NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulau Tanpa Signal

Setelah insiden "Calamari Terbang" dan "Tragedi Kue Stroberi" yang menghiasi hari-hari mereka, Arga Wiratama sampai pada satu kesimpulan audit yang final yaitu Lingkungan sosial mereka saat ini sudah terkontaminasi oleh limbah beracun bernama mantan.

"Nara, kemasi barang-harangmu. Kita harus melakukan evakuasi aset," ujar Arga dengan nada bicara seperti agen rahasia yang sedang diburu intelijen negara.

Nara yang sedang asyik mencoba memakai masker wajah rasa cokelat yang membuatnya terlihat seperti habis masuk ke dalam lumpur lapindo menoleh kaget.

"Evakuasi ke mana, Ga? Ke rumah kontrakan biar nggak dicari Dinda? Atau kita mau pindah ke bunker bawah tanah?"

Arga menarik koper besar dari dalam lemari.

"Tidak... Kita akan pergi ke sebuah pulau pribadi milik keluarga di Kepulauan Seribu. Di sana tidak ada sinyal seluler, tidak ada internet, dan yang paling penting... tidak ada Raka ataupun Dinda dalam radius puluhan kilometer."

Nara melompat kegirangan, membuat sisa masker cokelatnya terciprat ke piyama Arga.

"ASYIK! Liburan gratis! Tapi Ga, di sana ada tukang seblak nggak? Kalau nggak ada sinyal, gimana aku bisa pesan ojek online kalau lapar tengah malam?"

Arga mengusap cipratan cokelat di kemejanya dengan wajah datar.

"Saya sudah menyetok semua kebutuhan kalori kamu untuk tujuh hari. Termasuk bumbu kencur instan yang kamu sebut nyawa seblak itu. Sekarang, cepat berkemas sebelum Dinda mendadak muncul di depan pintu membawa proposal audit baru."

Mereka berangkat menggunakan kapal speed boat pribadi. Nara berdiri di dek depan dengan gaya ala film Titanic, bedanya dia tidak merentangkan tangan dengan anggun, melainkan sibuk memegangi topi pantainya yang hampir terbang sambil mengunyah keripik pedas.

"Ga! Lihat! Airnya biru banget kayak warna mata uang lima puluh ribuan!" seru Nara norak.

Arga berdiri di belakangnya, memegangi pinggang Nara agar istrinya tidak terjun bebas ke laut karena terlalu bersemangat.

"Nara, jaga titik gravitasi kamu. Saya tidak mau harus melakukan prosedur penyelamatan air di tengah laut."

"Tenang aja, Ga! Aku kan ubur-ubur, kalau nyemplung ya tinggal berenang!"

Begitu sampai di pulau, Nara terpana. Sebuah vila kayu yang mewah berdiri di pinggir pantai pasir putih. Arga benar-benar serius di sini sunyi. Hanya ada suara ombak dan burung-burung, bukan suara melengking Ibu Widya atau sindiran tajam Dinda.

"Oke, Nara. Prosedur pertama, Kumpulkan semua alat komunikasi," perintah Arga sambil menyodorkan sebuah kotak kecil.

Nara menatap ponselnya dengan berat hati.

"Aduh, ponselku... kita harus berpisah sementara. Jangan kangen ya, nanti aku nggak bisa lihat video kucing lucu di TikTok."

Arga mengambil ponsel Nara dan miliknya sendiri, lalu menguncinya di dalam brankas vila.

"Audit dimulai sekarang. Selama seminggu ke depan, satu-satunya interaksi sosial yang diizinkan hanyalah antara kamu dan saya. Tidak ada notifikasi, tidak ada interupsi."

Malam pertama di pulau, Nara memutuskan untuk memasak makan malam romantis. Namun, romantis versi Nara selalu berujung pada kekacauan komedi. Karena tidak ada kompor gas otomatis seperti di apartemen, Nara harus menggunakan kompor listrik yang pengaturannya agak membingungkan.

"Ga! Tolong! Ini kenapa ikannya malah nari-nari di atas penggorengan tapi nggak mateng-mateng?!" teriak Nara dari dapur.

Arga menghampiri, masih memakai kaos santai yang membuat otot lengannya terlihat lebih santai dan lebih menggoda bagi Nara. Ia melihat Nara sedang memegang spatula seperti sedang memegang pedang perang.

"Nara, kamu menekan tombol Keep Warm, bukan High Heat. Secara logika, ikan itu hanya akan merasa hangat seperti sedang spa, bukan matang untuk dimakan," ujar Arga sambil memutar kenop kompor.

"Ya habisnya tombolnya pakai bahasa simbol semua! Aku kan bukan ahli kode morse!"

Nara cemberut, lalu memeluk pinggang Arga dari samping.

"Lagian, kan ada kamu. Auditor serba bisa. Bisa audit angka, bisa audit ikan."

Arga menarik napas panjang, mencoba menahan senyum. Ia mengambil alih spatula itu.

"Duduklah... Biar saya yang melakukan eksekusi pada protein ini. Kamu bertugas melakukan audit pada kualitas nasi saja."

Nara duduk di atas konter dapur, memperhatikan suaminya yang sangat cekatan.

"Ga, kalau kita selamanya di sini gimana? Kamu nggak kangen sama laporan tahunan kamu yang setumpuk itu?"

Arga menoleh sebentar, menatap mata Nara dengan intensitas yang membuat suhu ruangan terasa naik dua derajat.

"Laporan itu bisa digantikan. Tapi sumber motivasi saya yang satu ini... tidak punya cadangannya di dunia manapun."

Nara tersipu.

"Duh, Pak Audit kalau nggak ada sinyal malah makin jago ya gombalnya. Kayaknya sinyal itu selama ini menghambat kreativitas cinta kamu ya?"

Tengah malam, saat suara angin laut berhembus kencang, Nara tiba-tiba terbangun. Ia mendengar suara krasak-krusuk dari arah beranda. Pikirannya yang sering terpapar film horor langsung bekerja secara liar.

"Ga... Ga... bangun!"

Nara mengguncang-guncangkan bahu Arga dengan brutal.

Arga terbangun dengan sigap.

"Ada apa? Ada intrusi ilegal? Dinda datang naik jet ski?"

"Bukan! Ada suara di luar! Kayaknya itu hantu penghuni pulau yang mau minta upeti seblak!" bisik Nara ketakutan sambil bersembunyi di balik punggung Arga.

Arga mendesah. Ia mengambil senter besar dan melangkah menuju beranda, diikuti Nara yang memegangi kaos belakang Arga erat-erat sampai kaos itu melar. Begitu lampu senter dinyalakan, terlihatlah seekor kepiting besar yang sedang mencoba menjepit sandal jepit milik Nara.

"Itu hantunya, Nara," ujar Arga datar.

"Seekor kepiting yang sedang melakukan audit pada kualitas karet sandal kamu."

Nara bengong, lalu tertawa malu.

"Hehe... habisnya gede banget! Aku kira itu jempolnya buto ijo."

Arga mematikan senter, berbalik menghadap Nara dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya bulan.

"Kamu tahu? Dalam kegelapan seperti ini, sensor rasa takut kamu memang tinggi, tapi sensor keimutan kamu jadi naik tiga ratus persen."

Nara mendongak.

"Masa sih? Berarti aku harus sering-sering ketakutan biar kamu puji terus?"

Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menggendong Nara kembali ke tempat tidur.

"Tidak perlu takut. Selama saya ada dalam radius nol meter dari kamu, tidak ada hantu atau mantan yang diizinkan mendekat."

Malam itu, di pulau yang sunyi, tidak ada lagi kecanggungan. Di atas ranjang kayu yang besar dengan kelambu putih yang tertiup angin laut, Nara menyandarkan kepalanya di dada Arga yang bidang. Ia mendengarkan detak jantung suaminya yang terasa sangat menenangkan, ritme yang jauh lebih ia sukai daripada suara kalkulator manapun di dunia.

"Ga, makasih ya udah bawa aku ke sini. Aku beneran stres kemarin lihat Dinda dan Raka yang kayak tim sukses pemilu, kampanye terus di depan kita," ujar Nara pelan.

Tangannya yang mungil mulai iseng menggambar pola abstrak di kulit perut Arga yang keras.

Arga mengusap rambut Nara yang halus, lalu jemarinya turun menyelip di antara tengkuk Nara, menariknya sedikit lebih dekat hingga pucuk hidung mereka bersentuhan.

"Saya hanya ingin memastikan bahwa kepemilikan saya atas kamu tidak terganggu oleh klaim-klaim palsu dari masa lalu. Kamu adalah aset tetap saya, Nara. Bukan aset lancar yang bisa berpindah tangan dengan mudah."

Nara tersenyum, lalu mencubit perut Arga pelan hingga pria itu sedikit meringis.

"Aset tetap ya? Berarti nilai aku nggak akan turun dong walaupun aku makin tua dan makin hobi makan seblak sampai pipiku tumpeh-tumpeh?"

Arga terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dada yang menjadi bantalan kepala Nara. Ia membalikkan posisi, kini menumpu tubuhnya di atas Nara dengan kedua sikutnya, mengurung wanita itu dalam tatapan yang sangat intens.

"Secara akuntansi, ada yang namanya apresiasi nilai untuk aset yang unik. Dan kamu... adalah satu-satunya aset yang nilainya bertambah seiring dengan banyaknya kekonyolan yang kamu buat," bisik Arga.

"Duh, jago banget ya sekarang ngerayu pakai istilah kantor," goda Nara, meskipun jantungnya sudah melakukan marawis.

"Tapi Ga, kalau asetnya lagi manja begini, prosedur auditnya gimana?"

Arga menunduk, mencium daun telinga Nara hingga membuat bulu kuduk Nara meremang.

"Prosedurnya adalah... pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Tanpa ada data yang disembunyikan."

Nara tertawa kecil, tangannya kini melingkar erat di leher Arga, menarik kepala suaminya agar semakin mendekat.

"Oke, Pak Auditor. Tapi jangan komplain ya kalau hasil auditnya menunjukkan kalau aku... beneran sayang banget sama kamu."

"Data itu sudah tervalidasi semalam, Nara," bisik Arga tepat di depan bibir Nara.

"Tapi saya tidak keberatan untuk melakukan verifikasi ulang... berkali-kali."

Arga kemudian mencium bibir Nara dengan lembut, sebuah ciuman yang awalnya pelan namun perlahan berubah menjadi tuntutan yang dalam dan penuh gairah. Di bawah sinar rembulan yang menembus celah jendela vila, pulau itu menjadi saksi bahwa di dunia tanpa sinyal ini, frekuensi hati mereka akhirnya berada di gelombang yang sama

Pagi harinya, Arga terbangun dan tidak menemukan Nara di sampingnya. Ia panik sesaat, berpikir Nara diculik oleh bajak laut atau nekat berenang ke Jakarta demi mencari ojek online.

Ia berlari ke arah pantai dan menemukan Nara sedang sibuk menggambar sesuatu di atas pasir putih dengan ranting pohon.

"Nara! Apa yang kamu lakukan pagi-pagi begini?"

Nara menoleh dengan wajah ceria.

"Lihat, Ga! Aku lagi bikin diagram alur cinta kita! Ini dimulai dari nikah paksa, terus lewat jalan tikus cemburu, dan akhirnya bermuara di pulau ini!"

Arga melihat gambar di pasir itu. Bentuknya lebih mirip benang kusut daripada diagram alur profesional. Namun, di tengah-tengah benang kusut itu, Nara menggambar sebuah hati yang besar dengan tulisan,

"ARGA + NARA \= AUDIT CINTA HARGA MATI".

Arga tersenyum, senyum paling tulus yang pernah ia miliki. Ia menghampiri Nara, mengambil ranting itu, dan menambahkan satu garis lagi di bawah tulisan Nara.

"STATUS: SURPLUS KEBAHAGIAAN."

Nara tertawa dan langsung menubruk Arga, membuat mereka berdua jatuh ke atas pasir putih yang halus.

"Tapi Ga, satu hal yang kurang di pulau ini," ujar Nara sambil membersihkan pasir di hidung Arga.

"Apa?"

"Nggak ada sinyal berarti aku nggak bisa pamer foto liburan ini ke Dinda dan Clarissa! Kan sayang banget gaya estetik aku nggak ada yang lihat!"

Arga tertawa lepas, lalu menggendong Nara menuju air laut.

"Biarkan saja. Kebahagiaan kita tidak butuh verifikasi dari audiens luar. Cukup saya yang jadi saksi tunggal betapa cantiknya istri saya saat sedang tidak memakai ponsel."

1
Stroberi 🍓
Ampun dah, mulut nyeblak nara 😂
Stroberi 🍓
Wkwk lucukk 🤣
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!