Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 - Teman Lama
"Astrid? Ini kau?" ujar Rangga. Sosok perempuan di depannya sekarang adalah teman lama yang sudah lama tidak dirinya temui. Astrid dan Rangga bahkan pernah berpacaran saat SMA. Ya, bisa dibilang Astrid bukan sekedar teman lama biasa, tapi juga mantan.
Rangga terpana sejenak saat melihat Astrid. Perempuan itu sekarang berambut panjang, sedangkan kecantikannya tidak pernah memudar. Astrid memang diketahui sudah cantik sejak dulu.
Sama halnya seperti Rangga, Astrid juga terpana. Rangga terlihat sangat gagah dengan seragam polisinya.
Waktu seolah berhenti untuk keduanya. Mereka saling terdiam dalam sesaat. Orang pertama yang sadar adalah Rangga. Lelaki itu berucap, "Ngapain kau ke sini? Nggak ada hal buruk yang terjadi kan?"
Astrid tak menjawab. Dia malah berjalan ke hadapan Rangga, lalu memegang wajah lelaki tersebut.
"Ini benar-benar kau, Ga?" timpal Astrid sembari menarik-narik dan menekan wajah Rangga.
"Iya ini aku. Perlukah kau melakukan ini pada wajahku?" tanggap Rangga.
"Jadi ini benar kau?! Astaga... Ini sulit dipercaya. Sudah lama sekali. Makanya aku nggak mau langsung percaya," ujar Astrid yang langsung melepas wajah Rangga. Lalu tersenyum dengan mata berbinar.
"Emangnya kau sering berhalusinasi tentangku?" tukas Rangga.
"Mungkin... Kadang aku mengira orang lain adalah kau. Saat didekati, kebanyakan zonk. Sampai akhirnya sekarang, ini kau beneran," jelas Astrid.
Rangga balas tersenyum. "Oke. Sebaiknya kau duduk dulu, dan beritahu aku alasan kedatanganmu ke sini. Ada sesuatu yang mau dilaporkan?" tanyanya sembari duduk.
Astrid segera ikut duduk. "Gara-gara kau, aku hampir saja melupakan tujuanku datang ke sini," ungkapnya.
"Jadi apa yang terjadi?"
"Akhir-akhir ini aku merasa tidak aman. Bahkan saat di apartemenku sendiri. Aku merasa ada yang selalu mengikuti. Awalnya aku mengabaikan semua perasaan itu. Sampai saat aku pulang tadi sore ke rumah, keadaan apartemenku berantakan. Jelas ada seseorang yang menerobos masuk ke sana." Astrid menjelaskan panjang lebar.
"Apa kau sudah memastikan kalau tak ada orang terdekat yang mampir ke apartemenmu? Misalnya ibumu atau teman gitu?"
Astrid menggeleng. "Nggak ada. Aku nggak punya teman. Kau tahu itu. Sedangkan keluarga... Kau tahu aku tidak dekat dengan keluargaku," ungkapnya.
Rangga sama sekali tidak heran. Astrid yang dia kenal memang selalu menyendiri, punya orang tua yang bercerai dan selalu blak-blakan. Rangga tampak fokus sekarang karena masalah yang dihadapi Astrid sepertinya serius.
"Apa kau sudah memeriksa rekaman CCTV?" tanya Rangga.
"Itulah masalahnya. CCTV di lantai 5 rusak baru-baru ini. Jadi aku tidak bisa mengetahui pelakunya," jawab Astrid.
"Apa kau punya seseorang yang dicurigai?"
"Ada sih..." Astrid mengangguk.
"Berapa orang?"
"Dua. Satu rekan kerjaku dan yang satunya lagi tetangga."
"Kenapa kau mencurigai mereka?"
Bukannya menjawab, Astrid malah memecahkan tawa. "Kau sekarang tambah keren ya, Ga. Bikin aku nggak bisa move on tahu!" pungkasnya. Ternyata sosok Rangga membuatnya gagal fokus.
"Kau masih bisa bercanda saat sedang dapat masalah besar seperti ini?" tanggap Rangga serius.
"Kan ada kamu. Aku yakin kau bisa membantuku. Aku mengandalkanmu," sahut Astrid sambil menopang dagunya.
"Hei, Astrid! Aku sekarang meragukanmu." Rangga melipat tangannya ke depan dada.
"Kalau aku mati terbunuh di apartemenku gara-gara penguntit ini. Maka kau akan jadi salah satu penyebabnya," balas Astrid.
"Kau benar-benar nggak berubah," komentar Rangga.
"Kau juga!" Astrid tersenyum tipis.
Bersamaan dengan itu, Beben datang. Atensinya langsung tertuju ke arah Astrid. Dia seketika terpesona pada kecantikan cewek itu.
"Siapa ya? Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanyanya sambil mendekat. Dia mendorong Rangga menjauh dan merebut tempat temannya itu.
"Ben!" protes Rangga tak terima.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄