Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaring-Jaring Takdir
Sosok compang-camping di depan gerbang itu tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan tulang kering. Cahaya merah dari kotak kayu di tangannya berdenyut, mengirimkan gelombang mual yang menghantam batin Lauren. Herza yang biasanya tegap kini tampak menciut, pendar peraknya memudar drastis saat menatap bayangan itu.
"Dia bukan utusan, Lauren. Dia adalah bagian dari Sangker Bumi itu sendiri," bisik Herza, suaranya bergetar hebat.
"Kita tidak bisa bertarung di sini. Papa dan Mamamu akan menjadi sasaran pertama."
Lauren mencengkeram medali di tangannya. Ia ingin melepaskan ledakan energi lagi, namun rasa perih di hidungnya mengingatkannya bahwa raga fisiknya hampir mencapai batas.
"Ikuti aku. Ada tempat di mana pengaruhnya sedikit melemah," perintah Herza.
Lauren berlari mengikuti pendar perak Herza yang melesat menuju arah hutan kecil di belakang komplek perumahan mereka. Di belakang, suara tawa parau itu perlahan menjauh, namun Lauren tahu ia tidak benar-benar lepas. Sosok itu hanya membiarkannya berlari, seolah sedang menggiring mangsa menuju jebakan yang lebih besar.
Mereka berhenti di sebuah reruntuhan fondasi bangunan tua yang tertutup akar beringin raksasa. Tempat ini terasa sepi dari gangguan energi parasit, seolah ada dinding transparan yang melindungi areanya. Lauren jatuh terduduk di atas bongkahan batu berlumut, napasnya tersengal.
"Tempat apa ini?" tanya Lauren, menyeka sisa darah di bibirnya.
"Sisa-sisa tempat pemujaan kuno yang sudah dibersihkan. Di sini, dia tidak bisa langsung mendengarmu," Herza mendarat di depannya, wajahnya tampak sangat serius.
"Lauren, sudah saatnya kau tahu kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang selama ini coba kusembunyikan darimu agar kau tetap memiliki harapan."
Lauren menatap mata kelabu Herza. Apa lagi yang lebih buruk dari menjadi wadah iblis?
"Banyu," kata Herza pelan.
"Pertemuanmu dengannya di SMA Garuda. Tarikan energi yang kau rasakan. Itu bukan kebetulan. Itu bukan takdir yang manis, Lauren. Itu adalah rekayasa."
Lauren mengerutkan dahi.
"Apa maksudmu? Kami bertemu karena dia pindah sekolah."
"Dia pindah karena ayahnya ditarik secara bawah sadar oleh jaring-jaring energi Sangker Bumi. Sepuluh tahun lalu, keluarga Danuarta dibantai bukan hanya sebagai tumbal, tapi untuk mengisolasi Banyu sebagai 'Pintu' tunggal," Herza melayang mengitari Lauren, pendar tubuhnya mulai menguat kembali.
"Suryaningrat dan Danuarta. Garis darahmu dan garis darahnya."
Lauren merasakan jantungnya berdegup kencang. "Keluargaku... dan keluarganya?"
"Ratusan tahun lalu, nenek moyangmu adalah penjaga penjara gaib tempat Eyang Sangker Bumi dikurung. Dan keluarga Danuarta? Mereka adalah para penjaga kuncinya," Herza berhenti tepat di depan Lauren.
"Namun, terjadi pengkhianatan. Salah satu leluhur Danuarta tergiur dengan janji kekuatan purba. Dia membuka sebagian segelnya, dan sebagai hukumannya, kedua garis keturunan itu dikutuk untuk terus saling mencari di setiap generasi."
Lauren menggelengkan kepala, mencoba menepis kenyataan pahit itu.
"Jadi, rasa kasihan yang kurasakan padanya... ketertarikan ini... semuanya hanya efek kutukan?"
"Efek resonansi, Lauren. Cahayamu dirancang untuk ditarik oleh kegelapannya. Sang Arsitek hanya perlu menunggu kalian berada di satu tempat yang sama untuk memulai ritual penyatuan. Mereka tidak perlu mencarimu; mereka hanya perlu meletakkan Banyu di depan matamu, dan batinmu akan melakukan sisanya."
Lauren terpaku. Ia teringat bagaimana ia merasa sangat ingin melindungi Banyu di taman. Ia teringat bagaimana ia merisikokan nyawanya untuk interogasi astral tadi. Semua tindakan heroiknya ternyata adalah bagian dari skenario yang sudah ditulis ribuan tahun lalu.
Aku hanya bidak yang bergerak sesuai papan catur mereka, batin Lauren pedih.
"Jadi, kalau aku menjauh darinya, semuanya akan selesai?" tanya Lauren dengan suara pecah.
Herza menatap langit yang hitam pekat. "Dulu, aku berpikir begitu. Itulah sebabnya gadis indigo yang kukenal sebelum kamu mencoba melarikan diri. Tapi menjauh justru mempercepat proses pengosongan jiwa. Banyu akan sepenuhnya dikuasai kegelapan, dan tanpa penyeimbang darimu, dunia ini akan menjadi hamparan bayangan."
Lauren berdiri, menatap tangannya yang masih memiliki sisa cahaya indigo. Kemarahan yang tadi sempat mendingin kini kembali membara, namun kali ini lebih tenang dan terkendali. Ia merasa seolah-olah beban masa kecilnya yang ingin menjadi normal telah menguap sepenuhnya. Tidak ada gunanya meratapi nasib saat musuh sudah berada di ambang pintu.
"Jadi, pilihannya hanya dua," kata Lauren, suaranya kini terdengar dewasa, jauh melampaui usianya yang tujuh belas tahun. "Membiarkannya menjadi monster dan menghancurkanku, atau aku masuk ke dalam jaring mereka dan mencoba memutus benangnya dari dalam."
Herza terkejut melihat ketenangan Lauren. "Lauren, masuk ke dalam jaring mereka berarti kau harus menyerahkan sebagian kendali batinmu. Itu sangat berbahaya."
"Mereka ingin aku menjadi wadah, kan? Mereka ingin aku bersatu dengan 'Pintu' itu?" Lauren melangkah keluar dari reruntuhan, menatap ke arah cahaya lampu kota yang terlihat samar dari balik pepohonan.
"Kalau begitu, aku akan memberikannya. Tapi aku tidak akan datang sebagai korban."
"Apa yang kau rencanakan?"
Lauren menoleh, sebuah senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya.
"Jika pertemuan kami adalah desain jahat, maka aku akan mengubah desain itu. Aku akan menjadikan jaring-jaring takdir ini sebagai jerat bagi mereka sendiri. Banyu adalah kuncinya, dan aku adalah kuncinya. Jika kami harus bersatu, maka kami akan bersatu untuk menghanguskan siapa pun yang mencoba memutar kami."
Herza terpaku. Ia melihat transformasi penuh pada diri muridnya. Lauren tidak lagi bertanya kenapa aku?. Ia tidak lagi meratapi hilangnya masa remaja yang normal. Ia telah menerima bahwa hidupnya adalah sebuah medan perang, dan ia baru saja mengangkat pedangnya.
"Takdir mungkin mendesain pertemuan kami, Herza," kata Lauren lantang. "Tapi perasaan ingin melindunginya... rasa sakit yang kurasakan saat melihatnya menderita... itu milikku. Itu bukan rekayasa. Dan aku akan menggunakan itu untuk melawan Sangker Bumi."
Tiba-tiba, bumi di bawah kaki mereka bergetar hebat. Suara raungan dari arah rumah Lauren terdengar membelah malam. Itu bukan suara hantu, melainkan suara teriakan manusia yang penuh ketakutan.
"Papa! Mama!" Lauren tersentak.
"Mereka sudah mulai, Lauren! Pengalih perhatian di gerbang tadi hanya untuk menarikmu ke sini!" Herza berteriak panik.
Lauren tidak menunggu lagi. Ia memanggil seluruh energi birunya, membiarkan cahaya itu menyelimuti tubuhnya hingga ia tampak seperti meteor indigo yang membelah kegelapan hutan. Ia berlari melompati semak dan akar, setiap pijakannya menghancurkan tanah dengan kekuatan yang tak terkira.
Saat ia mencapai halaman depan rumahnya, pemandangan itu membuatnya membeku.
Banyu berdiri di tengah jalan, tepat di depan rumah Lauren. Pemuda itu tidak sadarkan diri, tubuhnya melayang beberapa sentimeter dari aspal. Di sekelilingnya, kabut hitam kental membentuk pusaran raksasa yang menyedot segala cahaya di sekitarnya. Dan di depan pintu rumah Lauren, sosok compang-camping tadi sedang memegang kotak kayu yang kini sudah terbuka.
"Pilih, Gadis Indigo!" seru sosok itu dengan suara yang bergema di seluruh komplek. "Selamatkan orang tuamu yang sedang tercekik di dalam, atau selamatkan kunci yang sedang kami putar ini!"
Lauren melihat ke jendela atas rumahnya. Ia bisa melihat bayangan tangan-tangan hitam sedang melilit leher Bram dan Maria di balik kaca. Di saat yang sama, tubuh Banyu mulai mengeluarkan asap merah yang menandakan jiwanya sedang dikuras habis.
Herza muncul di samping Lauren, tubuhnya gemetar.
"Lauren, kau tidak bisa menyelamatkan keduanya sendirian!"
Lauren mengepalkan tangannya. Air mata kemarahan mengalir di pipinya, namun matanya tetap tajam menatap ke depan. Ia tahu, inilah saatnya jaring takdir itu ditarik kencang. Inilah saatnya ia membuktikan bahwa ia bukan lagi kotak kayu kosong yang bisa dipermainkan.
"Aku akan menyelamatkan semuanya," desis Lauren.
Ia melepaskan medali perunggunya dan melemparkannya ke udara. Medali itu berpendar hebat, menciptakan perisai cahaya biru yang meluas dengan cepat ke arah rumahnya. Di saat yang sama, Lauren menerjang langsung ke tengah pusaran kegelapan yang mengelilingi Banyu.
"Banyu! Bangun!" teriak Lauren.
Ia menembus dinding kabut hitam yang membakar kulitnya. Saat tangannya menyentuh tangan Banyu, sebuah ledakan energi yang luar biasa dahsyat terjadi. Bukan energi biru, bukan pula energi hitam, melainkan cahaya putih perak yang menyilaukan, hasil dari benturan dua garis keturunan yang dipaksa bersatu dalam kondisi yang salah.
Seluruh komplek perumahan itu mendadak menjadi terang benderang seperti siang hari. Lauren merasakan jiwanya seolah ditarik keluar, namun ia tetap mencengkeram tangan Banyu dengan erat. Ia tidak akan membiarkan pemuda ini menjadi tumbal. Ia tidak akan membiarkan takdir menang malam ini.
Namun, di tengah cahaya itu, Lauren mendengar suara tawa Sangker Bumi yang menggelegar di dalam kepalanya.
Selamat, Lauren. Kau baru saja memasukkan kuncinya ke dalam lubang yang benar. Sekarang, biarkan kami memutarnya.
Cahaya putih itu mendadak berubah menjadi merah darah. Lauren berteriak saat ia merasakan sesuatu yang sangat dingin dan besar mulai merayap keluar dari telapak tangan Banyu, masuk langsung ke dalam urat nadinya sendiri.