PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Awal kesepakatan
Beberapa hari kemudian di sisi lain.
Aula kristal Grand Hall berkilau seperti istana masa depan. Musik pemain biola melayang lembut, sementara para bangsawan, konglomerat, dan diplomat kelas dunia bergerak seperti arus sutra.
Di antara mereka, William Marculles berdiri menggunakan jas hitam karbon halus, postur tegak, wajah dingin yang tampaknya kebal pada perhatian puluhan mata yang mengincarnya.
Lady Eleanor, ibunya, mendekat sebentar sebelum ke perkumpulan sosialita nya. tangannya menyentuh lengan putranya lembut sembari berbisik, "Cobalah bersikap ramah malam ini. Banyak wanita terpandang yang ingin berkenalan."
William tidak menoleh, suaranya tetap datar. "Aku tidak membutuhkan siapa pun dari sini, Mommy."
Namun Lady Eleanor hanya tersenyum lembut, senyum wanita yang sudah tahu putranya keras kepala, tetapi tetap mencintainya.
Lalu muncullah Lady Seraphine Valemont, putri salah satu keluarga finansial terbesar. Wanita itu melangkah percaya diri menghampiri William sambil menempelkan senyum genit. "Lord William… akhirnya kita bertemu." Ia memainkan rambut pirangnya ke belakang bahu, “Kudengar keluarga Anda sedang mempertimbangkan masa depan generasi berikutnya." melanjutkan dengan nada menggoda.
Rafael, asistennya yang setia, berdiri setengah langkah di belakang. Tangan William yang menggenggam gelas anggur sedikit mengeras. "Itu urusan pribadi keluarga Marculles," jawab William dengan nada sedingin baja gelap.
Seraphine tertawa lembut. “Pribadi, ya? Tetapi kau tampaknya pria yang membutuhkan… seseorang di sisimu. Mungkin seseorang seperti aku."
William menatapnya datar, tanpa ampun. "Saya tidak membutuhkan wanita yang mengharapkan… perhatian."
Seraphine berkedip, tak percaya ia ditolak dengan begitu telanjang. Namun sebelum ia memaksakan diri lebih jauh, William mengangkat tangannya sedikit sebagai isyarat halus.
Rafael segera melangkah ke depan menghalangi langkah wanita itu. "Nona Valemont, Lord William tidak membuka pembicaraan personal malam ini."
Seraphine kecewa mundur menjauh dengan wajah tersenyum tetapi mata yang sudah retak.
Tak lama kemudian, seorang wanita lain muncul, Countess Aurelia Voss, cerdas, manipulatif, anggun. Ia tidak membuang waktu. "Lord William… Lady Eleanor terdengar berbicara bahwa Anda terlalu selektif. Kudengar Anda menolak hampir semua wanita”. Betapa menyedihkan… kekuasaan sebesar Marculles seharusnya didampingi wanita yang pantas."
William tidak tersenyum sedikit pun. “Kekuasaan saya tidak membutuhkan pendamping, Countess. Tidak ada yang saya cari di ruangan ini."
Aurelia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya menurun penuh selidik. “Tidak ada? Bahkan ketika dunia mengharap Anda segera membentuk dinasti baru?"
Rafael menegakkan postur, siap membungkamnya, namun William menjawab dingin lebih dulu. “Jika saya membutuhkan seseorang untuk berdiri di sisi saya… saya akan memilih berdasarkan ketenangan, kendali, dan kemampuan… bukan godaan norak."
Aurelia tersenyum, tetapi itu adalah senyum yang kalah.
Wanita ketiga mendekat, Lady Valeria Reyes, tipe wanita glamour yang haus status. Ia menyentuh lengan William tanpa izin. "Kau tidak bisa terus menolak semua orang, William. Kamu hanya belum bertemu perempuan yang cukup berani untuk —“
"Lepaskan. Sekarang." William menghentikan langkahnya. Mata abu-abunya menurun tajam ke arah tangan Valeria yang menyentuhnya.
Rafael bergerak halus namun tajam untuk memastikan perintah itu ditaati. Valeria mundur seketika, tak berani menatap wajah William lagi.
Dari jauh, Rahez Alvarezh melihat semuanya. Pemimpin Alvarezh Group itu berdiri dengan elegan di sisi aula mengenakan jas Arthenian hitam-abu dengan garis emas halus. wajahnya menahan dunia dalam ketenangan palsu. Ia adalah raja tak bermahkota Aestrasia.
Zaffer, asistennya, melapor dalam lirih. "Lord William… penguasa global yang sangat sulit kerja sama dengannya. Sekalinya bekerja sama, nilai perusahaan akan melambung tinggi ke puncak pasar internasional."
Rahez mengamati William seperti sedang membaca laporan pasar yang krusial. Dalam benaknya ia menimbang, jika ia berhasil bekerja sama dan membentuk aliansi dengan pria itu, perusahaan Alvarezh akan naik ke level yang belum pernah dicapai sebelumnya, memperkuat kekayaan serta nama dan reputasinya di mata dunia.
William menjauh dari kerumunan, berjalan menuju balkon samping aula dengan Rafael yang setia mengikutinya.
Rafael berbicara pelan di belakangnya. "Jika Anda menginginkan seorang wanita yang… sesuai dengan harapan keluarga, saya dapat mencari wanita tanpa sifat ambisius yang berlebihan."
William menjawab tanpa berhenti berjalan sedikit pun. "Tidak ada satu pun di ruangan ini yang layak. Citra palsu. Ambisi menjijikkan. Mereka tidak akan berada di bawah kontrol."
"Jika Anda mengizinkan, saya akan mencari di luar lingkaran. Tempat yang lebih… tenang," tawar Rafael mengangguk patuh.
"Lakukan." jawaban singkat dari William.
Namun suara percakapan itu terdengar oleh Rahez ketika William melintas di dekatnya.
Rahez menyembunyikan senyum tipis di balik wajah tenangnya. Jihan… jika ia memasangkannya dengan Marculles, aliansi global akan terbuka lebar. Pasar Eropa, negara barat, dan jalan menuju dunia akan menjadi miliknya. Batinya
“Jihan… kau tidak akan melawan. Tidak setelah aku yang memegang kendali sepenuhnya,” gumam Rahez dalam hati.
Di balkon VIP yang menghadap ke arah kerumunan elit Arthenapolis, Alexander Marculles menghampiri William. Pria tua itu berdiri dengan tegak, memunggungi keramaian, menatap putranya dengan tatapan yang bisa membekukan darah.
"Kau sudah mengabaikan lima jamuan makan malam dengan putri-putri menteri dan konglomerat bulan ini, William," Alex memulai, suaranya berat dan menekan. "Kesabaran kolega-kolegaku ada batasnya. Begitu juga kesabaranku."
Alex mengalihkan pandangannya ke bawah balkon, suara beratnya tertutup oleh denting musik harpa di latar belakang. "Lihat ke bawah sana, William. Semua keluarga terpandang di Eurasia ada di sini. Pilih satu wanita. Aku tidak peduli siapa, asalkan dia bisa memberiku ahli waris Marculles dalam dua tahun ke depan."
William Marculles berdiri bersandar di pagar balkon, memegang gelas kristal berisi cairan amber yang tidak ia minum. Matanya yang tajam mengawasi kerumunan seolah mereka hanyalah bidak catur yang tak berarti. Ia menatap lurus ke cakrawala, bahkan tidak menoleh pada ayahnya.
"Jika kau ingin menjodohkan seseorang, lakukan pada dirimu sendiri, daddy. Aku terlalu sibuk melipatgandakan nilai Marculles di bursa saham London dan New York untuk sekadar berdansa dengan wanita yang hanya tahu cara menghabiskan uang," jawab William datar, suaranya sedingin es. "Urus saja politikmu dengan para menteri itu."
Alex mendekat, wajahnya mengeras menahan amarah. Ia mendekat dan berbisik tepat di samping telinga William. "Dengar baik-baik. Kekuasaan Marculles bukan hanya tentang angka di bank, tapi tentang keberlanjutan. Berikan aku anak laki-laki. Jika tidak, aku tidak akan menyerahkan sisa saham padamu, aku tidak akan membiarkan kekaisaran ini jatuh ke tangan orang asing karena kau tidak punya keturunan. Dan aku akan membatalkan pengalihan saham utama Marculles padamu. Kau akan menjadi CEO tanpa suara."
William akhirnya menoleh, matanya berkilat dingin. "Kau mengancamku dengan saham yang aku sendiri yang membesarkan nilainya? Tanpa aku, Marculles hanya akan menjadi perusahaan kuno. Aku tidak butuh wanita untuk melegitimasi kekuasaanku."
"Kau butuh ahli waris, William! Jangan sampai sifat keras kepalamu menghancurkan apa yang kita miliki, ingat itu!!!” Alex mendesis, lalu berbalik pergi dengan langkah kasar meninggalkan suasana yang mencekam di balkon itu.
Tepat saat Alex melangkah pergi, Rahez melangkah maju dengan wibawa dunia bisnis yang halus namun tak terbantahkan. "Tuan William Marculles."
William menoleh pelan, ekspresinya tetap sedingin sebelumnya. Rafael berbisik di tengah ketegangan itu memberi informasi, "Tuan, Tuan Rahez Alvarezh dari Alvarezh Group ingin berbicara."
Mendengar nama itu, pupil mata William mengecil sesaat.
Alvarezh? Jantungnya berdenyut kencang oleh kemarahan yang tertahan. Jadi ini adalah Rahez... pemimpin Alvarezh group yang baru. Batin wiliam
Rahez mengulurkan tangan dengan senyum tipis yang penuh perhitungan. "Sebuah kehormatan bertemu dengan tangan tak terlihat yang menggerakkan ekonomi dunia. Dunia berbicara banyak tentang kepemimpinan Anda… dan pengaruh keluarga Marculles di benua barat."
William tidak langsung menyambut tangan itu. Ia menatap Rahez dengan tatapan predator. Ia berpikir dalam hati, pria ini datang kepadanya tanpa perlu dipasang umpan. Berani sekali dia berdiri di hadapannya sekarang.
"Alvarezh Group," ucap William akhirnya dengan suara dingin, menjabat tangan Rahez dengan cengkeraman yang sangat kuat.
Rahez tertawa kecil, sama sekali tidak terganggu oleh dinginnya sikap William. "Aku mendengar sedikit ketegangan dengan ayahmu tadi. Sepertinya kita berada di kapal yang sama, William. Keluarga menuntut stabilitas, dan kita membutuhkan aliansi yang lebih kuat dari sekadar kontrak bisnis."
William memperbaiki letak kancing jasnya, kembali ke wajah dinginnya yang sempurna. "Hanya percakapan membosankan tentang masa depan. Apa yang membawa penguasa Aestrasia ke sudut balkon,Rahez?"
Rahez tersenyum tipis. "Aku membawa tawaran. Alfarezh akan memulai proyek Smart City di distrik selatan dan modernisasi sistem pertahanan Silver Legion. Kami butuh mitra infrastruktur dan pendanaan global. Aku rasa Marculles adalah satu-satunya yang levelnya setara dengan kami."
William menyesap minumannya sedikit dengan ekspresi meremehkan. "Proyek domestik Aestrasia? Itu terdengar seperti hal kecil bagi Marculles, Rahez. Aku baru saja menutup kesepakatan di tiga negara Eropa. Mengapa aku harus membuang waktu untuk proyek pembangunan kota?"
Rahez tidak tersinggung. Ia justru melangkah ke pinggir balkon, melihat ke arah kerumunan wanita bangsawan di bawah. "Mungkin kau butuh alasan yang lebih... menyenangkan daripada sekadar angka. Tadi aku tidak sengaja mendengar aspirasi ayahmu."
Rahez menunjuk dengan dagunya ke arah kerumunan wanita berpakaian mewah tersebut. "Wanita-wanita Aestrasia di bawah sana... mereka bukan hanya cantik. Mereka dididik untuk menjadi pendamping penguasa. Anggun, patuh, dan memiliki darah murni. Jika kau butuh seseorang untuk membungkam tuntutan ayahmu, aku bisa memperkenalkanmu pada lingkaran elit kami."
William mendengus sinis, matanya menatap kerumunan itu dengan muak. "Wanita tidaklah penting, Rahez.” Ia menghela nafas. “ Aku tidak membangun kekuasaan untuk dibagi dengan emosi. Hubungan romantis hanya mengganggu fokus
Dalam diamnya, William mengingat mendiang Anna. Cintanya sudah mati bersama pengkhianatan wanita itu. Sejak Anna mengubah identitasnya dan memilih pria lain, ia sudah bersumpah tidak akan pernah membiarkan wanita mana pun masuk ke dalam hidupnya lagi.
Rahez memperhatikan reaksi William dengan saksama. "Kau benar-benar pria tak tersentuh, William. Tapi di dunia ini, bahkan mesin yang paling dingin pun butuh minyak untuk tetap berjalan lancar. Kau menolak wanita, kau menolak proyek domestik... apa sebenarnya yang kau cari?"
William menatap Rahez dengan tatapan yang sangat tajam, seolah sedang menguliti pria itu hidup-hidup. "Aku mencari sesuatu yang memiliki nilai tawar yang sepadan dengan waktuku," jawab William dengan nada datar namun penuh ancaman tersembunyi.
Rahez memperhatikan ekspresi datar William dengan saksama. Ia tahu, untuk menjerat pria seperti William Marculles, ia tidak bisa menawarkan sesuatu yang biasa. Ia harus menawarkan darah dan kekuasaan yang setara. Ia memutar gelasnya, lalu menurunkan suaranya hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar.
“Aku mengerti jika wanita-wanita di bawah sana tidak menarik bagimu, William. Mereka hanya kulit tanpa isi," ujar Rahez tenang. "Tapi, bagaimana jika aku menawarkan seseorang dari lingkaran inti Alvarezh? Seseorang yang membawa darah asli keluarga kami, yang memiliki hak akses pada teknologi militer dan energi yang kau sebut hal kecil tadi."
William yang tadinya hendak berpaling, seketika berhenti. Pupil matanya mengecil, sebuah reaksi insting yang ia sembunyikan dengan sangat rapi.
seseorang dari inti Alvarezh? Keluarga ini memiliki seorang wanita? Mengapa aku tidak pernah tahu? Jika benar Alvarezh memiliki seorang putri... ini bukan lagi sekadar kebetulan. Ini adalah mangsa yang diantarkan langsung ke tanganku. Batinnya bergejolak, Jantung William berdenyut kencang.
William hanya mengangkat satu alisnya, tampak tidak terkesan “Kau menawarkan keluargamu sendiri untuk sebuah kontrak bisnis? Alvarezh ternyata lebih putus asa dari yang kubayangkan."
Rahez melangkah lebih dekat dengan kepercayaan diri penuh. "Ini bukan keputusasaan, ini adalah visi. Ayahmu menuntut seorang ahli waris dan stabilitas. Aku menuntut ekspansi global yang hanya bisa dibuka oleh kunci Marculles. Dengan aliansi pernikahan antara Marculles dan wanita dari keluargaku, kau mendapatkan ahli waris dengan genetik terbaik di Aestrasia, dan aku mendapatkan jalur sutra menuju pasar global yang kau kuasai."
Aku harus berhasil. Alfarezh memang raksasa di Aestrasia, tapi tanpa dukungan finansial dan logistik Marculles, kami tidak akan pernah bisa mendominasi pasar dunia di luar benua ini. Kesepakatan ini harus terjadi, berapa pun harganya. Batin Rahez.
"Pikirkanlah, William," lanjut Rahez meyakinkan. "Ini adalah win-win solution. Kau bisa membungkam ancaman ayahmu soal saham, dan kau mendapatkan akses ke Silver Legion yang kau incar untuk memperkuat tentara pribadimu.“
William terdiam sejenak, membiarkan keheningan malam mengisi celah pembicaraan mereka. Ia menatap Rahez dengan pandangan yang seolah bisa menembus tengkorak pria itu.
Menarik. Sangat menarik. Jika aku menerima ini, aku akan membawa seorang Alvarezh ke dalam rumahku. Aku akan menjadikannya sandera di bawah sumpah pernikahan. Setiap rasa sakit yang Anna berikan padaku... setiap pengkhianatan yang dilakukan keluarga ini... akan kubalas melalui wanita yang kau banggakan ini, Rahez. Batin William