Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: TAKHTA DI SAMPING SANG RAJA
Suara sirine kapal feri di kejauhan menyambut kepulangan mereka ke daratan utama. Namun, kali ini tidak ada kerahasiaan. Tidak ada mobil SUV tunggal yang menyelinap di kegelapan. Arkano telah memerintahkan konvoi dua belas mobil antipeluru untuk menjemput mereka di dermaga pribadi. Helikopter klan Dirgantara berputar di langit, memastikan setiap sudut kota aman untuk perlintasan sang raja dan permaisurinya.
Alana duduk di kursi belakang limosin yang luas, tangannya masih digenggam erat oleh Arkano. Luka lecet di pipinya telah ditutup dengan plester kecil, namun sorot matanya telah berubah total sejak pertempuran di pulau. Ia bukan lagi Alana yang bimbang; ia adalah Alana yang telah mencicipi darah musuhnya.
"Kita tidak pulang ke mansion, Arkano?" tanya Alana saat menyadari rute mobil mengarah ke pusat distrik bisnis, menuju gedung pencakar langit Dirgantara Tower.
Arkano menoleh, senyum tipis yang penuh misteri menghiasi wajah tampannya. "Mansion adalah rumah kita, Alana. Tapi gedung di depan itu adalah singgasanaku. Hari ini, aku tidak ingin kau hanya menjadi istri di balik pintu tertutup. Aku ingin seluruh anggota klan, dari tingkat atas hingga terendah, tahu siapa yang memegang kendali atas hidupku."
Alana merasakan debaran aneh di dadanya. "Kau akan memperkenalkanku secara resmi?"
"Lebih dari sekadar perkenalan," bisik Arkano. Ia menarik tangan Alana dan mencium punggung tangannya dengan takzim. "Aku akan memberimu otoritas. Agar saat aku tidak ada, kata-katamu adalah hukum bagi mereka."
Gedung Dirgantara Tower tampak seperti benteng kaca yang tak tertembus. Di lobi utama, ratusan pria berjas hitam dengan pin emas berlambang elang—simbol klan Dirgantara—sudah berbaris rapi. Mereka adalah para petinggi divisi, pemimpin wilayah, dan algojo terbaik klan.
Saat pintu mobil terbuka, suasana seketika menjadi hening. Arkano turun lebih dulu, lalu ia mengulurkan tangannya, menunggu Alana keluar. Alana menarik napas panjang, menegakkan punggungnya, dan menyambut tangan Arkano. Ia berjalan dengan anggun, mengenakan gaun hitam formal yang dipadukan dengan jaket kulit mahal, menciptakan kesan elegan namun mematikan.
"Hormat kepada Tuan Dirgantara! Hormat kepada Nyonya Dirgantara!"
Suara serempak itu menggelegar di seluruh lobi, membuat bulu kuduk Alana meremang. Arkano tidak berhenti. Ia membimbing Alana menuju lift pribadi yang langsung menuju lantai paling atas, tempat ruang pertemuan dewan direksi klan berada.
Di dalam lift yang berdinding cermin, Arkano memperhatikan penampilan Alana. Ia merapikan sedikit kerah jaket Alana, jemarinya sengaja berlama-lama di leher istrinya. "Kau terlihat sangat cantik saat kau merasa berkuasa, Alana. Itu membuatku ingin mengurungmu di sini selamanya."
Alana tersenyum tipis, menatap pantulan mereka. "Kau yang mengajariku bahwa di dunia ini, jika kau tidak berkuasa, kau akan diinjak. Aku hanya belajar dengan cepat, Tuan Arkano."
Pintu lift terbuka, menunjukkan sebuah ruang rapat besar dengan meja oval panjang dari kayu jati tua. Di sana, sepuluh orang pria tua—dewan sesepuh klan—sudah menunggu. Mereka adalah orang-orang yang telah membantu ayah Arkano membangun kekaisaran ini, dan mereka dikenal sangat konservatif.
"Arkano, apa maksud dari pertemuan mendadak ini? Dan kenapa kau membawa wanita ini ke ruang suci klan?" tanya salah satu sesepuh bernama Darmawan, suaranya berat dan penuh ketidaksukaan.
Arkano berjalan menuju kursi utama di ujung meja, namun ia tidak langsung duduk. Ia menarik kursi di sebelah kanannya—yang biasanya dibiarkan kosong—dan mempersilakan Alana duduk di sana.
"Wanita ini adalah Alana Dirgantara. Istriku," suara Arkano menggelegar, tenang namun mengandung ancaman yang nyata. "Dan mulai hari ini, dia memegang cincin otoritas kedua. Setiap perintahnya adalah perintahku. Setiap musuhnya adalah musuh klan."
Ruangan itu seketika riuh dengan bisik-bisik ketidaksenangan. "Ini melanggar tradisi! Dia orang asing! Kita tidak tahu latar belakangnya!" seru Darmawan lagi.
Arkano menghantam meja dengan kepalan tangannya. BRAK!
"Dia adalah orang yang menyelamatkan nyawaku di pulau kemarin! Dia adalah orang yang strategi taktisnya menghancurkan tentara bayaran Leo dalam hitungan menit!" Arkano berdiri, matanya berkilat marah. "Jika ada di antara kalian yang merasa lebih berjasa daripada dia dalam satu malam itu, silakan bicara sekarang. Jika tidak, tundukkan kepala kalian!"
Keheningan kembali mencekam. Para sesepuh itu menunduk, tidak berani menatap mata sang singa yang sedang mengamuk demi betinanya. Arkano kemudian menoleh pada Marco yang berdiri di pintu.
"Marco, bawakan dokumennya."
Marco menyerahkan sebuah map kulit hitam kepada Alana. Alana membukanya dan terkejut. Itu adalah dokumen kepemilikan saham sebesar 30% di seluruh anak perusahaan Dirgantara, serta surat kuasa atas divisi intelijen klan.
"Arkano, ini terlalu banyak..." bisik Alana.
Arkano membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Alana yang hanya bisa didengar oleh wanita itu. "Ambil saja, Sayang. Aku tahu kau sedang mengumpulkan bukti untuk menghancurkan Hendrawan. Gunakan sumber daya klan ini seolah-olah ini adalah mainanmu. Aku ingin melihatmu menghancurkan mereka semua dari takhta ini."
Alana menatap dokumen itu, lalu menatap para sesepuh yang masih tampak tidak senang. Ia menyadari satu hal: Arkano sedang memberinya pedang paling tajam di dunia. Dan ia akan menggunakannya.
Sementara itu, di sebuah kantor kumuh di pinggiran kota, Pak Hendrawan duduk di depan deretan layar komputer yang menampilkan berita-berita ekonomi. Wajahnya tampak kusam, bekas luka di tangannya akibat insiden dermaga masih terbalut perban.
Seorang asisten masuk dengan tergesa-gesa. "Pak, Arkano baru saja meresmikan Alana sebagai pemegang kekuasaan kedua di klan Dirgantara. Seluruh aset intelijen mereka sekarang berada di bawah kendali Alana."
Hendrawan tertawa rendah, suara tawanya terdengar kering dan jahat. "Bagus. Biarkan Arkano memberinya segalanya. Semakin tinggi Alana terbang, semakin menyakitkan saat aku menjatuhkannya."
Hendrawan mengambil sebuah amplop cokelat berisi foto-foto Alana saat masih mengikuti latihan rahasia di akademi polisi, serta dokumen palsu yang menyatakan bahwa Alana sebenarnya dikirim untuk membunuh Arkano, bukan sekadar memata-matai.
"Gunakan jaringan media kita," perintah Hendrawan. "Sebarkan isu bahwa Alana adalah agen ganda yang sedang merencanakan kudeta di dalam klan Dirgantara. Kita akan membakar mansion itu dari dalam. Aku ingin Arkano meragukan wanita yang dia puja itu. Dan saat benih kecurigaan itu tumbuh, mereka akan saling menghancurkan."
Kembali di gedung Dirgantara Tower, setelah pertemuan selesai, Arkano membawa Alana ke balkon kantornya yang berada di ketinggian 400 meter. Angin malam bertiup kencang, menerbangkan rambut Alana.
Arkano memeluk Alana dari belakang, melingkarkan tangannya di perut istrinya. "Lihat kota ini, Alana. Semuanya ada di bawah kakimu sekarang."
Alana bersandar pada dada bidang Arkano. "Kau memberiku terlalu banyak kekuatan, Arkano. Apa kau tidak takut suatu saat aku akan menggunakan kekuatan ini untuk melawanmu?"
Arkano mencium bahu Alana yang terbuka. "Jika kau ingin menghancurkanku, kau tidak perlu kekuatan klan ini, Alana. Kau cukup berhenti mencintaiku, maka aku akan hancur dengan sendirinya."
Kalimat itu terasa begitu tulus sekaligus mengerikan bagi Alana. Ia tahu ia mulai benar-benar jatuh cinta pada pria ini, namun bayang-bayang Hendrawan dan masa lalunya sebagai polisi terus menghantui. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis antara kesetiaan dan pengkhianatan.
"Aku tidak akan menghancurkanmu, Arkano," janji Alana, meski hatinya bergetar.
"Aku tahu," jawab Arkano. Namun, di dalam sakunya, ponsel Arkano bergetar. Sebuah pesan masuk dari informan rahasianya: 'Tuan, kami menemukan arsip rahasia di akademi kepolisian. Nama Alana tercatat sebagai unit khusus likuidasi.'
Arkano menatap pemandangan kota dengan tatapan yang sulit diartikan. Kecurigaan yang ia coba tekan kini kembali muncul, lebih tajam dari sebelumnya. Ia mencintai Alana, namun di dunia mafia, keraguan adalah celah menuju kematian.
makasih ya udah mampir, semoga betah ya😁
makasih ya udah dukung karya ku😊