NovelToon NovelToon
Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tampak seperti benteng yang dikepung massa. Ratusan demonstran dengan spanduk-spanduk bertuliskan kecaman terhadap bandar narkoba memenuhi trotoar, sementara puluhan kamera televisi sudah bersiaga di depan gerbang. Di dalam sana, Pak Baskoro sedang duduk sendirian di atas kursi kayu yang keras, menghadapi hakim dan jaksa yang sudah siap melumat habis sisa-sisa kehormatannya.

Mobil Yoga berhenti dua blok dari pengadilan. Suasana di dalam mobil sangat sunyi, hanya deru mesin dan napas mereka yang terdengar.

"Polisi menjaga setiap pintu masuk," Yoga berbisik sambil memantau melalui spion. "Identitas kalian sudah tersebar di grup WhatsApp kepolisian. Masuk lewat depan sama saja dengan menyerahkan diri sebelum sempat bicara."

Risky menatap buku merah di pangkuan Almira. Matanya yang merah karena kurang tidur tampak berkilat tajam. "Kita tidak butuh pintu depan. Kita butuh kekacauan."

"Maksudmu?" tanya Almira.

Risky menoleh ke arah Yoga. "Yoga, kau masih punya peralatan dari masa-masa 'aktivis' dulu? Aku butuh gangguan di gerbang utama yang cukup besar untuk menarik seluruh perhatian petugas keamanan ke sana."

Yoga menyeringai, sebuah senyum tipis yang penuh arti. "Berikan aku waktu lima menit."

Risky kemudian beralih pada Almira. Ia memegang kedua bahu gadis itu, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia sendiri hampir kehilangan. "Al, kau masuk lewat pintu samping khusus saksi ahli. Aku punya kawan di dalam, seorang panitera yang berhutang budi padaku. Dia akan membukakan pintu itu. Tapi begitu kau di dalam, kau harus berlari menuju ruang sidang utama. Jangan berhenti, siapa pun yang memanggilmu."

"Lalu kau?" Almira merasa cemas.

"Aku akan masuk melalui jalur resmi sebagai pengacara tambahan. Aku akan menarik perhatian jaksa agar mereka tidak sempat membungkammu saat kau menunjukkan buku ini," Risky mengambil napas dalam. "Ingat, Al. Begitu kau masuk ke ruang sidang, arahkan buku ini ke kamera wartawan terlebih dahulu, bukan ke hakim. Jika media sudah melihatnya, hakim tidak akan berani mengabaikannya."

Almira mengangguk kuat. Tangannya mendekap buku merah itu di balik blazernya yang kini sudah kotor. "Aku siap."

Lima menit kemudian, sebuah ledakan petasan asap yang sangat besar mengguncang area depan pengadilan. Massa yang awalnya tenang mulai berteriak kaget, diikuti dengan aksi saling dorong yang nampaknya sudah diatur oleh Yoga dan kawan-kawannya. Para polisi yang berjaga di pintu samping segera berlari menuju gerbang utama untuk membantu mengendalikan situasi.

"Sekarang!" teriak Risky.

Almira keluar dari mobil, berlari secepat yang ia bisa menuju pintu kecil di balik lorong kantin pengadilan. Benar saja, pintu itu sedikit terbuka. Seorang pria paruh baya dengan seragam cokelat mengangguk kecil padanya sebelum menghilang kembali ke dalam kegelapan.

Almira terus berlari. Lorong pengadilan terasa sangat panjang, suaranya yang terengah-engah menggema di dinding-dinding tinggi yang kaku. Dari kejauhan, ia bisa mendengar suara hakim yang membacakan dakwaan. Suaranya terdengar berat dan monoton, seperti vonis mati yang dibacakan secara perlahan.

Ia sampai di depan pintu kayu jati besar yang tertutup rapat. Dua orang petugas keamanan berdiri di sana.

"Maaf, Mbak. Sidang tertutup untuk umum!" salah satu petugas menahannya.

"Saya saksi kunci! Saya membawa bukti yang bisa membatalkan sidang ini!" Almira berteriak, suaranya melengking di lorong yang sunyi.

"Jangan buat keributan, atau kami paksa keluar!" petugas itu mulai menarik lengan Almira.

Tiba-tiba, dari dalam ruangan, terdengar suara Risky yang menggelegar. "Keberatan, Yang Mulia! Ada bukti baru yang sedang berada di luar pintu ini, bukti fisik yang akan membuktikan bahwa dakwaan jaksa adalah sebuah kebohongan besar!"

Keributan terjadi di dalam. Almira menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri. Ia menendang pintu kayu tersebut dengan seluruh sisa tenaganya.

BRAK!

Pintu terbuka lebar. Seluruh mata di ruang sidang menoleh ke arahnya. Kilatan lampu flash dari kamera wartawan di area pers langsung menyambar sosok Almira yang berdiri di ambang pintu dengan rambut berantakan dan pakaian penuh debu.

Pak Baskoro, yang duduk di kursi terdakwa dengan rompi tahanan oranye, membelalakkan mata. "Almira?" bisiknya, suaranya pecah oleh rasa tidak percaya.

Almira tidak mempedulikan teriakan hakim yang memukul palu berkali-kali. Ia berjalan mantap ke tengah ruangan, tepat di depan meja hakim. Ia mengangkat tinggi-tinggi buku log berwarna merah itu.

"Ini adalah buku log asli dari Biro Umum Kementerian Luar Negeri!" Almira berteriak, air mata mulai mengalir di pipinya, namun suaranya tetap tegas. "Buku ini membuktikan bahwa koper narkoba itu bukan milik ayah saya! Di sini tertera tanda tangan Pak Wirayuda sebagai pengirim asli, menggunakan stempel rahasia negara untuk menyelundupkan barang haram tersebut!"

Suasana ruang sidang meledak. Para wartawan berebut maju untuk mengambil gambar buku itu. Jaksa penuntut umum tampak pucat pasi, sementara Wirayuda yang duduk di barisan kursi tamu penting, perlahan-lahan bangkit berdiri dengan wajah yang mengeras.

"Security! Amankan gadis itu! Dia membawa dokumen curian!" teriak Wirayuda, suaranya penuh amarah yang tertahan.

Risky segera berdiri di depan Almira, melindunginya. "Dokumen ini bukan curian, ini adalah bukti yang sengaja dihilangkan oleh orang-orangmu, Wirayuda! Yang Mulia Hakim, saya mohon dokumen ini segera diperiksa oleh ahli forensik di depan sidang ini juga!"

Hakim ketua tampak bimbang, namun tekanan dari kamera wartawan yang menyiarkan kejadian itu secara langsung membuat dia tidak punya pilihan. "Petugas, ambil dokumen tersebut. Persidangan ditunda selama dua jam untuk verifikasi bukti."

Almira merasa lututnya lemas. Ia menatap ayahnya. Pak Baskoro menangis, bukan karena sedih, tapi karena bangga. Di tengah kekacauan itu, Almira tahu bahwa meski jalan mereka masih panjang, kebenaran tidak lagi menjadi rahasia yang terkunci.

Jawaban yang mereka cari selama ini sudah tergeletak di meja hakim. Sekarang, giliran para pengkhianat yang harus mulai merasa takut.

...****************...

1
Sulfia Nuriawati
potret pejabat ms kini, mw segalanya instant, g bs d pungkiri pasti d dunia nyata jg bgtu cm g ada yg berani bongkar
sabana: 🤭🤭🤭
lanjut baca kk
total 1 replies
Ophy60
Ikut tegang....memang uang dan jabatan membuat orang lupa diri.Pak Wirayuda dengan tega mengorbankan anak buahnya sendiri.
Ophy60
Apakah Hermawan juga korban ??
sabana: lanjutkan baca kak
total 1 replies
Ophy60
Sepertinya menarik kak...
sabana: lanjutkan kak, semoga suka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!