Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
"Aku tidak pernah memintamu untuk menjadi pahlawan yang mati muda, Aslan. Aku hanya memintamu untuk menjadi raja yang hidup sampai rambutmu memutih."
Aslan menatap cangkir teh di tangannya yang masih sedikit bergetar. Kalimat Elara barusan tidak mengandung nada perintah, tapi terasa lebih berat daripada zirah hitam yang ia kenakan. Di luar tenda, suara gemuruh persiapan perang terdengar seperti detak jantung raksasa yang sedang gelisah.
"Rakyat tidak butuh raja yang hanya duduk diam saat mereka terbakar, Elara. Ayahku mati karena dia terlalu percaya pada kebaikan hati manusia. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," jawab Aslan dengan suara yang masih agak serak.
{Sistem, berikan laporan kondisi saraf saat ini.}
[Status Saraf: 100%. Sinkronisasi: Stabil. Peringatan: Hindari penggunaan 'Valerion Protector' dalam jangka waktu dekat.]
Aslan menarik napas panjang. Rasa sakit di kepalanya sudah hilang, tapi beban di pundaknya justru terasa semakin nyata. Ia melihat Elara yang duduk di depannya, menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan.
"Kau menyelamatkan Zarek karena kau butuh informasinya, atau karena kau memang tidak tega melihatnya jatuh?" tanya Elara tiba-tiba.
Aslan terdiam cukup lama. Ia memutar-mutar cangkirnya, memperhatikan riak air di dalamnya.
"Sistem memintaku untuk menyelamatkannya karena nilai strategisnya sangat tinggi. Tapi, saat aku memegang tangannya di udara... aku tidak memikirkan soal angka atau taktik lagi. Aku hanya berpikir bahwa aku tidak ingin melihat lebih banyak orang mati di bawah kaki Kael," aku Aslan dengan jujur.
Elara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang sekali ia tunjukkan di depan para prajurit.
"Itu artinya kau masih manusia, Aslan. Sistem di kepalamu itu mungkin pintar, tapi dia tidak bisa merasakan betapa dinginnya air sungai itu saat kau melompat demi orang lain," kata Elara pelan.
"Mungkin kau benar. Tapi kemanusiaan ini seringkali terasa seperti beban yang menghambat logikaku," balas Aslan.
{Jika aku terus mendengarkan emosi, mungkin aku tidak akan pernah sampai ke gerbang istana. Tapi tanpa emosi ini, apa bedanya aku dengan Kael atau Lian?}
Tiba-tiba, tirai tenda terbuka. Jenderal Zarek masuk dengan langkah yang lebih mantap, meski wajahnya masih terlihat pucat. Ia membungkuk hormat kepada Aslan, sebuah penghormatan yang kini terasa jauh lebih tulus daripada sebelumnya.
"Pangeran, Lord Hektor sudah selesai menyusun daftar bangsawan yang membelot. Berita tentang kebakaran di menara sandera telah menghancurkan kepercayaan para komandan Harimau Putih. Mereka mulai merasa bahwa Kael akan membakar mereka juga jika suatu saat mereka tidak lagi berguna," lapor Zarek.
"Bagus. Ketakutan adalah senjata yang bagus, tapi harapan adalah senjata yang jauh lebih kuat. Jenderal, bagaimana kondisi pasukan di dalam istana?" tanya Aslan.
"Mereka lapar, Pangeran. Kael memprioritaskan pasokan makanan untuk unit elitnya saja. Rakyat di distrik bawah mulai melakukan penjarahan pada gudang-gudang militer. Jika kita menyerang sekarang, rakyat akan membuka gerbang untuk kita," jawab Zarek dengan yakin.
Aslan berdiri dari kursinya. Ia berjalan menuju peta besar yang terbentang di meja.
"Kita tidak akan menyerang dengan pasukan besar secara langsung. Elara, kau pimpin milisi rakyat untuk membagikan jatah gandum di gerbang luar. Biarkan rakyat tahu bahwa kita datang membawa makanan, bukan hanya pedang," perintah Aslan.
"Kau ingin aku menggunakan roti sebagai tameng?" tanya Elara dengan kening berkerut.
"Bukan tameng, tapi undangan. Saat tentara Kael melihat rakyat mereka sendiri mendapatkan makanan dari kita, mereka akan ragu untuk melepaskan anak panah. Tidak ada prajurit yang sanggup membunuh orang yang sedang memberi makan anak-anak mereka," jelas Aslan.
Zarek mengangguk setuju. "Itu adalah taktik psikologis yang sangat cerdas, Pangeran. Kael akan dipaksa untuk menyerang rakyatnya sendiri jika dia ingin menghentikan kita."
"Dan saat itu terjadi, legitimasi Kael akan hancur sepenuhnya. Dia bukan lagi melawan pemberontak, tapi dia melawan rakyatnya sendiri," tambah Aslan.
{SATS, hitung peluang desersi pasukan musuh jika skenario ini dijalankan.}
[Analisis Taktik Psikologis: Peluang desersi musuh meningkat hingga 65%. Moral milisi rakyat meningkat 80%.]
Setelah Zarek dan Elara keluar untuk memberikan instruksi, Lady Aris masuk ke dalam tenda. Ia membawa sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu hitam tua.
"Kau sudah siap menghadapi Lian, Aslan? Dia bukan lagi anak kecil yang dulu sering bermain pedang kayu denganmu," tanya Lady Aris sambil meletakkan kotak itu di depan Aslan.
"Aku tahu. Bibi bilang dia menggunakan Kristal Darah. Apa sebenarnya benda itu?" tanya Aslan dengan penasaran.
Lady Aris membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah buku catatan kuno milik ayah Aslan.
"Kristal Darah adalah hasil dari alkimia terlarang yang menggunakan energi kehidupan manusia sebagai katalis. Ayahmu menyembunyikan penelitian ini karena dia tahu betapa berbahayanya benda ini. Kael menemukannya dan menggunakannya pada Lian. Setiap kali Lian menggunakan kekuatannya, dia kehilangan sebagian dari ingatan dan jiwanya," jelas Aris dengan nada sedih.
"Jadi Lian hanyalah sebuah wadah kosong sekarang?" tanya Aslan.
"Dia adalah mesin pembunuh yang hanya mengenal perintah Kael. Jika kau menghadapinya, jangan pernah berharap dia akan mengenalimu sebagai sepupunya," jawab Aris dengan tegas.
Aslan menyentuh permukaan buku catatan ayahnya.
{Ayah, kau menyembunyikan ini untuk melindungi kami. Tapi sekarang, aku harus menghadapi ciptaan yang kau takuti ini.}
"Bibi, apakah ada cara untuk menetralkan energi kristal itu?" tanya Aslan.
"Hanya dengan energi murni dari Inti Valerion. Tapi kau sudah menghabiskan banyak energi benteng saat melawan Malphas. Kau harus sangat berhati-hati," pesan Aris.
Malam semakin larut. Aslan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kamp pengungsian. Ia melihat anak-anak kecil yang sedang duduk di dekat api unggun, memakan roti gandum dengan lahap. Salah seorang dari mereka mendekati Aslan dan menarik jubahnya.
"Tuan, apakah benar kau akan mengusir raja jahat itu?" tanya anak itu dengan mata bulat yang polos.
Aslan berlutut agar sejajar dengan anak itu. Ia meletakkan tangannya di kepala sang anak.
"Aku akan memastikan tidak akan ada lagi rumah yang terbakar mulai besok," jawab Aslan dengan suara lembut.
"Terima kasih, Tuan Pangeran. Ibuku bilang kau adalah malaikat yang dikirim dewa," kata anak itu sambil tersenyum lebar.
Aslan berdiri kembali dan menatap langit malam. Hatinya terasa sangat sesak.
{Malaikat? Aku hanyalah seorang pemuda yang memiliki mesin di sarafnya, yang harus membunuh untuk membawa kedamaian. Apakah aku pantas mendapatkan pujian setulus itu?}
Ia kembali ke tendanya dan mendapati Elara sedang menunggunya di depan pintu. Elara tampak sudah mengganti zirahnya dengan pakaian biasa.
"Kau tidak bisa tidur?" tanya Elara.
"Hanya ingin melihat apa yang sedang aku perjuangkan," jawab Aslan singkat.
Elara mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Aslan. Mereka berdua terdiam, hanya ditemani oleh suara jangkrik dan angin malam yang sepoi-sepoi.
"Aslan, jika semua ini berakhir... apa yang akan kau lakukan pertama kali?" tanya Elara.
Aslan terdiam sejenak. Ia mencoba membayangkan masa depan tanpa perang.
"Aku ingin pergi ke tepi sungai Aridelle, duduk di sana seharian, dan tidak memikirkan soal sistem atau taktik. Aku hanya ingin menjadi Aslan, bukan Pangeran, bukan Liberator," jawab Aslan dengan jujur.
"Aku akan menemanimu di sana," bisik Elara.
Aslan menggenggam tangan Elara dengan erat. Ia tahu bahwa sepuluh hari ke depan akan menjadi waktu yang paling berdarah dalam hidupnya. Tapi demi momen sederhana di tepi sungai itu, ia bersedia melewati neraka sekali lagi.
{Sepuluh hari. Kael, siapkan dirimu. Seluruh rakyat Valerion sudah berdiri di belakangku, dan kali ini, tidak akan ada tempat bagimu untuk bersembunyi.}
Aslan memejamkan matanya sejenak, membiarkan sistem di sarafnya melakukan kalibrasi terakhir. Di bawah cahaya rembulan, pangeran itu terlihat seperti patung yang terpahat dari tekad yang tidak tergoyahkan. Perang besar akan segera dimulai, dan sejarah Valerion tidak akan pernah sama lagi.
[Sistem: Kalibrasi Selesai. Seluruh unit siap untuk Operasi Pembebasan Akhir. Memulai hitung mundur: Sembilan hari tersisa.]