NovelToon NovelToon
DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.

(Update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 SUMPAH DI DINDING UTARA DAN FONDASI YANG TIDAK TERLIHAT

Mereka berjalan memasuki aula utama benteng. Api unggun besar menyala di tengah ruangan, mengusir dingin yang menggigit. Para penjaga menutup pintu, meninggalkan mereka berdua dan satu bayangan yang berdiri tenang di sisi aula.

Zhia Xining.

Ia telah berganti pakaian, jubah putih sederhana tanpa hiasan. Wajahnya masih pucat, namun posturnya tegak. Tatapannya bertemu dengan Luo Wen sesaat cukup lama untuk membuat alis penasehat tua itu berkerut tipis.

Aura ini…

Seorang manusia biasa seharusnya tidak

Luo Wen menarik napas dalam, lalu membuka gulungan dekrit.

“Titah Kaisar Yin,” ucapnya lantang. “Wilayah Utara tetap memegang mandat sebagai benteng kekaisaran melawan bangsa iblis. Raja Chen Hao diharapkan memperketat penjagaan dan… melaporkan setiap anomali yang terjadi di wilayahnya.”

Chen Hao menatapnya datar. “Anomali seperti apa?”

Luo Wen berhenti sejenak, lalu menjawab, “Getaran langit. Ketidakseimbangan Yin dan Yang. Hal-hal yang… tidak seharusnya terjadi.”

Hening.

Api unggun berderak pelan, seolah ikut menahan napas.

“Wilayah Utara berbatasan langsung dengan Tanah Terlarang,” Chen Hao berkata tenang. “Jika langit bergetar, itu bukan hal baru.”

Luo Wen menatapnya tajam. “Getaran semalam berbeda.”

Zhia Xining melangkah maju satu langkah. “Jika Penasehat Agung meragukan kesetiaan kami, kami siap membuka gerbang dan memperlihatkan seluruh benteng.”

Nada suaranya lembut, namun ada tekanan halus di balik kata-katanya adalah tekanan yang membuat Luo Wen merasakan Qi-nya sendiri bergetar tidak nyaman.

Ia tersenyum kaku. “Tidak perlu sejauh itu, Permaisuri.”

Namun di dalam hatinya, alarm telah berbunyi keras.

Wanita ini… tidak bisa diukur.

Ia menggulung kembali dekrit. “Ada satu pesan tambahan, bersifat… pribadi.”

Chen Hao mengangguk. “Silakan.”

Luo Wen menurunkan suaranya. “Kaisar menerima laporan tentang kelahiran di Wilayah Utara. Putra Raja Chen.”

Chen Hao tidak bereaksi. “Benar.”

“Anak itu…” Luo Wen ragu sejenak. “Dianjurkan untuk dibawa ke ibu kota kelak. Demi masa depannya. Demi kekaisaran.”

Zhia Xining langsung menggeleng pelan. “Tidak.”

Satu kata. Tegas. Tidak memberi ruang.

Chen Hao menoleh padanya, lalu kembali menatap Luo Wen. “Putraku akan dibesarkan di Utara.”

Luo Wen menghela napas. “Raja Chen, ini bukan permintaan.”

Aura tekanan halus menyebar di aula. Para penjaga di balik pintu merasakan dada mereka sesak, meski tidak mendengar percakapan di dalam.

Chen Hao melangkah maju. Untuk sesaat, bekas luka di wajah dan lengannya seolah memudar, digantikan oleh aura seorang jenderal yang telah memimpin ribuan prajurit menuju kematian.

“Wilayah Utara berdiri karena darah,” katanya pelan. “Bukan karena intrik istana.”

Ia menatap lurus ke mata Luo Wen. “Jika kekaisaran membutuhkan benteng, kami akan berdiri. Jika membutuhkan pengorbanan, kami akan memberikannya. Tapi anak ini bukan milik kekaisaran.”

Zhia Xining menambahkan dengan suara yang hampir berbisik, “Belum.”

Luo Wen menutup mata sesaat. Ia tahu, menekan lebih jauh hanya akan memicu perlawanan terbuka—dan kekaisaran sedang tidak dalam posisi untuk itu.

“Aku akan menyampaikan jawaban ini,” katanya akhirnya. “Namun ketahuilah… dunia sedang bergerak. Dan tidak semua mata memandang dengan niat baik.”

Ia bangkit, memberi hormat singkat, lalu meninggalkan aula.

Ketika pintu tertutup, Chen Hao menghembuskan napas panjang.

“Apakah mereka akan kembali?” tanyanya.

Zhia Xining menoleh ke arah jendela, ke utara yang diselimuti kabut. “Bukan hanya mereka.”

Di sebuah paviliun tinggi di ibu kota Kekaisaran Yin, Luo Wen berdiri memandang kolam refleksi. Airnya tenang, namun bayangan di dalamnya beriak tidak wajar.

Ia mengangkat tangannya, membentuk segel sederhana.

Bayangan Yin dan Yang muncul sesaat—lalu lenyap.

“Tidak terbaca…” gumamnya. “Bagaimana mungkin?”

Di belakangnya, seorang pejabat muda berlutut. “Penasehat Agung, apakah anak itu—”

“Diam,” potong Luo Wen. “Anak itu… belum apa-apa.”

Namun hatinya tidak setenang kata-katanya.

Jika itu benar-benar fondasi Yin–Yang…

Maka dunia fana sedang memelihara sesuatu yang seharusnya tidak ada.

Malam kembali turun di Wilayah Utara.

Di kamar sederhana, Chen Long tertidur di ranjang kayu. Tidak ada jimat mewah, tidak ada formasi pelindung mencolok—hanya kehangatan api dan napas pelan seorang bayi.

Zhia Xining duduk di sampingnya, satu tangan diletakkan di dada kecil itu. Ia merasakan denyut yang stabil, dua aliran yang belum saling bersentuhan.

“Tidurlah,” bisiknya. “Dunia belum siap mengenalmu.”

Di luar, Chen Hao berdiri di dinding benteng, memandang ke arah Tanah Terlarang. Bayangan gunung hitam menjulang seperti rahang raksasa.

Ia mengangkat tangan, menancapkan tombak perangnya ke batu.

“Aku bersumpah,” katanya lirih, suara tenggelam dalam angin malam.

“Selama aku berdiri, Utara tidak akan jatuh.”

Di kejauhan, lolongan makhluk iblis terdengar samar—jauh, namun nyata.

Dan di antara dua dunia itu, seorang anak tertidur, membawa keseimbangan yang kelak akan mengguncang langit.

Salju pertama turun ketika Chen Long berusia tiga bulan.

Butirannya halus, nyaris seperti debu cahaya, melayang perlahan di atas Benteng Utara sebelum menumpuk di tanah beku. Para prajurit menyebutnya pertanda musim dingin yang panjang—dan bagi Wilayah Chen, musim dingin selalu berarti satu hal: bangsa iblis akan bergerak lebih dekat.

Namun di dalam istana wilayah, udara tetap hangat.

Api unggun menyala siang dan malam, dijaga ketat agar tidak pernah padam. Bukan demi kemewahan, melainkan demi seorang bayi yang tidur nyenyak di buaian kayu hitam—kayu dari pohon besi utara, keras dan tahan dingin ekstrem.

Chen Long.

Ia tidak menangis ketika udara dingin menyelinap ke dalam ruangan. Tidak juga menggigil. Napasnya tetap teratur, dada kecilnya naik turun dalam ritme yang hampir… terlalu stabil untuk bayi seusianya.

Zhia Xining duduk di samping buaian itu, matanya terpejam. Telapak tangannya melayang beberapa inci di atas dada Chen Long, tidak menyentuh—namun merasakan segalanya.

Dua arus.

Satu dingin dan tenang, mengalir mengikuti napas.

Satu hangat dan dalam, tersembunyi jauh di balik tulang dan darah.

Ia menarik tangannya perlahan.

Masih terkunci, pikirnya. Syukurlah.

Langkah kaki berat terdengar dari luar. Chen Hao masuk ke ruangan, mantel perangnya masih basah oleh salju. Ia melepaskan sarung tangan kulitnya, lalu mendekat ke buaian.

“Para penjaga melaporkan aktivitas iblis kecil di luar garis patroli,” katanya pelan. “Belum menyerang. Seolah… mengamati.”

Zhia Xining tidak membuka mata. “Mereka merasakan sesuatu.”

Chen Hao mengerutkan kening. “Chen Long?”

“Bukan kekuatannya,” jawab Zhia Xining. “Keberadaannya.”

Ia akhirnya membuka mata dan menatap suaminya. “Makhluk dari Tanah Terlarang peka terhadap ketidakseimbangan. Dan anak ini… bukan ketidakseimbangan. Ia keseimbangan itu sendiri.”

Chen Hao terdiam. Ia menatap putranya, tangan kasarnya menyentuh lembut sisi buaian. “Apakah itu berbahaya?”

“Bagi mereka,” Zhia Xining menjawab tanpa ragu. “Ya.”

Waktu berlalu perlahan di Wilayah Utara.

Chen Long tumbuh tanpa upacara besar, tanpa pengumuman resmi ke ibu kota. Di mata dunia luar, ia hanyalah pangeran wilayah perbatasan—anak dari seorang jenderal yang setia.

...BERSAMBUNG...

...****************...

1
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Ada kumpul-kumpul iblis dan anomali🤭
さくらゆい
keep up the good work
花より
I like kingdom-themed stories
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Kayu besi Utara dengan kayu Eboni beda kah? 🤔
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: kayu besi atau di kenal dengan temusi atau temusu

berasal dari Eropa Selatan,asia barat daya dan timur, Amerika Tengah dan Utara
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jejak
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
silakan dibaca😄
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
Semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!