NovelToon NovelToon
Gelang Giok Pembawa Rezeki

Gelang Giok Pembawa Rezeki

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Romantis / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir / CEO / Ruang Ajaib
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Taman di Balik Kesadaran

Suyin tidak bisa tidur lagi setelah mimpi aneh itu. Ia duduk di sofa, memeluk bantal, menatap gelang giok di tangannya dengan perasaan campur aduk. Takut, penasaran, bingung—semuanya jadi satu.

Jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Apartemen begitu sunyi, hanya terdengar suara kendaraan sesekali lewat di jalan raya. Lampu kamar menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan di dinding.

Suyin mengangkat tangan kanannya, mengamati gelang itu lebih detail. Di bawah cahaya lampu, giok hijau pucat itu seperti punya kedalaman tersendiri—seolah ada dunia kecil yang terperangkap di dalamnya. Urat-urat putih yang membentuk pola awan bergerak sangat lambat. Atau itu hanya imajinasinya?

"Jangan sampai orang lain tahu. Jangan pernah melepasnya dari tanganmu."

Kata-kata nenek dalam surat itu terus bergema di kepala Suyin. Kenapa? Kenapa gelang ini harus dirahasiakan? Memang berharga sih, giok antik seperti ini pasti mahal. Tapi sampai segitunya?

Aroma tanah basah itu masih tercium samar. Suyin menutup mata, mencoba mengingat-ingat detail mimpinya. Taman luas dengan rumput hijau. Bunga-bunga bercahaya. Mata air jernih di tengah. Dan nenek yang bilang "taman ini adalah hadiah untukmu."

Hadiah apa?

Rasa penasaran itu seperti gatal yang tidak bisa digaruk. Suyin membuka ponselnya, mengetik "gelang giok antik pusaka keluarga" di mesin pencari. Hasilnya? Ribuan artikel tentang perhiasan giok, investasi, hingga lelang barang antik. Tidak ada yang istimewa.

Ia mencoba kata kunci lain. "Gelang giok ajaib." Kali ini muncul artikel tentang mitos dan legenda Tiongkok kuno—tentang artefak kultivator, batu spiritual, cincin penyimpanan dimensi...

Suyin berhenti scrolling. Dimensi penyimpanan?

Ia membaca artikel itu dengan seksama. Ternyata dalam novel-novel Tiongkok, ada konsep "ruang penyimpanan" atau "ruang dimensi"—semacam dunia mini yang bisa diakses melalui artefak tertentu seperti cincin atau gelang. Di dalam ruang itu, waktu bisa berjalan berbeda, tanaman bisa tumbuh super cepat, dan pemiliknya bisa menyimpan barang dalam jumlah tak terbatas.

"Masa sih..." gumam Suyin sambil tertawa kecil. Itu kan cuma fiksi. Cerita khayalan penulis novel. Tidak mungkin ada di dunia nyata.

Tapi... mimpinya tadi terasa sangat nyata. Dan aroma tanah basah ini dari mana?

Suyin menatap gelang itu lagi. Jantungnya berdebar. Bagian logisnya bilang ini konyol. Tapi bagian lain—bagian yang sudah lelah dengan kehidupan membosankannya, bagian yang ingin percaya pada keajaiban—berbisik: coba saja.

"Oke, Suyin. Kamu sudah gila," ucapnya pada diri sendiri. Tapi tangannya sudah bergerak, menyentuh permukaan gelang dengan jari telunjuk kiri.

Dingin. Halus. Tidak ada yang istimewa.

Ia mencoba mengingat-ingat adegan dalam novel yang pernah dibacanya. Biasanya karakter utama mengakses ruang dimensi dengan... meditasi? Atau fokus pikiran?

Merasa bodoh tapi tetap penasaran, Suyin menutup mata. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikiran yang berantakan. Fokus. Fokus pada gelang. Bayangkan taman dalam mimpinya...

Tidak terjadi apa-apa.

Suyin membuka mata, menghela napas. "Sudah kuduga. Itu cuma—"

Tiba-tiba dunia berputar.

Perut Suyin melayang seperti naik roller coaster yang terjun bebas. Penglihatannya blur, telinga berdengung. Ia ingin berteriak tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. Tubuhnya terasa ditarik oleh kekuatan besar—seperti tersedot ke dalam pusaran air.

Dan kemudian... hening.

Suyin terbatuk-batuk, berlutut di atas sesuatu yang lembut. Rumput. Ia berlutut di atas rumput.

"A-apa...?"

Dengan napas tersengal, Suyin mendongak—dan membeku.

Ia tidak lagi berada di apartemennya.

Suyin berdiri di tengah taman yang sama persis dengan mimpinya. Rumput hijau segar terbentang luas ke segala arah, sejauh mata memandang. Langit di atas kepalanya berwarna biru cerah dengan awan putih berarak pelan. Matahari—atau apa pun itu—bersinar hangat tapi tidak menyilaukan.

Di kejauhan, ia melihat mata air jernih yang sama. Dan di sisi lain, ada... kosong. Tanah kosong berwarna cokelat gelap yang terlihat sangat subur.

"Ini... ini bukan mimpi kan?" bisik Suyin, suaranya gemetar.

Ia mencubit lengannya sendiri. Sakit. Ia menampar pipi. Sakit juga. Lalu ia mencabut sehelai rumput dan menciumnya—aroma rumput segar yang baru dipotong menyeruak ke hidung.

Ini nyata. Ini benar-benar nyata.

Kaki Suyin lemas. Ia duduk di atas rumput, menatap tangannya yang masih memakai gelang giok. Gelang itu sekarang bersinar sangat lembut—cahaya hijau pucat yang berkedip seperti napas.

"Aku... aku benar-benar masuk ke dalam gelang?" Suyin mengusap wajah dengan kedua tangan, mencoba memproses apa yang terjadi. "Ini gila. Ini benar-benar gila!"

Tapi buktinya ada di depan mata. Ia benar-benar berada di tempat lain—dimensi lain—yang entah bagaimana terhubung dengan gelang warisan neneknya.

Setelah shock awal mereda, rasa takut perlahan berubah jadi rasa ingin tahu. Suyin bangkit berdiri, melihat sekeliling dengan lebih teliti.

Taman ini... atau lebih tepatnya, ruang ini... tidak terlalu besar. Kira-kira seukuran lapangan sepak bola. Sebagian besar masih kosong—hanya tanah subur yang menunggu ditanami. Ada area rumput di mana ia berdiri sekarang, sekitar dua puluh meter persegi. Dan mata air di tengah, dikelilingi bebatuan alami yang membentuk kolam kecil.

Suyin berjalan mendekati mata air. Airnya sangat jernih—ia bisa melihat dasar kolam yang hanya sedalam satu meter. Air itu mengalir keluar dari celah bebatuan, membentuk aliran kecil yang hilang ke dalam tanah di ujung kolam.

Ia berlutut, meraup air dengan kedua tangan. Dingin. Segar. Dan saat ia meminumnya...

"Oh..."

Rasanya... luar biasa. Seperti air mata air gunung terbaik yang pernah ia minum, tapi seribu kali lebih nikmat. Segar, sedikit manis, dan ada sensasi hangat yang menyebar dari perut ke seluruh tubuh. Tubuhnya yang lelah tiba-tiba terasa ringan dan berenergi.

Suyin minum beberapa teguk lagi. Setiap tegukan membuat tubuhnya semakin segar. Bahkan bahu yang pegal-pegal karena stress beberapa hari terakhir langsung hilang.

"Air ajaib?" gumamnya takjub. Ia mengisi kedua tangannya lagi, kali ini membasuh wajah. Kulit wajahnya terasa lebih kenyal seketika.

Ini bukan air biasa. Pasti ada sesuatu yang istimewa.

Setelah puas bereksplorasi di sekitar mata air, Suyin berjalan ke area tanah kosong. Tanah itu terlihat sangat subur—warna cokelat gelap yang sempurna untuk bercocok tanam. Ia jongkok, mengambil segenggam tanah. Lembut, gembur, tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering.

"Kalau ini benar-benar ruang dimensi seperti di novel... berarti aku bisa menanam sesuatu di sini?" Suyin berbicara sendiri, masih mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini nyata.

Tapi bagaimana cara keluarnya?

Panik tiba-tiba menyerang. Bagaimana kalau ia terjebak di sini selamanya? Bagaimana kalau tidak ada jalan keluar?

Suyin menarik napas dalam, memaksa dirinya tetap tenang. Pikirkan logis. Kalau ia bisa masuk dengan fokus pikiran, seharusnya bisa keluar dengan cara yang sama.

Ia menutup mata, menyentuh gelang lagi. Kali ini ia membayangkan apartemennya—sofa lusuh, lampu redup, jam dinding...

WUSH!

Perut melayang lagi. Dunia berputar. Dan detik berikutnya—

Suyin terjungkal dari sofa, jatuh ke lantai apartemen dengan pantat duluan.

"Aduh!"

Ia meringis, mengusap bokong yang sakit. Tapi senyum lebar mengembang di wajahnya. Berhasil! Ia berhasil keluar!

Suyin bangkit, melihat sekeliling apartemen yang familiar. Jam dinding menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit. Tunggu—ia di dalam ruang dimensi itu berapa lama? Rasanya hampir setengah jam. Tapi di dunia nyata baru lewat lima belas menit?

"Waktu berjalan berbeda..." bisik Suyin, matanya berbinar. Ini persis seperti di novel-novel itu!

Ia duduk lagi di sofa, kali ini dengan perasaan yang sangat berbeda. Bukan lagi takut atau bingung. Tapi... excitement. Kegembiraan yang tidak pernah ia rasakan sejak lama.

Gelang giok warisan nenek ternyata bukan gelang biasa. Ini adalah pintu ke dimensi lain—ruang ajaib yang sekarang menjadi miliknya.

Tapi pertanyaannya: untuk apa?

Suyin menatap gelang itu, mengingat kata-kata nenek dalam mimpi. "Taman ini adalah hadiah untukmu. Rawatlah dengan baik."

Taman. Tanah subur. Air ajaib. Waktu yang berbeda...

Perlahan, sebuah ide mulai terbentuk di kepala Suyin. Ide yang terdengar gila, tapi mungkin saja bisa berhasil.

Bagaimana kalau... ia mencoba menanam sesuatu di sana?

Suyin melihat jam. Masih pukul tiga lewat lima belas. Terlalu pagi untuk keluar. Tapi ia sudah tidak bisa tidur—terlalu bersemangat.

Ia bangkit, pergi ke dapur kecilnya. Di kulkas ada beberapa tomat yang dibeli tiga hari lalu. Suyin mengambil satu, memotongnya, dan mengeluarkan bijinya dengan hati-hati.

"Oke, Suyin. Mari kita coba eksperimen kecil-kecilan," ucapnya sambil tersenyum—untuk pertama kalinya sejak nenek meninggal, ia tersenyum tulus.

Dengan lima biji tomat di telapak tangan, Suyin kembali duduk di sofa. Ia menutup mata, fokus pada gelang, membayangkan taman itu...

Dan kembali tersedot ke dalam dimensi.

Kali ini tidak terjatuh. Suyin sudah siap, langsung berdiri tegak saat mendarat di rumput. Ia tersenyum bangga. "Oke, mulai terbiasa."

Dengan biji tomat di tangan, ia berjalan ke area tanah kosong. Di satu sudut, ia berlutut dan mulai menggali tanah dengan tangan kosong—tidak punya sekop atau alat apa pun.

Tanah itu sangat mudah digali, seperti sudah disiapkan khusus untuk ditanami. Suyin membuat lima lubang kecil, memasukkan satu biji di setiap lubang, lalu menutupnya dengan tanah.

"Sekarang... perlu air," gumamnya.

Ia berlari ke mata air, meraup air dengan kedua tangan—tidak ada ember atau wadah—dan berlari kembali ke tanaman yang baru ditanam. Air tumpah ke mana-mana, tapi cukup untuk menyiram lima lubang itu.

"Selesai!" Suyin menepuk-nepuk tangannya, menatap tanah yang baru ditanami dengan bangga. "Sekarang tinggal tunggu... dan lihat apa yang terjadi."

Ia tidak tahu harus menunggu berapa lama. Tapi mengingat waktu di sini berjalan berbeda, mungkin tidak akan lama.

Dengan satu kali tarikan napas, Suyin memutuskan keluar dulu. Ia fokus lagi, membayangkan apartemen—

Dan kembali terjungkal di sofa.

"Harus belajar mendarat yang lebih anggun," gerutunya sambil tertawa kecil.

Jam menunjukkan pukul tiga lewat dua puluh. Lima menit berlalu untuk keluar masuk dan menanam biji. Kalau waktu di dalam ruang sepuluh kali lebih cepat seperti di novel... berarti lima menit di sini sama dengan lima puluh menit di sana?

Suyin mengambil ponsel, menyetel alarm satu jam. Ia berbaring di sofa, menatap langit-langit apartemen dengan senyum yang tidak bisa hilang dari wajah.

Hidupnya baru saja berubah total. Dan ia tidak sabar untuk tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Untuk pertama kalinya sejak nenek meninggal—bahkan sejak Ryan meninggalkannya—Suyin merasa punya harapan. Harapan untuk sesuatu yang baru. Sesuatu yang ajaib.

"Terima kasih, Nenek," bisiknya sambil menyentuh gelang giok dengan lembut. "Aku tidak tahu kenapa kamu memberiku hadiah ini. Tapi aku janji akan merawatnya dengan baik."

Gelang itu bersinar lembut sebentar—seolah menjawab.

Dan Suyin tertidur dengan senyum di wajah.

1
Andira Rahmawati
nemu cerita bagus nihhh paling suka baca novel yg fantasi apalagi yg ada ruang ajaibnya👍👍👍
Diah Susanti
diatas dibilang 'putri adik nenek' yang menurutku maknanya 'bibinya suyin'. tapi disini dia menyebutkan dirinya 'cucunya juga'🤔🤔🤔🤔
Wahyu🐊: Anda Terlalu Teliti😅🙏 Nanti Aku Revisi Kalau Udah Tamat Masih Panjang Perjalanan nya
total 1 replies
Wahyu🐊
Nanti aku Revisi Oke
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!