NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 20 - SATU PERTANYAAN YANG AKHIRNYA PUNYA JAWABAN

Kamar Ara malam itu terasa lebih kecil dari biasanya.

Bukan secara fisik. Dindingnya masih di tempat yang sama, langit-langitnya masih di ketinggian yang sama, lampu belajarnya masih menyala kuning di sudut meja yang sama. Tapi ada sesuatu yang memenuhi ruangan itu selain furnitur dan buku-buku yang tersusun rapi, sesuatu yang tidak punya bentuk fisik tapi mengambil tempat dengan cara yang membuat Ara merasa seperti ruangan yang biasanya cukup untuk dirinya sendiri malam ini terasa penuh sesak.

Satu kalimat.

Hanya itu yang ada di kepalanya sejak dua jam lalu.

*Kalau hubungan ini memberatkanmu, mari kita akhiri saja.*

Ara berbaring di kasurnya, menatap langit-langit, dan untuk pertama kalinya dalam seminggu terakhir bukan karena pikirannya tidak mau diam tapi karena ada satu pertanyaan yang ia tahu jawabannya tapi belum siap dengan implikasi dari jawaban itu.

Apakah hubungan ini memberatkannya?

Ara menutup matanya.

Memutarnya dari awal.

Kantin hari pertama dan nasi yang tumpah dan tatapan dingin yang tidak memberikan reaksi apa pun. Minimarket dan wanita gila dan Fio yang bilang kakak cantik. Atap sekolah dan percakapan yang selalu lebih panjang dari yang dimulai. Susu kotak di meja dan foto yang sedikit miring dan Via yang akhirnya mengangkat ibu jari.

Semua itu memberatkan?

Ara membuka matanya.

Menatap langit-langit.

Jujurnya, tidak.

Bukan tidak berat sama sekali, karena jelas ada bagian-bagian yang rumit dari semua ini. Ruang BK tadi siang berat. Tadi pagi dan Mike berat. Via yang harus menanggung sesuatu yang sudah ia tanggung sendiri terlalu lama itu berat.

Tapi ketika Ara mencoba memisahkan semua bagian berat itu dari bagian yang lain, dari atap dan keripik dan surat kecil di kotak bekal dan cara Gill bilang kamu tidak harus melakukannya di sini, yang tersisa setelah semua yang berat disingkirkan ternyata jauh lebih besar dari yang ia duga.

Dan itu yang membingungkan.

Karena hubungan ini dimulai sebagai sesuatu yang palsu. Taktik. Solusi pragmatis untuk masalah yang tidak punya penyelesaian yang lebih baik saat itu. Tidak ada yang namanya perasaan di awalnya, tidak ada rencana untuk ada perasaan, tidak ada yang seharusnya berkembang menjadi lebih dari apa yang disepakati di atap sekolah itu.

Tapi sesuatu sudah berkembang.

Ara merasakan itu.

Belum bisa ia beri nama yang tepat. Belum cukup besar atau cukup jelas untuk dideklarasikan sebagai sesuatu yang pasti. Tapi cukup ada untuk membuat kalimat Gill tadi sore, tawaran untuk mengakhiri semuanya, terasa seperti sesuatu yang ia tidak mau iyakan.

Dan itu adalah informasi yang penting.

Ara menarik napas.

Baik.

Berarti ia perlu berbicara dengan Gill.

Tapi masalah berikutnya langsung muncul begitu keputusan itu terbentuk di kepalanya.

Ara tidak punya nomor Gill.

Ia duduk di kasurnya, membuka ponselnya, menatap layar yang menyala. Membuka daftar kontaknya, menggulirnya dari atas ke bawah, dan tidak menemukan nama Gian atau Gill atau bahkan inisial G yang bisa ia asosiasikan dengan siapa pun yang dimaksud.

Mereka tidak pernah bertukar nomor.

Lima hari saling kenal, lima hari berbagi atap dan keripik dan percakapan yang terlalu dalam untuk ukuran dua orang yang belum bertukar kontak, dan tidak sekali pun ada momen dimana salah satu dari mereka berkata: hei, boleh minta nomormu?

Ara meletakkan ponselnya.

Menatap langit-langit lagi.

Via punya nomornya mungkin. Tapi menghubungi Via malam ini untuk minta nomor Gill akan membutuhkan penjelasan tentang kenapa ia membutuhkan nomor itu, dan penjelasan itu akan membutuhkan percakapan yang lebih panjang, dan percakapan yang lebih panjang berarti Via akan mulai menganalisis dengan cara yang Via lakukan, dan Ara belum siap untuk dianalisis Via malam ini sebelum ia sendiri selesai menganalisis dirinya sendiri.

Ara memejamkan matanya.

Besok sekolah libur. Hari Minggu.

Yang berarti satu-satunya tempat yang memungkinkan ia bisa bertemu Gill adalah tempat yang selama seminggu terakhir sudah membuktikan dirinya sebagai lokasi pertemuan tidak resmi yang ternyata sangat efektif.

Ara membuka matanya.

Duduk tegak di kasurnya.

Minimarket.

---

"Bu, Ara keluar sebentar ya. Mau ke minimarket."

Ibunya muncul dari arah dapur dengan ekspresi yang sudah sangat terbiasa dengan permintaan ini. "Beli apa?"

"Nggak beli apa-apa, Bu. Cuma jalan-jalan bentar. Butuh angin."

Ibunya menatapnya sebentar. Lalu mengangguk dengan cara yang menyampaikan bahwa beliau tidak akan bertanya lebih lanjut karena beliau sudah cukup lama mengenal anaknya untuk tahu bahwa beberapa hal lebih baik diselesaikan dengan jalan-jalan malam daripada pertanyaan.

"Jangan lama. Sudah malam."

"Iya, Bu."

Ara mengambil jaket tipisnya dari gantungan di balik pintu kamar, memasukkkan ponselnya ke saku, dan berjalan keluar rumah ke malam Eldria yang sudah lebih sejuk dari siang tapi belum cukup dingin untuk jaket yang lebih tebal.

Ia berjalan ke arah minimarket dengan langkah yang tidak terburu-buru tapi punya tujuan.

Di dalam kepalanya ada satu skenario yang terus berulang. Ia tiba di minimarket, Gill tidak ada, ia duduk sebentar di bangku luar lalu pulang dengan pertanyaan yang masih belum terjawab. Kemungkinan yang sangat nyata dan sangat mungkin terjadi karena Gill tidak punya kewajiban untuk ada di minimarket yang sama setiap malam meski selama tiga malam berturut-turut itu terbukti menjadi fakta.

Tapi ada juga skenario lain.

Ara mendorong pintu minimarket, disambut bunyi geser yang sudah sangat familiar dan AC yang sama dan cahaya neon yang sama.

Ia tidak langsung keluar lagi.

Berdiri di dekat rak minuman, mengambil satu botol air karena terasa aneh masuk ke minimarket tanpa membeli apa-apa, membayar di kasir, dan berjalan keluar ke bangku di depan.

Kosong.

Ara berdiri di depan bangku itu selama tiga detik.

Lalu duduk.

Meletakkan botol airnya di samping. Menyandarkan punggungnya ke dinding minimarket. Menatap jalan di depannya yang tidak terlalu ramai di malam hari, hanya sesekali kendaraan lewat, sesekali pejalan kaki.

Baik.

Ia akan menunggu sebentar. Tidak lama. Ibunya bilang jangan lama.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit berlalu dengan jalan yang tetap sama dan bangku yang tetap hanya ada Ara di atasnya.

Ara membuka botol airnya. Meminumnya satu teguk. Menutupnya kembali.

Lalu dari arah kiri, dari sudut jalan yang berbelok sekitar tiga puluh meter dari posisinya, muncul dua sosok yang sudah sangat ia kenal.

Yang satu tingginya melebihi rambutnya dengan cara yang khas, melangkah dengan tangan di saku, kepala sedikit menunduk ke layar ponsel di tangannya.

Yang satu lagi setengah dari tingginya, berlari kecil tiga langkah lalu jalan satu langkah lalu berlari kecil lagi, dengan es krim yang sudah ada di tangannya meski mereka baru akan tiba di minimarket artinya es krim itu sudah dibeli di tempat lain sebelum kesini.

Fio melihatnya pertama.

"KAK ARAAA!"

Suara itu membelah ketenangan malam dengan cara yang tidak mempedulikan jam atau ketenangan lingkungan sekitarnya. Fio sudah berlari ke arah Ara bahkan sebelum kalimat itu selesai bergema, es krimnya dipegang erat dengan dua tangan supaya tidak jatuh sambil berlari.

Gill mengangkat kepalanya dari ponselnya.

Matanya menemukan Ara di bangku itu.

Ia berhenti melangkah selama setengah detik. Tidak lama. Tidak cukup lama untuk terlihat kalau yang melihat tidak sedang memperhatikan. Tapi Ara sedang memperhatikan.

Lalu ia melanjutkan langkahnya ke arah bangku.

Fio sudah tiba lebih dulu, langsung duduk di sebelah Ara dan merangkul lengannya dengan tangan yang bebas dari es krim. "Kak Ara kenapa di sini? Nunggu Kak Gill ya?"

"Fio," Gill berkata dari belakangnya.

"Iya kak?"

"Makan es krimmu."

"Tapi Fio mau ngobrol sama Kak Ara."

"Makan dulu baru ngobrol."

Fio menatap es krimnya yang sudah mulai meleleh di pinggir. "Oh iya." Ia langsung sibuk dengan es krimnya.

Gill duduk di sisi Ara yang lain.

Bangku yang sama dengan malam-malam sebelumnya. Posisi yang sama. Lampu yang sama. Tapi malam ini terasa berbeda dari semuanya karena Ara yang datang lebih dulu dan menunggu, bukan Gill yang sudah ada di sana ketika Ara tiba.

"Kamu menunggu," Gill berkata. Bukan pertanyaan.

"Iya," Ara menjawab. Tidak menutupinya.

Gill menatap ke depan. "Ibu minta susu lagi?"

"Tidak." Ara menatap botol air di tangannya. "Aku yang perlu ke sini."

Hening sebentar.

Fio di sebelah kiri Ara makan es krimnya dengan konsentrasi yang total, mengeluarkan suara-suara kecil yang mengindikasikan kepuasan dan sesekali menawarkan ke Ara dengan cara yang sangat polos, ditolak pelan oleh Ara, diterima kembali oleh Fio tanpa kecewa.

"Soal tadi sore," Ara memulai akhirnya.

Gill mendengarkan.

"Yang kamu bilang tentang mengakhiri." Ara tidak membuang pandangan ke arah lain, memilih untuk menatap ke depan seperti Gill, jalan di depan mereka yang sama-sama mereka lihat tapi dari dua kepala yang berbeda. "Aku sudah memikirkannya."

"Dan?"

Ara menarik napas satu kali. "Aku mau tanya dulu. Apa yang kamu maksud dengan itu. Kamu menawarkannya karena kamu pikir itu yang aku butuhkan, atau karena itu yang kamu inginkan?"

Gill diam.

Lebih lama dari biasanya.

Di sebelah kiri Ara, Fio berhenti makan sebentar, melirik ke kiri ke arah Gill, seolah ikut menunggu jawabannya. Lalu kembali ke es krimnya ketika tidak ada yang segera keluar.

"Aku menawarkannya," Gill berkata akhirnya, pelan, "karena aku tidak mau kamu melanjutkan sesuatu yang membebanimu hanya karena merasa tidak bisa berhenti."

Ara menoleh ke arahnya. "Itu tidak menjawab pertanyaanku."

Gill menatap ke depan dua detik lagi. Lalu menoleh ke Ara.

"Itu yang aku pikir kamu butuhkan untuk dengar," ia berkata. "Supaya kamu bisa memutuskan dengan bebas."

Ara menatap Gill.

Matanya yang biasanya datar malam ini memiliki sesuatu di dalamnya yang berbeda, sesuatu yang sudah Ara mulai kenali sebagai cara Gill terlihat ketika ia sedang mengatakan sesuatu yang lebih besar dari kata-katanya sendiri.

"Aku tanya satu hal lagi," Ara berkata.

"Tanya."

"Apa kamu menikmati ini?"

Gill diam.

Kali ini hening yang berbeda dari tadi. Lebih dalam. Seperti pertanyaan itu jatuh ke suatu tempat yang perlu sedikit waktu untuk ditemukan jawabannya bukan karena tidak ada jawaban tapi karena jawabannya perlu dikeluarkan dari tempat yang tidak sering dibuka.

"Iya," Gill menjawab akhirnya. Satu kata. Tapi cara mengucapkannya, pelan dan langsung tanpa embel-embel, terasa seperti hal yang cukup besar untuk diucapkan oleh seseorang yang tidak banyak menggunakan kata-kata untuk hal-hal yang besar.

Ara menarik napas.

"Aku juga menikmatinya," ia berkata. "Dan aku tidak merasa terbebani." Ia menatap jalan di depannya, memilih kata-katanya dengan cara yang bukan hati-hati demi terdengar tepat tapi hati-hati karena ini hal yang penting dan ia ingin mengatakannya dengan benar. "Ada bagian-bagian yang rumit. Tapi bagian-bagian yang rumit itu bukan karena hubungannya. Itu karena situasi di sekitarnya."

Gill mendengarkan.

"Dan," Ara melanjutkan, "ada sesuatu yang aku belum bisa namai dengan tepat. Tapi itu ada. Dan aku tidak ingin mengakhirinya sebelum aku tahu apa itu."

Hening di antara mereka.

Angin lewat, hangat dan pelan, membawa serta suara jauh kota Eldria yang tidak pernah benar-benar berhenti bahkan di malam hari.

Gill tidak langsung menjawab.

Matanya menatap ke depan selama beberapa detik, ke jalan yang sama, ke lampu-lampu yang sama yang sudah menyala sejak mereka tiba. Tangannya di lututnya, tidak bergerak.

Lalu, sangat pelan, sudut bibirnya bergerak.

Bukan senyum besar. Bukan yang Ara pernah lihat di wajah orang lain sebagai respons terhadap sesuatu yang menyenangkan. Hanya sesuatu yang sangat kecil dan sangat Gill, sesuatu yang muncul bukan karena diputuskan tapi karena tidak bisa ditahan.

"Kalau begitu," ia berkata, dengan nada yang sudah kembali ke kualitas datarnya yang biasa tapi membawa sesuatu yang berbeda di bawahnya, "mari lanjutkan. Sampai kamu tahu apa itu."

Ara menatap sisi wajahnya.

Di sebelah kirinya, Fio yang ternyata tidak terlalu sibuk dengan es krimnya untuk tidak mendengarkan percakapan itu dengan penuh perhatian, menatap Gill lalu menatap Ara lalu kembali ke Gill dengan ekspresi yang sangat puas.

"Kak Gill," Fio berkata.

"Hm."

"Romantis ya."

"Fio."

"Iya kak?"

"Habiskan es krimmu."

"Udah hampir habis kok." Fio menunjukkan sisa cone-nya yang memang sudah hampir habis, lalu kembali ke Ara dengan ekspresi yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Kak Ara, Fio senang."

Ara menatap Fio. "Senang kenapa?"

"Senang karna Kak Ara bakal terus ada." Fio mengangguk serius. "Kak Gill senyum tadi. Fio jarang lihat Kak Gill senyum."

Ara menoleh ke Gill.

Gill sudah menatap ke depan lagi, ekspresinya sudah kembali ke posisi normalnya, tidak memperlihatkan bahwa kalimat Fio baru saja mengekspos sesuatu yang tidak ia rencanakan untuk diekspos.

Tapi telinganya, Ara perhatikan, sedikit lebih merah dari biasanya.

Ara menyimpan observasi itu.

"Fio," Ara berkata ke anak kecil di sebelahnya.

"Iya Kak Ara?"

"Boleh Ara minta sesuatu?"

Fio mengangguk antusias. "Boleh boleh."

"Besok atau kapan pun Fio ketemu Kak Gill," Ara berkata dengan nada yang sangat serius, "tolong ingatkan dia untuk membeli kuota sendiri."

Fio berpikir sebentar. Lalu tertawa dengan suara yang lebih besar dari ukuran badannya, tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan yang masih memegang sisa cone, tertawa yang bergema ke malam Eldria dengan bebas dan tidak memikirkan apakah itu terlalu keras atau tidak.

Ara ikut tertawa.

Dari sebelahnya, dari arah yang tidak langsung ia tatap, ada suara yang sangat pelan yang keluar, suara yang bukan tawa tapi bukan bukan tawa juga, sesuatu di antaranya yang terdengar seperti seseorang yang berusaha tidak membiarkannya keluar tapi tidak berhasil sepenuhnya.

"Itu," Fio berkata di antara tawanya, "karena kemarin minta hotspot ke Kak Ara ya?"

"Fio tahu?" Ara bertanya.

"Kak Gill cerita waktu jalan tadi."

Ara menoleh ke Gill. "Kamu cerita ke adikmu?"

"Dia bertanya kenapa wajahku merah," Gill berkata, nada suaranya sangat terkontrol untuk seseorang yang telinganya masih sedikit merah. "Aku menjelaskan konteksnya."

"Konteksnya," Ara mengulang. "Bahwa kamu minta hotspot dengan cara yang—"

"Efisien," Gill memotong.

"Tidak sopan," Ara mengoreksi.

"Dua hal itu bisa benar sekaligus."

Ara membuka mulutnya untuk membalas, tapi Fio sudah menyela dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh anak enam tahun yang merasa sangat menikmati percakapan ini.

"Kak Ara," Fio berkata, sudah tidak tertawa lagi tapi masih penuh semangat. "Nomor Kak Ara berapa?"

Ara berkedip. "Hah?"

"Nomor telepon." Fio melirik ke Gill dengan ekspresi yang sangat dewasa untuk ukurannya. "Kak Gill bilang belum punya nomornya Kak Ara. Fio pikir itu aneh, masa pacar nggak punya nomornya."

Ara menatap Gill.

Gill menatap Fio dengan ekspresi yang menyampaikan bahwa informasi itu tidak ia rencanakan untuk disampaikan melalui jalur ini.

"Kamu bilang itu ke Fio?" Ara bertanya.

"Dia bertanya kenapa kamu tidak pernah menghubungiku," Gill menjawab, nada suaranya sangat datar untuk situasi ini.

"Dan kamu jawab jujur."

"Aku selalu menjawab jujur."

Ara menatapnya beberapa detik. Lalu, karena tidak ada alasan yang cukup baik untuk tidak melakukannya sekarang, ia mengeluarkan ponselnya.

Membuka kontak baru.

Menyerahkan ponselnya ke Gill.

Gill menatap ponsel di tangannya sebentar. Lalu mengambilnya, mengetikkan nomornya dengan cara yang tidak terburu-buru, dan mengembalikannya ke Ara.

Ara menyimpannya.

Mengetikkan nama di kolom nama kontak itu.

Gill melihat ke layar dari sudut mata. "Kamu menulis apa?"

"Nama," Ara menjawab.

"Nama apa?"

Ara memiringkan layar ponselnya sedikit ke arah Gill supaya ia bisa melihat.

Di kolom nama itu tertulis: *Gill (Jangan Minta Hotspot Lagi).*

Fio mengintip dari sisi lain dan langsung tertawa lagi.

Gill menatap tulisan itu dua detik. Lalu menoleh ke arah lain dengan cara yang terlalu cepat untuk menyembunyikan apa yang ada di wajahnya.

Ara mengunci layar ponselnya dan menyimpannya ke saku jaketnya.

"Besok aku kirim pesan," ia berkata. "Supaya kamu juga punya nomorku."

"Oke," Gill menjawab.

"Dan supaya kamu bisa beli kuota sendiri jadi tidak perlu minta hotspot."

"Kuotaku sudah isi."

"Bagus. Pertahankan."

Fio di sebelah Ara tertawa lagi dengan suara yang sama bebasnya, kali ini sampai bersandar ke lengan Ara, es krim bekasnya sudah habis dan hanya cone kosong yang masih dipegang di tangannya.

Dan mereka bertiga duduk di bangku minimarket itu, di bawah lampu luar yang tidak terlalu terang tapi cukup untuk melihat wajah satu sama lain, dengan angin malam Eldria yang datang dan pergi dan suara kota yang bergerak di sekitar mereka.

Tidak ada yang perlu dijaga di sini.

Tidak ada image yang perlu dipertahankan, tidak ada kata-kata yang perlu ditimbang dua kali sebelum diucapkan, tidak ada senyum yang perlu dipasang dengan ukuran yang tepat untuk konsumsi orang lain.

Hanya Ara.

Hanya Ara yang malam ini, di bangku sederhana di depan minimarket biasa di kota Eldria yang tidak terlalu besar tapi tidak terlalu kecil, menemukan sesuatu yang sudah lama ia cari tanpa tahu persis apa yang dicarinya.

Tempat di mana menjadi dirinya sendiri terasa bukan seperti pilihan yang harus diperjuangkan.

Tapi seperti hal yang paling wajar di dunia.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!