Seorang gadis cantik bernama Freya Oktavia. gadis cantik yang memiliki sifat tidak bisa diam, usil, Kepo. Tiba-tiba jiwanya bertransmigrasi menjadi pemeran figuran, seorang istri pertama mafia dingin, kejam dan berkuasa bernama kay leroy. Sang figuran dinikahi kay leroy, karena kesalahan informasi. Kay leroy yang mencinta kekasihnya bernama ivana pemeran utama wanita, akhirnya menikahinya dan menjadikannya istri kedua. pernikahan keduanya membuat kay seakan-akan tidak perduli kepada istri pertamanya, yang tak lain seorang figuran bernama freya.
Bagaimana kah kisah freya, menggantikan jiwa figuran istri pertama yang memiliki nama sama, wajah yang sama dengannya, memiliki sifat pendiam dan suka berpakaian norak. Penasaran kan teman-teman ayo baca novel ku😁😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alexa Dan Alexandra Terobsesi Dengan Alex
Alex mengantar freya ke kantornya. Lobi gedung perkantoran milik freya yang sibuk mendadak hening seketika. Suara langkah sepatu yang tegas dan berirama menggema, menandakan kedatangan seseorang yang tingkatnya jauh di atas rata-rata. Di sana alex berjalan dengan angkuh, tangannya dengan erat menggenggam jemari kekasihnya. Seolah sedang memamerkan berlian paling berharga miliknya kepada dunia.
Alex tidak memperdulikan bisik-bisik kagum sekaligus tatapan takut dari para karyawan. Mereka semuanya menunduk hormat. Karena tahu siapa alex.
Alex mengantarkan freya tidak sampai lobi. Dengan tatapan dingin yang membuat para karyawan menunduk hormat tanpa berani menatap matanya, alex menuntun freya masuk ke dalam lift khusus ekslusif.
Ting.. pintu lift terbuka, freya dan alex masuk kedalam lift. Freya tersenyum tipis melihat alex yang sangat posesif.
"Sayang, ingat jangan berdekatan dengan pria lain, aku tidak suka." Pesannya dengan nada lembut namun penuh penekanan.
Freya terkekeh. "Iya kak, kekasih ku ini posesif sekali sih?" Jawabnya dengan nada santainya.
Ting... Pintu lift terbuka. Alex menggandeng tangan freya keluar dari lift. Dan melangkah menuju ruangan kerja freya.
Click.. Pintu ruang kerja terbuka. Alex mengantarkannya hingga di depan meja kerjanya. Kehadirannya yang dominan membuat ruangan itu terasa menyempit. Alex menarik tubuh freya mendekat, lalu mencium bibir freya dengan cuman posesif, agresif dan menuntut. Freya membalas ciuman alex. Alex memperdalam ciumannya dengan memegang tengkuk freya. Ciumannya berlangsung lima belas menit, lalu dia melepaskannya.
"Berkerja lah dengan baik, tetapi ingat jangan berdekatan dengan para pria." Ucapnya dengan nada rendah, namun penuh otoritas. "Nanti siang, leon akan menjemput mu. Jangan sampai tidak datang, atau aku akan datang sendiri kesini dan menyeret mu keluar dari sini dan membawamu ke kantor ku sayang."
Tanpa menunggu jawaban freya, alex langsung mengecup kening dan bibir freya, lalu berbalik badan dan melangkah pergi dengan aura otoritas yang masih tertinggal kuat.
"Dasar posesif." Ucap freya tersenyum.
Sedangkan di sebuah perusahaan berbeda.
Kay memejamkan matanya, wajah freya muncul seperti lukisan abadi. Namun, matanya terbuka seketika rasa pahit tiba-tiba terasa membakar tenggorokan, mengingat sekarang istri pertamanya menjadi calon istri alex mahendra
Dia bangkit dari kursi kerjanya menatap jendela. Tatapan matanya berkilat tajam muncul obsesi gelap. Ada api yang berkaitan di balik mata-nya, ada perpaduan antara rindu yang tidak tersampaikan dan amarah karena miliknya telah di rampas.
"Freya milik ku, milik kay leroy, dia bukan milik mu alex mahendra." Desisnya pada keheningan ruangan. Tangannya terkepal erat hingga buku jarinya memutih. Setiap saraf ditubuhnya menolak kenyataan, alex menyentuh apa yang dulu menjadi miliknya.
Pikirannya mulai menyusun skenario-skenario berbahaya. "Aku akan membawa mu kembali sayang, kedalam mansion ku, kamu masih calon istri alex mahendra. Bagiku, itu masih sebuah lebel sementara yang bisa aku hancurkan." Bisik-nya bagaikan berbicara dengan istrinya. "Aku tidak perduli seberapa besar kekuasan alex mahendra, karena di dalam kepalaku kamu milik ku, istriku. Dan tidak akan membiarkan siapapun mengkalim tahta hatimu selain diri ku sayang." Matanya tajam berkilat obsesi membara.
Langkah sepatu alex menggema di koridor marmer menuju ruang pribadinya, di sampingnya leon berdiri mendampinginya. Begitu pintu jati terbuka. Atmosfer ruangan yang seharusnya tenang berubah harum parfum manis namun menyengat memenuhi udara. Sebuah aroma asing dan berbahaya.
Di sofa beludru, duduk wanita kembar anak mendiang sahabat ayahnya. Kedua wanita itu menoleh serentak dengan gerakan yang sinkron. Senyum mereka merekah, tipe senyuman yang mampu meluluhkan pria biasa, namun di mata alex, itu adalah topeng dari manipulasi yang licik.
Alex dan Leon melangkah masuk dengan ekspresi datar sekeras pahatan batu granit. "Siapa yang mengizinkan kalian duduk di sana?" Tanyanya, dengan nada seakan memotong udara dengan kedinginan yang menusuk.
Mereka adalah alex dan alexandra. Alexa bangkit mendekat dengan gerakan gestur yang menggoda, sementara alexandra memperhatikan alex dengan penuh damba dan obsesif.
Leon menatap alexa yang berani mendekat. "Kak alex." Panggilnya dengan suara lembut namun penuh getaran yang dibuat-buat. "Sudah lama kita tidak bertemu kak alex, kamu masih saja bersikap dingin dengan kami." Ucapnya dengan nada lembutnya.
Alexandra pun bangkit dan tersenyum manis. "Benar kak, kami menunggu mu selama tiga puluh menit, hanya untuk bertemu dengan mu." Lanjutnya dengan nada sangat lembut.
Alexa mengeluarkan amplop berwarna hitam pekat dengan ukiran emas. "Besok malam ulang tahun kami yang ke dua puluh dua tahun, kami ingin mengundang mu sebagai tamu kehormatan." Sambung alexa dengan nada lembut berdiri di depan alex.
Alex langsung berjalan menuju kursi kerjanya, dia tidak mengambil amplop itu, leon dengan sigap mengambil amplop itu.
Dia duduk menatap keduanya dengan mata elangnya yang tajam dan dingin. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum ramah melainkan tantangan.
"Baiklah." Desisnya dengan nada datar. "Aku akan datang."
Alexandra dan alexa saling melirik, kilatan kemenangan terpancar di mata mereka. Mereka merasa telah berhasil menjerat alex ke dalam datang mereka.
"Terimakasih banyak alex, kamu memang tidak pernah mengecewakan kami. Kalau begitu kami pamit." Ucapnya melangkah keluar dengan gaya anggun.
Setelah mereka berdua keluar. Leon memberikan amplop undangan itu. Alex mengambil korek api, dan membakar ujung undangan itu, dan membiarkan api melahap seluru undangan itu hingga habis menjadi debu hitam.
"Kalian ingin bermain-main dengan ku." Bisik-nya dengan nada dingin. "Mari kita lihat siapa yang sanggup bermain dengan ku." Lanjutnya kembali.
Leon menghela napas panjang. "Mereka terobsesi kepadamu alex. Aku masih ingat dua tahun lalu, saat dia membunuh sekretaris mu, dan memanipulasi kematiannya. Hanya karena rasa cemburu." Ucapnya dengan nada dingin. "Padahal sekertaris mu itu, sudah tua dan memiliki anak banyak. Dan mereka juga tahu sekretaris hanya nama saja tidak pernah masuk ke ruangan mu." Ucap leon terkekeh.
"Hmmm, mereka adalah wanita yang sangat pintar memanipulasi. kamu harus hati-hati." Pesan alex dengan nada dingin.
Leon memicing matanya. "Yang seharusnya hati-hati itu kamu tuan muda alex, dan juga freya. Jika mereka mengetahui tentang freya maka, nyawa freya akan terancam." Jawab leon menatap lekat alex. "Lalu, apa freya akan kamu ajak ke pesta besok malam alex." Tanya leon penasaran.
Alex menatap leon lekat. "Tentu, dia calon istri ku, aku akan membawanya kemanapun aku pergi, untuk mereka berdua, mereka tidak akan pernah bisa menyentuh calon istri ku freya." Ucap alex dengan nada tenang dan santai.
Leon geleng-geleng kepala. "Dasar posesif." Cibirnya dengan senyuman kecil.
Leon sangat mengenal alex. Dia tidak mewarisi kerajaan dengan mudah, setelah kematian mendiang kedua orang tuanya yang misterius. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan bukan lagi bisnis, melainkan sebuah kekaisaran militeristik yang tak tergoyahkan, dia dikenal tidak pernah tidur sebelum musuhnya hancur.
Leon bukan sekedar asisten pribadi, dia adalah sahabat sekaligus bayangan, eksekutor. Dia sahabat alex dari masa sulit, hingga kini menguasai tahta ekonomi dan politik di dunia. Leon tahu betul, Alex bukan manusia, dia adalah hukum itu sendiri