NovelToon NovelToon
Hot Policeman

Hot Policeman

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Tamat
Popularitas:479.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Desau

Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.

Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 - Teman Lama

"Astrid? Ini kau?" ujar Rangga dengan nada tidak percaya.

Sosok perempuan yang berdiri di hadapannya sekarang memang seseorang yang sangat dikenalnya. Bahkan jauh lebih dari sekadar teman lama. Astrid adalah mantan kekasihnya saat SMA. Mereka pernah menghabiskan banyak waktu bersama pada masa remaja, sebelum akhirnya jalan hidup membawa mereka ke arah yang berbeda.

Selama beberapa detik Rangga hanya bisa menatap perempuan itu tanpa berkedip. Rasanya seperti melihat seseorang yang muncul kembali dari masa lalu. Seseorang yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya, tetapi juga tidak pernah lagi hadir dalam kehidupannya selama bertahun-tahun.

Astrid juga tampak tidak kalah terkejut. Perempuan itu kini berambut panjang hingga melewati bahunya. Penampilannya jauh lebih dewasa dibanding terakhir kali Rangga melihatnya. Namun satu hal yang tidak berubah adalah kecantikannya. Sejak dulu Astrid memang dikenal cantik. Bahkan ketika masih mengenakan seragam putih abu-abu, banyak siswa laki-laki diam-diam mengaguminya. Kini kecantikan itu justru terlihat semakin matang.

Sementara itu, Astrid juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Rangga. Dalam ingatannya, Rangga masihlah remaja kurus yang sering berlari di lapangan sekolah sambil membawa tas lusuh. Namun lelaki yang berdiri di hadapannya sekarang terlihat berbeda.

Seragam polisi yang dikenakan Rangga membuat sosoknya tampak jauh lebih gagah dan berwibawa. Tubuhnya juga lebih tegap dibanding masa sekolah dulu.

Untuk sesaat waktu seakan berhenti. Mereka hanya saling memandang tanpa berkata apa-apa. Kenangan masa lalu berkelebat di benak masing-masing.

Orang pertama yang berhasil sadar dari keterkejutan itu adalah Rangga. Dia berdeham pelan sebelum berkata, "Ngapain kau ke sini? Nggak ada hal buruk yang terjadi kan?"

Astrid tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia justru berjalan mendekati Rangga. Langkahnya perlahan. Tatapannya tidak lepas dari wajah lelaki itu.

Rangga mengernyit bingung ketika Astrid tiba-tiba berdiri tepat di depannya. Sebelum dia sempat bertanya, kedua tangan Astrid sudah terangkat dan memegang wajahnya.

"Ini benar-benar kau, Ga?" tanya Astrid.

Belum selesai sampai di situ, dia bahkan menarik pipi Rangga dan menekan-nekan wajahnya seperti sedang memastikan sesuatu.

Rangga langsung menghela napas panjang. "Iya ini aku. Perlukah kau melakukan ini pada wajahku?"

Astrid tidak langsung menjawab. Dia masih memperhatikan wajah Rangga dari dekat. Beberapa detik kemudian barulah dia melepaskan pegangannya.

"Jadi ini benar kau?! Astaga... Ini sulit dipercaya. Sudah lama sekali. Makanya aku nggak mau langsung percaya."

Wajah Astrid langsung dipenuhi senyum lebar. Matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru menemukan sesuatu yang selama ini hilang.

Melihat reaksi itu, Rangga malah tertawa kecil. "Emangnya kau sering berhalusinasi tentangku?"

Astrid mengangkat bahu. "Mungkin. Kadang aku mengira orang lain adalah kau. Saat didekati, kebanyakan zonk. Sampai akhirnya sekarang, ini kau beneran."

Rangga tidak bisa menahan senyumnya. Meski sudah bertahun-tahun tidak bertemu, cara bicara Astrid ternyata masih sama. Tetap blak-blakan, spontan, dan sering membuat orang kebingungan.

"Oke. Sebaiknya kau duduk dulu, dan beritahu aku alasan kedatanganmu ke sini. Ada sesuatu yang mau dilaporkan?" tanya Rangga sambil menarik kursi.

Astrid segera duduk di hadapannya. Baru setelah duduk dia terlihat mengusap dahinya.."Gara-gara kau, aku hampir saja melupakan tujuanku datang ke sini."

"Jadi apa yang terjadi?" tukas Rangga

Senyum di wajah Astrid perlahan menghilang. Ekspresinya berubah lebih serius. "Akhir-akhir ini aku merasa tidak aman. Bahkan saat di apartemenku sendiri."

Rangga langsung memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Aku merasa ada Yang selalu mengikuti. Awalnya aku mengabaikan semua perasaan itu. Kupikir cuma perasaanku saja. Tapi lama-lama semakin aneh." Astrid melanjutkan.

"Seaneh apa?" tanya Rangga.

Astrid menarik napas panjang. "Kadang saat pulang kerja aku melihat orang yang sama berada di tempat berbeda. Pernah juga aku merasa ada yang memperhatikanku saat naik lift. Tapi ketika aku menoleh, nggak ada siapa-siapa."

Rangga mulai mencatat beberapa poin penting di pikirannya. "Lalu?"

"Sampai saat aku pulang tadi sore ke rumah, keadaan apartemenku berantakan. Jelas ada seseorang yang menerobos masuk ke sana."

Mata Rangga langsung menyipit. Kalimat itu membuat situasi berubah dari dugaan menjadi kemungkinan tindak pidana.

"Apa ada barang yang hilang?"

Astrid menggeleng. "Itu yang membuatku bingung. Hampir nggak ada yang hilang."

"Jadi tujuan orang itu bukan mencuri."

"Sepertinya begitu."

Rangga bersandar di kursinya. Kasus seperti ini cukup rumit. Apalagi jika pelaku memang sengaja masuk tanpa mengambil barang apa pun.

"Apa kau sudah memastikan kalau tak ada orang terdekat yang mampir ke apartemenmu? Misalnya ibumu atau teman gitu?"

Astrid langsung menggeleng. "Nggak ada. Aku nggak punya teman. Kau tahu itu. Sedangkan keluarga... Kau tahu aku tidak dekat dengan keluargaku."

Rangga tidak merasa heran. Astrid memang seperti itu sejak dulu. Dia lebih suka menyendiri. Hubungannya dengan kedua orang tuanya juga tidak pernah harmonis sejak mereka bercerai. Karena itulah Astrid jarang bergantung pada siapa pun.

Justru fakta bahwa dia datang ke kantor polisi untuk mencari bantuan menunjukkan bahwa masalah ini benar-benar membuatnya khawatir.

"Apa kau sudah memeriksa rekaman CCTV?" tanya Rangga.

Astrid mengangguk pelan. "Itulah masalahnya. CCTV di lantai lima rusak baru-baru ini. Jadi aku tidak bisa mengetahui pelakunya."

Rangga menghela napas. Kebetulan yang terlalu sempurna sering kali terasa mencurigakan. Jika memang ada seseorang yang menguntit Astrid, kerusakan CCTV bisa jadi bukan kebetulan.

"Apa kau punya seseorang yang dicurigai?"

"Ada sih."

Rangga langsung fokus. "Berapa orang?"

"Dua. Satu rekan kerjaku dan yang satunya lagi tetangga."

"Kenapa kau mencurigai mereka?"

Alih-alih menjawab, Astrid justru tertawa. Tawa itu muncul begitu saja hingga membuat Rangga mengernyit.

"Kau sekarang tambah keren ya, Ga. Bikin aku nggak bisa move on tahu!"

Rangga langsung memijat pelipisnya. Di tengah pembahasan serius seperti ini, Astrid malah berubah arah. "Kau masih bisa bercanda saat sedang dapat masalah besar seperti ini?"

Astrid menopang dagunya di atas meja. Tatapannya tetap mengarah ke Rangga. "Kan ada kamu. Aku yakin kau bisa membantuku. Aku mengandalkanmu."

"Hei, Astrid! Aku sekarang meragukanmu," balas Rangga.

Astrid malah tersenyum semakin lebar. "Kalau aku mati terbunuh di apartemenku gara-gara penguntit ini, maka kau akan jadi salah satu penyebabnya."

Rangga menghela napas panjang. Benar-benar tidak berubah. Dulu pun Astrid sering menggunakan logika aneh seperti itu ketika mereka masih sekolah.

"Kau benar-benar nggak berubah," komentar Rangga.

"Kau juga."

Untuk sesaat suasana menjadi lebih ringan. Meski mereka sudah lama berpisah, percakapan itu terasa mengalir begitu saja. Seolah jarak bertahun-tahun yang memisahkan mereka tidak pernah ada.

Namun momen tersebut tidak berlangsung lama. Pintu kantor tiba-tiba terbuka. Seseorang masuk dengan langkah santai. Orang itu tidak lain adalah Beben. Awalnya dia hanya berniat datang untuk memulai jadwal jaga malamnya bersama Rangga. Tapi langkahnya langsung terhenti ketika melihat seorang perempuan cantik duduk di ruangan itu. Matanya membelalak. Wajahnya berubah seketika.

Perhatian Beben sepenuhnya tertuju kepada Astrid. Sementara Astrid yang menyadari tatapan itu hanya mengangkat sebelah alis.

Beben segera merapikan rambutnya dengan tangan. Lalu berjalan mendekat seolah-olah baru saja menjadi orang paling profesional di kantor polisi.

"Siapa ya? Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanyanya dengan senyum lebar.

Belum sempat Rangga bereaksi, Beben sudah mendorongnya sedikit menjauh dari kursi. Kemudian dengan santainya dia merebut tempat yang sebelumnya ditempati Rangga.

Astrid terlihat menahan tawa melihat tingkah lelaki itu..Sedangkan Rangga langsung membelalakkan mata.

"Ben!" protes Rangga tak terima.

Namun Beben pura-pura tidak mendengar. Fokusnya sekarang hanya satu. Perempuan cantik yang tiba-tiba muncul di kantor mereka malam itu.

1
Ning Suswati
seru banget pengantin baru tp belum malam pertama
Ning Suswati
akhirnya datang juga derita yg selama ini dia buat sendiri, semua demi uang sampai adik dan isteri diterlantarkan demi jabatan, kekuasaan dan uang
Ning Suswati
firza sdh di atas awan jadi mau berbuat apapun sdh pasti, apalagi hanya seorang serangga, kecil bagi firza, namun mereka belum tau ada kelompok yg sdh siap sedia
Ning Suswati
gila kau rangga, gk mikir akan nasib orang2 terdekatnya, terlalu mudah ditebak kalau rangga yg melakukannya
Ning Suswati
jangan sampai rangga dijadikan tumbal oleh manusia bejat swpwrti firza, dan tujuan rangga bisa lancar dan selamat
Ning Suswati
aq ingin firza mendapatkan karma yg sangat pedih, masa enak2an, sekarang yoranya kemana y🤔 apa dia selingkuh juga
Ning Suswati
semoga saja firza tdk jahat dan iri lagi dg adik sendiri, kan sekarang sdh berada di posisi puncak, uang jabatan dan kekuasaan
Oaow Hwhe
dita
Ning Suswati
yg sabar rangga, kakakmu sdh menjadi petinggi di jajarannya, bukan musuh cuma dg adu otot, gk bakalan menang
ferry gamal
rangga dan Astrid
ferry gamal
pelakunya maling
Ning Suswati
baguslah ada pendekar bayangan yg akan mengusut semua kejahatan yg dilakukan oleh oknum aparat
Ning Suswati
issshhh jadi ikutan nyesek pengen nangis, suatu pengorbanan yg sangat besar, bahkan yg melakukannya orang lain, bahkan mantan ipar, bukan saudara atau keluarga
Ning Suswati
nah kena kau kak dita, polisi mau dikibulin
Ning Suswati
makin ribet aja, masalah astrid, dita yg hilang ditelan awan, udah deh rangga jadilan polisi sesuai SOP, gk usah menentang pimpinan, kau bisa masuk polisi karena suap juga, pegorbanan dita jgn sampai sia2, sok2an jadi orang suci
Ning Suswati
jgn2 yg membubuh pak alun adalah selingkuhan isterinya pak alun
Ning Suswati
baguskah, dibalas dg hukun rimba,
Ning Suswati
dasar wanita gk punya moral, main sosor aja
Ning Suswati
kak dita lagi jalan2 kemana y🤔, jgn2 kak dita menjadi isteri kelima t4 nya meminjam uang utk melancarkan rangga lolos diterima jadi polisi, cinta dan pengorbanan
Oppo
lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!