NovelToon NovelToon
Legenda Pendekar Mata Naga Biru

Legenda Pendekar Mata Naga Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

Cerita mengikuti Chen Wei, seorang pemuda dari keluarga Cina yang menjadi penerus kekuatan Mata Naga Biru – salah satu dari tiga artefak kuno yang mampu membangkitkan atau mengalahkan Kaisar Naga, makhluk yang pernah hampir menghancurkan dunia. Setelah kampung halamannya dihancurkan oleh Sekte Darah Naga yang mencari ketiga mata naga untuk menguasai dunia, Chen Wei memulai perjalanan panjang untuk melindungi artefak tersisa, belajar mengendalikan kekuatan naga dalam dirinya, dan mengumpulkan sekelompok sahabat yang setia.

Melalui ujian yang penuh bahaya, pertempuran dengan musuh yang kuat, dan pengungkapan rahasia sejarah keluarga serta hubungan dengan musuhnya, Chen Wei harus memilih antara menggunakan kekuatan untuk membalas dendam atau untuk melindungi keseimbangan alam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31: Gunung Es Yang Berbicara Dan Janji Yang Dipenuhi

Setelah kemenangan di Hutan Hujan Tropis Tak Terbatas, kelompok Chen Wei mendapatkan waktu singkat untuk kembali ke Akademi Pelindung Naga dan merencanakan langkah selanjutnya. Namun kabar darurat segera datang dari Pegunungan Es Utara – tempat suci di mana komunitas pendaki gunung telah menjaga keheningan selama berabad-abad, dan di mana energi es dan esensi keseimbangan dunia ini berada.

Kegelapan telah membekukan seluruh pegunungan dalam lapisan ais hitam yang tebal, membekukan bukan hanya air dan tanah, tetapi juga harapan dan kebahagiaan dari semua yang tinggal di sana. Para pendaki yang berhasil melarikan diri melaporkan bahwa makhluk-makhluk es yang dulu ramah kini telah berubah menjadi penjaga yang kejam, dan bahwa puncak gunung tertinggi – tempat "Puncak Keseimbangan" berada – telah dikelilingi oleh badai salju hitam yang tak pernah berhenti.

Chen Wei tahu bahwa ini adalah salah satu pertempuran terpenting yang akan mereka hadapi. Jika Pegunungan Es Utara jatuh ke dalam kegelapan, keseimbangan alam semesta akan terganggu secara total, dan jalan akan penuh dengan bahaya yang tak terbayangkan. Dia segera mengumpulkan kelompok intinya, serta pasukan terbaik yang telah dilatih khusus untuk menghadapi ekstrem kondisi dingin.

Perjalanan menuju pegunungan membawa mereka melalui medan yang semakin keras dan dingin. Angin bertiup dengan kekerasan yang luar biasa, membawa salju dan es yang menusuk kulit. Makhluk-makhluk es yang telah terkontaminasi menyerang mereka tanpa henti – beruang kutub raksasa dengan kulit yang berwarna hitam, serigala salju dengan mata yang menyala merah, dan bahkan bentuk-bentuk manusia yang terbuat dari ais hitam yang tampak seperti bayangan dari masa lalu.

Ketika mereka akhirnya mencapai desa kecil di kaki gunung, mereka menemukan pemandangan yang menyakitkan. Rumah-rumah yang dulu hangat kini tertutup lapisan ais tebal, dan orang-orang yang tinggal di sana berkumpul di sebuah kuil kecil yang masih bisa mereka pertahankan. Pemimpin desa, seorang pria tua bernama Bapak Frost, datang menemui mereka dengan wajah yang penuh dengan harapan dan kekhawatiran.

"Kita telah menahan diri selama seminggu," ujarnya dengan suara yang menggigil karena dingin dan emosi. "Tetapi badai salju hitam itu semakin dekat setiap hari. Ia tidak hanya membekukan segala sesuatu yang menyentuhnya – ia membekukan harapan dari hati manusia. Banyak dari kita yang sudah mulai menyerah pada kegelapan."

Chen Wei melihat ke arah puncak gunung yang tertutup oleh badai hitam pekat, dan dia bisa merasakan bahwa kekuatan yang ada di sana berbeda dari yang mereka hadapi sebelumnya. Ini adalah kekuatan yang berasal dari kesedihan yang terlupakan dan janji yang tidak ditepati – kesedihan dari semua yang pernah merasa ditinggalkan di dalam dingin dan kesendirian.

"Saya bisa merasakan kesendiriannya," bisik Lin Xue, yang kekuatan petirnya biasanya menghangatkan sekitarnya kini bekerja ekstra keras untuk melawan dingin yang menusuk tulang. "Setiap makhluk di pegunungan ini merasakan rasa sendirian yang mendalam, dan kegelapan itu menggunakan perasaan itu untuk menguasai mereka."

Pada pagi hari berikutnya, mereka memulai pendakian menuju Puncak Keseimbangan. Jalannya penuh dengan bahaya – lereng es yang licin, jurang yang dalam, dan makhluk-makhluk es yang terus menyerang dari balik badai. Zhang Tian dan Wu Chen membentuk garis depan, menggunakan kekuatan api dan tanah untuk membekukan jalan dan menghadang serangan musuh. Tian Chen dan Xiang Yu (yang telah datang membantu setelah menerima pesan dari batu ungu) bekerja bersama untuk membaca pola kegelapan dan menemukan jalan yang paling aman melalui badai.

Liu Qing dan Hong Yu berada di tengah kelompok, menyediakan ramuan penghangat dan menyembuhkan yang terluka. Mei Hua menggunakan kekuatan angin dan es untuk membimbing mereka melalui badai, sementara Ratu Dewi (yang telah datang dari hutan untuk membantu) menggunakan hubungan alaminya dengan alam untuk berkomunikasi dengan makhluk-makhluk es yang masih bisa diselamatkan.

Ketika mereka akhirnya mencapai puncak gunung, mereka menemukan pemandangan yang membuat napas mereka terhenti. Puncak Keseimbangan yang dulu indah kini dikelilingi oleh tembok ais hitam yang tinggi, dengan sosok raksasa yang terbuat dari ais dan kegelapan berdiri di tengahnya. Di belakang sosok itu, sebuah kristal besar yang dulu bersinar dengan cahaya biru murni kini tertutup lapisan kegelapan yang tebal.

"Ini adalah 'Penjaga Kesendirian'," kata Bapak Frost dengan suara rendah. "Ia muncul setiap kali dunia berada di ambang kehancuran, menggunakan rasa sendirian manusia untuk menguasai mereka."

Pertempuran epik segera pecah. Sosok raksasa itu menyerang dengan kekuatan yang luar biasa, setiap pukulannya mampu menghancurkan batu besar dan membekukan udara di sekitarnya. Chen Wei dan kelompoknya menghadangnya dengan segala kekuatan yang mereka miliki, tetapi setiap serangan mereka tampaknya hanya membuat musuh itu semakin kuat.

Chen Wei menyadari bahwa mereka tidak bisa mengalahkan musuh ini dengan kekuatan semata. Dia mengumpulkan semua teman-temannya dan berteriak di atas suara badai: "Kita tidak akan melawan kegelapan dengan kekuatan! Kita akan melawannya dengan kehangatan cinta dan persahabatan kita!"

Dia mengambil Hati Naga dan batu ungu, lalu memanggil semua orang untuk bergabung tangan. Energi dari semua orang menyatu menjadi satu – energi dari gurun yang hangat, dari hutan yang hidup, dari laut yang luas, dan dari hati manusia yang penuh dengan cinta. Cahaya pelangi yang hangat menyebar dari tengah kelompok, menyinari seluruh puncak gunung.

"Sekarang kamu tidak sendirian!" teriak Chen Wei kepada sosok raksasa itu. "Kita semua merasa kesendirian pada suatu saat dalam hidup kita, tetapi kita tidak harus menghadapinya sendirian!"

Seiring dengan kata-katanya, sosok raksasa itu mulai bergetar. Lapisan ais hitam di tubuhnya mulai mencair, dan di dalamnya terlihat sosok seorang wanita muda yang menangis. "Saya telah sendirian selama begitu lama," bisiknya dengan suara yang meratap. "Saya berpikir bahwa kesendirian adalah satu-satunya cara untuk melindungi diri dari rasa sakit..."

Chen Wei mendekatinya dengan hati-hati, membentangkan tangannya. "Kesendirian hanya akan membuat rasa sakit semakin dalam," katanya dengan lembut. "Tetapi dengan cinta dan persahabatan, kita bisa mengatasi segala rasa sakit apa pun."

Wanita itu melihatnya dengan mata yang penuh dengan keraguan, kemudian perlahan-lahan menjabat tangannya. Pada saat itu, seluruh tembok ais hitam runtuh, dan badai salju hitam berubah menjadi salju putih yang lembut yang menghiasi seluruh pegunungan. Kristal besar di tengah puncak mulai bersinar kembali dengan cahaya biru murni, dan energi penyembuhan menyebar ke seluruh pegunungan.

Desa di kaki gunung mulai mencair dari pembekuan, dan orang-orang keluar dari rumah mereka dengan wajah yang penuh dengan kegembiraan. Makhluk-makhluk es kembali menjadi makhluk yang ramah, dan suara tawa dan nyanyian kembali memenuhi udara dingin namun segar.

Bapak Frost menangis dengan kebahagiaan, menyambut Chen Wei dan kelompoknya dengan rasa hormat yang dalam. "Kalian telah memberikan kembali harapan kepada kita," ujarnya. "Kita tidak akan pernah melupakan apa yang telah kalian lakukan."

Chen Wei berbalik ke arah puncak gunung, matanya penuh dengan tekad dan harapan. "Kita telah menyelamatkan tiga lokasi penting," katanya kepada teman-temannya. "Tetapi perjuangan kita belum selesai. di mana kita akan menghadapi inti dari Gelombang Kegelapan itu sendiri. Dan ketika saat itu tiba, kita akan siap."

Mereka berdiri bersama di puncak gunung, melihat matahari terbit yang menghangatkan permukaan es yang bersih. Mereka tahu bahwa jalan yang masih harus ditempuh panjang dan penuh dengan tantangan, tetapi mereka juga tahu bahwa dengan cinta dan persahabatan yang mereka miliki satu sama lain, tidak ada yang tidak mungkin mereka capai.

 

1
roso
luar biasa
roso
gaskan lanjutt
roso
🔥🔥🔥
asil
🔥🔥
asil
🔥🔥🔥
koco
niceee
koco
mantap👍
amon
lanjut👍
amon
👍👍
Tomiyama Choji
🔥🔥
suo
uraaa🔥
suo
uraa🔥
suo
🔥🔥🔥
agus
👍👍
agus
luar biasa
bagas
njut🔥🔥
bagas
menyala🔥🔥
adul
gaskan alnjur🔥
adul
okeee
zaka
okee👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!