Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi Bisu di Balik Layar Hijau
Rasa curiga yang membuncah mendorongku untuk mengambil ponsel suamiku saat ia sedang terlelap. Aku harus tahu siapa wanita yang selalu bersamanya setiap malam. Di media sosial, aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan selain pesan-pesan dari masa lalunya. Namun, begitu aku membuka aplikasi pesan berwarna hijau, hatiku mencelos. Di sana berderet percakapan dengan seseorang yang memanggilnya "Say"—sebuah panggilan sayang yang tak lagi ia berikan padaku.
Dengan tangan gemetar, aku mencoba menelepon nomor itu, namun tidak diangkat. Aku terus mencoba karena rasa kesal yang memuncak, hingga tanpa sadar dering ponsel itu membangunkannya. Dia menatapku dengan sorot mata penuh kebencian, tidak terima privasinya disentuh.
Bagaimana aku tidak menaruh curiga? Dia suami yang sangat pelit, ringan tangan, dan jarang pulang ke rumah. Kemarahannya meledak seketika. Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku hingga pipiku memar seketika. Tak cukup sampai di situ, ia menjambak rambutku dan—BLAAMM!—kepalaku menghantam tembok dengan keras. Di balik kepalaku, kini tak hanya ada rasa sakit yang berdenyut, tapi juga benjolan besar yang menyiksa.
Demi janin yang kukandung, aku mencoba bertahan sekuat tenaga setidaknya sampai ia lahir. Aku pernah mendengar bahwa pengadilan tidak mengizinkan perceraian saat sang istri sedang hamil. Jika bukan karena takut pada hukum, mungkin sudah kuhabisi dia dengan tanganku sendiri atas semua perbuatan kejinya.
Jeritan di Balik Pintu Terkunci
Aku menangis histeris sambil memegangi kepala yang terasa berdenyut hebat. Duniamu seolah berputar; pusing dan sakitnya tak tertahankan. Mungkin jika orang lain berada di posisiku, mereka sudah menyerah. Rasanya benar-benar sudah di ambang batas kemampuan.
Suara kegaduhan di dalam kamar rupanya membangunkan ibu mertuaku. Beliau menyadari ada sesuatu yang tidak beres di balik pintu yang terkunci rapat itu.
"Mad, kenapa? Ada apa?!" teriaknya dari luar sambil menggedor-gedor pintu, namun tak ada sahutan dari suamiku.
Tok! Tok! Tok!
"Ada apa, Mad! Buka! Oii, buka!" teriaknya lagi. Kali ini gedorannya terdengar semakin brutal, seolah beliau menggunakan kaki untuk mendobrak pintu dari atas hingga bawah.
"Apa?! Tidak ada apa-apa! Sudah, sana pergi!" teriak suamiku dengan suara menggelegar layaknya orang kesetanan. Ia sama sekali tidak peduli pada ibunya, apalagi padaku.
Aku hanya bisa meringkuk lemas di sudut kamar, di dekat lemari, sambil memeluk selimut erat-erat. Tubuhku gemetar hebat, berusaha mencari perlindungan kecil di tengah badai kemarahan laki-laki yang seharusnya melindungiku.
Trauma di Balik Pintu yang Hancur
Ketakutan menyelimuti seluruh tubuhku hingga tangan dan kakiku bergetar hebat. Kepalaku terus berdengung, rasa pusing yang luar biasa membuatku nyaris pingsan, namun sekuat tenaga aku mencoba bertahan.
Meski pipiku memar dan kepalaku berdenyut sakit, semua itu tidak sebanding dengan luka di hatiku. Rasa sakit batin ini begitu dalam, menciptakan trauma yang aku tahu tidak akan mudah hilang seumur hidupku.
Dalam kepanikan, aku berlari menuju kamar mandi untuk mencari perlindungan. Namun, suamiku mengejarku dengan beringas. Ia mendobrak pintu kamar mandi dengan penuh amarah.
Nahasnya, saat itu mertuaku sudah berangkat ke musala, sehingga tak ada seorang pun yang tahu nyawaku sedang terancam. Suara benturan keras terdengar saat pintu kamar mandi itu pecah dan hancur di bawah kekuatannya.
Aku terduduk lemas di lantai kamar mandi, terjepit di sudut ruangan tanpa ada jalan untuk mundur atau melarikan diri lagi. Aku hanya bisa terpaku saat melihatnya masuk dengan tatapan yang mengerikan, sementara aku tak lagi punya tempat untuk bersembunyi.
Tiba tiba " Suuuuurrrrrr"
Sampah di Atas Mahkota
Tahukah kalian apa yang terjadi di dalam kamar mandi itu? Dengan penuh kebencian, suamiku mengambil tong sampah yang penuh berisi cangkang telur busuk, kulit ketela, dan kotoran lainnya.
Tanpa belas kasihan, ia menumpahkan semua sampah itu tepat di atas kepalaku, lalu mengguyurku dengan air.
Entah setan apa yang merasukinya, apakah dia masih memiliki kewarasan? Aku diperlakukan lebih rendah daripada kotoran. "Baj*ngan kau, Mad! Apa salahku, Ya Allah?!" teriakku dalam batin.
Aku tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Jauh dari keluarga kandung membuat lukaku terasa berkali lipat; aku tidak memiliki satu pun pundak untuk bersandar.
Begitu mendengar suara kedua orang tuanya pulang dari musala, sikapnya berubah drastis. Mungkin ia takut ketahuan, atau entah kesadaran apa yang tiba-tiba muncul. Ia segera menutup pintu dan mencoba membantuku membersihkan sisa-sisa sampah yang tersangkut di rambut panjangku.
Aku hanya bisa terdiam, tubuhku kaku, tak mampu lagi melawan. Hanya isak tangis yang terus lolos dari sela bibirku.
Ingatanku terbang kembali ke masa kecil; aku memang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Dulu, demi wanita lain, ayah kandungku tega memukulku dengan sapu lidi hingga kakiku penuh bekas luka memerah.
Kini, aku seolah terjebak dalam lingkaran setan yang sama. Memiliki suami yang melakukan KDRT adalah kenyataan pahit yang tak pernah kusangka akan menimpahku. Sakit sekali rasanya.
Aku hanya mendambakan seorang suami yang bisa menjadi panutan, menjadi imam yang membimbingku, dan pelindung yang menyayangiku. Namun nyatanya, laki-laki ini justru melukaiku, menghakimiku, dan menginjak-injak harga diriku semaunya.
Matinya Rasa di Balik Luka
Drama di kamar mandi itu berakhir dengan tubuhku yang limbung. Saat mencoba melangkah keluar, kepalaku berdenyut hebat, pandanganku mengabur, dan seketika semuanya menjadi gelap. Aku tak ingat lagi apa yang terjadi; sepertinya kesadaranku menyerah pada rasa sakit itu.
Tiba-tiba aku terbangun di atas tempat tidur. Badanku terasa remuk dan pusing masih mencengkeram kuat. Saat kulihat ponsel, waktu sudah menunjukkan pukul 06:55. Aku menoleh ke samping dan mendapati suamiku masih tertidur pulas tanpa beban. Tidak ada raut khawatir, tidak ada penyesalan. Dia seolah tak peduli bahwa semalam ia baru saja menyiksaku.
Namun, di detik itu juga, sesuatu di dalam hatiku ikut mati. Aku tak lagi butuh dikasihani olehnya. Aku tidak butuh perhatiannya. Mulai saat ini, mau dia jungkir balik atau bahkan mati sekalipun, aku tidak akan peduli lagi. Rasa cintaku sudah habis terbakar oleh kelakuannya.
Aku mencoba memaksakan diri untuk bangun dan keluar kamar. Kepalaku yang semalam terbentur tembok terasa sangat nyeri, dan saat kuraba, benar saja—ada benjolan besar di sana.
Dengan sisa tenaga, aku melangkah menuju teras untuk sekadar mencari sinar matahari pagi sambil menghirup udara luar.
Aku melewati mertuaku begitu saja tanpa sepatah kata pun. Mulutku terkunci rapat; aku tidak peduli mereka mau ke mana atau apa yang mereka pikirkan. Fokusku hanya satu: bertahan hidup demi janin yang ada di dalam rahimku.
"Kamu semalam kenapa, Nak?" tanya ibu mertuaku dengan nada ingin tahu yang biasanya.
"Tidak apa-apa, Mak," jawabku singkat. Beliau pun berlalu, meninggalkanku sendiri di teras. Aku tidak mungkin berterus terang, karena aku yakin seratus persen beliau akan membela anaknya. Lebih baik aku diam daripada harus menambah beban pikiran dengan mendengarkan ocehan yang tak memihakku.
"Tidak apa-apa bagaimana to! Orang semalam dengar kamu menangis," timpalnya lagi sebelum benar-benar pergi.
"Iya, Mak! Aku tidak apa-apa. Sudah sana kalau mau ke sawah," usirku halus. Aku benar-benar tidak ingin diganggu; bahkan untuk berbicara saja, kepalaku terasa semakin berdengung hebat.
Rasanya sudah di ambang batas. Keinginan untuk pergi dari rumah mertua ini semakin kuat mencengkeram benakku. Di tengah diamku di teras, aku memperhatikan kendaraan yang lalu lalang, bahkan sempat melihat adikku berangkat sekolah. Tak lama kemudian, suamiku bangun dan keluar.
Tak ada sapaan, tak ada obrolan. Hatiku sudah dipenuhi rasa kecewa dan sakit hati yang teramat dalam. Saat ia mencoba mendekat dan hendak memegang kepalaku, tubuhku refleks menghindar karena trauma. Aku takut tangan itu akan melayang lagi untuk menyakitiku.
"Kenapa? Mau lagi?" godanya dengan nada yang sangat menyakitkan.
Aku mendongak, menatap matanya tajam-tajam dengan sisa keberanian yang kupunya. "Aku seharusnya tidak pernah menikah denganmu! Jika kamu sudah tidak suka padaku, kembalikan aku kepada orang tuaku!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, aku berdiri dan berjalan kembali ke kamar dengan langkah yang terhuyung-huyung, meninggalkan dia yang masih terpaku di sana.
Penjara Tanpa Jeruji
Sejujurnya, aku merasa seperti terjebak di dalam kandang macan yang tak membiarkanku pergi ke mana pun. Ingin pulang pun terasa sia-sia; aku tahu suamiku akan mengejarku dan menghadangku di tengah jalan. Aku benar-benar terkunci dalam situasi ini.
"Ya Allah, apa salahku? Kenapa Engkau pertemukan aku dengan dia? Lelaki yang tidak punya moral dan begitu kejam padaku," ratapku dalam tangis yang pecah kembali. Mataku sudah sembab, tapi aku tidak peduli lagi seberapa hancur penampilanku. Di tengah isak tangis itu, suamiku masuk ke kamar dan duduk tepat di hadapanku.
"Aku minta maaf ya, Dek," ucapnya datar. Hanya itu. Hanya sebaris kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
Seketika rasa kesal dan kekecewaan yang amat sangat meluap di dadaku. Sungguh, aku merasa dihina untuk kedua kalinya. Apa yang dia lakukan semalam—hinaan, pukulan, benturan di kepala, hingga siraman sampah—sama sekali tidak bisa dihapus hanya dengan satu kata "maaf" yang tanpa rasa sesal itu.
Aku tetap diam, membiarkan air mata mengalir tanpa membalas ucapannya. Aku tidak peduli lagi apa pun yang ingin ia katakan.
Pikiranku kacau, mentalku hancur lebur, dan aku sangat mengkhawatirkan kondisi janin di rahimku yang ikut merasakan penderitaan ibunya.
Lelaki macam apa dia? Nama apa yang pantas disematkan untuk manusia sekejam dia?
Bersambung....