Kevin sanjaya adalah seorang pemuda pekerja keras yang berasal dari keluarga miskin. Demi menyambung hidup, ia bekerja sebagai kurir pengantar makanan untuk sebuah perusahaan Ojol Indonesia.
Suatu hari, dalam salah satu pengantaran malamnya, ia mengalami kejutan pahit. Kamar hotel yang menjadi tujuan pesanannya ternyata adalah kamar yang dipesan oleh pacarnya sendiri—bersama pria lain—untuk menghabiskan malam.
Tertangkap basah, sang pacar justru memutuskan hubungan mereka di tempat itu juga. Dengan dingin, ia mengatakan bahwa Kevin sanjaya terlalu miskin dan tidak mampu memberinya kehidupan yang diinginkan.
Saat amarah dan penghinaan hampir meluap, sebuah notifikasi tiba-tiba terdengar dari ponselnya:
“Pengantaran selesai. Hadiah sistem telah diperoleh!”
Berkat kebiasaannya membaca novel, Kevin sanjaya langsung menyadari satu hal,
ia telah mendapatkan sebuah sistem cheat.
Sistem ini memberinya hadiah luar biasa setiap kali ia menyelesaikan misi pengantaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 – Hadiah
“Selamat tinggal semuanya,” ujar Kevin sanjaya sambil tersenyum tipis.
“Jangan pernah meremehkan orang lain lagi.”
Di tengah tatapan tercengang banyak orang, Kevin sanjaya menginjak pedal gas dan melaju pergi dengan Bugatti Veyron-nya.
Butuh waktu cukup lama bagi mereka untuk sadar kembali.
“Dia… dia benar-benar mengantar makanan pakai Bugatti Veyron!”
“Sepertinya anak orang kaya yang sedang mencoba merasakan hidup biasa. Iri sekali aku…”
Kerumunan itu menggelengkan kepala. Ketika mengingat bagaimana mereka baru saja mengejek Kevin sanjaya, rasa malu langsung menyelimuti hati masing-masing.
“Kevin...!”
Pada saat itu, Meysi Kurniawan berlari keluar dari hotel. Namun yang tersisa hanyalah jalan kosong, dan Bugatti Veyron itu sudah menghilang.
Wajahnya pucat. Dadanya terasa sesak.
Ia tahu…
ia telah kehilangan segalanya.
“Meysi, sudahlah. Tidak apa-apa,” kata Stevanus Polimpung mencoba menenangkannya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah Stevanus Polimpung.
“Semua ini gara-gara kamu!” teriak Meysi Kurniawan histeris.
“Aku kehilangan kesempatan menikah dengan orang kaya! Aku itu wanitanya Kevin! Mobil mewahnya juga seharusnya milikku!”
Matanya memerah karena emosi. Ia bahkan tidak peduli masih mengenakan jubah mandi. Dengan panik, ia menghentikan sebuah taksi dan menyuruh sopir mengejar arah perginya Kevin sanjaya.
Stevanus Polimpung berdiri terpaku, wajahnya memerah karena malu. Ia menggertakkan gigi, lalu berbalik dan masuk kembali ke hotel.
Sementara itu, Kevin sanjaya melaju di jalanan kota.
Ke mana pun Bugatti Veyron itu lewat, perhatian langsung tertuju padanya. Pengemudi lain dan pejalan kaki menoleh tanpa sadar.
Dulu, saat ia masih mengantar makanan dengan motor butut, mobil-mobil mewah sering membunyikan klakson agar ia minggir.
Sekarang?
Mereka justru menjaga jarak darinya.
Di hadapan Bugatti Veyron, mobil-mobil yang disebut “mewah” itu tampak tidak berarti apa-apa.
“Supercar ini benar-benar gila,” gumam Kevin sanjaya sambil tersenyum.
“Rasanya… terlalu keren.”
Tak lama kemudian, ia tiba di kawasan perumahan tujuan pengantaran.
Selama pesanan ini berhasil diselesaikan, ia akan mendapatkan sebuah perusahaan.
Begitu Bugatti mendekat, satpam yang sedang merokok langsung panik. Ia buru-buru membuang rokoknya dan membuka gerbang.
Mobil seperti itu…
pemiliknya pasti orang berpengaruh. Ia tidak berani macam-macam.
Kevin sanjaya tertawa dingin dalam hati.
Dulu, saat ia datang dengan motor Butut, satpam ini bahkan tidak mengizinkannya masuk.
Sekarang, mereka malah bersikap hormat.
Dunia memang seperti ini, pikirnya.
Harus sukses dulu baru dihargai.
Ia memarkir mobil, lalu menghubungi pelanggan. Ia menelepon beberapa kali dan menekan bel berkali-kali. namun tidak ada jawaban.
Di panel sistem, waktu tersisa tinggal tiga puluh menit.
Jika ia gagal menyelesaikan pengantaran tepat waktu, ia akan menerima hukuman.
“Kalau hukumannya sampai membuatku kehilangan mobil ini, aku benar-benar tamat,” gumamnya.
“Untung saja aku sudah menyiapkan rencana cadangan.”
Ia menggeleng kecil, lalu mengeluarkan megafon besar dari dalam kotak pengantaran.
Dengan napas dalam, Kevin sanjaya mengangkat megafon dan berseru:
“Nona Yati!
Pesanan camilan tengah malam Anda, paket lengkap berisi kaki sapi panggang, milk tea lemon, dan sate kambing, telah tiba!”
“Mohon segera turun untuk mengambil pesanan Anda!”
Suara itu menggema di seluruh kawasan perumahan.
Sekejap, tawa pecah di mana-mana.
Para penghuni rumah membuka jendela dan mengintip ke luar, penasaran ingin melihat seperti apa Nona Yati itu.
Tak ada jawaban.
Kevin sanjaya kembali mengangkat megafon.
“Tolong segera turun....”
“Berhenti berteriak!”
Seorang wanita cantik berlari turun dengan wajah memerah. Ia mengenakan seragam perawat, napasnya tersengal.
aku kasih kopi deh biar semngat trus😁