"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua puluh Lima
Hari ini Meira sudah masuk sekolah dan kembali ke rutinitasnya setelah menjalani hukuman skor dua hari kemarin. Akhirnya ia bisa berkumpul lagi bersama teman-temannya untuk mengisi waktu penuhnya di sekolah. Hanya saja, hari ini Meira tidak datang bersama Ayara.
"Ayara belum datang?" tanya Meira pada Hesty yang sudah duduk di bangkunya.
"Belum, Mei. Emangnya kalian gak berangkat bareng?" ia balik bertanya, heran melihat Meira yang datang ke sekolah tanpa Ayara.
Meira menggeleng sebagai jawaban. Ia mendengus pelan, lalu menyimpan tas gendongnya ke atas meja.
"Kok tumben sih Ayara berangkat bareng Lana?" kata Hesty bertanya-tanya ketika melihat Ayara dan Lana berjalan bersisian di koridor menuju kelas. Mereka tampak asyik mengobrol.
Meira seketika mendongakkan kepalanya keluar kelas. Matanya langsung mendapati Ayara dan Lana disana.
"Santai aja kali. Lo mau nginep berapa haripun, gue gak masalah." obrolan Lana dan Ayara semakin terdengar jelas di telinga Meira dan Hesty karena kedua cewek itu kini sudah berada di ambang pintu.
"Ra, aku..."
Ayara menatap Meira malas, kemudian segera berjalan ke arah bangkunya untuk menyimpan tas. Setelah itu ia kembali pergi keluar kelas, melewati Meira begitu saja.
"Eh, Ay, tunggu." teriak Lana ketika Ayara hampir menghilang di balik pintu kelas.
Lana buru-buru menyimpan tasnya dan menyusul Ayara. Kedua bahunya terangkat saat Hesty menatapnya dengan heran, seolah bertanya 'Ada apa?'.
"Kalian lagi ada problem, ya?" tanya Hesty penasaran, yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Meira.
"Masih berani datang ke sekolah lo?"
Meira dan Hesty membalikkan tubuhnya, menoleh pada Anita yang kini sedang berkumpul di tengah kelas bersama dengan beberapa teman kelas lainnya. Pandangan kelima cewek yang berkumpul di sana tampak tertuju pada seseorang yang baru saja datang dan menyimpan tasnya.
"Lo ngomong sama gue?"
Itu Giani.
"Ya iyalah. Siapa lagi di kelas ini yang maling gelangnya Anita?" kata Tiara, teman sebangku Anita. "Ups! Keceplosan." Tiara menutup mulutnya, menyamarkan suara tawa yang kesannya seperti ejekan.
Pernyataan Tiara barusan membuat keadaan kelas yang sudah terisi hampir seluruh siswa menjadi gaduh. Semua penghuni kelas saling berbisik kemudian terkekeh. Meira mengerutkan keningnya bingung dengan topik pembahasan teman-temannya.
'Tahu dari mana mereka?' batinnya bertanya-tanya.
Giani menggebrak meja untuk menghentikan suara berisik di dalam kelas. "Maksud lo apa?"
"Nggak usah pura-pura bego, deh. Semua orang udah tahu kali, kalau pencuri asli dari gelang itu, bukan Meira. Tapi, lo!" cibir Tiara.
"Punya bukti apa lo nuduh gue?!" suara Giani meninggi.
Anita tertawa mengejek. Cewek itu kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku baju dan memberikannya pada Giani. "Lo liat sendiri, deh. Biar puas dan nggak bisa ngelak lagi."
Giani menatap Anita dan Tiara bergantian dengan kesal. Tangannya menyambut cepat ponsel yang Anita sodorkan, lalu menonton sebuah video yang terputar di layar benda pipih itu.
"Abis ini bakal malu kali ya, kemarin-kemarin udah lampiasin ke orang lain." Tiara tersenyum puas melihat perubahan ekspresi Giani yang menjadi sangat pucat.
"Sekarang lo udah tahu kan, maksud omongan kita tadi apa?!" Anita mengambil kembali ponselnya dengan gerakan cepat. "Balikin gelang gue! Atau udah lo jual?!"
"Gue duduk bareng lo, ya." Risa bangkit dari kursinya dan memindahkan tasnya ke bangku Alea yang kebetulan duduk sendirian. "Takut kecolongan juga." sindirnya.
Ucapan Risa berhasil membuat Giani kesal sekaligus menahan malu. Giani langsung berbalik hendak keluar dari kelas. Ia sempat melirik Meira yang juga sedang menatapnya sebelum benar-benar meninggalkan kelas.
Anita, Tiara dan ketiga cewek lainnya kembali tertawa di tempat duduknya. Mata mereka mengikuti kepergian Giani hingga menghilang di balik pintu kelas.
"Kok gue yang malu ya."
"Iya ya. Kalau gue jadi dia, gue bakalan minta pindah sekolah deh kayaknya." kata Alea.
"Emang lo mau jadi maling kayak dia?" sahut Tiara.
"Ogah lah. Itukan cuma perumpamaan." timpal Alea sambil bergidik ngeri.
"Maaf, kalau boleh tahu, kalian tadi nunjukin apa ke Giani?" tanya Meira penasaran.
"Emangnya lo belum liat, Mei? Padahal videonya udah viral banget di grup sekolah." jawab Gean, cowok itu berjalan dari arah bangkunya menghampiri Meira. "Nih, coba lo liat." cowok itu menyodorkan ponsel miliknya.
Meira dan Hesty saling tatap sejenak. Hesty menggelengkan kepalanya pada Meira yang mengerutkan kening pertanda bingung juga. Ia kemudian menonton video dalam ponsel yang diberikan Gean. Matanya langsung membulat ketika tahu kalau video itu adalah rekaman cctv yang diduga di pasang Gean di kelasnya. Rekaman yang menunjukkan bahwa Giani lah pencuri uang kas yang sebenarnya. Bukan Meira.
"Oh iya, ini kartu ATM lo, Mei. Uang di kartu lo udah terlanjur gue tarik, nanti sore gue tf balik ya. Lo kirim aja no rekening lo ke gue." Anita mengembalikkan kartu ATM milik Meira. "Maaf banget, kemarin gue sama semua temen-temen di kelas ini udah nuduh lo."
Meira mengangguk pelan. Diberikan kembali ponsel pada Gean, lalu mengambil kartu ATM dari tangan Anita. Tanpa sepatah kata lagi, Meira melangkah cepat menjauhi ruang kelas menuju suatu tempat. Bukan perpustakaan seperti yang biasanya ia kunjungi sebelum masuk kelas, melainkan ke suatu tempat di area lapangan. Ia perlu segera mencari seseorang dan meluruskan semuanya.
...\~\~\~...
Rey menghentikan langkahnya ketika merasa seseorang menahan lengannya dari belakang. Ia menoleh, menatap Meira penuh tanya.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu." kata Meira, seolah mengerti arti dari ekspresi yang Rey tunjukkan.
Rey kembali menoleh ke depan. Banyak orang yang berlalu lalang menuju kelasnya masing-masing saat ini, karena bel masuk baru saja berbunyi. Ia kemudian berbalik menghadap Meira.
"Jam pertama sampai tiga kebetulan kosong, aku udah nanya ke bagian guru piket jadwal. Pak Guntur nggak masuk karena dia—"
"Sakit?" Rey menyela. Alisnya terangkat sebelah. "Gue udah tahu."
Meira menghela napas panjang seraya menganggukkan kepala.
"Ikut, gue." ajak Rey sambil menarik tangan Meira pelan.
Rey berjalan dengan langkah sedikit cepat. Ia kembali berbalik hendak melihat Meira. Cewek itu ikut melangkah lebar, berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan Rey.
"Kenapa kamu sebar rekaman itu?" tanya Meira to the point. Mereka berhenti di depan sebuah gudang sekolah yang sepi.
Rey sudah menduga kalau Meira pasti akan menanyakan perkara rekaman itu padanya.
"Lo udah nonton ternyata." ucap Rey santai. Ia tampak tidak mengindahkan pertanyaan dari Meira.
"Kamu kelewatan, Rey. Kalau sampai kepala sekolah tahu soal rekaman itu, beasiswa Giani pasti dicabut." Meira menggigit bibir bawahnya. "Bukan cuma itu, bahkan kepala sekolah bisa ngeluarin dia dari sekolah." ujarnya dengan nada khawatir.
"Terus, lo gimana?"
"Maksud kamu?" Meira tidak mengerti.
"Sebenarnya lo juga bisa dikeluarkan dari sekolah karena masalah ini." Rey tersenyum tipis. "Tapi, setelah gue pikir-pikir, kayaknya nggak sebanding kalau lo dikeluarkan dari sekolah bukan karena perbuatan jelek lo sendiri. Tapi, karena suka rela nanggung beban orang lain yang belum tentu mikirin diri lo kedepannya bakal kayak gimana. Jadi, ya, gue kasih aja bukti yang akurat kalau hukuman yang lo terima kemarin itu memang nggak pantas buat lo." Rey menjelaskan dengan santai.
Meira membuang napas berat. "Kamu emang gak punya hati atau gimana sih, Rey. Giani ngelakuin itu semua juga bukan tanpa alasan. Orangtuanya sakit, lagi sekarat di rumah sakit. Dia butuh biaya buat sembuhin orangtuanya."
Rey mengangguk-anggukan kepalanya. "Lo orang kesekian yang bilang begitu."
Cowok itu memasukkan kedua tangannya ke saku celana, kakinya kembali melangkah meninggalkan Meira yang masih diam dalam kebingungannya. Sebenarnya apa yang Rey inginkan?
"Aku belum selesai ngomong, Rey."
Rey berhenti melangkah, kemudian menghadap kembali pada Meira yang ternyata mengejarnya dan ikut berhenti di sebelahnya. "Denger ya, kadang nggak semua naluri harus lo turutin. Ada beberapa yang justru bakal ngerusak segalanya kalau lo maksa buat ikutin naluri lo itu. Dan dari situ muncul sifat egois dalam hati manusia." Rey menatap Meira sungguh-sungguh.
Meira diam dipijakannya saat Rey mulai kembali melangkah. Pikirannya terasa berkecamuk. Rey berhasil membuatnya berpikir keras. Sedangkan cowok itu, ia lagi-lagi menghentikan langkahnya lalu berbalik menghampiri Meira.
"Gue lupa. Tadi kepala sekolah bilang kalau lo harus ke ruangannya sekarang." cowok itu tampak menjeda ucapannya. "Oh iya, kasih tau Giani juga."
...\~\~\~...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰