NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Gencatan Senjata

​Pasca insiden dengan Sandra, suasana di lokasi syuting terasa seperti berjalan di atas lapisan es tipis. Para kru tidak lagi berani berbisik secara terang-terangan, namun tatapan mereka tetap mengikuti setiap gerak-gerik Adelia. Namun, ada yang berbeda dengan Arlan. Sang sutradara yang biasanya meledak-ledak itu kini lebih banyak diam, namun diamnya bukan karena marah, melainkan karena fokus yang tajam—dan anehnya, ia menjadi jauh lebih komunikatif dengan Adelia.

​Hari itu adalah jadwal syuting beauty shot terakhir. Mereka harus mengambil gambar model yang sedang berjalan di bawah instalasi lampu kristal yang rumit.

​"Adelia, kemari," panggil Arlan lewat intercom.

​Adelia segera menghampiri kursi sutradara. "Iya, Pak?"

​Arlan menunjukkan layar monitornya. Di sana terlihat draf kasar dari hasil suntingan sementara. "Bagian ini. Transisinya terasa kasar. Menurutmu, apa yang kurang?"

​Adelia sempat ragu. Ia menoleh ke arah editor senior yang duduk tak jauh dari sana, yang tampak tersinggung karena Arlan justru bertanya pada seorang asisten produksi. Namun, Adelia mengingat kata-kata Arlan semalam tentang menjadi kompeten.

​"Menurut saya, pencahayaan di frame transisi terlalu kontras, Pak. Kalau kita pakai teknik light leak atau sedikit efek pudar yang lebih lembut, perpindahan antar adegannya akan terasa lebih emosional, sesuai dengan tema parfumnya," jelas Adelia sambil menunjuk bagian kurva warna di layar.

​Arlan terdiam beberapa saat, menatap layar dengan serius. Ia kemudian menoleh ke editor. "Dengar itu? Lakukan apa yang dia bilang. Pakai soft glow di transisi detik ke-empat."

​Editor itu mengangguk kaku dan segera bekerja. Arlan kembali menatap Adelia. "Kamu punya mata yang bagus untuk detail. Belajar dari mana?"

​"Saya dulu suka ikut UKM film saat kuliah, Pak. Tapi lebih banyak belajar otodidak karena tidak punya biaya untuk kursus formal," jawab Adelia jujur.

​Arlan mengangguk pelan. "Bakat lebih berharga daripada sertifikat. Teruslah mengamati."

​Itu adalah pujian pertama yang tulus, tanpa embel-embel sarkasme. Adelia merasa dadanya sedikit menghangat.

​Sore harinya, saat istirahat teknis, instalasi lampu kristal tiba-tiba mengalami malfungsi. Salah satu kabel sling penahannya kendur, membuat lampu seberat puluhan kilogram itu miring berbahaya tepat di atas area model.

​"AWAS!" teriak Adelia refleks saat melihat lampu itu bergoyang.

​Ia berlari dan menarik lengan sang model menjauh tepat saat suara krak keras terdengar. Lampu itu tidak jatuh sepenuhnya, tapi tergantung miring dengan sangat tidak stabil. Semua orang panik. Arlan langsung berdiri, wajahnya pucat bukan karena takut rugi, tapi karena hampir saja terjadi kecelakaan fatal di setnya.

​"Siapa yang bertanggung jawab atas pengamanan instalasi ini?!" suara Arlan mulai meninggi, "Naga"-nya kembali bangun. "Kalian mau membunuh orang, hah?!"

​Saat Arlan mulai memaki tim perlengkapan, Adelia justru naik ke atas tangga lipat di dekat sana dengan sebuah pengait cadangan.

​"Adelia! Turun! Itu berbahaya!" bentak Arlan, kali ini suaranya penuh kekhawatiran yang nyata.

​"Kalau tidak segera dikunci, lampunya akan jatuh ke kamera utama, Pak! Biayanya lebih mahal dari nyawa tangga ini!" sahut Adelia sambil berusaha mengaitkan kabel sling yang lepas.

​Arlan tidak tinggal diam. Ia berlari ke bawah tangga, memeganginya dengan kuat agar tidak goyang. "Cepat, Adel! Jangan banyak bicara!"

​Dengan tangan yang gemetar namun cekatan, Adelia berhasil mengunci pengaitnya. Lampu itu kembali stabil. Ia turun dari tangga dengan napas terengah. Begitu kakinya menyentuh lantai, Arlan langsung mencengkeram kedua bahunya.

​"Kamu gila?! Jangan pernah lakukan hal berbahaya seperti itu lagi!" Arlan berteriak tepat di depan wajahnya. Napas pria itu memburu, matanya menunjukkan kemarahan, tapi juga sesuatu yang lain... ketakutan akan kehilangan.

​"Saya hanya ingin menyelamatkan syuting ini, Pak," bisik Adelia.

​Arlan terengah, perlahan cengkeramannya melonggar namun ia tidak melepaskan bahu Adelia. Suasana studio mendadak sunyi. Semua kru melihat bagaimana sang sutradara yang dingin itu tampak begitu protektif terhadap asistennya.

​"Jangan lakukan itu lagi," ulang Arlan, suaranya kini merendah menjadi bisikan parau. "Syuting ini tidak ada artinya kalau kamu terluka."

​Kata-kata itu membuat jantung Adelia berdegup dua kali lebih cepat. Ia bisa melihat butiran keringat di dahi Arlan dan merasakan panas dari telapak tangan pria itu yang merembes ke kemejanya.

​"Ehem," produser lapangan berdehem keras, memecah momen canggung tersebut. "Pak Arlan, tim teknis sudah siap memperbaiki secara permanen."

​Arlan segera melepaskan tangannya, berbalik dengan kaku, dan kembali ke kursinya seolah tidak terjadi apa-apa. "Bagus. Selesaikan dalam lima belas menit. Adelia, ikut saya ke belakang. Kita perlu bicara soal jadwal besok."

​Di ruang belakang yang lebih tenang, Arlan menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya kepada Adelia.

​"Terima kasih, Pak."

​"Soal tadi... kerja bagus," gumam Arlan sambil melihat ke arah lain. "Tapi saya serius, jangan pernah ambil risiko fisik seperti itu. Saya tidak suka berurusan dengan asuransi kecelakaan kerja."

​Adelia tersenyum tipis. Ia tahu itu hanya alasan. "Baik, Pak. Gencatan senjata?"

​Arlan menaikkan sebelah alisnya. "Gencatan senjata?"

​"Iya. Anda berhenti memaki orang secara berlebihan, dan saya berjanji tidak akan melakukan hal berbahaya lagi. Bagaimana?" Adelia mengulurkan tangan kecilnya.

​Arlan menatap tangan itu, lalu menatap wajah Adelia yang tampak penuh harap. Sebuah senyum tipis—kali ini benar-benar senyum—muncul di wajah sang sutradara. Ia menjabat tangan Adelia. Tangannya yang besar dan hangat membungkus tangan Adelia dengan sempurna.

​"Deal. Tapi kopi saya tetap harus 80 derajat."

​"Siap, Bos," jawab Adelia riang.

​Untuk pertama kalinya dalam sejarah Studio 4, mereka menyelesaikan syuting lebih awal tanpa ada satu pun orang yang menangis karena dimarahi. Namun, di balik keberhasilan itu, Adelia tidak menyadari bahwa seseorang sedang memotret momen mereka bersalaman tadi dari balik tirai, siap untuk memicu badai yang lebih besar.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!