Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Pukul Dua Pagi
Aku tidak bisa tidur.
Bukan karena pikiran yang terlalu penuh — meski itu juga ada, sisa dari percakapan dengan Kenzo yang masih berputar di lapisan bawah kesadaran dengan kecepatan yang tidak mau melambat meski sudah kucuci muka dua kali dan membaca tiga bab novel yang tidak masuk ke kepala satupun. Lebih karena ada sesuatu yang berbeda dari keheningan penthouse malam ini.
Biasanya setelah pukul sebelas, tidak ada suara apapun dari wing kanan. Revano — yang jadwal tidurnya tidak pernah kuketahui secara eksak tapi bisa kuinferensikan dari pola suara yang sudah kuhafal dalam tiga minggu — biasanya sudah tidak bergerak setelah jam itu. Atau setidaknya, tidak bergerak dengan cara yang menghasilkan suara yang bisa menembus dinding.
Tapi malam ini pukul satu lewat empat puluh, masih ada cahaya tipis di bawah pintu koridor yang menghubungkan wing kanan ke ruang tengah.
Aku melihatnya ketika keluar ke dapur untuk minum air — sesuatu yang seharusnya memakan waktu dua menit dan tidak memerlukan perhatian lebih dari itu.
Tapi cahaya itu ada. Dan dari arahnya, bukan dari lampu koridor yang memang selalu menyala redup — dari bawah pintu ruang kerja di wing kanan.
Aku kembali ke kamar.
Berbaring. Menatap langit-langit.
Percakapan yang rencananya mau kusampaikan malam ini tidak terjadi — Revano pulang pukul delapan lewat dua puluh, dan ekspresinya ketika masuk ke penthouse sudah cukup bercerita tentang jenis hari yang baru dilewatinya. Aku melihatnya dari ruang kerja yang pintunya terbuka, melihat cara dia meletakkan tasnya di dekat pintu dan melepas jasnya dengan gerakan yang sedikit lebih berat dari biasanya, dan memutuskan bahwa percakapan yang tapi penting itu bisa menunggu satu malam lagi.
Aku keluar, menawarkan makan malam. Dia mengambil sendiri dari kulkas sambil berterima kasih dengan cara yang singkat tapi genuinely. Kami duduk di dapur selama dua puluh menit dengan percakapan yang ringan — proyek baruku yang mulai ada bentuknya, jadwal minggu depan yang Kenzo sudah kirimkan ringkasannya. Tidak ada yang berat.
Setelah itu dia masuk ke wing kanannya dan aku ke wing kiriku.
Dan sekarang pukul dua kurang dua puluh, cahaya itu masih ada.
Aku bangun dari kasur.
Bukan dengan rencana yang jelas — lebih karena berbaring sambil tahu ada cahaya di bawah pintu itu lebih melelahkan dari bangun dan melakukan sesuatu yang belum tahu apa. Aku ke dapur, menghangatkan susu di panci kecil dengan api yang paling kecil, menambahkan sedikit madu dari toples yang sudah tiga minggu ada di rak rempah tanpa pernah disentuh — entah milik siapa aslinya, entah kapan terakhir digunakan.
Susu hangat. Bukan solusi untuk apapun. Tapi sesuatu yang bisa dipegang.
Aku menuangkannya ke dalam mug, lalu berdiri di dapur selama hampir satu menit penuh memikirkan apakah ini ide yang masuk akal atau tidak.
Konklusinya tidak jelas. Tapi kakiku sudah bergerak sebelum konklusi itu selesai diproses.
Pintu koridor wing kanan tidak terkunci.
Aku mengetuk pintu ruang kerjanya — dua ketukan pelan, cukup untuk terdengar tapi tidak cukup untuk mengagetkan.
Tidak ada jawaban selama tiga detik.
Lalu: "Masuk."
Suaranya tidak terkejut. Entah dia mendengar langkahku di koridor atau memang tidak terkejut oleh apapun pada jam ini — aku tidak tahu mana yang lebih mungkin.
Aku membuka pintu.
Ruang kerjanya berbeda dari yang aku bayangkan.
Bukan berbeda dalam hal yang dramatis — meja, rak, komputer, semua ada di tempat yang logis. Tapi ada detail-detail kecil yang tidak ada di ruang kerjaku yang disiapkan Kenzo: tumpukan buku yang tidak tersusun rapi di sudut lantai, sebuah jaket tergantung di sandaran kursi dengan cara yang terlalu santai untuk Revano yang selalu rapi, dan di meja — tiga monitor yang semuanya menyala dengan spreadsheet dan dokumen yang sudah terbuka sejak entah jam berapa.
Revano duduk di kursinya, kemeja yang sudah dilonggarkan dua kancing teratas, rambut yang untuk pertama kalinya kelihatan seperti sudah diacak-acak tangannya sendiri karena frustrasi atau konsentrasi atau keduanya. Di mejanya ada cangkir kopi yang dari warnanya sudah dingin sejak lama.
Dia menatapku dari atas layarnya. Tidak bertanya apapun.
Aku masuk. Meletakkan mug susu hangat di sisi mejanya yang tidak penuh dengan dokumen — satu-satunya sudut kosong yang ada.
Tidak berkata apapun.
Lalu berbalik dan keluar.
Di koridor, aku berhenti sebentar.
Tidak ada suara dari dalam selama beberapa detik — hanya keheningan yang bisa berarti dia sedang menatap mug itu, atau sudah kembali ke layarnya, atau melakukan apapun yang Revano lakukan dengan hal-hal yang tidak diharapkannya tapi tiba-tiba ada di mejanya.
Lalu aku melanjutkan langkah ke wing kiriku.
Masuk ke kamar. Menutup pintu. Berbaring di kasur dan menatap langit-langit yang sama yang sudah kutatap sejak pukul sebelas.
Tapi kali ini langit-langitnya lebih mudah ditatap. Tidak tahu kenapa.
— Revano —
Mug itu ada di sudut mejaku.
Aku melihatnya tiga detik setelah Ariana keluar dari ruangan — satu detik untuk memproses bahwa benda itu ada, satu detik untuk memproses bahwa barusan ada seseorang yang masuk dan meletakkannya tanpa berkata apapun, satu detik lagi untuk memproses bahwa orang itu sudah pergi sebelum aku bisa membentuk respons yang masuk akal.
Susu hangat. Masih mengepul tipis dari permukaannya.
Aku menatapnya lebih lama dari yang seharusnya diperlukan untuk memproses keberadaan sebuah minuman di atas meja.
Pukul dua pagi. Ariana seharusnya tidur — wing kirinya tidak bersuara sejak pukul sebelas, aku menyadari tanpa berniat menyadari bahwa aku sudah terbiasa memetakan suara penthouse dengan cukup detail untuk tahu kapan masing-masing bagiannya aktif dan kapan tidak.
Tapi dia tidak tidur. Dan bukan hanya tidak tidur — dia ke dapur, menghangatkan sesuatu, dan membawanya ke sini.
Tanpa diminta. Tanpa instruksi. Tanpa pasal kontrak yang mewajibkan seseorang untuk memikirkan apakah orang lain di wing seberang masih bekerja di tengah malam dan mungkin membutuhkan sesuatu yang hangat.
Aku mengangkat mug itu.
Hangatnya meresap ke telapak tangan dengan cara yang tidak proporsional intensitasnya untuk sekadar sensasi temperatur — atau mungkin itu yang terjadi ketika kamu sudah bekerja terlalu lama di ruangan yang dingin dengan kopi yang sudah lama tidak hangat dan tangan yang sudah lama tidak merasakan apapun selain keyboard dan pena.
Ada madu di dalamnya. Aku bisa mencium aromanya bahkan sebelum minum.
Toples madu di rak rempah yang sudah ada sejak sebelum Ariana pindah — yang tidak pernah kusentuh karena aku tidak minum susu dan tidak memasak apapun yang memerlukan madu. Yang rupanya diperhatikan oleh seseorang yang sudah tiga minggu tinggal di tempat yang sama dan diam-diam menghapal rak rempah dapur orang lain.
Aku meletakkan mug kembali di meja dan menatap layar.
Spreadsheet yang sudah kubuka sejak pukul sembilan masih menampilkan angka yang sama — proyeksi keuangan untuk kuartal berikutnya, dengan tiga skenario berbeda yang semuanya bergantung pada variabel yang belum bisa diprediksi dengan cukup akurat karena situasinya masih terlalu dinamis.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, angka-angka itu tidak terasa seperti satu-satunya hal yang ada di ruangan ini.
Ada mug susu hangat di sudut meja.
Ada seseorang di wing seberang yang tidak tidur dan memilih untuk melakukan sesuatu tentangnya dengan cara yang tidak memerlukan penjelasan atau izin atau timbal balik — hanya meletakkan sesuatu di tempat yang bisa menjangkau dan pergi sebelum situasinya menjadi lebih besar dari yang perlu.
Aku sudah bekerja dengan banyak orang. Sudah menavigasi banyak hubungan — profesional, personal, dan berbagai gradasi di antara keduanya yang tidak selalu punya nama yang tepat. Dan aku sudah belajar, dalam dua puluh sembilan tahun dan beberapa luka yang tidak perlu dirinci, bahwa cara seseorang berperilaku ketika tidak ada yang memintanya untuk berperilaku dengan cara tertentu adalah informasi yang paling akurat yang bisa kamu dapat tentang orang itu.
Ariana datang ke sini pukul dua pagi dengan susu hangat yang tidak diminta.
Tidak untuk meninggalkan kesan. Tidak untuk memenuhi kewajiban. Tidak ada audiens, tidak ada kontrak, tidak ada kolom nilai tambah dalam skema apapun.
Hanya karena ada cahaya di bawah pintu dan seseorang memutuskan itu cukup alasan untuk melakukan sesuatu.
Aku mencoba kembali ke spreadsheet.
Berhasil sampai baris ketujuh belas sebelum pikiran itu kembali — bukan tentang sususnya, bukan tentang Ariana secara spesifik, tapi tentang sesuatu yang lebih abstrak yang lebih susah diidentifikasi dan justru karena itu lebih susah diabaikan.
Dalam tiga tahun terakhir, penthouse ini punya fungsi yang sangat spesifik: tempat aku meletakkan tubuh di antara satu hari kerja dan hari kerja berikutnya. Bukan lebih dari itu — bukan karena aku tidak pernah mau lebih dari itu, tapi karena lebih dari itu memerlukan hal-hal yang sudah lama aku putuskan tidak ada dalam kapasitasku untuk dikelola.
Tiga minggu yang lalu, ada seseorang yang pindah ke wing kiri.
Dan dalam tiga minggu itu, penthouse yang sama terasa seperti memiliki sesuatu yang berbeda — bukan besar, bukan dramatis, tapi berbeda dengan cara yang sulit dirumuskan dalam bahasa yang aku biasa gunakan untuk merumuskan hal-hal.
Seperti perbedaan antara ruangan yang hanya punya udara dan ruangan yang punya udara yang sudah bernapas di dalamnya.
Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan observasi itu.
Yang aku tahu: ada mug susu hangat di sudut mejaku, dan kopi dingin yang tadi ada di sebelahnya sudah aku pindahkan ke tempat sampah tanpa menyadari kapan aku melakukannya.
Aku bekerja sampai pukul tiga.
Bukan karena pekerjaannya menuntut sampai jam itu — lebih karena ada titik di mana otak sudah tidak bisa memproses angka dengan akurasi yang berguna dan lebih baik berhenti daripada membuat keputusan yang nanti harus dikoreksi.
Sebelum mematikan monitor, aku menatap mug yang sudah kosong di sudut meja.
Mengambilnya. Membawanya ke dapur, mencucinya, meletakkannya di tempat pengeringan dengan cara yang lebih hati-hati dari yang diperlukan untuk sebuah mug.
Di koridor menuju kamar, aku berhenti sebentar di depan wing kiri.
Tidak ada cahaya dari bawah pintunya. Tidak ada suara.
Ariana sudah tidur.
Aku melanjutkan langkah ke kamarku — masuk, menutup pintu, berbaring di kasur yang selalu terasa terlalu besar untuk satu orang meski aku tidak pernah mengatakannya ke siapapun karena itu bukan jenis kalimat yang ada dalam kosakata yang biasa kugunakan.
Menarik napas.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama — pikiranku tidak langsung ke angka atau agenda atau variabel yang perlu dikelola.
Hanya ada mug kosong yang sudah dicuci di pengeringan dapur, dan sesuatu kecil di sudut dada yang bergerak tanpa meminta izin dan memilih untuk tidak aku usir malam ini.
Hanya malam ini.
— Selesai Bab 16 —