Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 ~ Hamil Setelah Bercerai
Pagi hari Marvin benar-benar dibuat bingung dengan dirinya sendiri. Selalu mual dan muntah yang tidak tertahankan. Merasa tubuhnya mulai lemah, bahkan rasa lemas yang tidak bisa di tahan lagi. Ini adalah pertama kalinya dia mengalami hal seperti ini. Marvin adalah pria yang jarang sekali sakit, apalagi sampai merasa lemas seperti ini. Karena dia selalu rajin minum vitamin dan berolahraga, membuat tubuhnya selalu terasa vit. Tapi sekarang, dia benar-benar tumbang, bahkan harus dipasang infus meskipun di rumah dan tidak dibawa ke rumah sakit.
"Tuan tanda tangan saja berkas ini, nanti biar saya yang menghadiri rapat bersama Tuan Besar"
Marvin hanya menghembuskan napas kasar saat dirinya benar-benar dibuat tidak nyaman dengan keadaan ini. Tidak seperti biasanya dia sampai seperti ini. "Yudist, kapan infusan ini di lepas? Aku sudah tidak nyaman berada di tempat tidur terus menerus"
"Karena Tuan sama sekali tidak masuk makan apapun, maka harus di infus dulu. Nanti akan datang Dokter untuk memeriksa Tuan lagi"
"Lalu Dokter mengatakan apa yang terjadi padaku?"
Yudist menggeleng pelan. "Dokter hanya bicara kalau Tuan mungkin terlalu kelelahan saja. Tidak ada penyakit yang serius"
Marvin mengerutkan keningnya bingung, keadaannya sudah merasa sangat parah. Tapi Dokter masih saja mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Setelah asistennya pergi, Marvin terdiam dengan pikiran yang merenung. Mengingat kembali ucapan Andreas beberapa waktu lalu.
"Apa mungkin yang di ucapkan oleh Andreas adalah benar ya? Apa Raina hamil, dan aku yang merasakan ngidamnya? Aku akan menemuinya di rumahnya nanti setelah kondisiku membaik"
Marvin sudah kepikiran tentang itu sejak Andreas pernah mengatakannya. Namun dia masih berpikir jika hal itu cukup mustahil terjadi, namun jika benar apa yang diucapkan Andreas waktu itu, kenapa Raina juga tidak memberitahunya tentang kehamilan itu?
Pikiran Marvin yang dipenuhi tanda tanya, sangat bingung dengan apa yang terjadi. Memikirkan kondisi tubuhnya dan beberapa hal yang membuatnya semakin bingung dengan keadaan ini.
*
Wahyu datang pagi-pagi sekali ke rumah Raina, dia mengabarkan jika Raina sudah diterima kerja di Perusahaannya. Sebelum kejadian pingsan kemarin, Raina sudah selesai melakukan wawancara kerja.
"Jadi kapan saya bisa memulai kerja?"
"Hari senin"
Raina hanya mengangguk, melihat nada bicara Wahyu yang masih kesal seperti sebelumnya. "Kang, maaf karena sudah membuat kecewa. Mungkin saya memang belum berani bercerita apapun, tapi percayalah kehamilan ini bukan karena hamil tanpa menikah"
"Jadi kamu sudah menikah?"
Raina mengangguk pelan, tidak mungkin dia terus menyembunyikan statusnya yang sebenarnya. "Ya, saya pernah menikah. Tapi pernikahan itu sangat singkat dan berakhir. Saya baru bercerai dengan suami, dan sekarang baru mengetahui jika saya sedang hamil anaknya"
Wahyu cukup terkejut mendengar cerita Raina, meski tidak semuanya Raina ceritakan padanya. Tentang perlakuan Marvin, pengantin pengganti, dan Amira Kakaknya yang meninggal, tentu Raina tidak menceritakan sampai sedetail itu. Dia hanya menjabarkan sedikit saja.
"Dan sekarang, apa kamu akan memberitahunya tentang kehamilan ini?"
Raina langsung menggeleng, tentu dia tidak akan memberitahu tentang kehamilan ini. Karena Marvin belum tentu menerima kehadiran anak ini. "Diantara saya dan dia sudah berakhir. Jadi kalau sekarang saya diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk mendapatkan seorang anak setelah perceraian, maka saya hanya akan merawat anak ini seorang diri, Kang. Saya yang akan membesarkannya"
Wahyu hanya menghela napas, dia juga tidak bisa memaksa Raina. "Baiklah, saya menghargai keputusan kamu. Kalau ada apa-apa kamu bisa bicara pada saya"
"Iya Kang, terima kasih"
Meski kehidupan selanjutnya tidak akan baik-baik saja. Tapi sepertinya Raina akan lebih meyakinkan diri sendiri untuk lebih baik. Dia banyak berharap kehadiran seorang anak akan membuatnya lebih kuat lagi.
"Kalau begitu saya pergi dulu, Neng. Mau berangkat kerja, nanti senin berangkat bareng saya saja"
"Iya Kang, terima kasih banyak"
Raina duduk bersandar di sofa, sekarang tangannya selalu refleks mengelus perut setelah dia tahu jika ada calon bayi dalam rahimnya. Raina menatap foto di atas nakas, foto yang selalu dia pajang dan dia bawa kemanapun dia tinggal.
"Kak, aku akan menjadi seorang Ibu. Seandainya Kakak masih ada, mungkin Kak Amira duluan yang akan menjadi seorang Ibu. Bukan aku"
Rindunya terlalu besar pada sosok Amira yang selalu menjadi pelindung baginya. Air mata tidak sengaja lolos, Raina langsung mengusapnya kasar. "Aku akan merawat anak ini dengan penuh kasih sayang. Doakan aku akan selalu kuat ya Kak"
Tidak akan sekalipun Raina berpikir untuk meninggalkan anaknya seperti yang dilakukan Ibunya dulu. Meski Raina masih yakin jika Bunda melakukannya hanya demi kebaikan Raina. Tapi sekarang, Raina yang malah tersiksa berada dalam keluarga yang membencinya.
"Apa Mama sudah kembali pulih? Aku harap Mama kembali sehat, meski aku tahu dia akan terus kepikiran tentang Kak Amira"
Raina tidak marah pada Mama, tidak juga membenci Papa. Dia selalu sadar jika yang salah hanya dirinya yang hadir tanpa di inginkan. Dirinya yang hadir mengacaukan satu keluarga. Dan sekarang, Raina memilih menjauh dari mereka yang tersakiti karena kehadirannya.
Kehamilan yang dia jalani bahkan sangat ringat, Raina tidak mengalami mual muntah seperti kebanyakan. Semuanya berjalan lancar, bahkan bisa memakan apa saja yang dia inginkan.
"Anak kamu begitu baik ya Neng, melihat kamu hamil tapi tidak mual makan apapun. Ibu dulu kalau hamil pasti akan merasa sangat mual setiap mencium aroma menyengat" ucap Ibu.
"Iya Bu, anak ini memang baik sekali. Tidak mau menyusahkan Ibunya"
*
"Kau seperti hampir mati sekarang? Sudah hampir satu bulan dan kau masih seperti ini" ucap Bayu yang datang menemui Marvin di rumahnya.
"Entahlah, bahkan sampai sekarang masih sering mual dan muntah. Makan apapun selalu salah"
Andreas yang duduk di sofa samping Bayu, menatap Marvin yang masih terlihat lemas dengan wajah pucat. "Kau benar-benar seperti orang hamil, Vin. Apa kamu tidak ingin mencari tahu? Siapa tahu memang benar jika Raina hamil setelah kau ceraikan"
"Ya, aku sudah pergi ke rumahnya, tapi belum bertemu. Karena saat itu Mamanya masih di rawat di rumah sakit. Jadi tidak bertemu siapapun"
"Sebaiknya memang kau pastikan saja, takutnya memang Raina hamil tanpa dia sadari dan kamu yang ngidamnya" ucap Andreas.
Bayu tertawa kecil, merasa lucu jika mendengar ucapan Andreas yang seperti ini. Tapi, memang kenyataannya ada yang menjalani kehamilan simpatik itu. Tidak ingin percaya, tapi memang ada yang terjadi seperti itu.
"Aku jadi ingin tertawa melihatmu yang lemah seperti ini, Vin. Hampir seperti mayat hidup. Haha"
"Diam kau Bay!"
Bersambung
Pliss jangan pada nabung bab ya. Beberapa hari gue diem gak reog, kalo masih pada nabung bab, gue sleding beneran.