menghitam tadi, aku melihatnya dari luar," ujar Bima penuh selidik.
"Itu karena monitor ini sudah tua, Bima. Sama seperti argumenmu yang juga sudah usang," balas Senara santai. Ia mengambil tasnya, memasukkan buku-bukunya dengan perasaan kesal. "Jika kamu sudah selesai dengan sesi interogasimu, aku ingin pulang. Udara di sini jadi lebih sesak sejak kamu masuk."
Senara berjalan melewati Bima begitu saja, bahunya menyenggol bahu Bima dengan sengaja. Ia tidak menoleh lagi saat ia berjalan keluar dari pintu warnet yang berderit.
Bima segera duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Senara. Ia memasukkan sebuah perangkat USB kecil ke komputer itu untuk menarik log aktivitas secara instan.
“Sialan!” Bima mendesis.
Layar monitor itu mendadak menampilkan sebuah gambar sederhana, sebuah ilustrasi hantu kecil yang sedang menjulurkan lidah, dengan tulisan: [ACCESS DENIED].
Bima menyadari satu hal. Senara tidak panik saat dia datang, dia justru sudah menyiapkan salam perpisahan itu tepat di depan wajah Bima.
Di luar warnet, Senara berjalan menyusuri gang di Blok 4. Ia tidak lari ketakutan, langkah kakinya tetap stabil dan berirama di atas aspal yang basah. Ia merogoh saku jaketnya, hanya untuk memastikan gantungan kunci yang ia temukan tidak terjatuh saat ia bergesekan dengan Bima tadi.
Ia menoleh sedikit ke belakang, menatap pendar lampu neon Cyber-X yang berkedip di kejauhan. Ada rasa heran yang menyelinap di pikirannya, mengapa setiap kali Bima datang dengan teknologi mahalnya, komputer di sekitar Senara selalu bertingkah aneh seolah sedang melindunginya.
"Benar-benar aneh," gumam Senara pelan pada kegelapan malam. "Apa komputer itu memang sudah setua itu sampai hampir meledak?"
Senara mengedikkan bahu, tidak ingin memusingkan kegilaan Bima lebih lama lagi. Ia menarik tudung jaketnya lebih dalam. Baginya, Bima hanyalah gangguan eksternal yang mencoba merusak fokus belajarnya. Jika Bima ingin terus mengejar bayangan yang tidak ada, itu bukan urusan Senara. Ia harus sampai di rumah sebelum ibunya mulai khawatir.
Di bawah lampu jalan yang remang-remang, sosok Senara perlahan menghilang di belokan gang. Ia tetap menjadi Senara yang dikenal dunia, gadis cerdas yang miskin, yang berjalan sendirian menantang nasib, tanpa menyadari bahwa di dalam saku jaketnya, sebuah benda kecil yang ia anggap sampah baru saja berhenti memancarkan panas yang mematikan.