Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Saat Mereka Merasa Aman
Hujan turun pelan di luar jendela rumah utama keluarga Valen. Bunyi rintiknya lembut, nyaris menenangkan. Elena duduk di kursi dekat jendela, mengenakan gaun abu-abu sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai, wajahnya pucat, mata tertutup kain tipis—topeng yang masih ia pertahankan dengan sempurna.
Marcus mengira ia aman malam ini.
Itulah kesalahan pertamanya.
“Aku akan pulang agak malam,” ujar Marcus sambil merapikan manset jasnya. Nadanya ringan, hampir ramah. “Ada rapat mendadak.”
Elena mengangguk kecil, jari-jarinya meremas ujung gaun. Gerakannya tampak rapuh bagi siapa pun yang melihat. “Hati-hati di jalan,” ucapnya pelan.
Marcus tersenyum. Senyum puas seseorang yang yakin telah menguasai segalanya.
Pintu tertutup. Suara langkahnya menghilang. Rumah kembali sunyi.
Namun Elena tidak bergerak.
Ia menghitung dalam hati. Sepuluh detik. Dua puluh. Tiga puluh.
Barulah ia berdiri, melepas kain penutup matanya, dan menatap lurus ke arah pintu dengan pandangan jernih—tajam—sadar sepenuhnya.
Tidak ada keraguan di sana. Tidak ada kebingungan. Hanya ketenangan seorang pemburu yang tahu mangsanya sudah mulai lengah.
Elena melangkah ke ruang kerja kecil yang selama ini dianggap Marcus tak penting. Di balik rak buku tua, ia membuka panel rahasia yang baru beberapa hari lalu ia temukan—hasil mendengar percakapan Marcus dan Selene yang mengira ia tak mungkin memahami apa pun.
Flashdisk hitam itu masih ada di sana.
“Bodoh,” gumam Elena lirih.
Ia menyimpannya ke dalam saku, lalu menyalakan laptop. Layar menyala, memantulkan wajahnya sendiri—dingin, dewasa, tak lagi wanita yang sama seperti sebelum kecelakaan.
Satu per satu file terbuka. Transfer dana. Kontrak gelap. Nama-nama perusahaan cangkang. Dan di sana—tanda tangan Marcus. Juga Selene.
Elena menarik napas perlahan. Bukan marah. Bukan terkejut.
Leganya seperti menemukan peta yang selama ini dicari.
*******
Di tempat lain, Adrian Lucien berdiri di balkon apartemennya, menatap lampu kota. Ponselnya bergetar satu kali. Pesan masuk.
Elena: Aku sudah punya bukti.
Adrian tak langsung membalas. Sudut bibirnya terangkat tipis. Ia tahu hari ini akan datang. Hanya saja, kecepatan Elena melampaui perkiraannya.
Adrian: Jangan bergerak terlalu cepat.
Balasan datang hampir seketika.
Elena: Aku tidak bergerak. Aku menunggu.
Adrian menatap layar cukup lama. Ia mengenal banyak wanita kuat. Namun Elena berbeda. Ia tidak terburu-buru. Tidak emosional. Ia memilih waktu seperti seorang algojo memilih detik jatuhnya kapak.
*******
Keesokan paginya, Selene datang berkunjung. Senyumnya manis, suaranya lembut.
“Elena, aku bawakan sup. Kamu kelihatan pucat kemarin.”
Elena tersenyum samar. “Terima kasih. Kamu selalu perhatian.”
Selene duduk di seberangnya. Matanya berkilat—menilai, mengukur. Ia yakin Elena masih buta. Masih lemah. Masih mudah dipermainkan.
“Elena,” Selene mencondongkan tubuh, “Marcus sangat mencemaskanmu. Kamu beruntung punya tunangan sebaik dia.”
Elena menunduk, seolah malu. Namun di balik bulu matanya, ia melihat jelas setiap ekspresi Selene. Setiap kedipan gugup yang tersembunyi.
“Benarkah?” tanya Elena pelan.
Selene mengangguk cepat.
Elena tersenyum lebih lebar kali ini. Senyum yang tidak disadari Selene… adalah awal dari kehancuran.
Karena saat mereka merasa aman—
Elena mulai menutup semua jalan keluar.
Dan kali ini, ia tidak akan berhenti.
Elena menatap cangkir sup di depannya tanpa menyentuhnya. Uap hangat naik perlahan, seperti rahasia yang sebentar lagi akan terungkap. Dalam hatinya, ia tersenyum dingin. Bukan karena rencana telah sempurna—melainkan karena tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari, permainan sudah berbalik arah sejak lama.
Jika mereka mengira Elena hanya menunggu… tunggulah bab selanjutnya.
********
Terima kasih sudah menunggu. Bab selanjutnya segera tayang..
...BERSAMBUNG...