Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aditya yang Cemburu
Dua bulan berlalu, semenjak Fira masih menjalani hubungan HTS dengan Ditya. Selama itu juga, mereka sama-sama takut kehilangan. Namun, di antara meraka tidak ada status pacaran.
Entah kenapa, Fira merasa nyaman dengan status HTS itu. Namun seiring berjalannya wakti, Fira akhirnya memiliki perasaan cinta terhadap Ditya.
Hari sabtu sore, Ditya memutuskan untuk pergi ke kafe. Ia kangen dengan Fira, meskipun mereka bukan pacar, tapi Ditya merasakan kangen padanya.
Ditya memarkirkan motornya di depan kafe, lalu masuk sambil tersenyum. Tapi senyumnya seketika langsung hilang saat melihat pemandangan di dalam.
Fira lagi ngobrol dengan seorang cowok. Cowok itu terlihat tinggi, ganteng, rapi, dan menggunakan kemeja. Mereka lagi tertawa bersama, bahkan terlihat begitu akrab.
Ditya jalan ke counter dengan langkah yang berat, Fira yang lagi tertawa tiba-tiba berhenti saat melihat Ditya.
"Ditya, kamu dateng," ucap Fira dengan suara yang sedikit kaget.
"Iya. Boleh kan?" tanya Ditya dingin.
"Boleh banget dong. Eh Dit, kenalin. Ini Revan, dia pelanggan tetap di sini. Revan, ini Ditya temen aku."
Temen.
Kata itu begitu menusuk, namun Ditya juga sadar, bahwa di antara mereka tidak ada ikatan yang resmi. Namun tetap saja, Ditya merasakan cemburu saat Fira dekat dengan cowok lain.
Revan mengulurkan tangan untuk salaman. "Hallo, Ditya, salam kenal."
Ditya salaman sambil memaksa untuk senyum. "Salam kenal juga."
Tapi jabatan tangannya begitu kenceng, seperti memberi tahu, bahwa Fira hanya miliknya.
"Oke Fira, aku duluan ya. Makasih udah ngobrol," kata Revan sambil senyum pada Fira.
"Iya Revan. Hati-hati ya."
Revan jalan keluar, tapi sebelum bener-bener keluar, ia nengok ke belakang, melihat Fira sambil tersenyum, dan Fira membalas senyuman itu.
Tanpa Fira sadari, Ditya melihat itu semua. Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang panas naik ke dada. Sesuatu yang dia nggak mau akuin, tapi nggak bisa ditolak.
Cemburu.
Fira menatap Ditya, "Kamu mau pesen apa, Dit?"
"Cowok itu siapa?" tanya Ditya, nadanya lebih ketus dari yang dia mau.
Fira mengangkat alis. "Siapa? Revan maksudnya?"
"Iya. Siapa dia?"
"Aku kan udah bilang, dia pelanggan tetap, dan dia temen aku."
"Cuma temen kan?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
Ditya diem, ia nggak bisa ngomong, ingin bilang cemburu tapi nggak bisa, karena sadar Fira bukan pacarnya.
"Nggak kenapa-kenapa. Cuma nanya aja kok."
Fira menatap Ditya dengan curiga, ada yang beda dari nada suaranya. Bahkan terdengar lebih posesif.
"Ditya, kamu baik-baik aja kan?"
"Iya, aku baik-baik aja. Buatin americano ya. Sama banana cake."
"Oke."
Fira jalan ke belakang counter untuk membuat pesanan, Ditya duduk di meja pojok sambil berpikir. Siapa sih cowok itu? Kenapa dia bisa seakrab itu sama Fira? Kenapa Fira senyum manis banget waktu ngomong sama dia?
Ditya mengambil ponsel, membuka Instagram Fira. Scroll timelinenya, tapi nggak ada foto baru. Terakhir upload foto pemandangan seminggu lalu.
Tapi Ditya nggak puas, dia stalking followers Fira. Mencari nama Revan, tapi tidak ketemu.
Revan Adiguna.
Ditya membuka profilnya. Dan, fuck. Cowok ini ganteng, kerjaannya bagus kelihatan dari foto-foto kantornya yang mewah, mobilnya keren, hidupnya mapan.
Jauh lebih mapan dari Ditya.
Ditya ngerasa dadanya makin sesak. Insecure mulai merangkak masuk. Gimana dia bisa saingan sama cowok kayak gini? Cowok yang jelas-jelas lebih segalanya.
Tak lama Fira membawa pesanan, lalu duduk di kursi yang berada di depan Ditya.
"Nih, americano sama banana cakenya."
"Makasih."
Suasana seketika menjadi hening dan canggung, Ditya mengunyah cake sambil sesekali melirik Fira. Fira melihat ponselnya sambil scroll.
"Fira."
"Hmm?"
"Kamu lagi deket sama dia?"
Fira ngangkat kepala. "Sama siapa? Revan?"
"Iya."
"Nggak deket banget sih. Cuma, dia sering dateng, sering ngajak ngobrol. Kadang ngajak makan siang. Gitu aja."
Ngajak makan siang, Ditya merasa nggak terima saat Fira bilang, dia suka makan siang sama Revan.
"Sering?"
"Iya, lumayan sih. Seminggu dua, sampai tiga kali mungkin."
Dua sampai tiga kali dalam seminggu. Lebih sering dari Ditya ketemu Fira sekarang.
"Oh."
Fira mengerutkan dahi. "Kenapa sih, Dit? Kamu kenapa nanya tentang Revan?"
"Nggak kenapa-kenapa. Cuma penasaran aja."
"Penasaran atau cemburu?"
Ditya tersentak. "Nggak cemburu kok. Aku cuma..."
"Kamu cemburu, Ditya," potong Fira, suaranya pelan tapi tegas. "Keliatan kok dari cara kamu nanya tadi. Dari nada suara kamu."
Ditya diem, dan nggak bisa membantah.
"Tapi kamu nggak punya hak buat cemburu Dit. Kita bahkan bukan siapa-siapa sekarang. Kamu yang bilang kita HTS aja dulu. Jadi, aku bebas berteman sama siapa aja kan?"
Kata-kata Fira begitu menusuk dalem banget. Karena yang Fira katakan itu memang benar, Ditya nggak punya hak apapun.
"Aku tau, Fir. Aku tau, kalo aku nggak punya hak. Tapi aku juga nggak bisa bohong sama perasaan aku, aku nggak suka liat kamu deket sama cowok lain."
"Terus aku harus gimana, Ditya? Kalo kita pacaran, aku juga bisa membatasi jarak dengan cowok. Sedangkan kita cuma HTS, bukan pacaran."
"Aku tau kita cuma HTS, tapi aku juga nggak bisa bohong sama perasaan aku sendiri. Ya, memang benar aku cemburu, dan aku nggak suka saat kamu di dekati sama cowok lain," jelas Ditya pada Fira.
Fira menghela nafas, melihat Ditya dengan tatapan lelah.
"Ditya, kamu tau nggak? Revan itu mengaku suka sama aku seminggu yang lalu, bahkan dia minta aku buat jadi pacarnya."
Jantung Ditya rasanya berhenti.
"Apa?"
"Iya. Dia mengaku, dan kamu tau aku jawab apa?"
Ditya menggeleng, nafasnya sesak.
"Aku tolak. Aku bilang aku lagi menunggu orang lain, dan orang lain itu kamu."
Air mata Fira mulai turun.
"Aku menolak cowok, yang jelas-jelas suka sama aku, yang jelas-jelas siap. Demi kamu yang masih belum bisa kasih kepastian. Dan sekarang kamu cemburu? Kamu nggak suka liat aku deket sama dia?"
Ditya nggak bisa bicara, tenggorokannya terasa tersumbat.
"Ditya, aku memang sayang sama kamu, tapi hubungan kita cuma sekedar HTS. Aku punya hak buat punya temen, punya hak buat ketawa sama orang lain. Karena kamu belum bisa membuat aku jadi milik kamu secara resmi, seenggaknya kita ada status pacaran, dan bukan HTS."
"Fira," suara Ditya bergetar. "Maafkan aku."
"Aku nggak butuh permintaan maaf kamu, Dit. Aku cuma butuh kejelasan soal status kita apa, masa iya aku harus terjebak terus dalam hungan yang nggak sehat ini."
Kata-kata itu kayak tamparan keras buat Ditya. Ditya mengajak Fira HTS, tapi dia juga cemburu dan nggak terima jika Fira bersama cowok lain.
"Fira, maafkan aku. Aku juga sayang sama kamu, dan selama kita HTS, aku udah sayang dan cinta sama kamu. Bahkan aku nggak mau kehilangan kamu."
"Terus sekarang mau kamu apa, Ditya?" tanya Fira yang kini mulai terisak.
"Aku sudah memutuskan. Mulai hari ini, aku mau kita pacaran, karena aku nggak terima jika kamu deket sama cowok lain, aku cemburu Fira."
Fira terdiam, ia merasa tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Ditya barusan. Pacaran. Kata itu terasa asing bagi Fira, namun kata itu juga yang selama ini Fira tunggu.
"A-apa kamu serius Dit?" tanya Fira yang masih nggak percaya.
Ditya menatap Fira, lalu memegang tangannya lembut. "Aku beneran serius, Fira. Karena aku nggak mau kehilangan kamu, aku udah jatuh cinta sama kamu. Dan aku mau, mulai hari ini kita pacaran. Gimana, apa kamu mau?"
Fira merasa senang, karena akhirnya Fira akan memiliki status yang jelas. "Iya, Dit. Aku mau, aku mau menjadi pacar kamu."
Setelah Ditya menyatakan perasaannya, dan mengajak Fira untuk pacaran, Fira kembali bekerja, dan Ditya masih duduk di meja kafe itu.
Ditya baru sadar sekarang, bahwa dia takut kehilangan Fira. Dan rasa takut itu lebih kuat dari traumanya, lebih kuat dari rasa bersalah sama Jessica.
Ditya mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan pada Dimas.
...💌...
Ditya: Dim, ada kabar bahagia buat lo. Akhirnya gue bisa memutuskan suatu hal, yang begitu penting buat gue.
Tak lama Dimas membalas pesannya.
^^^Dimas: Kabar apaan? Gue juga lagi di rumah, kalo lo mau cerita, datang aja sekarang.^^^
Ditya langsung bangkit, membayar di kasir sambil sekali lagi melihat Fira, yang lagi sibuk menyiapkan pesanan.
Ditya harus membuktikan pada Fira, bahwa dirinya laki-laki yang pantas buat Fira jadikan pacar. Karena Ditya nggak mau kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya, dan kalau sampai itu terjadi, ia nggak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
bab ini kita full karokean...😅😅😅😅
bener gak sih nadanya gini....😅😅😅