NovelToon NovelToon
Luka Yang Ku Peluk Sendiri

Luka Yang Ku Peluk Sendiri

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Ibu Mertua Kejam / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ...

Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.

☘️☘️☘️☘️☘️

Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.

Penasaran ikutin terus ya kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 08 Telepon Dari Uminya Zaki

Dua hari setelah ke Monas, Anisa nampak sedikit tenang, tapi hatinya masih dipenuhi rindu, setiap hendak bekerja ia sempatkan diri untuk menatap sedikit lebih lama foto Zaki di dalam layar handphone, karena itu satu-satunya cara untuk mengobati rasa rindunya.

Pagi ini Anisa naik ke loteng, ia mulai menjemur pakaian majikan yang baru saja selesai dicuci, sinar mentari nampaknya baru bersinar terasa lembut dan menghangatkan, dan justru itu yang membuatnya semangat mengerjakan tugas.

 Sambil merapikan jemuran, ia menatap sebentar ke langit yang mulai cerah, di dalam hatinya ada sebuah harapan yang selalu ia panjatkan untuk sang kekasih yang ada di kota sebelah sana.

  "Gusti Allah, semoga Mas Zaki di sana juga betah dan semangat," pintanya.

Setiap hari, nama Zaki tak pernah absen dalam doanya. Meski hanya sebatas gumaman lirih di sela-sela kesibukan, harapan untuk lelaki itu selalu ia titipkan dengan sungguh-sungguh.

  Selesai menjemur Anisa kembali lagi ke bawah, kali ini tujuan utamanya adalah dapur, di situ dua rekannya sudah memulai mengiris aneka perbawangan, dan di sini Anisa dapat bagian membersihkan ikan-ikan segar yang baru dibeli dari pasar.

  "Nis, cuci ikannya yang bersih, tapi jangan sampai hancur ya," kata Latifah.

  "Iya Mbak," sahut Anisa singkat.

Tanpa banyak bicara, Anisa segera mengambil ikan-ikan itu lalu membawanya ke tempat cuci. Dengan tenang ia membersihkannya satu per satu, mengikuti arahan seniornya dengan penuh perhatian dan hati-hati, seolah tak ingin melakukan kesalahan sedikit pun.

☘️☘️☘️☘️☘️

Di Jakarta Anisa masih sibuk dan semangat dengan kerjaannya, begitu juga dengan yang di Tambun, Zaki juga sedang menghadapi hari-hari pertamanya yang tidak kalah melelahkan.

 Pagi ini merupakan hari kedua Zaki, mendapatkan giliran penuh dibagian cuci piring. Dari luar terlihat sederhana, tapi ketika dapur mulai ramai, Zaki baru benar-benar merasakan beratnya pekerjaan itu. Piring, gelas, mangkuk, wajan, datang bertumpuk tanpa jeda. Air sabun terus mengalir, uap panas bercampur aroma sisa makanan memenuhi ruang sempit di belakang dapur.

Awalnya ia masih mencoba santai. Namun semakin siang, tangannya mulai perih karena terlalu lama terendam air. Jemarinya memerah, bahkan sedikit lecet di bagian kuku. Kaos yang ia pakai sudah basah oleh cipratan air dan keringat.

“Cepat, Ki! Yang itu dulu!” seru salah satu karyawan dapur ketika tumpukan piring mulai menggunung.

Zaki hanya mengangguk, meskipun ia baru, namun berusaha untuk tidak membantah dan mengeluh, sesekali ia menarik napas panjang, mengingat kembali alasannya ada di tempat itu. Ia bukan datang karena terpaksa. Ia yang memilih, yang ingin belajar berdiri tanpa bergantung pada siapa pun.

Ketika jam istirahat tiba, Zaki duduk sebentar di kursi plastik belakang dapur. Tangannya masih berbau sabun, pundaknya terasa berat. Namun di sela lelahnya, ia tersenyum kecil.

Terbayang wajah Anisa yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca di depan pagar itu.

“Pelan-pelan saja,” gumamnya pada diri sendiri. “Aku nggak boleh nyerah.”

Dan ketika bel dapur berbunyi lagi, Zaki bangkit tanpa ragu. Meski hanya di balik tumpukan piring dan busa sabun, hari itu ia merasa sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pekerjaan pertamanya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malam harinya, di Jakarta saat ini Anisa sedang mengecek keadaan dapur dan juga ruangan lain, memastikan setiap ruang bersih tidak ada satu pun barang yang berserakan, setelah beres ke ruang tengah dan keluarga, Anisa mulai berjalan ke dapur, di situ ia melihat dua tumpukan piring di wastafel, dan untuk hal sekecil itu ia tidak bisa melewatkannya begitu saja.

Tangan kecilnya segera mencuci, dua piring tersebut, meskipun terlihat sederhana tapi jika lalai bisa menjadi teguran berhari-hari, dan setelah memastikan semua aman gadis muda itu baru bisa memasuki kamarnya dengan perasaan lega.

Di kamar yang berukuran sedang itu, Anisa melepaskan semua rasa lelah setelah seharian bekerja, ia duduk di tepi ranjang sambil memegang handphone, karena hanya benda pipih itu yang menjadi hiburannya saat ini.

Sesekali ia mengecek pesan dari Zaki, dan ternyata masih belum ada, entah kenapa hatinya merasa galau, namun di sisi lain, ia segera sadar jika kekasihnya itu saat ini tengah disibukkan dengan pekerjaan barunya.

"Sedang apa ya dia sekarang?" kata Anisa bertanya pada dirinya sendiri.

Saat dirinya sedang menanti pesan dari Zaki, tiba-tiba saja handphone-nya berdering, ia pikir itu telepon dari Zaki, dan ternyata nomor baru, Anisa sempat ragu dan mendiamkan karena takut hanya orang iseng.

Tapi semakin di diamkan nomor itu tidak berhenti menelpon dengan berulang kali.

"Ah, siapa ya malam-malam seperti ini," gumam Anisa.

Karena tidak ingin mendengar suara getar dari handphone-nya yang terus menerus, akhirnya Anisa mengangkat telepon itu dengan penuh hati-hati.

"Halo," suara Anisa pelan.

Tidak ada sautan, hanya terdengar suara angin malam, tapi beberapa menit kemudian terdengar suara perempuan paruh baya.

"Kamu Anisa?" tanyanya terdengar cukup datar.

"Iya, anda siapa?" tanya balik Anisa dengan sopan.

"Kamu pacar Zaki," kata suara dari seberang tanpa basa-basi.

Anisa terdiam sejenak, hatinya mulai bergetar tak karuan, ia tahu jika wanita yang berada di dalam panggilannya itu bukan orang luar, pastinya dia ada hubungannya dengan Zaki.

"I-iya Bu," sahut Anisa akhirnya.

"Oh, bagus ya," ucapnya dengan suara ejekan. Selama pacaran dengan kamu, anakku jadi anak pembangkang, tidak menurut padahal sebelumnya Zaki itu anak yang baik, patuh sama orang tuanya," cetus Ghina.

Deg!

Ucapan itu terasa menghantam dada Anisa tanpa aba-aba. Seolah ada sesuatu yang runtuh perlahan di dalam dirinya. Bukan marah, bukan pula ingin membela diri melainkan perasaan perih yang sulit dijelaskan.

"Bu, aku gak ada maksud untuk membuat Mas Zaki seperti itu," sahut Anisa dengan nada yang bergetar.

"Tak ada maksud bagaimana? Sudah jelas-jelas anakku yang super baik dan penurut itu sekarang jadi pembangkang," katanya kembali.

Entah kenapa di tengah-tengah hatinya yang hancur ia mencoba untuk berani menghadapi ibu Zaki dengan kepala dingin.

"Aku minta maaf, atas semua yang terjadi, dan asal Ibu tahu, aku tidak meminta untuk di cintai oleh siapa pun termasuk anak Ibu," cetus Anisa.

"Kau berani menantang ku!"

"Aku tidak sedang menantang siapapun," lanjut Anisa.

"Kau begitu berani ya, dan ingat sampai kapan pun aku tidak akan memberikan restu!"

Telepon terputus sepihak, di sini Anisa mencoba untuk menahan air matanya, meskipun kata-kata yang dilontarkan cukup menyakiti hatinya.

Dan untuk malam ini gadis itu mencoba untuk merenung, apakah hubungan ingin akan lanjut atau tidak.

Bersambung ....

Selamat pagi semoga suka ya.

Alfatihah untuk Zaki ya Kak .... hari ini 14 Febuari merupakan hari jadinya, mungkin jika masih ada Anisa orang pertama yang akan ngucapin itu. Tapi sayang maut sudah memisahkannya lebih cepat 😭😭😭😭

1
Soraya
mampir thor
Ina Jumi
kok sy bingung y ringkasan creta sama jln ceritanya kok g nyambung
Naufal hanifah
/Heart//Heart//Heart/
Seroja_layu
ya allah nyesek baca ini😓
Nar Sih
blm end bnr an kan kak ,besok masih lanjut kan kak anisa dan zaki nya🙏
Asyatun 1
lanjut
Nar Sih
terharuu kakk😭😭
Amalia Putri
Tambah semangat Zaki,lanjut thor💪💪💪💪
Seroja_layu
beruntung anisa... di cintai secara ugal ugalan
Nar Sih
selamat ya nisa dan zaki ,semoga sehat calon byi nya juga ibu nya
Nar Sih
ya alloh pedes bnr ucapan abi mu ya zaki ,padahal orang beragama tpi kok gk bisa jga omgan ,sabarr nisa dan zaki ,pergi jauh aja pulang kampung biar jauh dri keluarga mu
Nar Sih: kak mau tanya kok penasaran ,sampai sekarang anisa ngk tau makam nya zaki ya ,trus ank nya gimana kak
total 2 replies
Anisa-tri
Astagfirullah Tuan Khalid pernyataan anda seperti orang yang tak punya pendidikan. gak kebayang gimana Anisa menghadapi itu. jika memang yang dikatakan itu nyata
Anisa-tri
Sabar ya untuk kalian berdua
Anisa-tri
Sabar ya untuk kalian berdua
Nar Sih
sabarr zaki dan anisa💪
Nar Sih
zaki suami yg baik dan bnr,,syg banget sama anisa ,moga ngk ada rencana jht ibu mertua mu ke kmu ya nisa
Seroja_layu
romantis...
Seroja_layu
aaaaaaa..... sedih banget ya allah.
Anisa-tri
Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Anisa
Sugiharti Rusli
pasti secara ekonomi mereka b-2 masih harus struggling kan,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!