NovelToon NovelToon
Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Fajar menyingsing di atas langit Jakarta dengan warna keemasan yang tak lagi terasa mengancam. Ruang sidang Pengadilan Negeri hari ini penuh sesak hingga ke selasar. Udara pengap oleh aroma keringat dan antisipasi yang meledak-ledak. Kabar tentang penggerebekan di Tanjung Priok semalam telah menjadi api liar yang membakar seluruh halaman depan surat kabar dan linimasa media sosial.

Wirayuda tidak hadir. Kursi yang biasanya ia tempati kini kosong, hanya menyisakan aroma parfum mahalnya yang mulai memudar. Kabar burung mengatakan ia sedang dalam "perjalanan dinas", namun semua orang tahu itu adalah kode halus untuk upaya melarikan diri yang gagal.

Almira duduk di barisan depan, menggenggam tangan Debo yang dingin. Risky berdiri di samping meja pengacara, lengannya dibalut perban putih yang kontras dengan jas hitamnya yang rapi. Ia tampak lelah, namun matanya memiliki binar kemenangan yang tak bisa disembunyikan.

"Majelis Hakim memasuki ruang sidang!" seru panitera.

Semua orang berdiri. Hakim Ketua hari ini tampak jauh lebih tegas, mungkin karena ia tahu seluruh mata rakyat Indonesia sedang mengawasi setiap gerak-geriknya melalui siaran langsung.

"Persidangan atas terdakwa Baskoro dilanjutkan," ucap Hakim Ketua. "Agenda hari ini adalah penyerahan bukti tambahan yang ditemukan oleh pihak keluarga."

Risky melangkah maju. Ia mengeluarkan sebuah pulpen perekam perak yang tampak bersahaja, namun di dalam benda kecil itu tersimpan kebenaran yang selama ini dibungkam.

"Yang Mulia," suara Risky berwibawa. "Bukti ini bukan sekadar rekaman suara. Ini adalah kronologi pengkhianatan. Pulpen ini ditemukan di dalam koper barang bukti, diaktifkan sendiri oleh terdakwa karena kecurigaannya terhadap proses titipan barang yang tidak lazim. Kami mohon rekaman ini diputar secara utuh."

Jaksa penuntut kali ini tidak mengajukan keberatan. Ia hanya menunduk, menyadari bahwa kapal yang ia tumpangi sedang tenggelam.

Ruangan itu mendadak sunyi saat suara statis mulai terdengar dari pengeras suara. Lalu, muncul suara Hermawan yang terdengar gugup, disusul suara Pak Baskoro yang tenang namun penuh selidik.

"Hermawan, kenapa koper ini berat sekali? Kau bilang hanya pakaian."

"Hanya dokumen dan beberapa oleh-oleh untuk anakku, Bas. Kau tahu sendiri, pengiriman diplomatik sedang diperketat. Aku butuh namamu agar ini lolos tanpa pemeriksaan berbelit. Ini perintah... dari atas."

"Atas? Maksudmu Pak Wirayuda?"

"Sudahlah, Bas. Jangan terlalu banyak tanya. Cukup bawa saja. Ini akan sangat membantu karirmu nanti."

Rekaman itu terus berlanjut hingga detik-detik koper itu ditutup. Suara itu begitu jernih, menangkap desahan napas Hermawan yang penuh beban dan ketegasan Pak Baskoro yang berkali-kali mengingatkan agar tidak ada barang ilegal di dalamnya.

Almira memejamkan mata. Mendengar suara Ayahnya yang berjuang menjaga integritasnya di tengah jebakan itu membuat hatinya hancur sekaligus bangga.

Setelah rekaman selesai, Risky menyerahkan setumpuk dokumen hasil penggerebekan di pelabuhan semalam. "Dan ini, Yang Mulia, adalah bukti bahwa narkotika dalam koper tersebut hanyalah umpan kecil untuk menutupi penyelundupan ratusan kilogram sabu milik Yayasan Cahaya Nusantara, yang dipimpin oleh Pak Wirayuda. Semuanya terhubung."

Hakim Ketua terdiam cukup lama. Ia berdiskusi sejenak dengan hakim anggota lainnya. Suasana di ruang sidang begitu tegang hingga suara detak jam dinding pun terdengar jelas.

Akhirnya, Hakim Ketua mengetuk palu.

"Berdasarkan bukti-bukti baru yang sangat kuat dan tidak terbantahkan, Majelis Hakim berpendapat bahwa dakwaan terhadap saudara Baskoro tidak memiliki dasar hukum yang sah. Seluruh barang bukti mengarah pada konspirasi yang dilakukan oleh pihak lain yang saat ini sedang dalam proses pengejaran oleh kepolisian."

Hakim itu menatap Pak Baskoro dengan pandangan yang lebih manusiawi.

"Menyatakan terdakwa Baskoro bebas dari segala dakwaan! Memerintahkan agar terdakwa segera dikeluarkan dari tahanan dan memulihkan nama baik, harkat, serta martabatnya."

TOK! TOK! TOK!

Ruang sidang meledak dalam sorak-sorai. Almira melompati pagar pembatas, berlari menuju ayahnya yang baru saja dilepaskan borgolnya. Mereka berpelukan erat, tangisan bahagia pecah tanpa bendungan lagi. Debo menyusul, memeluk mereka berdua sambil sesenggukan.

"Ayah bebas, Yah... kita pulang," bisik Almira di bahu ayahnya yang gemetar.

"Terima kasih, Al... terima kasih, Debo," ucap Pak Baskoro parau.

Di kejauhan, Risky hanya berdiri bersandar di meja kayu, menatap pemandangan itu dengan senyum tipis. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan foto lama ayahnya yang sudah kusam, lalu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri: "Sudah tuntas, Ayah."

Satu bulan kemudian.

Taman di rumah baru mereka di Bandung terasa sejuk. Pak Baskoro sedang sibuk memangkas tanaman mawar, hobi yang dulu hanya menjadi angan-angannya saat berada di balik jeruji. Ia tidak lagi bekerja di kementerian; ia memilih pensiun dini dan menikmati ketenangan yang mahal harganya.

Debo baru saja diterima di sekolah fotografi ternama, berbekal foto-foto investigasinya yang kini dipajang di galeri nasional sebagai simbol keberanian warga sipil.

Almira duduk di teras, menyesap teh hangat sambil membaca berita di tabletnya. Wirayuda dan kroninya telah divonis penjara seumur hidup. Yayasan Cahaya Nusantara dibubarkan, dan seluruh asetnya disita untuk panti rehabilitasi narkoba.

Suara mobil berhenti di depan pagar. Risky turun dari mobilnya, tidak lagi mengenakan jas formal, melainkan kaos polo santai.

"Bagaimana kabarnya, Pengacara?" sapa Almira sambil tersenyum.

Risky berjalan mendekat, membawa sebuah amplop besar. "Kabar baik. Dan ini, surat resmi pemulihan nama baik Ayahmu sudah keluar sepenuhnya. Tidak ada lagi catatan hitam."

Almira menerima amplop itu, namun matanya tetap menatap Risky. "Kau tahu, Risky... setelah semua ini, aku memutuskan untuk tidak jadi diplomat."

Risky mengangkat alis. "Oh ya? Jadi mau jadi apa?"

"Aku sudah mendaftar kuliah hukum. Aku ingin menjadi pengacara sepertimu. Seseorang yang tidak takut mencari jawaban, meski dunia mencoba menyembunyikannya," jawab Almira mantap.

Risky terkekeh, suara yang jarang terdengar dari mulut pria kaku itu. "Kalau begitu, bersiaplah. Dunia hukum lebih kejam daripada labirin kementerian."

"Aku punya guru yang bagus, kan?" Almira mengedipkan mata.

Mereka tertawa bersama, suara tawa yang kini tak lagi menyimpan beban. Di taman itu, di bawah sinar matahari sore yang hangat, pencarian mereka telah berakhir. Semua jawaban telah ditemukan, bukan di dalam tumpukan dokumen atau rekaman suara, melainkan di dalam kekuatan sebuah keluarga yang menolak untuk menyerah pada ketidakadilan.

1
Sulfia Nuriawati
potret pejabat ms kini, mw segalanya instant, g bs d pungkiri pasti d dunia nyata jg bgtu cm g ada yg berani bongkar
sabana: 🤭🤭🤭
lanjut baca kk
total 1 replies
Ophy60
Ikut tegang....memang uang dan jabatan membuat orang lupa diri.Pak Wirayuda dengan tega mengorbankan anak buahnya sendiri.
Ophy60
Apakah Hermawan juga korban ??
sabana: lanjutkan baca kak
total 1 replies
Ophy60
Sepertinya menarik kak...
sabana: lanjutkan kak, semoga suka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!