Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Tak Terhapus
Keheningan menyelimuti mobil Isaac saat mereka meninggalkan gedung kantor. Pernyataan Tuan Aris terus berputar di kepala Luna seperti kaset rusak. Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang terasa terlalu personal, seolah ia memikul beban yang sama beratnya.
“Isaac, aku tidak percaya Tuan Aris tahu sebanyak itu,” bisik Luna sambil menatap ke luar jendela. “Dia bilang Ayah adalah orang pertama yang menolak konsorsium itu. Bagaimana dia bisa tahu detail pembicaraan yang seharusnya sangat rahasia?”
Isaac mengerutkan kening, tangannya mencengkeram kemudi. “Ada dua kemungkinan, Luna. Dia musuh… atau dia orang yang sangat dekat dengan ayahmu. Dan melihat bagaimana dia memperingatkan kita tadi, aku curiga yang kedua.”
Alih-alih pulang, Luna meminta diantar ke rumah lama keluarganya—rumah tua yang sudah lama tak ditempati, namun tetap dirawat penjaga setia. Di ruang kerja mendiang ayahnya yang berdebu, Luna mulai membongkar laci-laci meja jati berat.
“Ayahku sangat teliti. Kalau dia menolak sesuatu yang besar, pasti ada jejak alasannya,” ujar Luna sambil terus mencari.
Satu jam kemudian, ia menemukan buku agenda kecil tersembunyi di balik bingkai foto keluarga. Di halaman terakhir, tertulis sebuah inisial: “A. – Sang Penjaga Gerbang.”
Tepat saat itu, pintu ruang kerja terbuka. Tuan Aris berdiri di sana tanpa pengawal, tanpa kesan mewah. Wajahnya terlihat lebih tua dari beberapa jam sebelumnya.
“Kau selalu cerdas seperti ayahmu, Luna,” ucapnya pelan.
Isaac segera berdiri di depan Luna. “Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Aris?”
Tuan Aris mendekat dan meletakkan sebuah lencana tua di atas meja—lencana yang sama seperti milik ayah Luna. “Aku bukan sekadar rekanan. Aku tangan kanan rahasia ayahmu. Selama dua tahun sebelum kematiannya, aku bekerja bersamanya di balik layar pemerintahan untuk menghalangi konsorsium itu menembus kebijakan hukum.”
Luna tertegun. “Jika kau tangan kanannya, kenapa kau menghilang setelah Ayah meninggal? Kenapa kau membiarkan Tuan Waren menekanku bertahun-tahun?”
Tuan Aris menunduk. “Karena aku tak punya pilihan. Kematian ayahmu bukan kecelakaan biasa. Aku target berikutnya. Aku terpaksa menyusup ke dalam sistem mereka, berpura-pura menjadi bagian dari jaringan itu demi bertahan hidup dan melindungi bukti yang sempat ia kumpulkan.”
“Bukti apa?” tanya Isaac cepat.
Tuan Aris mengeluarkan flashdisk tua dari sakunya. “Bukti bahwa ayahmu tidak meninggal karena rem blong. Dia meninggal karena memegang daftar nama orang-orang besar dalam konsorsium itu. Dan sekarang, setelah kalian menjatuhkan Tuan Waren, mereka mengira akulah yang membocorkan semuanya.”
Tangan Luna gemetar saat menerima flashdisk tersebut. “Jadi selama ini kau bekerja dalam bayang-bayang… menungguku cukup kuat?”
“Ayahmu selalu berkata, ‘Jangan beri dia kunci sebelum dia tahu cara mengunci pintunya sendiri.’ Sekarang kau sudah membuktikannya. Tapi singa yang sebenarnya baru saja bangun.”
Isaac segera membuka laptop dan menghubungkan flashdisk itu. Tuan Aris berjaga di dekat jendela. Layar menampilkan folder terenkripsi.
Luna mencoba beberapa sandi—tanggal lahir ibunya, koordinat proyek pertama ayahnya—semuanya gagal.
“Coba tanggal saat kau pertama kali menggambar sketsa gedung bersamanya,” bisik Tuan Aris.
Luna mengetik tanggal itu. Folder terbuka.
Di dalamnya ada rekaman suara dan pindaian kontrak ilegal. Namun satu file berjudul “Peringatan Terakhir” membuat napas Luna tercekat.
Suara ayahnya terdengar tegas dalam rekaman: “Aku tidak akan menandatanganinya, Waren. Kau bisa mengancam bisnisku, tapi kau tidak bisa membeli integritas keluargaku. Jangan seret anak-anak kita ke dalam ini.”
Lalu terdengar suara Tuan Waren, lebih muda namun penuh amarah: “Jika kau tidak mau bekerja sama, maka kau hanya akan menjadi penghalang. Dan kau tahu apa yang kami lakukan pada penghalang.”
Rekaman berakhir.
Luna menatap Isaac dengan mata yang hancur. “Ayahmu tahu tentang rencana itu… Dia memperingatkan Ayahku, tapi dia juga membiarkannya terjadi.”
Isaac mundur selangkah, wajahnya pucat. Kenyataan ini lebih pahit dari sekadar manipulasi keuangan. Ayahnya terlibat dalam kematian orang tua Luna.
“Luna, aku…” suaranya tercekat.
“Belum semuanya,” potong Tuan Aris. “Buka lampiran di bawahnya.”
Luna membuka pindaian surat perjanjian yang dibuat satu minggu setelah kematian ayahnya. Isinya pembagian saham proyek infrastruktur gelap itu. Tertera tanda tangan Tuan Waren sebagai saksi… dan satu tanda tangan lain yang membuat tubuh Luna lemas.
Ayah Clara.
“Konsorsium ini jaringan,” jelas Tuan Aris. “Keluarga Clara, keluarga Waren, dan beberapa pejabat tinggi. Pernikahan kalian dirancang bukan hanya untuk menutup aliran dana, tetapi agar kau tetap berada di bawah kendali mereka sehingga tak pernah menyelidiki kematian ayahmu.”
Luna berdiri perlahan. Air matanya telah mengering, digantikan tekad sedingin es. “Mereka menjadikanku yatim piatu… lalu menjualku kembali kepada anak dari orang yang terlibat dalam kematian ayahku.”
Ia mendekati Isaac dan memegang wajahnya. “Ini bukan salahmu. Tapi sekarang kau harus memilih. Tetap menjadi putra seorang Waren… atau berdiri bersamaku dan merobek jaringan ini sampai ke akarnya?”
Isaac menggenggam tangan Luna, matanya menyala oleh kemarahan dan tekad. “Nama Waren sudah mati bagiku. Kita tidak hanya akan menjatuhkan mereka. Kita akan memastikan mereka bertanggung jawab atas semuanya.”
Tiba-tiba alarm keamanan gerbang rumah tua itu berbunyi nyaring.
Tuan Aris menegang, wajahnya berubah waspada. “Mereka sudah menemukan kita. Konsorsium tidak akan membiarkan data itu keluar dari rumah ini begitu saja.”
Keheningan yang semula dipenuhi duka kini berubah menjadi awal dari pertarungan yang jauh lebih besar.