NovelToon NovelToon
TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Horror Thriller-Horror / Iblis
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

​Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
​Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
​Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
​Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Kasta Para Eksekutor

Maya menatap tombol emas [BEDAH TARGET] dengan rasa mual yang meluap. Di sekelilingnya, apartemen yang tadinya merupakan tempat bernaung yang nyaman kini terasa seperti kamar mayat yang dingin. Bau anyir darah Andra dan sisa asap dari ponsel yang meledak memenuhi udara.

​Bab 28: Kasta Para Eksekutor

​Suara notifikasi yang biasanya terdengar renyah kini berubah menjadi suara denting logam yang dijatuhkan ke lantai marmer. Layar ponsel Maya berubah menjadi gelap, lalu muncul sebuah antarmuka baru yang sangat eksklusif.

​[SELAMAT DATANG DI RUANG VIP, EKSEKUTOR MAYA]

​Maya tidak bisa menggeser layar itu. Tiba-tiba, kamera depannya aktif secara otomatis, namun kali ini bukan siaran publik. Ada empat kotak lain yang muncul di layarnya. Empat orang lain yang juga memiliki simbol Mata Emas.

​"Siapa kalian?" bisik Maya, suaranya parau.

​Di kotak pertama, ada seorang pria berjas rapi yang tampak berada di sebuah kantor mewah. Wajahnya tegang, tapi matanya memancarkan ambisi yang mengerikan. Di kotak kedua, seorang remaja laki-laki yang menangis sesenggukan. Di kotak ketiga, seorang wanita paruh baya yang menggenggam tasbih, dan di kotak keempat, seorang pria dengan tato di sekujur lehernya yang justru tampak menikmati situasi ini.

​@anatomi_maut: Kalian adalah lima orang pilihan. Di tangan kalian, ada nyawa dari 10.000 penonton yang saat ini sedang menonton 'Channel Eksekutor'.

​Sebuah daftar nama mulai bergulir di bawah layar mereka. Nama, alamat, dan foto orang-orang biasa. Orang-orang yang saat ini sedang menonton mereka dengan penuh harapan agar tidak dipilih.

​"Apa yang kamu mau?" tanya pria berjas itu, suaranya bergetar.

​@anatomi_maut: Permainan 'Demokrasi' tadi terlalu lambat. Sekarang kita masuk ke fase 'Seleksi Alam'. Setiap Eksekutor harus memilih 100 orang dari daftar ini untuk 'Dianatomi'. Jika kalian tidak memilih dalam satu menit, sistem akan memilih secara acak... dimulai dari anggota keluarga kalian sendiri.

​"Nggak! Gue nggak mau!" teriak si remaja laki-laki. "Gue nggak mau bunuh orang!"

​Seketika, di samping kotak si remaja, muncul jendela baru yang menampilkan rekaman live dari sebuah kamar tidur. Di sana, seorang gadis kecil—mungkin adiknya—sedang tidur. Sebuah kabel charger di samping tempat tidur gadis itu mulai bergerak sendiri, melilit lehernya yang mungil saat dia masih terlelap.

​"JANGAN! OKE! OKE GUE PILIH!" teriak remaja itu histeris. Jarinya mulai mengetuk layar dengan babi buta, memilih nama-nama asing di daftar itu demi menyelamatkan adiknya.

​Maya melihat pemandangan itu dengan ngeri. Ia melihat pria bertato di kotak keempat tertawa kecil sambil mulai mengetuk-ngetuk layarnya seperti sedang bermain game kasual. Pria itu menghabisi nyawa orang lain seolah-olah itu hanya angka dalam skor permainan.

​"Maya," pria berjas itu bicara padanya melalui audio grup. "Pilih saja. Kita nggak punya pilihan. Kalau kita nggak milih, kita semua mati. Ini logikanya sederhana."

​"Ini bukan logika!" balas Maya sengit. "Ini penghapusan kemanusiaan! Lo nggak liat apa yang dia lakuin?"

​@anatomi_maut: Sisa 30 detik, Maya. Penontonmu sedang menunggu. Beberapa dari mereka mulai mengirimkan komentar agar kamu memilih mereka yang mereka benci. Lihatlah, manusia memang suka melihat kehancuran sesamanya.

​Maya melirik kolom komentar khusus Eksekutor. Benar saja, orang-orang di luar sana—para penonton yang ketakutan—justru mulai saling menjatuhkan.

user_88: Pilih akun @hater_sejati, dia sering bully orang!

rakyat_kecil: Pilih si kaya itu, dia nggak pantas hidup!

pembenci_banteng: pilih akun @megawati_soetantoputri🔵 ✔,,,,,,MERDEKA!!!!

​Maya merasa dunia ini sudah gila. Ia melihat tombol [BEDAH TARGET] yang berkedip merah setiap kali jarinya mendekat. Namun, Maya adalah seorang jurnalis. Otaknya yang sudah terlatih untuk mencari pola mulai bekerja di tengah tekanan.

​Ia memperhatikan barisan kode kecil yang berjalan di sudut bawah layar. Kode-kode itu muncul setiap kali ada nama yang "dieksekusi". Maya menyadari sesuatu: sistem @anatomi_maut bekerja berdasarkan feedback emosional dan interaksi data yang sinkron.

​Jika gue nggak milih orang, tapi gue membedah sistemnya... pikir Maya.

​"Maya, pilih!" pria berjas itu berteriak. "Waktu tinggal 10 detik!"

​Maya tidak menekan nama di daftar itu. Sebaliknya, ia menggunakan pengetahuannya tentang enkripsi yang pernah ia pelajari saat meliput kasus peretasan besar. Ia menekan tombol [BEDAH TARGET], tapi bukan ke arah daftar nama, melainkan ia menarik ikon tombol itu dan menjatuhkannya tepat di atas nama profil @anatomi_maut yang muncul di bagian atas komentar.

​Sebuah tindakan yang tidak ada dalam aturan.

​Layar HP Maya mendadak mengalami glitch hebat. Suara melengking tinggi keluar dari speaker, membuat semua Eksekutor lain menutup telinga.

​@anatomi_maut: APA YANG KAMU LAKUKAN?!

​"Gue jurnalis," bisik Maya, wajahnya diterangi cahaya glitch biru dan merah. "Gue nggak cuma ngelihat berita. Gue bedah sampai ke akar-akarnya. Dan lo... lo cuma kumpulan data yang haus perhatian."

​Tiba-tiba, visualisasi @anatomi_maut di layar mulai retak. Untuk pertama kalinya, suara mesin itu terdengar panik. Namun, di saat yang sama, pintu apartemen Maya kembali bergetar. Sesuatu yang lebih besar dari pria bermasker gas tadi sedang mencoba mendobrak masuk.

​Maya menyadari, menantang iblis digital berarti mengundangnya datang secara fisik ke depan pintu.

1
Panda
ada hal yang bikin aku bingung

ini kayanya ada dalangnya deh

tapi Vanya ya kali masa jadi zombie kak

🤔
APRILAH
mantap💪
Serena Khanza
apakah maya bakal selamat?
Sean Sensei
/Scare/ : Maya oh Maya... kasihan sekali hidupmu
APRILAH
Horror cuy, tapi malah inget anu kalo soal tap tap
Kaka's
🤭🤭 pakaiannya...🤭
Panda
hmmm serem pas adegan pindah ke muka Vanya woiii

ni cerita masuk genre system???
Panda
serius nanya blusnya itu apa maksudnya kak
Serena Khanza
bener bener creepy , terus ngebayangin imajinasi kek di isi ceritanya 😭😭😭 ini horror nya gak lebay tapi jlebb 🥹🥹🥹 tolonggg woyy
Serena Khanza
creepy banget 🥹😭😭
untung baca nya lampu nyala rame coba kalo sendirian 😭😭😭
Hunk
Pk apaan ini maksa banget. Serem lagi/Panic/
Hunk
Sial horor nya ga bisa di tolak /Sob/
Sean Sensei
/Frown/ : perasaan ku nggak enak tentang ini
Sean Sensei
dari judulnya aja kelihatan horor banget /Grimace/
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Ketika rasa Empati berubah menjadi ajang untuk mencari Simpati, 🤦‍♂️🤦‍♂️
Hunk
Ku kira Physicopat ternyata hantu. Gue baca malem lagi🤣🤣👍
Panda
wakakaka gue tuh Uda baca ini

cukup seru sih terlihat menjanjikan
APRILAH
mantap, satu mawar meluncur thor
APRILAH
Mulai baca Thor 🙏
Serena Khanza
seru wajib baca nih rekomen horrorr nya bedaaa 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!