Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan Ke Puncak
Halte Bus Depok, Pukul 06.45, Sabtu Pagi
Langit pagi masih berwarna biru pucat, disisipi semburat jingga di ufuk timur. Suhu udara sejuk, tipikal pagi akhir pekan di pinggiran Jakarta. Di parkiran sebuah minimarket, sekumpulan anak muda sedang berkumpul dengan tas ransel dan koper kecil.
Ferdy datang dengan motor tuanya, membawa tas ransel besar berisi pakaian dan kamera (tentu saja). Ia mengenakan hoodie abu-abu, celana jeans cargo, dan sepatu trekking yang sudah aus tapi nyaman.
Andika dan Roni sudah menunggu dengan satu mobil Avanza sewa berwarna silver yang terlihat masih kinclong. Reza, Siska, dan Bowo datang bersama naik taksi online, dengan ekspresi mengantuk namun bersemangat.
Yang menjadi pusat perhatian adalah kedatangan Kirana. SUV Toyota Fortuner warna hitam doff meluncur dengan halus, berhenti tepat di samping mereka. Jendela kaca gelap turun, memperlihatkan Kirana di balik kemudi.
Dia tampil kasual namun tetap chic: memakai sweatshirt oversized warna pastel pink, celana legging hitam, rambut diikat ponytail tinggi, dan kacamata hitam. Dia tersenyum lebar.
"Pagi semua! Siap berangkat?"
"Pagi, Kirana! Wih, mobilnya keren!" sahut Roni, langsung menghampiri.
"Mau naik mobilku atau mobil sewa?" tanya Kirana, matanya tertuju pada Ferdy yang sedang membuka jok motornya.
Semua mata beralih ke Ferdy. Ini adalah ujian pertama. Naik mobil Kirana berarti perjalanan berdua (ditambah mungkin satu atau dua orang lain) yang lebih intim. Naik mobil sewa berarti menjaga jarak.
Ferdy merasa sorotan itu. Dia menutup jok motor, mengangkat tasnya. "Gue… naik mobil sewa aja. Biar gue yang nemenin Andika nyetir, biar dia nggak ngantuk." Alasan yang masuk akal, meski terdengar dibuat-buat.
Ekspresi Kirana sedikit redup di balik kacamata hitamnya, tapi senyumnya tidak hilang. "Oke, fair enough. Siapa yang mau naik mobilku? Kapasitas masih banyak."
Akhirnya, Reza, Siska, dan Bowo yang memilih naik mobil Kirana—lebih nyaman dan penasaran dengan mobil mewah. Roni memutuskan ikut Ferdy dan Andika di Avanza, dengan alasan "biar gue yang nemenin kalian berdua yang jutek."
Perjalanan dimulai, meninggalkan kekacauan pagi Depok menuju arah tol menuju Puncak.
---
Di Dalam Avanza,
Andika menyetir dengan lancar, radio memutar playlist indie lokal. Roni di belakang sudah sibuk mengulik snack dan minuman yang mereka beli. Ferdy duduk di samping sopir, menatap keluar jendela melihat pemandangan berubah dari perkotaan menjadi sedikit lebih hijau.
"Jadi, gimana perasaan loe, Fer? Dikejar cewek level dewa gitu," buka Roni sambil mengunyah keripik.
"Udah, jangan dibahas," potong Ferdy, tidak ingin memulai.
"Tapi serius, loe nggak tertarik sama sekali? Liat tadi, dia langsung nawarin loe naik mobilnya. Itu clear banget," tambah Andika, matanya tetap di jalan.
Ferdy menghela napas. "Gue udah bilang ke dia kalo hati gue udah terisi."
"Terisi sama siapa? Mba Melati hantu loe itu?" tanya Roni setengah bercanda.
Ferdy tidak menjawab. Tapi di kursi belakang, di sebelah Roni, sebuah sensasi sejuk yang menenangkan tiba-tiba terasa. Ferdy menoleh cepat ke spion tengah, seolah melihat sesuatu. Tidak ada apa-apa, tapi ia tahu.
Dasima ada di sana. Duduk di antara Roni dan tumpukan tas, mendengarkan.
"Apapun itu," kata Andika dengan nada lebih serius, "gue rasa Kirana tuh beneran, Fer. Bukan main-main. Dan loe liat aja, dia bisa nyesuain sama kita-kita yang norak. Itu nggak gampang."
"Gue tahu," jawab Ferdy pelan. "Makanya gue nggak mau nyakitin dia. Tapi gue juga nggak bisa bohong sama perasaan gue sendiri."
Perjalanan berlanjut dengan obrolan ringan tentang project, rencana setelah lulus, dan lelucon konyol. Saat melewati tikungan, Ferdy sesekali merasakan sentuhan hangat di pundaknya—bukan sentuhan fisik, tapi sensasi yang familiar.
Dasima sedang "menyentuhnya", memberi dukungan. Ferdy tersenyum kecil, menatap ke depan.
Di Dalam Fortuner, saat yang sama
Suasana lebih berisik. Reza, Siska, dan Bowo sedang asik memainkan fitur-fitur mobil: seat massage, audio premium, hingga sunroof.
"Gila, mobil ini ada pijatnya! Enak banget!" seru Reza sambil memencet-mencet tombol.
"Kirana, beneran nih kita boleh bikin ribut di mobil mewah gini?" tanya Siska.
"Silakan, asal jangan rusak aja," jawab Kirana sambil tertawa, matanya sesekali melirik spion ke arah Avanza di belakang mereka.
"Jujur, Kir, kita masih nggak percaya loe mau ajak kita semua ke sini," ucap Bowo. "Ini kan… private banget."
"Kenapa nggak?" balas Kirana. "Teman-teman Ferdy adalah teman-temanku juga sekarang. Dan ini perayaan untuknya. Aku ingin dia bahagia, dikelilingi orang-orang yang peduli padanya."
Ada nada sedikit sedih di kalimat terakhir. Siska yang peka menangkapnya. "Dan… loe berharap dia bahagia… sama loe?"
Kirana terdiam sejenak, tangannya erat memegang setir. "Aku berharap dia bahagia. Titik. Apakah itu bersamaku… itu bonus. Yang penting aku bisa ada untuknya, membantunya, dan… menunjukkan bahwa ada seseorang di dunia nyata yang melihatnya, mengaguminya, dan mau berjuang untuknya."
Kata-kata itu tulus, dan membuat ketiganya di dalam mobil diam sebentar, terharu.
"Loe kuat banget, Kir," puji Reza. "Ferdy itu orangnya keras kepala. Tapi loe sabar banget."
"Karena dia worth it," jawab Kirana sederhana.
"Dan… siapa tahu, mungkin 'penunggu' di hatinya itu suatu hari akan memberinya jalan untuk melihatku juga-tentu saja kalimat akhir ini hanya ada di hati nya"
Perhentian di Rest Area, Pukul 09.00
Mereka berhenti untuk sarapan dan sholat. Suasana cair. Mereka makan mie instan dan kopi di rest area sederhana, bercanda, berfoto-foto. Kirana turut serta dengan natural, tanpa sikap jaim.
Ferdy memperhatikannya dari kejauhan, dan sekali lagi, sulit untuk tidak mengagumi bagaimana dia bisa masuk ke dalam dunianya yang biasa-biasa saja.
Saat Ferdy pergi ke toilet, Kirana menghampiri Andika dan Roni yang sedang membeli es teh.
"Perjalanannya nyaman?" tanya Kirana.
"Iye, lancar. Mobil loe keren banget," jawab Roni.
"Ferdy… dia baik-baik aja kan? Di mobil kalian?" tanyanya, mencoba tidak terlihat terlalu khawatir.
"Biasa aja. Tapi dia banyak diem, mikir mungkin," kata Andika.
Kirana mengangguk. "Kalau boleh jujur… aku agak kecewa dia nggak mau naik mobilku. Tapi aku ngerti. Dia lagi berusaha jaga jarak. Aku respect itu."
"Kamu nggak marah?" tanya Roni.
"Sedih, iya. Tapi marah? Nggak. Aku yang ngejar dia, bukan sebaliknya. Aku harus siap dengan semua konsekuensinya, termasuk penolakan halus seperti ini." Kirana tersenyum getir. "Ini pilihanku."
---
Sampai di Vila, Puncak, Pukul 11.30
Setelah melewati kemacetan tipikal akhir pekan menuju Puncak, mereka akhirnya tiba. Vila itu tersembunyi di sebuah jalan kecil yang sepi, dikelilingi oleh kebun teh dan hutan pinus.
Gerbang kayu besar terbuka, mengungkapkan halaman yang luas dengan rumput hijau terawat. Bangunan utamanya bergaya Joglo modern: kayu jati gelap, atap genteng, namun dengan dinding kaca besar yang memamerkan pemandangan lembah hijau yang memukau di belakangnya.
"ASTAGA! INI BUKAN VILA, INI ISTANA!" teriak Siska begitu turun dari mobil, mulutnya menganga.
"Gile… pemandangannya…" gumam Reza, terpana.
Bowo langsung mengeluarkan ponselnya, memotret dari segala angle.
Ferdy keluar dari Avanza, tas di punggung, matanya juga terpesona. Udara segar yang dingin dan wangi pinus menyergap indranya. Ini jauh dari kamar kosnya yang pengap di Jakarta.
Kirana turun dari mobil, melepas kacamata hitamnya. "Selamat datang di Rumah Teh Keluargaku. Sering dipakai buat retreat atau family gathering. Akhir pekan ini, ini rumah kalian."
Dia kemudian berperan sebagai tuan rumah yang sempurna. Dengan efisien, dia mengantar mereka berkeliling: ruang keluarga luas dengan perapian, dapur modern yang lengkap, beberapa kamar tidur dengan tema yang berbeda (semuanya nyaman dan bersih), serta yang paling memukau: balkon kayu lebar yang menjorok ke lembah, dengan hot tub kecil di ujungnya.
"Kamar udah aku bagi. Silakan pilih sendiri. Laki-laki di sayap kiri, perempuan di sayap kanan. Makan siang sudah disiapkan koki di dapur, kita makan prasmanan."
"Sore rencananya BBQ di balkon. Malamnya kita bisa nongkrong di depan perapian atau main game," jelas Kirana dengan ramah. Ada yang perlu apa-apa, langsung bilang aja."
Semua terkesima bukan hanya pada kemewahan tempatnya, tapi pada keramahan dan kerendahan hati Kirana. Dia tidak pamer, hanya ingin memastikan tamu-tamunya nyaman.
Ferdy memilih kamar terkecil di ujung, yang jendelanya menghadap langsung ke hutan pinus. Saat ia meletakkan tas, dia berdiri di depan jendela, menatap hijau yang menenangkan.
"Bagus ya tempatnya," ucapnya pelan, pada kehadiran yang ia rasakan di belakangnya.
"Sangat indah," sebuah "bisikan" perasaan muncul di hatinya. "Dan dia… sangat murah hati."
"Iya," jawab Ferdy. "Kadang gue bingung. Kenapa dia bisa segini baiknya ke gue."
"Karena dia melihat cahaya dalam dirimu, Raden. Seperti yang kulihat dulu."
Ferdy tersenyum sedih. "Tapi cahaya yang dia lihat… itu Ferdy. Bukan… Raden Wijaya."
"Apakah ada bedanya? Jiwa itu sama."
Percakapan batin mereka terputus oleh ketukan di pintu.
"Ferdy! Makan siang udah siap!" teriak Roni dari luar.
"Siap!" sahut Ferdy.
Saat dia berbalik untuk pergi, sebuah sensasi hangat seperti pelukan singkat menyelimutinya dari belakang. Dasima memberinya kekuatan untuk menghadapi kerumunan, kebersamaan, dan tentu saja, perhatian Kirana yang tak henti-hentinya.
Makan siang adalah hidangan prasmanan lezat dengan sentuhan Sunda: nasi liwet, ayam bakar, ikan pepes, lalapan, dan sambal terasi buatan koki. Mereka makan di meja panjang di balkon, dengan pemandangan lembah sebagai latar yang tak ternilai.
Suasana riuh penuh tawa. Kirana duduk di ujung meja, dekat dengan Ferdy, ikut bercanda, bertanya tentang kehidupan mereka, berbagi cerita lucu tentang pengalaman magangnya.
Ferdy melihatnya. Dia melihat bagaimana Kirana dengan mudah menjadi bagian dari lingkaran pertemanannya, bagaimana dia membuat semua orang merasa dihargai. Dan di tengah tawa dan kehangatan itu, sebuah pikiran aneh melintas di benak Ferdy:
Seandainya… seandainya tidak ada Dasima… apakah aku bisa jatuh cinta padanya?
Tapi pikiran itu langsung diusir oleh rasa bersalah yang dalam. Karena di balik kursinya, di antara gemericik air mancur kecil di taman, dia bisa merasakan sebuah kehadiran yang lebih setia daripada matahari terbit. Sebuah cinta yang telah melewati kematian.
Hari itu masih panjang. BBQ sore, game malam, dan kebersamaan yang intens menanti. Ferdy tahu, akhir pekan ini bukan sekadar perayaan. Ini adalah ujian baginya, untuk melihat seberapa kuat ikatannya dengan masa lalu yang tak kasatmata, ketika dihadapkan pada pesona dan kenyamanan dunia nyata yang diwakili oleh Kirana dan teman-temannya.
Dan Dasima, sang penjaga yang setia, akan menyaksikan semuanya dari balik tirai realitas yang berbeda, siap melindungi, siap merasakan sakit, dan siap… melepaskan jika itu yang terbaik untuk kebahagiaan Raden-nya.